
Tak berselang lama, terdengar suara-suara cempreng ricuh yang sangat familiar bagi penduduk kursi yang saling berhadapan itu. Ratu, Manda dan Deeva is coming!
"Tuh yang lo cari kak!" tunjuk Qia pada Bagas. Bagas nyengir.
"Ah bu ketua tau aja." jawab Bagas langsung gercep berdiri menjemput pujaan hati. Padahal tanpa di jemput juga Amanda itu sudah gede, ia tak mungkin nyasar di kantin yang luasnya tak selebar lapangan monas. Bucin emang susah dimengerti ye kan?
"Ribet amat bucin." gerutu Sammuel. Tak ada angin tak ada hujan, Sammuel mau buka mulut. Giliran diajak ngomong aja ga pernah nyaut. Mau heran tapi itulah Sammuel.
"Minggir minggir husssss!!" usir Bagas yang seenak jidat menggeser posisi Ratu di sebelah kanan Manda.
"Halo beb!" sapa Manda. Bagas tersenyum lalu merangkul pundak Manda, menepis tangan Ratu dan Deeva yang tadi sama-sama merangkul Manda yang berjalan di tengah. Duo ciwi-ciwi itu berdecak malas.
Emang susah ngelawan teori bucin!
"Sialan!" ketus Ratu.
"Kak Bagas emang hobi ngerusak suasana gibah kita!" sahut Deeva menggerutu. Bagas melirik dua manusia julid itu lalu menarik Manda agar sedikit ajak melangkah maju dari Deeva dan Ratu.
"Jomblo diem!" ledek Bagas melirik Deeva. Kalau soal Ratu sih Bagas sudah tau tentang usaha Adam yang melepas kebiasaan buruk 'musang'nya demi mengejar Ratu.
"Jangan ngatain Deeva beb, kamu belum tau aja simpenannya Deeva dimana-mana. Covernya doang dia jomblo, dalemnya mah banyak cabang kek outlet geprek." jawab Manda terkekeh. Bagas tertawa remeh.
"Heleh belum ketahuan aja tuh sama Sam, ntar juga bakal keok dia." sahut Bagas enteng. Yang ia maksud adalah Deeva, si pro player yang auto jadi noob saat ada Sammuel.
"Yak elah dari sono ke sini aja pake di jemput segala. Manda bukan anak kecil lagi ah!" gerutu Ratu masih tak terima. Bagas menjawab tanpa menoleh.
"Ya namanya juga punya pacar."
"Shombong amat!!" semprot Ratu. Manda hanya bisa tertawa dengan semua ini, hanya tinggal beberapa langkah lagi mereka akan sampai di kursi langganan mereka.
"Tapi emang bener sih, ga ada pacar kek gini banget anjrit. Mana gamon lagi haha." sambung Ratu tertawa sendiri. Deeva merangkul Ratu dengan senyum jahil khas miliknya.
"Tenang bestie! Kita ini cuma ga punya pacar, bukannya ga punya cowok. Pusat boleh ga punya, yang penting cabang dimana-mana." tutur Deeva enteng. Matanya belum melihat siapa saja orang yang ada dikursi yang ia tuju, makanya Deeva masih bisa bicara sembarangan.
Ratu melotot, ia tau kalau ada Sammuel bersama dengan Qia dan yang lain. Ratu menyenggol pinggang Deeva dengan siku kirinya dan memberi kode pada Deeva lewat lirikan mata.
"Kenapa?" tanya Deeva tak connect.
"Ekhemm." dehem Sammuel tiba-tiba. Entah angin apa dan maksud apa yang mendorong cowok kulkas itu.
"Mampus di notice langsung sama Sam." cibir Adam ngakak.
'Mamp*s gue ga liat tadi!' cicit Deeva panik.
"Deeva deeva... Ku kira sad, ternyata sesat." celetuk Gabby geleng-geleng. Ipar laknat!
"Lebih ke bangsat ga si? Haha." sahut Bintang menimpali. Duo wek-wek itu bertos ria. Bagas dan Manda sudah duduk bersebelahan, disusul oleh Ratu yang masih menggandeng Deeva.
"Dev lo ikut gue!" baru saja Deeva akan duduk, Sammuel buka suara. Sekali ngomong langsung bikin ketar-ketir.
"Eh kemana kak?" tanya Deeva mendongak. Sammuel sudah berdiri di sebelahnya.
"Udah ikut aja! Ada yang mau gue omongin." pungkas Sammuel langsung menarik lengan Deeva.
"Lo lagi laper ga?" tanya Sammuel setelah melangkah beberapa langkah dengan Deeva di sampingnya. Deeva menggeleng.
"Gue ga pernah makan siang kak, tapi sekarang haus." jawab Deeva agak nervous. Sebenarnya sejak hari 'itu' Deeva sudah tidak takut dengan Sammuel, tapi karena tadi ia keceplosan jadi ia agak panik.
Sammuel mengangguk tanpa menjawab, ia langsung menuju kulkas minuman dingin milik mang Dadang. Mengambil dua botol minuman jeruk lalu membayarnya dan pergi. Meski dalam diam dan cueknya, Sammuel tak mungkin tega membiarkan Deeva mati kehausan.
Definisi cuek tapi care.
'Kok dia bisa tau gue suka minuman jeruk merk itu? Ini gue yang kepedean atau kak Sam yang diem-diem ngestalk gue si?' batin Deeva heran. Tapi meskipun begitu ia tetap tersenyum dengan sangat puas dan bahagia. Sammuel masih menggandengnya sampai sekarang, banyak siswa-siswi yang menatap mereka dengan bingung. Tumben kulkas 23 pintu bisa jalan sama cewek?
...----------------...
"Dulu Vano sama Qia, sekarang Sam sama Deeva. Dua kutub Oster udah meleleh karena pemanasan global c*k!" ucap Bintang geleng-geleng kepala.
Bukan hanya Bintang, tapi semua orang menatap penuh takjub ke arah Sammuel dan Deeva. Si anti cewek yang noob parah mulai luluh sama buaya betina yang kelewat pro!
"Dih kok jadi gue?" sahut Qia tak terima namanya diikut-ikutin.
"Emang ga ada yang deket sama Vano selain elu markonah!!" jawab Bintang ngegas sendiri. Qia memutar bola matanya malas.
"Qianne bukan markonah!"
"Kak Adam mana?" tanya Ratu refleks. Setelah sadar dengan respond kaget yang terpantau julid dari teman-temannya, Ratu menutup mulutnya rapat-rapat.
"Mamp*s keceplosan sendiri ahahaha!" pekik Qia tertawa puas. Ratu menggaruk belakang telinganya yang tak gatal.
"Widiiiiw duta gamon udah siap lepas jabatan keknya!" seru Bintang setengah meledek. Ia tau kisah Ratu dan Andimas, mantan teman sekelasnya dulu.
"Mission complete!" sahut Gabby menium ujung jari telunjuknya dengan pose seperti habis menembak seseorang.
"Alhamdulillah Adam beneran laku." sahut Bagas bangga.
"Gue bangga lo udah bisa move on Rat!" seru Manda bertepuk tangan.
"Gue doain mental lo kuat lawan mereka ya Rat." ucap Qia yang melenceng dari yang lain.
"Apaan si berisik!" semprot Ratu berusaha mengalihkan topik yang ia ciptakan sendiri.
"Ahahahahaaha." gelegar tawa memenuhi antero kantin. Hanya segelintir orang tapi ributnya minta ampun!
"Ada apaan nih rame-rame?" celetuk suara berat yang langsung duduk di sebelah Bintang. Adam.
"Pantesan ga ada suaranya, baru nongol ternyata." lirih Ratu. Entah darimana pula Adam tadi.
"Apaan lu ngecuwes doang ga ada suaranya. Gue tebak, lo kangen gue kan? Nyariin gue kan lu?" tebak Adam menaik turunkan alis. Adam pinter, bintang empat.
"Bener Dam!! Ratu nyariin lo mulu dari tadi." pekik Bintang heboh.
"Iye. Matanya celingukan mulu." sahut Bagas menimpali. Adam tersenyum penuh kemenangan, apa yang sudah ia katakan di pemakaman waktu itu benar terjadi kan? Perlahan target yang ia mau pasti akan benar-benar mau.
"Apaan si prik!" ketus Ratu.
"Uwuwuwuuuu malu-malu kucing." ledek Adam.
"Tadi ketemu sama anak kelas 10 yang mau join Oster, jadi gue duluan." jawab Adam apa adanya. Setelah ia dan Vano dari toilet tadi, memang ada beberapa anak kelas sepuluh yang menghampiri mereka. Karena Adam gampang bosan dan tak suka berurusan dengan masalah join geng, jadi ia pergi duluan.
'Mumpung ga ada kang toyor kepala, gue cabut aja deh. Mending juga gue tiduran di UKS, lebih enak dan tenang!' batin Qia mencuri kesempatan.
"Gue duluan bro and sist!" ucap Qia berdiri tegak. Semua orang menatapnya heran.
"Mau kemana?" tanya Ratu.
"Jangan bilang mau nyusul Vano." tebak Adam mulai rese.
"Waduh udah mulai bisa main modus-modusan nih." sindir Bintang, si support system utama dalam dunia perjulidan Adam.
"Kepo amat!" sembur Qia yang langsung berbalik pergi.
...****************...
"Ck. Bisa-bisanya gue kejebak di sini sama nenek lampir!" gerutu Vano dengan tatapan datar ke arah bangkar UKS. Di sana tergeletak seorang perempuan yang sedang diperiksa oleh dokter sekolah. Sarah.
"SARAH SARRRRR!!" pekik suara cempreng bin alay dari arah pintu. Dua cewek yang sama rempongnya dengan Sarah itu masuk ke dalam UKS dengan terburu-buru. Keduanya langsung menyerbu sosok Sarah yang tampak lemas di bangkar.
Beberapa menit yang lalu, tepatnya setelah Vano menemui anak-anak kelas 10 yang berminat bergabung di Ghosterion. Vano berjalan di koridor bawah, bermaksud untuk kembali ke kantin. Tapi tak di duga ada sebuah bola futsal yang melayang ke arahnya dari dalam lapangan indoor.
Refleks, Vano menendang bola itu dengan keras. Dan disitulah letak kesialan Vano! Bola itu melambung lurus dengan kencang dan mengenai kepala Sarah yang saat itu berjalan ke arahnya.
Dug.
Sarah pingsan seketika dan terjadilah kerumunan. Bu Yuyun melihat kejadian itu dan memarahi Vano. Bu Yuyun menyuruh Vano bertanggung jawab dan harus membawa Sarah ke UKS, tapi dengan 1000 alasan dan karena masih ada sedikit keberuntungan yang berpihak padanya, Vano melempar tanggung jawab menggendong Sarah ke UKS kepada Nando, anak kelas 11 yang adalah adik sepupu Sarah. Setelah mengeluarkan seribu satu alasannya, akhirnya Vano bisa bebas dari kewajiban menggendong mak lampir. Eh Sarah maksudnya.
Tapi sebagai gantinya, bu Yuyun menahan Vano untuk tetap menemani Sarah sampai membaik. Dan inilah alasan kenapa Vano bisa terjebak di tempat menyebalkan ini.
"Ck. Bisa pecah kepala gue kalo kek gini! Mending gue kabur aja deh." lirih Vano malas. Ia hendak perlahan mundur dan kabur, tapi bu Yuyun mencegahnya.
"Heh mau kemana kamu Devano?!!" omel bu Yuyun garang. Tangan mungilnya mengunci pergelangan tangan kekar milik Vano.
Vano auto gelagapan.
"Eh mmm itu buk saya baru inget, ada ulangan matematika yang ga ada susulannya. Jadi saya harus balik sekarang!" ucap Vano ngeles. Padahal ia saja tidak tau di kelasnya ada mata pelajaran apa setelah ini.
"Serius kamu?" tanya bu Yuyun. Maklum lah guru baru, jadi belum hafal kelakuan dajjal murid terpaling-paling di SMA Airlangga ini.
"Iya bu, duarius malah." cicit Vano mengacungkan dua jari peace nya. Bu Yuyun mengangguk percaya.
"Ya sudah kalau gitu kamu boleh kemb-"
"Bohong bu! Mana ada ulangan matematika? Jamnya aja ga ada hari ini." potong Dewi buru-buru. Sarah sudah sadar bersamaan dengan itu, pasti Dewi dan Sarah sudah berkerja sama menyusun siasat untuk modusin Vano.
"Iya, ulangan kan udah kemarin." timpal Wulan.
"Sial." umpat Vano menahan kesal.
"Oh jadi kamu berani ya bohongin saya!!" omel bu Yuyun galak. Vano nyengir.
"Hehe saya sibuk buk! Kan ini udah ada dua temennya Sarah, ngapain saya di sini coba? Kan bukan mahramnya!"
"Halah sok suci kamu! Saya tidak mau tau, pokoknya kamu harus tanggung jawab!!"
"Tapi bu-"
"Sssttt jangan alasan lagi ya Devano! Saya mau nganterin bu dokter keluar, kamu tetap di sini sampai Sarah membaik. Oke?"
"Atau nilai kepribadian kamu saya kasih merah. Milih yang mana?" sambung bu Yuyun lagi.
"Ya udah iya saya di sini. Ah ribet amat jadi guru beka!" ketus Vano menggerutu.
Setelah bu Yuyun pergi, Sarah mulai beraksi.
"Aaaa Vanooooooo..... Kepala gue pusing, berasa kek berat banget!!" keluh Sarah sok manja. Demi apapun, Vano ingin muntah saat itu juga.
'Tuh kan bener! Apa yang gue bilang tadi, ni anak pasti cuma pura-pura kesakitan doang di depan bu Yuyun biar gue tetep tertahan di sini. Dasar mak lampir modus cih!!' gerutu Vano kesal dalam hati. Kalau saja Sarah ini bukan perempuan, dan Vano bukan tipe laki-laki yang segan dengan makhluk bertahta itu, pasti sudah remuk Sarah di hajar sama Vano.
Sebuah keuntungan tersendiri karena perempuan itu termasuk dalam kategori orang-orang yang segani oleh Vano.
"Lo udah sembuh kan? Gue minta maaf, tadi gue ga sengaja." ucap Vano datar. Sarah si ambisius hanya manggut-manggut.
"Iya udah aku maafin kok, tenang aja."
"Ya udah kalo gitu gue mau pergi!" ucap Vano hendak berbalik dan pergi, tapi Sarah mencekal tangannya dan menarik Vano secara tiba-tiba hingga tangan kekar itu mantap berada di pelukan Sarah.
"Ck. Lepasin Sar! Gue ada urusan." sungut Vano berusaha menepis tangan menjijikkan itu.
Prinsip baru Vano : Lo bukan mama atau Qia? Lo ga boleh nyentuh gue!
"Ih aku pusing juga gara-gara kamu tau Van! Nyender bentar aja masa ga boleh." cicit Sarah bergelayut di tangan Vano dan menyandarkan kepalanya di pundak lebar Vano.
Saran, Vano harus mandi kembang tujuh rupa nanti.
"Minggir nggak?"
"Nggak mau."
"Sar, cepet lepasin sebelum gue kelepasan kasar sama lo! Ga usah rese." ketus Vano hampir kehabisan kesabaran. Sarah malah semakin gencar menempel seperti layaknya benalu hidup!
"Ihhh ga mau, kek gini kan biar pusingnya cepet ilang Van-"
"IYYUHHHHHHH!!" pekik seseorang yang tak sengaja masuk dan melihat adegan permodusan itu. Cewek berbadge kelas 11 itu langsung buru-buru berbalik badan dan menutup kembali pintu UKS dari luar.
Brak
"Waduh bahaya nih! Bisa putus sebelum jadian kalo gue nggak gercep." pekik Vano langsung refleks membanting tangan Sarah. Sarah terpelanting, hampir saja cewek itu jatuh bebas dari bangkar kalau saja Dewi tidak buru-buru menangkapnya bersama Wulan.
Masa bodo dengan Sarah, yang ada di fikiran Vano saat ini hanyalah ia harus buru-buru mengejar cewek yang menatapnya dengan ngeri bercampur jijik tadi. Vano harus menemui Qia, ia tak mau kalau sampai Qia berspekulasi yang tidak-tidak.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰