DEVANO

DEVANO
37. Couple GR?



"Bukan Classio pelaku nya. Ada adu domba dari geng motor lain." jawab Vano membuat Sam mengeryit.


"BB geng?" tanya Sammuel. Vano menoleh.


"Bisa jadi ini akalan Rayhan kan? Lo tau sendiri dia gimana." sambung Sammuel lagi. Vano manggut-manggut.


"Bisa jadi, tapi kita harus cari bukti Sam." jawab Vano sependapat dengan Sam. Ia lalu berbalik dan pergi lagi menuju motor nya


"Eh Van mau kemana? Luka lo ga di obatin dulu?" teriak Adam yang sedang berduaan saling mengobati memar di wajah nya bersama Bagas.


"Ga usah. Ntar guee di rumah." jawab Vano sambil mengenakan helm.


"Lah tumben masih jam segini udah pulang?" tanya Bagas.


"Ada janji ketemuan sama klien bokap. Gue duluan, Lo semua hati-hati!!" pamit Vano dan langsung melesat pergi.


...****************...


"Qi jalan yuk, bosen nih gue." rengek Rizal yang sejak tadi sudah mengajak Qia jalan tapi sepupu nya itu selalu menggeleng tak mau.


"Mager kak." jawab Qia untuk kesekian kali nya.


"Itu Hp lo beneran tuh?" tanya Rizal mengintip layar display yang menampilkan room chat Qia. Qia mengangguk.


"Tadi sore baru aja di balikin sama Vano si ayam utan." sahut Qia. Kenapa di sebut ayam utan? Ya author juga ga tau. Coba kalian tanya aja ke Qia langsung.


"Loh tadi sore?" tanya Rizal lagi.


"Hmm."


"Lah bukan nya tadi sore Vano sama geng nya itu nyerang markas Classio ya?" tanya Rizal kesekian kali nya. Alis Qia terangkat.


"Really?" tanya Qia tertarik dengan pembicaraan ini. Ia langsung mengabaikan deretan chat yang mengantre di whatsapp nya. Rizal mengangguk yakin.


"Iya tadi gue, Devan sama Haikal lihat sendiri pas Vano nyamperin markas mereka, terus jadi ribut deh." jawab Rizal enteng.


"Terus enggak lo tolongin?" tanya Qia menaikkan sebelah alis. Rizal menggeleng polos.


"Gue pantau dari jauh dan Ghosterion menang. Ya udah gue lanjutin lagi jalan gue." jawab Rizal tanpa dosa.


"Ck. Kalo tau berantem tuh di bantuin, bukan cuma di tonton doang!!" ketus Qia berdecak malas.


"Dih sejak kapan lo care begini sama Vano? Apa jangan-jangan lo beneran jadian ya sama dia?" ledek Rizal menaik turunkan alis nya.


"Atas dasar kemanusiaan doang kak, ga lebih! Apaan sih lu lebay gini." gerutu Qia sebal.


"Kalo atas dasar kemanusiaan, harusnya lo nyuruh gue misah mereka. Bukan cuma bantuin satu kubu dong!! Ah iya, gue kemarin di kasih tau sama Raga." ucap Rizal masih gencar menggoda Qia. Kedua sepupu itu sedang duduk santai di tepi kolam rumah Qia.


"Kasih tau apaan?" tanya Qia sambil meminum jus jeruk di meja.


"Nama kontak Vano di Hp lo, Vano ganteng? Iya kan?" tanya Rizal to the point.


Brushh


"Bukan gue yang ngasih nama." elak Qia menggeleng cepat.


"Terus siapa kalo bukan elo? Tante Andin?" tanya Rizal.


"Dia sendiri yang kasih nama gituan. Yakali gue kasih nama dia ganteng? Dih." jawab Qia bergidik ngeri.


"Terus kenapa ga di ganti? Halah udah ketahuan suka, masih ngelak mulu lo!" sahut Rizal tersenyum miring. SKAKMAT!


"Ah tau ah! Kena mulu kalo ngomong sama elu... Gue mau tidur aja duluan. Bye!!" ketus Qia yang langsung berlari masuk ke dalam rumah.


"Yee si monyet betina, di ajak jalan malah mau tidur." gerutu Rizal yang akhirnya memutuskan untuk ke markas saja dari pada gabut.


...****************...


"Apa mungkin Sammuel bener ya, Rayhan ada di balik adu domba kemarin?" gumam Vano bermonolog di balik helm full face yang ia pakai.


"Gue harus cari bukti tentang ini! Ga bisa di biarin kalo ini bener kerjaan anak BB." ucap Vano memukul body depan motor dengan kesal. Pagi ini Vano mengemudikan motornya dengan pelan dan santai karena masih pagi dan juga ia tak berangkat bersama teman-teman nya seperti biasa.


Tin tin tin


"Eh anj- sialan tuh mobil!!" umpat Vano kaget karena muncul sebuah mobil lambo merah yang langsung menyalipnya.


"Eh eh? Plat nya ga asing ya... Q 1 A. Oh ini kerjaan emak-emak rentenir kontrakan. Awas aja lu bocil!!" gumam Vano langsung ikut tancap gas untuk mengejar ketertinggalan nya dari mobil tadi. Ia yakin kalau Qia ada di balik semua ini.


"Hufttt selamat datang kembali di sekolah sejuta ulah." ucap Qia menyapa dirinya sendiri. Ia baru saja keluar dari mobil nya sambil menata rambutnya yang sedikit berantakan.


Brum brum


ckitt


"Ashhh-" pekik Qia yang hampir saja mengumpat. Vano, Ya! V 4 NO pasti milik Vano si ayam utan menyebalkan yang selalu mengusik ketenangan nya di sekolah ini.


"Hallo ayam utan!!" sapa Qia tersenyum manis setelah Vano melepas helm dan merapikan rambutnya yang makin acak-acakan karena helm itu.


"Ayam utan? Mata lo sehat? Ganteng gini di panggil ayam utan." sahut Vano mengeryit heran. Qia menyentil rambut jambul Vano.


"Nih mirip jambulnya ayam, terus lo juga galak plus banyak cakap! Pantes kan gue sebut ayam utan yang berisik?" jawab Qia penuh dengan materi yang berlandaskan fakta. Vano tersenyum miring.


"Jadi selama ini lo merhatiin gue ya? Ooo jadi terharu gue." sindir Vano menaik turunkan alis nya.


"Dih GR terossss!!!" pekik Qia keras di samping telinga Vano.


"Ya udah kalo gitu gue juga mau nyapa lo deh sebagai balasan tadi." ucap Vano membuat kening Qia berkerut.


"Hah?"


"Selamat pagi Rentenir kontrakan!!" sapa Vano tersenyum lebar. Qia menabok lengan Vano. Ia jadi teringat dengan nama kontak dirinya di Hp Vano.


"Heh! Sembaran ya lo juga kasih nama itu di Hp lo kan? Wah parah lu kak... Gue manis begini di kata rentenir." protes Qia dengan senyum lebar penuh paksaan.


"Ga usah GR jadi cewek!!" omel Vano menonyor kepala Qia. Biasalah!


"Nah nah ini dia nih, galak! Lo tuh super galak plus cerewet juga Qiaaaaa, ya bener dong gue sebut lo rentenir?" sahut Vano yang juga berlandaskan fakta masuk akal. Qia tak menanggapi nya lagi, ia kini menatap fokus ke arah jidat Vano yang bekas lebam, seperti biasa.


"Cielah muka nya bonyok lagi!! Habis berantem ya? Ulululuuuu pasti sakit tuh, kacian!!" pekik Qia menye penuh ledekan.


"Kok lo tau? Oh pasti lo stalk gue ya? Lo diem-diem ngefans juga ya sama gue?" tanya Vano dengan pede nya. Senyum penuh ledekan di wajah Qia tadi langsung luntur begitu saja.


"GR teros yang di gedein!" semprot Qia sewot. Vano tertawa, Qia hendak langsung berbalik pergi meninggalkan cowok rese itu. Tapi Vano berulah lagi! Vano merebut kunci mobil Qia di tangan nya dengan tiba-tiba.


"Eh eh balikin kak!!" omel Qia hendak mengambil kembali kunci mobil nya. Tapi Vano lebih gesit dan menghindar.


"Eiitsss ini barang tahanan! Lo bisa ambil kalo gue udah nyuruh!" ucap Vano seenak jidat. Padahal kunci juga milkk Qia sendiri, tapi malah dia yang main atur.


"Balikin sini ihh kak Vano rese!!" teriak Qia kesal menatap punggung Vano yang justru melenggang pergi.


Vano hanya melambaikan tangan nya tanpa menoleh.


...****************...


"Lah elo sendirian aja Gab?" tanya Bagas celingukan mencari buntut alias ekor Gabby yang selalu mengikutinya kemanapun Gabby pergi.


"Kek nya virus telat Bintang kambuh lagi Gas." jawab Gabby lalu mendudukkan dirinya di sebelah Sammuel. Ya, yang di maksud ekor tadi adalah si Bintang.


"Bayangin aja kita tiap hari ga berangkat bareng, buku skors Bintang pasti isinya telat mulu tuh sampek penuh." celetuk Adam. Mereka semua tertawa.


"Selain murid favorit nya pak Bambang, Bintang juga siswa teladan kesayangan nya pak satpam tuh!! Emang damage nya Bintang double kill sih." celetuk Bagas tertawa ngakak.


"Teladan apanya nyet?!" tanya Adam heran.


"Maksud Bagas itu teladan, Telat Datang!!" sahut Vano yang sudah tau arah jokes Bagas. Dua jempol di dapatkan langsung oleh Vano dari Bagas karena tebakan jokes nya yang tak meleset.


"Emang bener juga sih haha." sahut Gabby.


"Pak? Login sendirian aja." sindir Gabby saat melihat Sam yang sudah sibuk main game tanpa mengajak nya.


"Lo yang kelamaan kesini. Buruan login!" suruh Sam tanpa mengalihkan mata nya dari Hp. Hari ini anak-anak murid favorit kesayangan pak Bambang itu sedang bolos lagi di Roof top sekolah. Sam dan Gabby main game online. sedangkan Bagas main gitar dan sebagai team nyanyi meskipun suara ga terlalu bagus, ada Adam dan Vano.


Jreng jreng jreng


Nothing's gonna change my love for you


You oughta know by now how much I love you


The world may change my whole life through


But nothing's gonna change my love for you


Prok prok prok


"Terimakasih dan terima gaji!!" ucap Adam setelah mengakhiri lagu singkat nya bersama Vano dan Bagas.


"Suara lo pada bagus!" puji Sammuel tiba-tiba. Tiga musisi abal-abal cap kaki lima itu menoleh bersamaan dengan alis yang sam-sama terangkat.


"Tumben ada kulkas muji orang?" celetuk Adam heran.


"Kesambet apaan dia?" tanya Bagas menyenggol lengan Vano. Vano mengendikkan bahu nya acuh karena memang ia tak tau.


"Tapi lebih bagus lagi kalo diem aja. Berisik anj*ng!!" ketus Sammuel melanjutkan kalimat nya yang ternyata belum cukup berhenti di sana. Bagas dan Adam mendengus malas, sedangkan Gabby tertawa ngakak sambil masih terus melanjutkan aksi nya di dalam game bersama Sammuel.


"Baru aja di puji baik, udah bikin mental break down aja nih bapak kita." gerutu Adam sebal. Vano tiba-tiba teringat dengan kunci mobil Qia yang ada di dalam saku seragam nya. Vano mengambil kunci mobil dengan sebuah gantung berbentuk hitam bulat menyerupai liontin.


Karena rasa ingin tahu nya, Vano membuka liontin hitam itu. Dan wow!! Capo DS Boys? Kenapa bisa ada liontin hitam dengan tulisan berukir 'Capo DS Boys' di dalam dua lingakaran terbagi itu?


'Qia Capo nya DSB? Gilak!! Ternyata Qia orang nya? Apa yang selama ini di sebut 'disembunyikan' sama Rizal dan Raga itu maksudnya adalah Qia?' batin Vano memekik kaget. Spechless! Benar-benar semakain sangat berkelas sekali perempuan itu di mata Vano.


'Lo emang bener-bener beda sih Qi, baru kali ini gue sekagum ini sama cewek. Cewek kek elo nih yang gue cari selama ini! Pantesan aja gaya lo kelewat songong sama nyolot, ternyata lo emang produk berbobot unggul!!' puji Vano makin kagum dengan perempuan cerewet yang baru saja satu jam yang lalu berdebat dengan nya. Tanpa sadar senyuman tipis terukir di wajah dingin nya.


Tapi Adam dan Bagas menyadari hal itu. Kedua manusia julid itu lantas saling senggol satu sama lain.


"Bapak Vano kenapa?" tanya Adam berbisik.


"Ga tau, tuh anak akhir-akhir ini emang suka aneh nyengir sendiri." jawab Bagas menggeleng.


"Lebih tepat nya sejak ada Qia sih. Sebelum ini, mana pernah dia kek orang kasmaran gini ya?" sahut Adam lagi. Bagas manggut-manggut.


"Iya sih bener juga."


"Woy pak ngelamun nyengir gitu kenapa lo? Kasmaran sama Qia ya?" tanya Adam melambaikan tangan nya di depan wajah Vano. Vano tersadar dan langsung menutup liontin di kunci milik Qia.


"Apaan tuh?" tanya Bagas beralih menatap liontin kunci yang buru-buru di tutup oleh Vano.


"Kunci mobil? Lo bawa mobil Van?" tanya Bagas lagi. Vano menggeleng.


"Punya Qia." jawab Vano.


"Lah?!!" pekik Gabby, Adam dan Bagas bersamaan. Sammuel hanya menoleh dan menyimak.


"Kenapa?" tanya Vano heran karena semua kawan nya itu menatapnya dengan intens.


"Sejak kapan lo jadi nempel terus sama Qia?" tanya Bagas.


"Benih cinta aww!!" pekik Adam.


"Cielah Bapak komandan besar lagi jatuh cinta!" sahut Gabby ikutan nimbrung menggoda Vano. Vano mendengus malas.


"Paan si berisik! Diem aja kek Sammuel aja gitu bisa ga?!" semprot Vano sebal.


"Enggak mau ah, ogah gue jadi sapi berhati batu." celetuk Adam bergidik ngeri dengan menatap Sammuel. Ya, sindiran tadi memang di tunjukkan untuk Sammuel.


"Gue udah diem juga tetep aja kena! Gue tandain muka lo Dam!" kesal Sammuel memutar bola mata nya malas. mereka semua pun tertawa.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰