DEVANO

DEVANO
104. Seratus Empat



"Lo ketos yang kemarin itu kan?" tanya Qia setelah Rayhan beserta pasukannya pergi. Valdo yang tengah mengusap sudut bibirnya yang berdarah itu mengangguk.


"Iya, thank banget ya Qianne... Untung ada lo!" jawabnya. Qia manggut-manggut santai.


"Hm..."


"Btw kakak lo-"


"Udah ga usah dipikirin. Gue tadi boong doang! Biar Rehan takut terus pergi." potong Qia cepat. Tadi ia memang sempat berakting seolah-olah ia menelfon Raga agar datang menolongnya, dan alhasil? Rayhan benar-benar kabur. Kelemahan terbesarnya memanglah Raga, padahal kenyataannya saja Raga sedang di luar kota saat ini.


"Ohh...."


"Btw lo punya P3K nggak?" tanya Qia memperhatikan beberapa lebam di wajah berkulit putih itu.


"Hah? Buat apaan?" sahut Valdo cengoh. Sejujurnya ia cukup terkejut dengan perhatian kecil yang tiba-tiba ia dapatkan ini.


"Ck. Tinggal jawab di mobil lo ada apa enggak?" gerutu Qia tak sabaran.


"Ga ada sih."


"Ya udah tunggu bentar!" ucap Qia kemudian berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir lumayan jauh dari tempat Valdo.


Valdo tersenyum simpul.


"Sial. Dia sebaik ini ternyata? Kalo gini sih pantes aja Vano nempel-nempel terus ke dia." decak kagum seorang ketos pada murid baru yang sudah beberapa kali berlari memutari lapangan sekolah itu.


"Ga bisa gue sia-siain! Gue harus usaha keras buat dapetin hatinya sebelum Vano bener-bener berhasil ngambil hatinya Qia." desisnya lagi. Cowok ini seolah menemukan sinar baru untuk menerangi semangatnya yang sempat meredup.


...****************...


"Ck. Kok Qia ga ada ya?" tanya Vano memukul setir motornya dengan kesal. Adam melepas helm yang ia kenakan lalu menoleh pada sahabatnya itu.


"Lo salah alamat kali Van!" ucap Adam.


"Gue cowok tulen ya! Gue bisa baca map. Lagian juga gue hafal daerah sini kok." elak Vano yakin kalau ini benar alamat yang disebutkan oleh Qia tadi.


"Mungkin lo lupa blok berapanya kali." sahut Gabby curiga pula kalau Vano benar-benar salah alamat.


"Nah bisa aja tuh! Qia di blok berapa emang?" tanya Adam. Dari lima orang yang selalu ada di samping Vano, saat ini hanya ada dua orang yang bersamanya. Yaitu Gabby dan Adam.


Tau kenapa? Karena tiga yang lain tidak datang ke markas motor hari ini. Bintang dengan les privatnya tiap malam hari Rabu dan jumat, Bagas dengan usahanya membujuk Manda yang mengamuk, dan Sammuel si arogan yang selalu nurut kata Bunda itu langsung buru-buru pulang dari markas setelah bundanya menelepon minta jemput.


Jadilah hanya Adam dan Gabby yang menemani Vano saat ini.


"Blok 4C." jawab Vano membuat kedua sahabatnya itu berdecak kecewa.


"Ngapa lu berdua?" tanya Vano menaikkan sebelah alis.


"Nah kan si tolol emang suka nyolot sih! Ini tuh blok 4D babiiiii..." gerutu Adam jengah.


"Lah emang iya?"


"Iya. Daerah sini tuh 4D, si paling ngerti daerah." jawab Gabby menyindir seseorang, you know lah.


"Si paling bisa baca map!" sindir Adam tak mau berhenti. Vano berdecak malas, sindir-sindiran terossss.


"Harusnya 4C tuh kita belok di simpang sebelum sampe sini Van....." ucap Gabby lesu.


"Ya udah kalo gitu nunggu apa lagi? Ayo kesana!" sahut Vano yang langsung memakai helm lagi dan langsung tancap gas.


Adam dan Gabby yang tertinggal itu masih melongo dan saling tatap.


"Temen lu, kenapa tuh Gab?" tanya Adam heran.


"Syndrom bucin emang gitu kali... Dah ah ayo nyusul! Keburu nyikat orang dia nanti."


...****************...


"P3K gue mana lagi nih... Perasaan kemarin udah nyuruh bibi masukin disini deh." oceh Qia dengan tangan yang tak henti-hentinya mengobrak-abrik isi jok depan mobil.


"Nah ini dia ketemu!!" serunya langsung buru-buru keluar dari mobil itu. Senyumnya mengembang setelah ia mendapatkan barang yang ia cari. Memang selalu seperti itu! Qia akan emosi saat tak menemukan sesuatu sedangkan ia akan senyum-senyum sendiri ketika berhasil menemukannya.


Brum brum


Qia menoleh refleks. Baru satu langkah Qia meninggalkan mobilnya, tiga buah motor sport menyala terang menyilaukan matanya. Qia mengerjap kecil. Kali ini siapa lagi? Apa ini Rizal atau Vano?


Tap tap tap


Tampak sesosok bayangan tinggi berlari ke arahnya, Qia masih tak bisa menebak siapa orang itu karena satu lampu dari ketiga motor tadi masih menyala terang.


"Itu siapa sih? Silau banget." tanya Qia lirih. Ia menutupi sebagian matanya menggunakan kotak putih dengan tanda plus merah ditengahnya itu.


Greb


"Eh?" cicit Qia saat tubuhnya dipeluk erat oleh Vano. Ya! Cowok misterius tadi rupanya adalah Vano, meski tak cukup mendapat cahaya untuk melihat wajahnya tapi Qia bisa mengenali gerak tubuh Vano. Mulai dari tangan hingga wangi badannya.


"Kak Van-"


"Are you ok?" potong Vano menangkup kedua pipi Qia, memandangi wajah cantik itu dengan intens.


Sepertinya bukan hanya Qia yang terkejut, tapi juga Gabby dan Adam yang melongo di belakang sana. Keduanya tampak wow dengan tingkah Vano barusan. Demi apa?


"I'm ok, dont worry about me." jawab Qia mengusap punggung tangan Vano yang masih menempel di pipi tirusnya.


"Serius? Lo beneran ga papa?" tanya Vano lagi. Qia mengangguk dengan senyum tipis.


"Iya kak, gue baik-baik aja."


"Gue takut lo kenapa-kenapa..." cicit Vano lagi dan lagi. Qia menunjukan senyum manis pepsodent andalannya.


"Tapi gue ga papa kak... Seriusan deh!"


"Lo-"


"EKHEEEMMMMMMMM!!" deheman keras yang disengaja itu membuat Qia refleks mundur menjauhkan diri dari Vano, tangan Vano di pipi mulus itu pun terlepas begitu saja.


"Lo pikir ni dunia milik lu berdua hah? Gua sama Gabby cuma ngontrak gitu?" tanya Adam geleng-geleng kepala. Cowok rese ini berjalan mendekati Vano dan Qia dengan bersidekap dada seolah ia adalah yang paling bijak disini.


"Alah sok suci lu Dam! Gue kemarin juga ngeliat beginian, tapi versi lo sama Ratu." bantah Gabby yang sepertinya berada di kubu Vano. Si jomblo yang anti iri dengki melihat keuwuan, patut dicontoh!


Adam berdesis.


"Heh jangan buka kartu as gue Geboy!!"


"Ahahaah, ga papa Van ga papa. Lanjutin lagi mesra-mesraannya, gue tau lu berdua cinlok!" suruh Gabby dengan gaya coolnya. Emang dasar cowok kulbet.


Vano dan Qia yang sedari tadi menyimak hanya mendengus.


"Apaan si Boy Geboy." ledek Qia menye.


"Dih?"


"Lo serius ga papa kan Qi?" tanya Vano untuk kesekian kalinya. Qia menghela nafas kasar.


"Astaga harus berapa kali gue bilang gue ga papa hm? Gue baik-baik aja!!"


"Huh syukur deh.. Bisa di geprek mama sama Raga kalo Qia lecet." gumam Vano lirih. Qia yang tak mendengar auto celingukan.


"Apa kak?"


"Hah? Ng-ga papa... Terus ini buat apa?" tanya Vano yang baru notice ada kotak P3K ditangan Qia. Qia mengangkatnya lalu menunjuk mobil sedan hitam di depan sana.


"Ya buat ngobatin si ketos lah." tunjuk Qia ke tempat Valdo berada tadi.


Vano dan kedua anteknya mengeryit hampir bersamaan.


"Ketos?" ulang Vano. Qia mengangguk.


"Siapa Qi?"


"Ketos sekolah mana? Sekolah lo kan banyak." tanya Adam memperjelas keadaan karena memang kenyataannya Qia adalah si tukang gonta-ganti sekolah sebelum masuk SMA Airlangga.


"Ishh ketos lu pada tuh... Si Valdo ada Aldo itu loh, siapa si namanya? Gue pelupa soalnya." jawab Qia mencoba mengingat nama Valdo. Saat itu pula Qia baru teringat kalau ada seseorang yang tengah terluka sedang menunggunya.


"Oh si Valdo."


"Ya udah ah, gue mau nyamperin dia dulu-"


"Ga usah!" ketus Vano mencekal lengan Qia yang hendak berbalik. Gadis itu mengeryit aneh.


"Dam, urus Dam!" ucap Vano sebelum Qia protes. Adam yang memang asal oke-oke aja langsung mengangguk setuju.


"Dengan senang hati pak bos!!"


"Sini sini biar gue aja sama Gabby." ucap Adam merebut kotak itu dari tangan Qia.


...****************...


Keesokan paginya seperti hari-hari sebelumnya, Qia berangkat sekolah dengan dijemput oleh Vano. Ini baru hari ketiga berjalannya taruhan mereka waktu itu.


"Qi!" panggil Vano kembali menuruni tangga. Qia yang sudah berjarak beberapa langkah dari tempatnya berpisah dengan Vano pun menoleh.


"Apa?"


"Nanti gue ada basket di SMA Merpati Bekasi 1, jadi gue ga pulang dari sini. Lo gimana?"


"Maksudnya lo dispen pagi?" tanya Qia balik. Vano mengangguk.


"Iya."


"Ya udah berangkat aja sono!"


"Ck. Maksudnya lo pulang gimana? Kan lo berangkatnya bareng gue."


"Gampang! Gue bisa minta jemput kak Rizal." jawab Qia santai. Vano manggut-manggut.


"Tapi lo ga marah kan gue tinggal?"


"Dih? Dahlah ngantuk gue mau nyambung tidur di kelas. BYE!!" pungkas Qia langsung kabur meninggalkan Vano yang geleng-geleng kepala.


"Halah bilang aja kali, gengsi mulu."


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰