DEVANO

DEVANO
91. Pancake



"Kalo dari segi pandang abang ya de, abang ga tau sih kek gimana sudut pandang kamu ke Vano. Tapi kalo kata abang mah dia udah tipe paling klop sama kamu!"


"Dia laki-laki baik, dingin tapi sama kamu engak kan? Kasar sama musuh tapi lembut ke kamu? Tebakan abang bener?" tanya Raga. Qia mengangguk.


"Iya sih emang."


"Vano gentle, mau berkorban juga, perjuangannya juga oke! Dan point paling pentingnya adalah abang sama Rizal udah kenal baik sama tu anak, pasti ga akan nyesel kalo kamu milih dia. Daripada sama si Rehan itu tuh, ga ada positifnya sama sek-"


"Abang udah ah ngebahas Rehannya.... Mending Qia tidur aja sekarang, BYE!!" potong Qia unmood tiba-tiba setelah mendengar nama cowok brengs*k semalam disebut lagi. Qia cukup anteng saat Raga membaik-baikkan nama Vano, lalu seketika badmood setelah nama itu diganti oleh nama Rayhan.


Setelah itu, Qia langsung pergi meninggalkan Raga di kamarnya. Qia tadinya hanya mengantarkan segelas susu karena Raga tidak mau makan malam dengan alasan malas, lalu ia ditahan oleh Raga karena ingin membicarakan suatu hal.


Brak


Qia menutup pintu kamarnya dengan kesabaran yang sangat minim. Harus ia akui, mendengar nama laki-laki yang 'biasanya dulu' selalu ia bela itu kini terasa sangat memuakkan. Nama itu selalu mengingatkannya dengan kejadian malam itu, kejadian terburuk yang pernah Qia alami seumur hidup.


"Susah-susah kak Vano ngerefresh otak gue di danau tadi sore, ini abang malah seenak jidat bikin gue kena mood breakdown! Ishhh...."


"Kak Vano lagi apa ya malam-malam gini? Tumben ga ada bawel nelpon-nelpon?"


"Lah ngapain juga gue mikirin si manusia kadal? Aishhh udah ga waras gue." ucap Qia merutuki dirinya sendiri.


...****************...


Disebuah toko pancake.


"Mbak saya mau pancake yang ini ya, terus yang ini, ini, sama ini juga, ah terus yang ini tapi separuh aja mbak soalnya anak saya juga ga terlalu suka sama cokelat, mmm sama yang itu juga! Nah sama yang pojok itu juga, itu, sama samping kirinya juga, sama-"


"Ma!" panggil Vano yang sudah tak tahan lagi melihat mamanya seperti orang kesurupan di toko pancake ini. Mamanya terus saja nyerocos mau ini mau itu sejak tadi, memangnya apa sih spesialnya makanan manis seperti ini?


"Iya sayang? Kamu mau pancake yang mana lagi? Mama udah beliin kamu yang keju susu itu tuh." tunjuk Irma pada pancake yang berada di dalam etalase yang tak jauh dari tempat Vano berdiri.


Vano menggaruk belakang telinga yang tak gatal. Ia ingin komplen tapi ia harus pintar menggunakan kata agar mamanya tak tersinggung dan marah, kalau sampai wanita bergelar ibunya itu marah bisa-bisa motornya disita berhari-hari nantinya.


"Mama yakin mau beli semua itu ma? Itu banyak banget loh ma." tanya Vano hati-hati.


"Emang kenapa hm? Pancake disini itu paling enak sejakarta tau! Kamu juga doyan kan?" tanya Irma balik. Vano nyengir gugup, sepertinya ia salah bicara lagi kali ini. Jangan salah, meskipun terkenal sebagai dokter dengan tingkat keramahan dan kesabaran tinggi, tapi Irma tetaplah seorang ibu yang bisa darah tinggi menghadapi anaknya. Apalagi anaknya adalah Vano.


"Ya enak sih enak ma, tapi ga perlu langsung ngeborong juga kali ma. Nanti mama makin melar loh, mau?"


"Perasaan tadi ada yang ngatain mamanya makin kurus deh, kok sekarang jadi ngatain gendut?"


"Ya sekarang emang terlalu kurus ma, tapi kalo mama makan semua pancake sekaligus juga mama bisa langsung menggelembung loh. Kasian kan nanti-"


"Lanjutin ngejulid, mama ambil motormu buat seminggu kedepan!" ancam Irma menatapnya galak. Mata coklat gelapnya membulat.


Vano berdecak dalam hat. Tak peduli sepelan apapun cara ia bertutur kata dalam memprotes mamanya, akhirnya pasti akan selalu seperti ini. Mamanya mengancam Vano dengan senjata motor.


"Loh loh Vano kan cuma-"


"Masih berani ngeles, mama ambil mobilmu juga. Biar aja sekolah naik angkot sana!" potong Irma tak kalah nyolot dari ancaman yang pertama.


"Dih mama cantik-cantik tapi galak bener suka ngancem, mirip banget sebelas-tiga belas sama Qia." keluh Vano memutar bola matanya jengah.


"AH IYA QIA!!!" seru Irma tiba-tiba. Vano yang terkejut dengan pekikan mamanya langsung otomatis memutar kepalanya, mencari sosok gadis itu ke berbagai penjuru.


"Hah apa? Mana ada Qia ma mana?"


"Emang ada Qia disini?" tanya Irma balik. Satu alisnya terangkat heran.


"Lah bukannya mama yang bilang tadi."


"Ish bukan itu maksudnya!!"


"Ya terus?"


"Kamu ga mau beliin Qia pancake hm? Andin pernah bilang kalo Qia tuh suka banget sama makanan yang manis-manis. Dia pasti suka kalo kamu ngasih pancake ini." ucap Irma menepuk-nepuk pundak Vano. Menaik turunkan alisnya seolah memberikan satu jalan lebih maju untuk hubungan anaknya dengan gadis pilihannya .


"Betul juga!!"


"Kalo ada yang bentuk babi aja ma sekalian." request Vano yang kini ikut antusias celingukan memperhatikan setiap detail bentuk pancake di setiap etalase.


"Bentuk apa?" tanya Irma yang mengira dirinya salah dengar.


"Bentuk babi Ma, Qia suka hal-hal lucu berbentuk babi." jawab Vano menjelaskan dengan singat dan jelas. Irma manggut-manggut lalu menoleh kepada asisten toko yang masih berdiri di samping kirinya.


"Mbak adakah yang bentuknya kayak yang dimau sama anak saya?" tanya Irma. Wanita itu mengangguk.


"Kebetulan pancake cokelat berbagai rasa buah memang tersedia dalam bentuk hewan-hewan lucu seperti itu bu. Sebentar saya ambilkan." jawab asisten toko itu dengan ramah. Irma mengangguk.


'Pertanyaannya tu anak masih tidur atau udah melek? Eh kebalik anj-' batin Vano tak jelas.


...****************...


"Arghh lega! Udah cuci muka, udah kelar skincare night juga, sekarang tinggal tidur merajut mimpi dengan sangat tenang dan damai."


Drtt drtt


Baru saja Qia hendak naik ke ranjang, iPhone yang tadi ia tinggalkan di sofa kamar itu berdering.


"Kalo ini dari si kadal, panjang umur dia." ucap Qia berjalan menghampiri handphonenya. Senyum yang sempat terbentuk langsung luntur seketika saat ia membaca nickname si penelepon.


📞Rayhanesse is calling.....


"Ck. Dia lagi!" ketus Qia langsung mereject panggilan itu.


Drrtt drtt


Kembali, Rayhan meneleponnya tapi Qia juga kembali merejectnya.


Drtt drtt


Pantang menyerah, itulah julukan yang tepat untuk diberikan pada Rayhan saat ini. Cowok itu terus saja berusaha menghubungi Qia meskipun selalu ditolak.


Drtt drtt


📩Rayhanesse


Qi please angkat telfon gue!


Gw perlu ngomong.


Sorry buat yang semalem, gue bener2 g niat gitu.


Angkat ya please?🥺


Read.


"Huffftt....."


Drtt drtt


Lagi dan lagi, satu panggilan ternotice oleh Qia dari Rayhan. Kembali pula Qia merejectnya lagi meski ia telah membaca empat pesan dari cowok itu.


Setelah berfikir sejenak, Qia memencet 'red word' ujung bawah slide kontak Rayhan. Blokir kontak, tanpa ragu Qia menekan pelan fitur itu.


"Sorry Re, tapi ini yang terbaik buat gue saat ini. Gue belum siap ngomong sama lo lagi!" desisnya pelan. Setelah itu, Qia membanting tubuhya di atas ranjang empuk. Memejamkan matanya perlahan, masih dengan ponsel yang digenggam erat di tangan kiri.


Drtt drtt


"Siapa lagi sih...." lirih Qia lesu karena badmood. Tapi wajah murungnya menghilang seketika saat nama Vano menghiasi layar ponsel.


📞Dekadal is calling....


"Kebetulan gue butuh moodboster." lirih Qia sebelum menarik tombol hijau.