
Kalau ada yang bilang anak-anak perempuan yang memanfaatkan jam olahraga untuk benar-benar bergerak, itu hanyalah bullshit! Lihat saja ke arah tepian lapangan basket ini! Bukannya olahraga, anak-anak cewek malah sibuk menonton pertandingan basket friendly match antara 11 MIPA 5 dengan 12 MIPA 2, tepatnya geng Vano dan kawan-kawan.
Permainan basket itu berlangsung dengan sangat seru dengan poin unggul di pihak Vano and the geng. Qia benar-benar sebuah berlian di dalam permainan itu, ia bergerak lincah menggiring bola kesana kemari dan tak membiarkan musuh menyentuh apa yang ia bawa.
Kalau saja Qia adalah laki-laki, maka bisa dipastikan dia akan bisa masuk ke dalam grup basket inti SMA Airlangga. Tugas anak-anak perempuan yang menonton adalah bersorak untuk para pemain, ada yang masih setia mendukung teman kelasnya, ada juga yang berbelok mendukung geng Vano karena gaya cool dan ganteng mereka yang makin ugal-ugalan saat berada di lapangan.
"Sial tuh cewek caper amat!" gerutu Sarah mengepalkan tangannya geram. Dua anteknya manggut-manggut.
"Iya Sar, mana dari tadi dipepet terus sama Vano." celetuk Wulan polos. Dewi dan Sandra menoleh tajam.
"Dia yang mepet Vano, bukan malah Vano yang mepet!" koreksi Dewi. Wulan menggeleng polos.
"Enggak kok, dari tadi Qia biasa aja. Emang Vano aja mepet mulu." bantah Wulan karena memang itulah yang terjadi. Ingat ya! Wulan itu ikut geng jahat tapi otaknya kelewat polos.
"Ah tau ah! Lo itu geng kita atau geng Qia si?" sungut Sarah kesal.
"Tau tuh!" celetuk Dewi ketus.
"Ya geng kalian lah, kan gue ngomong berdasarkan fakta Sar Dew!!" cicit Wulan tak mau disalahkan karena menurutnya dia memang benar. Sarah dan Dewi memilih untuk diam saja dari pada mereka emosi sendiri karena ulah Wulan.
Back to basket.
"Uhuyyyyy 3 lagi poin Tang!! Gue menang, dan lo kalah wleeee." celetuk Adam meledek Bintang saat permainan terjeda.
"Songong lu Dam!" ketus Bintang kesal.
"Kalah kok ngamok." cibir Vano dengan wajah tak berdosa nya. Bintang menoleh dan menatapnya tajam.
"Wah ngelunjak lu Pak!! Kalo lo ga ngeyel ngambil Qia, belum tentu tim lo yang pegang poin! Elu mah menang ngeyel doang wleee." semprot Bintang seperti anak kecil yang main ejek-ejekan.
"Wah wah Van Bintang kelewatan Van... Dikata lu ga becus kali ah." ucap Adam kompor.
"Iye tuh kelewatan lu Tang! Lo lupa siapa kapten basket kita?" sahut Bagas ikut kompor. Bintang malah menye menggerak-gerakan asal bibirnya tanpa mengeluarkan suara.
"Enyenyeyeyeeyeyeeee." ucap Bintang komat-kamit. Percayalah! Yang dilakukan oleh Bintang ini terlihat sangat menyebalkan bagi seorang Vano.
"B*cot lo Bin!!" sungut Vano datar. Ia refleks melemparkan bola basket ditangannya ke arah Bintang, dengan kepala yang jadi sasarannya.
"OHHO tidak semudah itu miskah!!" pekik Bintang sombong karena gerakan menghindarnya yang cepat membuatnya bisa menghindar dari lambungan bola kasar dari ketuanya itu.
Dugh
Auuuuuuu
Vano mendelik. Bukan karena Bintang meledeknya lagi, tapi karena bolanya salah sasaran! Alih-alih mengenai Bintang, bola besar dan keras itu malah membentur kepala seorang perempuan berambut sedikit pirang, Sarah.
"Mamp*s!" pekik Manda dan Ratu kompak saat melihat bola basket Vano menghantam kepala Sarah, si kakak kelas sok senior itu. Deeva hanya melongo dan menutupi mulutnya yang sampai ternganga.
"Damagenya sampek sini anjir!!" cicit Deeva takjub. Iya, bukannya kasihan. Deeva malah takjub. Aneh, semuanya aneh. Ga ada yang bener!
Adam, Bintang, Bagas, Vano dan yang lain langsung berlari ke tepi lapangan untuk melihat kondisi Sarah yang tampak kesakitan di bagian kepalanya itu dengan ditemani dua temannya. Sementara Qia, Sammuel, dan Gabby masih berdiri santai tak bergeming di tengah lapangan tempat mereka berdiri sejak awal.
"Pak lo ga pengen liat?" tanya Gabby. Sammuel mengendikkan bahunya acuh.
"Bukan urusan gue!" sahut Sammuel singkat, padat, dan nyelekit. Qia juga tampak bodoamat dengan orang rese yang selalu mengganggu hidupnya itu. Qia hanya mengawasinya dari jauh saja.
"Sorry Sar. Gue ga sengaja!" ucap Vano datar di depan Sarah yang memegangi kepalanya.
"Auu sakit." cicit Sarah.
"Vano lo gimana sih? Temen gue kesakitan nih." omel Wulan ngegas. Vano berdecak malas.
"Kan gue udah bilang, gue ga sengaja." ulang Vano menegaskan permintaan maafnya tadi.
"Ya ga bisa pake maaf doang dong! Bantuin ke UKS atau gimana kek." gerutu Wulan masih protes. Vano memutar bola matanya malas.
"Temen lo ini cuma kejedot bola, bukan kejedot tiang! Berdiri jalan sendiri juga bisa kali. Lebay amat!!" elak Vano dengan tampak dinginnya. Berurusan dengan Sarah and the geng adalah hal yang paling ia hindari karena hanya membuang waktu!
"Jadi cowok gini banget sih." ketus Wulan.
"Lo juga Sar, kok lo diem aja sih?" tanya Wulan pada Sarah yang tak protes sedikitpun padahal biasanya cewek itu paling cerewet.
"Gue ga papa Lan, cuma pusing doang dikit." ucap Sarah drama. Kenapa drama? Karena dia sengaja mengatakan itu karena ia melihat pak Munir berjalan mendekat.
"Tuh telinga lo pasang! Sarah ga papa." ketus Vano datar. Wulan berdecak sebal.
Vano hendak putar badan dan pergi tapi pundaknya kembali diputar oleh pak Munir.
"Heh mau kemana kamu?" tanya pak Munir garang. Vano menaikkan sebelah alis.
"Balik main lah Pak, mau apa lagi coba?" tanya Vano balik tanpa dosa, tanpa beban, tanpa merasa bersalah.
"Enak saja kamu ga bertanggung jawab!! Bawa Sarah ke UKS dulu, baru kamu boleh lanjut basket." omel pak Munir kasihan melihat Sarah yang memasang raut wajah kesakitan.
"Ngapain UKS? Dia bilang dia ga papa Pak." sahut Vano menggeleng tak mau.
"Auuuu." pekik Sarah tiba-tiba. Pak Munir menunjuk Sarah dengan matanya menatap Vano lurus.
"Itu kah yang kamu bilang ga papa? Ayo tanggung jawab pokoknya! Kamu ini laki-laki, kapten basket, ketua dari geng motormu juga. Masa ga berani tanggung jawab?" tanya pak Munir membuat Vano menghela nafas pasrah.
"Ya udah iya, bawel amat!" ketus Vano lirih.
"Apa katamu Vano?" tanya pak Munir yang sedikit banyak mendengar omelan Vano tadi. Vano menggeleng acuh.
"Sar, gue bawa lo UKS." ucap Vano tak menghiraukan guru rese mudah dikibuli yang jadi penyebab dirinya harus berurusan lebih lama dengan Sarah.
Sarah tentu saja tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dia langsung merengek bergelayut di lengan kekar Vano dan setengah memeluknya.
"Dih dih mak lampir kegatelan dih." cicit Ratu bergidik ngeri melihat pemandangan ini. Sementara mata Manda menangkap kejadian janggal, dimana tepat disebelah Bagas yang berdiri saling rangkul dengan Adam itu ada sesosok jin wanita yang siap modus. Dewi.
"Wah Dewi mau mepet ayang gue! Ga bisa dibiarin tuh anak." ucap Manda langsung berlari mengejar Bagas yang sepertinya tidak sadar kalau Dewi mulai mendekat dan mau mengambil kesempatan untuk berada dekat-dekat dengannya.
tinggal satu jarak saja Dewi bisa menyentuh lengan Bagas, tapi Manda lebih dulu memasukkan kepalanya kedalam tangan Bagas yang terbuka karena berkacak pinggang. Bagas pun menoleh kaget, ia melirik ke bawah tepatnya di tangannya. Dimana pacarnya itu berada di sana.
"Ga semudah itu jamet!!" ketus Manda menatap tajam dan memeletkan lidahnya penuh ejek. Dewi yang tampak geram karena usahanya mendekati bagas selalu digagalkan oleh Manda.
"Beb kamu ngapapin heh?" tanya Bagas heran. Manda mendongak masih dengan kepala di antara tangan Bagas.
"Heha ga papa sih, cuma menghindarkan kamu dari godaan setan berkedok lampir nih!!" ucap Manda melirik sinis ke arah Dewi. Bagas menggut-manggut lalu menarik tangannya dari kepala Manda, juga melepaskan tangannya dari pundak Adam. Ia kini beralih merangkul pundak Manda dengan mesra sambil melihat Vano yang tampak tertekan di depan sana dengan Sarah dan pak Munir.
"Wleeee." ucap Manda melet lagi. Dewi mendelik tajam tapi tak mempan bagi seorang Amanda.
"Gue pusing, ga kuat jalan. Gendong!!" cicit Sarah manja memeluk lengan kekar itu. Vano memutar bola matanya malas.
"Yang kena hantam tadi kepala lo, bukan kaki! Lo pincang hah?" tanya Vano ogah-ogahan.
"Ekhemmm!!! Tanggung jawab ya ingat tanggung jawab. Jangan kasar gitu dong. Ayo cepat gendong dan bawa ke UKS, setelah itu kamu boleh melanjutkan permainan basket." omel pak Munir nyerocos menasehati cowok keras kepala yang memang pada dasarnya paling anti dengan yang namanya perempuan, apalagi Sarah.
"Apes banget gue!" gerutu Vano pasrah menggendong Sarah untuk di bawa ke UKS. Tak ada pilihan lain! Daripada makin banyak durasi, lebih baik ia selesaikan saja semua ini. Sarah tersenyum penuh kemenangan karena akhirnya setelah menyukai Vano lebih dari dua tahun ini, ia bisa merasakan bagaimana sensasi digendong oleh seorang Devano Axellio.
"Ck. Drama!" umpat Qia berdecak kesal. Entah mengapa hatinya sedikit terganggu melihat pemandangan kecut ini. Gabby dan Sammuel menoleh ke arah Qia yang berada tak jauh dari mereka.
"Eh Qi lo mau kemana? Lanjut lagi mainnya woi!!" panggil Gabby saat Qia berbalik hendak pergi dari Gor.
"Cabut! Udah ga mood." sahut Qia menoleh sejenak lalu kembali melanjutkan langkahnya dengan hentakan kaki yang disengaja. Gerak-gerik Qia pun tak luput dari mata Vano yang juga hendak keluar dari Gor dan membawa Sarah. Diikuti juga oleh Dewi dan Wulan.
'Dia kenapa? Kok pergi?' batin Vano.
"Tuh cewek kenapa dah?" tanya Gabby heran.
"Jealous." jawab Sammuel. Gabby menoleh.
"Sama siapa Pak?" tanya Gabby tak peka.
"Sama Sarah Vano lah. Sama siapa lagi coba!"
...****************...
"Hufffttt tenang banget di sini." lirih seorang gadis cantik dengan seragam olahraga biru putih itu. Qia.
Qia saat ini sedang menyendiri di rooftop. Entah mengapa hatinya jadi tak karuan melihat Sarah yang ngasal memeluk Vano, Vano yang beberapa hari ini selalu bersamanya. Saat suasana hatinya sedang tak enak, healing terbaik baginya adalah menyendiri di tempat sepi. Kebetulan juga Roof top lumayan sepi karena ini masih masuk jam pelajaran.
Qia duduk di kursi kayu dengan kaki lurus terangkat ke atas meja, kedua kelopak matanya mulai terpejam menikmati hembusan angin pagi setengah siang yang bisa sedikit menyejukkan suasana hatinya yang panas dan sesak
Tap tap tap
Qia mendengar bunyi derap langkah seseorang dari arah belakang, tapi ia mencoba untuk tak peduli dan tetap diam memejamkan mata.
Tapi sayangnya keheningan dan ketenangan yang dinikmati oleh Qia ini tak berlangsung lama.
Ekhemm
Qia mengintip suara itu dengan satu mata terbuka kecil. lalu memejamkannya kembali setelah mengetahui kalau sosok itu adalah Vano.
"Kenapa pergi?" tanya Vano mendudukkan dirinya di sebelah Qia.
"Hah?" tanya Qia melirik Vano sejenak.
"Pas gue gendong Sarah, lo kenapa langsung pergi?" tanya Vano lagi. Entah ia tadi diberitahu oleh Gabby atau entah karena ia terlalu peka.
Qia tak menjawab, ia malah kembali memejamkan mata erat. Ia hanya ingin menghindar sejenak. Lagipula Qia tak bisa kan langsung menyebut ini dengan cemburu? Memangnya dia siapa? Vano juga siapa? Mereka bahkan tak memiliki hubungan apapun selain saling usil.
"Yee malah diem!" omel Vano. Qia menggeleng.
"Gue ga bisa jawab."
"Kenapa ga bisa jawab? Lo cemburu?" tanya Vano to the poin. Perasaannya kepada Qia mulai mencuat begitu saja saat ini, terlebih lagi tadi sebelum Vano ke sini, ia lebih dulu menemui Gabby dan Sammuel yang mengklaim kalau Qia jealous melihat Vano menggendong Sarah tadi.
"Cemburu?" tanya Qia membuka matanya dan menurunkan Kakinya yang tadi nangkring di atas meja.
"Iya. Lo cemburu?" tanya Vano lagi. Qia malah tertawa kecut.
"Hahahah ngawur! Emang apaan pake segala cemburu?"
"Haha kalaupun iya juga ga papa kali Qi, gue....." sahut Vano langsung berhenti. Hampir saja dia keceplosan.
Qia menaikkan sebelah alis menunggu lanjutan ucapan Vano. Entah sejak kapan Qia sudah duduk bersila sebelah kaki dan berhadapan dengan Vano.
"Gue apa?" tanya Qia. Vano masih menutup rapat mulutnya dengan mata terus terpaut kepada cewek cantik berambut setengah coklat ini.
'Apa gue bilang aja ya?' batin Vano sedikit ragu.
"Malah diem!! Gue apa tadi hah?" tanya Qia tak sabaran. Ia adalah tipe manusia paling tak sabaran menunggu jawaban.
"Gue suka." jawab Vano singkat. Qia menggaruk kepala sampingnya meski tak gatal.
"Hah? Apaan sih ngomong setengah-setrngah mulu! Gue suka apa? Ga ngerti gue Kak!!" omel Qia nyerocos lagi.
"Gue suka kalo lo beneran cemburu." desis Vano menatap lurus ke arah dua bola mata Qia yang juga tengah menatapnya.
"Hah?"
Satu kalimat ambigu yang sulit dicerna oleh otak Qia yang mendadak terserang syndrom lemot. Maksudnya apa? Ah sial! Qia ngebug disaat yang tidak tepat.
"Maksudnya?"
Vano mendengus malas lalu menonyor kepala Qia hingga si empunya terhuyung ke belakang.
"Udah gede, pikir sendiri!" ucap Vano kemudian melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Udah hampir jam 11." lirih Vano.
"Eh eh mau kemana?" pekik Qia karena Vano bangkit berdiri dari kursi.
"Gue ada praktikum kimia." jawab Vano singkat. Vano menyempatkan diri untuk mengacak rambut Qia yang dikuncir rapi itu hingga sedikit berantakan. Lalu pergi begitu saja tanpa sapatah katapun. Qia tentu saja menggerutu sebal karena rambutnya di ganggu.
"JAWAB DULU YANG TADI OYY JANGAN KABUR!!" teriak Qia. Vano masih melanjutkan langkahnya menjauh dan melambaikan tangan tanpa menoleh.
"Tadi apaan si maksudnya? Suka? Ah tau ah pusing!! Punya otak cuma satu, gampang ngelag pula." gerutu Qia mengacak rambutnya frustasi. Definisi rambut sudah berantakan, dan makin berantakan karena ulah tangan sendiri.
...****************...
"Ga pernah ngelirik cewek, sekalinya nemu yang cocok dianya ngebug. Untung aja sayang." ucap Vano bermonolog saat menuruni tangga. Bayangan wajah Qia yang ngebug lemot tadi masih terngiang dengan sangat jelas.
Vano baru saja berjalan belok di pertigaan perpustakaan lantai tiga saat sekelebat gerak tubuh seseorang yang familiar itu tampak naik ke tangga yang baru saja ia lewati. Valdo.
Ketua osis itu berjalan menaiki tangga menuju Roof top dengan sebuah laptop di tangannya.
"Sialan! Ngapain tuh anak? Ga bisa di biarin nih!!" desis Vano yang langsung kembali jalan berbalik menaiki tangga roof top lagi. Masa bodohlah kalau dia harus terlambat masuk laboratorium kimia, yang jelas yang ada di fikirannya saat ini adalah Qia-Nya tidak boleh berduaan dengan Valdo!
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰