
"Ini kenapa bisa merah-merah gini nih?" tanya Qia mengomel. Tangannya terus bergerak lincah mengobati wajah lebam Raga, ada sedikit luka gores di sudut bibir kanan.
Raga berdecak malas.
"Udah ngapa sih dek... Ngedumel mulu dari tadi. Kuping abang udah panas tau!!" gerutu Raga jengah. Qia melotot tajam sambil menekankan kapas ditangannya ke arah luka itu. Raga memekik keras, kesakitan.
"Aaaaa sakit woy ah!!" pekik Raga meringis. Ia menepis tangan Qia lalu mengusap-usap bekas luka tadi.
"Sadis banget sih sama abang sendiri heh!" omel Raga lagi. Qia memutar bola matanya malas.
"Leader geng kok cupu! Gitu aja ngeluh." cibir Qia menye.
"Udah kelamaan di NY! Ga pernah gelut, jadi agak loyo dikit." jawab Raga ngawur. Qia tertawa.
"Ahahaha sa ae kadal York!"
"Dah ah yuk jalan!!" ajak Raga langsung to the point. Qia menarik lengan Raga yang sudah berdiri di depannya.
"Heh belum juga kelar lukanya, udah main cabut aja!" omel Qia. Keuntungannya di sini adalah Andin masih berada di kantor, jadi dua anak bandelnya yang sama-sama suka tawuran ini aman. Tak ada yang memarahi mereka di rumah! Lagi pula siapa pula yang berani nyenggol Raga dan Qia, selain mamanya sendiri.
"Udah, ga usah lebay! Sekarang ayo ke markas." ajak Raga. Mendengar kata 'markas' Qia langsung beringsut berdiri dengan semangat.
"Oke setuju!"
...****************...
"Samlekom!"
Bisa kalian tebak dia siapa? Ya! Dia adalah Sammuel, si kulkas berjalan yang pelit..
"Waalaikumsalam!" jawab beberapa makluk di dalam markas yang masih waras. Karena kebanyakan dari mereka sudah sibuk di dunianya masing-masing. Ada yang main game, main ps, julid berjamaah, ngelamun dan ada pula yang dugem halal di pojok ruangan.
"Komsalam!" jawab Adam datar. Persis menirukan gaya Sammuel saat masuk tadi. Sammuel hanya meliriknya sekilas kemudian meletakan dua kantong kresek bermerk indooktober ke atas meja.
Bagas memutar bola matanya malas.
"Salam yang bener tolol! Makin minus aja pahala lo." omel Bagas yang sedang berada dalam mode sok iye. Adam menunjuk Sammuel dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya mulai melakukan unboxing pada kantong kresek yang dibawa oleh Sammuel tadi. Sammuel juga disebut sebagai sugar daddy bagi anak-anak Ghosterion, karena selain Vano, Sammuel juga adalah tukang traktir di sarangnya.
Duo sugar daddy kulkas cap laron!
"Gue pelit kan nyontoh si bapak Sam!" jawab Adam polos. Tangannya sudah menemukan barang yang ia cari, soda.
"Dih?"
"Gue enggak pelit tuh." sahut Sammuel. Tumben mulutnya mau gerak mas?
"Ya terus apaan coba? Jangan bilang lo lagi males doang. Tiap hari juga kek gitu kelakuan lo pak!!" tanya Adam menatap Sammuel yang duduk di sebelah Vano.
Vano dari tadi melamun, teman-temannya tau tapi mereka memilih untuk diam saja membiarkan sang pemimpin itu larut dalam imajinasinya sendiri.
"Hemat kata! Kalo gue kayak elo yang boros ngomong, bisa-bisa anak keturunan gue di masa depan nanti ga kebagian jatah kata!!" jawab Sammuel. Bintang, Putra dan Gabby tertawa mendengar celetukan alami ala Sammuel itu. Dan bodohnya, Adam percaya!
"Emang konsepnya bener kek gitu ya Gas?" tanya Adam menyenggol lengan Bagas yang masih sibuk mengorek isi kantong, entah apa yang ia cari. Bintang sudah tenang dan diam anteng karena rokok titipannya sudah berada di tangan, dan bocah termuda di tongkrongan itu pun duduk dalam damai di sebelah Gabby.
"Ah ga tau dah!" sungut Bagas kesal sendiri.
"Lo nyari apaan si?" tanya Adam heran. Bagas berdecak! Ia sudah menyerah. Dilepaskannya kantong kresek itu. Yang dia cari sejak tadi memang sepertinya lupa dibeli oleh Sammuel.
"Sam!" panggil Bagas mengacuhkan pertanyaan Adam tadi. Sammuel menoleh dengan satu alis terangkat tipis.
"Hm?"
"Cimory titipan gue mana?"
"Lupa!" jawab Sammuel dengan datar, ia sebenarnya tidak lupa tapi sengaja. Sammuel adalah laki-laki super ketat dalam penjagaan image dan kharisma. Tentu saja membeli jajanan seperti itu adalah sebuah pantangan besar bagi imagenya. Catat! Bagas salah suruh orang.
"Yah pak gimana sih lu? Padahal cimory udah gue sebut sampek tiga kali loh tadi." protes Bagas mendengus sebal. Sammuel memutar bola matanya malas.
"Lupa! Ga usah protes. Gua bukan gofood yang bisa lo atur, masih mending lu gua bawain soda sama rokok tuh." ucap Sammuel langsung skakmat. Harus selalu savage untuk mengakhiri perdebatan ini, itulah alasan dibalik semua kesavage-an seorang Sammuel.
"Sabar ya brader, hidup emang banyak cobaannya!" celetuk Adam menepuk-nepuk pundak Bagas sambil sesekali meneguk soda kaleng miliknya.
"Huh padahal gue pengen ngemut cimory." gerutu Bagas memasang mimik sok sedih. Gabby dan Bintang sama-sama melirik ke arah Bagas.
"Badan L-men, doyan yang kek gituan juga lo?" tanya Gabby setengah meledek.
"Manda bisa nangis di pojokan kalo tau ini." sahut Bintang. Bagas bedecak.
"Enaknya candu anj- malahan gue pernah dicobain sama bebeb Manda, ternyata enak. Jadi ketagihan terus kan gue!" jawab Bagas membela diri. Bintang dan Gabby sontak jadi saling pandang, ngebug.
"Kok gue jadi ambigu ya?" tanya Adam yang lebih dulu connect. Bagas mengerutkan kening tak paham, apanya yang bikin ambigu?
"Sama Dam! Gue juga." sahut Gabby. Bintang ikutan manggut-manggut sok serius.
"Dua."
Jawaban Bintang tadi refleks membuat leher Sammuel memutar ke arahnya. Kata 'dua' itu seperti sebuah signal khusus di telinga maupun di otak sammuel. Sammuel memang menoleh, tapi dia tetap tidak peduli. Ia lebih memilik asyik berdiam diri bersama Vano yang sampai sekarang masih tak buka suara, bahkan posisi duduknya masih sama seperti tadi. Tak bergeming sama sekali.
Plak
"Astaghfirullah, gue doang yang suci di sini. Maksud gue cimory nya tolol!!" maki Bagas menggeplak kepala Adam di sampingnya. Adam meringis, mengelus-elus kepalanya.
"Sakit b*ngke!!"
"Sssstt sssttt!!" panggil Gabby berdesis. Sammuel, Bintang, Adam, dan Bagas menoleh ke arah cowok berambut paling panjang diantara mereka itu.
"Apaan?" tanya Bintang mewakili. Gabby menjawabnya tanpa suara, hanya menaik turunkan alisnya sambil melirik-lirikkan matanya ke arah Vano. Agar teman-temannya mengalihkan pandangannya ke arah yang ia maksud.
Arah Vano! Mereka pun mengikuti kemauan Gabby dan menatap Vano bersamaan. Memang aneh sih! Tadinya Vano hanya diam dan melamun, tapi sekarang ditambah dengan iringan senyum ga jelas. Tatapannya masih kosong tapi raut wajah datarnya sudah terisi dengan senyuman dan aura yang berbeda dari biasanya.
"Kenapa lu senyum-senyum Van? Ngeri amat." celetuk Sammuel menyenggol lengan Vano. Vano tersadar tapi ia belum sepenuhnya sadar.
"QIA CAKEP BANGET WOYY!!!" sahut Vano berteriak refleks. Kali ini bukan hanya lima manusia di sekelilingnya yang menoleh, tapi semua orang yang berada satu ruang dengannya. Yang paling syok tentu saja si Adam dan Bagas, si kakek comblang yang selalu ngeship QiaNo.
"Hah?!!"
"Lo klepek-klepek sama Qia beneran pak?" tanya Adam memastikan. Senyumnya melebar begitu saja karena saking senangnya.
"Alhamdulillah Vano juga normal, udah bosen main pedang sendirian." celetuk Bagas manggut-manggut kegirangan. Sammuel memasang wajah datarnya yang semakin datar karena mendengar ucapan ngawur Bagas ini. Biasanya nih kalo udah bawa-bawa kata normal, pasti endingnya Sammuel bakalan dikenain sama Bagas.
"Wah apa jangan-jangan mereka udah uslux-uslux beneran ya di apartemen waktu itu? Gilak aja sampek segitu senengnya muka triplek Vano tuh!" celetuk Bintang ngawur mode on. Adam dan Bagas tertawa, bisa-bisanya Bintang mengingat kejadian itu, saat mereka mencyduk Vano dan Qia di dalam apartemen.
"Akhirnya es batunya leleh."
"Jangan-jangan yang dibilang sama Bintang bener ya?" tebak Adam mulai suudzon.
Astaghfirullah Adam, tobat lu!
"Wait wait! Apartemen apaan si? Emang ada apaan yang gue ga tau? Kok gue ga ngerasa pernah nyiduk mereka sih." tanya Gabby tak mengerti.
"Tadi pagi di apartemennya Vano Gab, elu kan tadi pagi masih di rumahnya Deeva." jawab Adam.
"Maksudnya nginep? Qia nginep di tempatnya Vano?" tanya Gabby memastikan. Adam mengangguk.
"Lah kok bis-"
"ARGHHHH CAKEP BANGET SI QIA AH!!" pekik Vano untuk kedua kalinya. Entah bagaimana alur takdir mempermainkan image dan isi otak Vano hari ini, sepertinya otaknya sudah terlalu tertekan karena dipenuhi oleh Qia.
"Krik krik." bukan suara jangkrik! Tapi suara Adam dan Bintang yang bersamaan cosplay menjadi sesepuh jangkrik.
Lagi-lagi seluruh anggota Ghosterion langsung terdiam seketika saat Vano dengan keras dan lantang meneriakkan nama Qia. Sangat mirip seperti orang kesurupan.
"Buset!!" pekik beberapa orang dalam waktu selisih yang sangat tipis. Vano masih setia dengan lamunan penuh misterinya, entah apa yang ada di fikiran cowok itu sampai dua kali kelepasan memuji Qia dengan teriakan lantang pula!
"Fiks si Vano udah kena peletnya Qia woy!!" teriak Adam heboh.
"Atau malah Vano yang butuh ilmu pelet buat Qia?" tanya Bagas menebak.
"Kayaknya dua-duanya sama aja deh. Intinya Vano udah naksir!" sahut Bintang mengangguk semangat.
"Yang punya kenalan dukun atau anak dukun cepetan gercep woy!!" teriak Adam heboh, lagi.
"Gimana pak? Butuh back up-an dukun ga nih?" tanya Bagas menawarkan. Sammuel dan Gabby hanya bisa saling pandang, diam dan menyimak. Sammuel diam karena memang sifat aslinya kek gitu, Gabby yang nyimak doang karena dia ga paham alias ga connect! Dia kadi gaptek dan super kudet hari ini.
"Buat apaan dukun?" tanya Vano tanpa melirik. Catat ya! Masih sekosong itu isi pandangan sekaligus otaknya.
"Ngasih pelet ke Qia biar klepek-klepek." jawab Adam. Anehnya, Vano malah mengangguk dengan sangat polos.
"Hm ide yang bagus! Coba aja panggil Dam." suruh Vano bercanda, ia sudah kembali sadar guys! Teman-temannya pun tau kalau ini hanya candaan. Sayangnya, Adam mengangguk polos seolah ia serius dengan tawarannya tadi.
Ku kira Vano udah jadi penurut, eh ternyata cuma ngejokes. Ngeprank amat!
...****************...
Tok tok
"Putra Put buka pintu woy! Ada orang tuh." teriak Vano pada Putra, anak kelas 11 IPS yang juga anggota Ghosterion dan karena cowok itu sedang berdiri di dekat pintu, makanya Vano menyuruhnya.
"Selamat malam, ini benar markas motor Ghosterion ya?" tanya seorang lelaki paruh baya dengan sangat sopan. Anak-anak Ghosterion pun memfokuskan pandangannya kepada orang itu. Vano and the geng yang sedang main kartu juga auto menoleh.
"Ngapain ada om-om di sini?" bisik Bintang pada Gabby.
"Udah brewokan gitu sih namanya udah akik-akik woe!" sahut Gabby membenarkan. Kedua manusia seumuran itu tertawa receh bersamaan.
"Bener pak, tapi bapak nyari siapa ya?" tanya Sammuel mengambil alih. Cowok dingin bertahta 'good boy' dalam hal-hal tertentu itu langsung sigap berdiri menghampiri orang tua itu.
"Tadi nak Adam nelfon saya, katanya ada yang mau make ajian pelet." jawab orang itu sopan. Sammuel mengerti sekarang, ketidak warasan Adam sedang mencapai titik ******* tertinggi.
Sammuel menoleh ke belakang, sama halnya pula dengan anak-anak lain yang juga menatap Adam dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa pada ngeliatin gue?" tanya Adam dengan polosnya.
"Itu dukun beneran Dam?" tanya Bagas memastikan. Oke! Sekarang Vano jadi beneran panik, Adam sepertinya benar-benar menganggap candaannya tadi sebagai suatu keseriusan.
Adam mengangguk dengan watadosnya.
"Iya itu dukun buat Vano. Dan ini dukun paling manjur di komplek gue!"
Plak
Hampir semua anak Ghosterion di markas itu menepuk jidatnya masing-masing. Kenapa Adam bisa sependek akal ini sih? Orang serius dianggep bercanda, giliran pas yang lain lagi waktunya bercanda aja dia malah sibuk serius sendiri.
"Itu temen lo apa bukan?" tanya Sammuel pedas. Semuanya kompak menggeleng, laknat memang!
"Bukan temen gue!" sahut abby bergidik ngeri. Gabby sudah cukup mewakili semuanya.
"Ga kenal juga." sahut Bintang ikutan ngeri.
"Adam tolol!" maki Vano.
"Adam prik!" sembur yang lain. Suasana markas sontak jadi ricuh.
"Jadi gimana? Jadi nggak?" tanya mbah dukun. Sammuel langsung gercep, daripada makin runyam lebih baik dia menyuruh dukun itu pulang saja.
"Aduh maaf ya pak, ga ada yang serius nyari dukun kok. Tadi Adam cuma lola aja pak, dikiranya kita serius. Ga ada yang butuh jasa perpeletan hehe!" ucap Sammuel mengusir halus. Mbah dukun tua itu menghembuskan nafas panjang.
"Oalah kena prank!"
"Sekali lagi maaf ya pak!"
"Ya sudah tidak apa-apa. Kalau begitu saya permisi dulu!"
Setelah dukun tadi sudah keluar.
"Lo islam beneran apa bukan sih?" tanya Sammuel to the point sambil berjalan kembali ke sofa di tengah ruangan. Adam melotot tajam.
"Gue 100% muslim woe!! Sembarangan tuh mulut, pasti belum pernah digedor pake bedug masjid kan lu?" sahut Adam ngegas mandiri. Sammuel memutar bola matanya malas.
"Yang salah bukan agama lo sih, tapi otak lo yang ga ada benernya. Gesek mulu perasaan!" sungut Sammuel kesal sendiri.
"Gue islam seratus ribuperatus persen pak!! Kakek buyut gue masih nyium bau-bau kyai tau." jawab Adam lagi. Vano menengahi, ia buka suara atas kebodohan Adam yang hampir menjerumuskan dirinya ke dunia perpeletan.
"Ya terus kenapa lo percaya dukun tolol? Gue kan cuma bercanda woeeee... Ah ga paham lagi sama otak mungil lo Dam!" sahut Vano mendengus kesal.
"Iye bener tuh! Bisa-bisanya lu ngaku muslim tapi masih bisa percaya sama begituan dih. Aliran sesat lu Dam!!" cicit Bagas geleng-geleng kepala. Ia memang partner jokes Adam, tapi untuk hal ini Adam memang benar-benar melewati batas kewarasan sih!
"Pasti Adam cuma islam ktp!" celetuk Bintang.
"Ck. Jangan noraaaaaakk!!" ucap Adam menirukan sound yang sempat viral di tiktok.
"Bukan kita yang norak Dam, tapi elu yang cosplay jadi musyrik! Awas aja kalo sampek lo murtad. Gua suciin otak lu pake air comberan!" semprot Bagas menggeplak punggung lebar di sampingnya itu. Adam berdecak lalu memutar bola matanya jengah.
"Ini tuh namanya collab coeg! Norak banget si lu pada? Kolaborasi dikit lah biar keren!!" ucap Adam yang masih sibuk mencari pembelaan diri.
Definisi makin banyak bicara, makin nyungsep ga si?ðŸ˜
"Nama doang Adam, kelakuannya abu jahal!" semprot Sammuel padat singkat dan bangs*t. Biasalah!
"Anjir head shoot Ahahahhaa!!"
"Sekali lagi, bapak Sammuel tampil dengan gaya savage andalannya!"
"Pasti bokap lo nyesel nih ngasih nama berkasta tinggi buat modelan kek gini nih." celetuk Vano geleng-geleng. Adam berdecak, sial! Tak ada kubu pemihaknya.
"Tau ah lu pada jamet kudet, ga ada jiwa upgrade sama sekali huuuuu!!" pekik Adam masih ngeyel.
"Enggak gitu konsepnya bodoh!" semprot Bagas.
"Bukan temen gue!"
"Bocah prik!"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰