DEVANO

DEVANO
89. Rayhan bertemu Valdo



"Habis ini lo mau kemana?" tanya Vano sambil membukakan pintu mobilnya untuk Qia. Qia menatapnya dengan satu alis terangkat.


"Kepo!"


"Mau ke mall kan lu? Udah tau gue."


"Kalo gitu buat apa nanya!!"


"Basa-basi doang."


"Ga jelas ni anak." gerutu Qia yang akhirnya duduk di seat mobil, disebelah kemudi.


Setelah menutup pintu, Vano beralih menatap segerombolan manusia yang sepertinya memang memperhatikannya dan Qia sejak tadi.


"Gue duluan yok!" ucapnya kemudian berjalan memutari mobil. Teman-temannya mengangguk bersamaan.


"Yoi!!"


"Okeh."


Brum brum


Mobil sport hitam dengan plat "D V4N O" itu melesat pergi membelah kerumunan anak-anak SMA Airlangga yang juga sedang bersiap pulang.


"Masih ga nyangka gue, Vano leleh beneran cuy!!" pekik Adam memulai perghibahan massal.


"Ga kaget sih tapi, Qia paket komplit gitu buat tipe cewek yang selama ini dicari sama Vano." sahut Bagas.


EKHEM


Satu deheman keras di telinganya menyadarkan Bagas dari lamunannya bersama Adam.


"Tapi kalo kamu mah tetep paket komplit selera aku beb." ucap Bagas cepat sebelum Manda ngambek lagi. Baru saja hubungannya membaik setelah ia menyogok Manda menggunakan segepok cokelat favoritnya, jangan sampai cewek itu ngamuk lagi.


"Enyenyenyenye." sahut Manda menye.


"Kan tadi aku udah bilang beb, komplit buat Vano bukan aku. Kalo aku sih cuma kamu doang yang cocok." rayu Bagas lagi. Manda menghela nafas.


"Dah ah ayo balik! Mama udah nungguin di rumah." ajak Manda mengambil helm dari jok belakang Bagas. Bagas mengangguk.


"Ini pasutri berantem mulu perasaan." keluh Ratu geleng-geleng.


"Nanti kalo kita jadian, gini juga kali ya?" celetuk Adam. Ratu menoleh.


"Apaan si? Dah lah ayo balik! Ngapain berdiri doang disini nontonin Manda sama Qia." ajak Ratu mengalihkan topik agar tak terlihat salting.


"Ayo woi!" seru Bintang yang akhirnya membuat yang lain ikut bersiap pulang di jok motor masing-masing.


"Pak gue titip Deeva ye, jangan dibelokin ke Sudirman 3A loh. Hahahha." ucap Gabby sebelum memakai helm full face nya, Sammuel yang sudah lengkap dengan helm tampak menatapnya dengan datar.


"Otak lu!" sungutnya kesal.


"Kenapa kak?" tanya Deeva yang sudah duduk di jok belakang. Sammuel sedikit terkejut lalu segera menggeleng.


"Ga papa, gue ngomong sama sepupu lo doang."


"Oh."


...****************...


Brum brum


Suara bising dari knalpot motor itu memecah keheningan di antero halaman luas yang rindang itu. Beberapa orang keluar dari sebuah bangunan kuno karena mendengar deruman motor itu, rupanya suara itu berasal dari pemimpin mereka sendiri.


"Lo mau kemana Re?" tanya Marvel keluar dari markas. Awalnya ia, Dika dan anak BB lain yang juga bolos sekolah sedang bermain kartu di dalam dan Marvel keluar untuk memastikan kondisi di luar markas yang mereka kira tadi ada musuh mencari gara-gara.


"Ketemu Qia." jawab Rayhan masih memainkan tarikan gasnya. Sepertinya moodnya sedang naik turun tak bagus.


"Ke Airlangga?" tanya Marvel lagi. Rayhan mengangguk lalu segera menancap gas dan pergi.


"Si anjir belum kelar nanya udah kabur bae." gerutu Marvel sebal. Dika muncul lalu merangkul pundak cowok yang berseragam sama persis dengannya itu.


"Alah ga usah dibikin pusing kalo Rehan lagi patah hati mah, kan kita udah kebal mas bro!" seru Dika santai.


"Tau ah."


"Mending kita ke QUQI cafe aja yuk? Gue kangen sama mba-mba barista yang cakep pake poni waktu itu." ajak Dika menaik turunkan alis. Marvel memutar bola matanya malas.


"Bilang aja lo kangen sama dompet gue."


"Ehehehe ya iya lah, secara udah dua minggu ga ditraktir sama sultan muda."


"Ck. Ya udah ayo!"


...****************...


"Tapi biasanya jam 2 baru pulang kok pak, ini baru jam 1 lebih kan?" tanya Rayhan memicingkan mata. Satpam itu mengangguk yakin.


"Iya mas memang benar biasanya jam pulang sekolah itu jam dua. Tapi kebetulan tadi ada acara bersama guru dan komite mas, jadi seluruh siswa dipulangkan sebelum jam 1." jawab satpam itu sopan. Rayhan menghela nafas panjang.


"Ya udah pak, makasih ya."


"Iya mas." setelahnya pun satpam itu berlalu pergi meninggalkan Rayhan yang masih diam di atas jok motor.


"Susah banget mau ketemu Qia. Gue cuma bisa nemuin dia disini, gue telfon ga di angkat, gue chat ga di bales, lebih ga mungkin lagi kalau gue harus ke rumahnya kan." gerutu Rayhan bermonolog. Ia menjentikan jemarinya di helm, mencari akal bagaimana caranya ia bisa menemui gadis itu.


"Raga masih di rumah, gue ga bakal punya celah sama sekali. Mana sekarang ada Vano yang sok-sok an mau jadi pahlawan!"


"Sial banget hidup gue tanpa Qia."


"Ngapain lo nyari Qia?" celetuk Valdo yang tiba-tiba nongol dari arah samping Rayhan. Rayhan menoleh, satu alisnya terangkat. Kedua matanya menatap Valdo dengan sinis, sementara Valdo tetap setia dengan wajah datarnya.


"Siapa lo nanya-nanya?" tanya Rayhan balik.


"Bukan urusan lo!" ketus Valdo kemudian berlalu begitu saja. Rayhan merasa curiga dengan laki-laki tadi, sepertinya ada sesuatu juga antara laki-laki itu dengan Qia. Buktinya kalau tidak, kenapa ia bertanya saat Rayhan dan satpam itu menyebut nama Qia?


"Ga waras tu anak! Dateng sendiri, pergi sendiri." maki Rayhan makin kesal.


"Plat S 123 VL. Gue harus cari tau siapa tuh cowok, pasti dia bukan sembarang orang. Dia kenal Qia, dan gue harus selalu tau siapa aja orang yang ada di sekitar Qia."


"Vano udah cukup menghalangi gue, jangan sampe cowok tadi juga!"


... ....................


"Diem mulu? Sariawan?" celetuk Vano berusaha mencairkan suasana. Qia sejak tadi melamun menatap jalanan dari luar jendela.


Qia menoleh lalu menghela nafas berat.


"Cape ngomong ah. Ga usah mancing anarki deh kak!" sahut Qia lesu.


"Gue tau lo lagi mikirin sesuatu." ucap Vano tanpa menoleh tapi Qia justru menoleh.


"Gelisah gitu tuh muka." lanjut Vano menoleh. Qia menghela nafas.


"Kepikiran soal apa? Rayhan?" tebaknya lagi. Kali ini Vano benar-benar berhasil menyita perhatian gadis di sampingnya.


"Masih keinget yang semalem?"


"Huffftt." dengus Qia memejamkan mata, ia kembali menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi yang ia duduki. Seolah ia sangat lelah hari ini.


"Are you ok?" tanya Vano mengelus-elus pundak Qia dengan salah satu tangannya.


Vano sudah menepikan mobilnya di jalanan yang lumayan sepi di dekat danau menuju rumah Qia. Ia ingin menenangkan fikiran kacau gadis itu, Vano memang tidak pandai membaca bahasa tubuh tapi ia cukup pandai menerjemahkan situasi.


"I'm ok. Don't worry about me." jawab Qia pelan hampir seperti berbisik.


"You're liar!"


"Gue ga bohong kak. Gue baik-baik aja!"


"Cih! Gue bukan orang bodoh. Dengerin ini!" cicit Vano menangkup kedua pundak Qia. Qia terdiam seketika saat sepasang matanya bertemu dan bertaut langsung dengan sepasang mata Vano.


"Lo ga akan baik-baik aja selama lo masih nginget dia dan kejadian malam itu Qi. Stop mikirin hal-hal buruk yang berkaitan sama Rayhan."


"Sorry bukannya gue ngelarang atau mau ngatur, tapi dia emang ga cocok deket-deket sama lo. Hal-hal buruk bisa aja terjadi kalo lo terus menerus deketan sama dia."


"Coba deh, lo pasti bakal hidup dengan tenang dan lebih nyaman kalo lo mau ngelupain semuanya! Ya gue tau emang ga mudah, memori buruk kayak semalam emang akan selalu berputar di otak lo tapi lo pasti bisa nyingkirin itu, selagi lo mau." tutur Vano lembut. Siapa sangka kalau Qia akan menggeleng? Cewek itu menggeleng.


"Ini ga sesimple itu kak...."


'Ini cewek kuat di fisik tapi dalem hatinya lembut banget.' batin Vano kagum, dua sisi kepribadian Qia cukup menarik baginya.


"Ga cuma tentang Rehan, tapi-"


"Tapi apa?"


"Tentang lo juga!"


"Gue?" tanya Vano dengan satu alis terangkat. Qia mengangguk.


"Lo semalem diserang balik kan sama dia? Itu gara-gara gue kak. Maaf banget, Sorry. Gue ga berniat buat ngikut campurin lo sama sekali disini." cicit Qia menunduk, ia memainkan kedua jemari tangannya.


Tangan Vano bergerak menarik dagu Qia agar menatapnya, setelah pandangan mereka bertemu ia lalu menggeleng kuat.


"Soal gue ga usah dipikirin, bukan lo yang ngikut campurin gue kok."


"Maksudnya?"


"Gue sendiri yang mau ikut campur buat ngejaga lo."


"Hah? Ng-ngejaga gue?" biasalah, Qia selalu lemot disaat genting.


"Iya."


Vano mengangguk dengan senyum tipis. Tangannya kini bertenger manis diatas pundak Qia tapi matanya sudah tak berani menatap manik mata gadis di sampingnya ini. Vano membuang tatapan ke sembarang arah, ungkin cowok itu salting?


Sementara Qia tersenyum simpul mendengar jawaban sekaligus melihat tingkah aneh Vano ini, senyumnya terbit tapi ia tak berani menatapnya. Aneh kan? Qia tau cowok itu salting.


'Bisa gila gue lama-lama berduaan gini. Ternyata emang bener kata papa, cinta cuma butuh ruang dan waktu untuk dirasakan. Gue bener-bener ngerasain hal yang ga biasa tiap gue cuma berdua sama Qia.' batin Vano.


"Aaaaaaa kiyowok!!" pekik Qia tiba-tiba. Vano terhenyak kaget.


"Apaan yang kiyowo?" tanya Vano terkejut. Qia menunjuk ke arah luar jendela mobil.


"Itu loh kak, ada yang jualan arum manis bentuknya babi. Lucu kan? Aaaaaa." cicitnya seperti anak kecil.


"Emang babi lucu?" tanya Vano aneh. Sejak kapan babi identik dengan kata lucu?


"Lucu ih.... Semua hal berbentuk babi tuh gue suka kak, mulai dari makanan atau boneka ya terkecuali babi yang real hewan ya. Kalo itu ga suka gue!"


"Oke, kalo gitu tunggu disini bentar!" pungkas Vano yang kemudian langsung turun dari mobilnya. Meninggalkan Qia yang melongo terheran-heran, mau kemana dia?


"Kak Vano!!!!! MAU KEMANA????" teriak Qia menyembulkan kepalanya dari kaca jendela mobil. Vano menoleh sambil tangannya menunjuk ke abang-abang penjual arum manis di dekat taman danau itu.


"MAU BELI BABI." jawabnya enteng.


Qia tak bisa menahan ekspresi senangnya, senyum lebarnya terbit seketika.


"AAAAA IKUT!!!!" cicit Qia buru-buru ikut turun, lalu mengejar langkah lebar Vano. Vano geleng-geleng kepala menyambut kedatangan gadis itu, Qia memang lebih pantas disebut gadis dengan dua kepribadian karena sifat dan sikapnya berbeda di waktu dan tempat yang berbeda.


Kadang ia terlihat sangat garang dan judes, tapi lihatlah saat ini? Gadis itu berlari dengan sangat lucu persis seperti anak paud yang sedang mengejar tukang arum manis. Senyum manis Qia yang tak luntur sejak tadi menambah aura cantik tersendiri.


"Bener-bener dua jiwa dalam satu raga." lirih Vano gemas. Ingin sekali ia mencubit kedua pipi yang mendadak kelihatan chubby itu.


"Gue ikut boleh ya kak?" tanya Qia lagi setelah ia berhasil menyandingi Vano. Vano mengangguk.


"Hm. Ayo!" ajak Vano yang entah terdorong oleh angin apa hingga ia meraih jemari tangan Qia untuk bergandengan menuju si penjual arum manis.


"Arum manis babi yeay!!" pekik Qia kegirangan dengan cengiran khas. Vano tertawa kecil sambil geleng-geleng.


"Dasar bocil gulali!" ledek Vano.


Oke, sepertinya Vano mendapatkan nama panggilan baru untuk Qia selain 'emak kontrakan'.