DEVANO

DEVANO
82. UKS Story



"Lo ga mau ngajak balik ke kelas? Sebetah itu ya lo berduaan sama gue disini?" tanya Vano menaik turunkan alis.


Plak


Qia menabok kaki Vano dengan keras, sebenarnya ini refleks dan tak sengaja tapi Qia tak menyesalinya sama sekali.


"Dih? Najis GR!"


"Auuuuh.... Sakit tau Qi! Ngaku aja kenapa si." desak Vano mengelus-elus pahanya yang terasa panas.


"Makanya jangan gede kepala ah, gue cekek juga lu nanti." gerutu Qia gemas hingga tangannya terangkat, seperti benar-benar ingin mencekik Vano.


"Ya udah kalo gitu ayo balik, bel udah bunyi dari dua menit lalu tuh." ajak Vano bangkit dari rebahan santainya. Ia tadi rebahan sambil menunggu Qia selesai telfonan dengan Raga.


"Emang udah bunyi?" tanya Qia cengoh, ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari jam UKS. Vano menonyor kepalanya dengan gemas. Gemas dibalas dengan gemas, seperti itu konsep semesta bukan?


"Iming idih binyi." nyenye Vano. Qia berdecak.


"Jangan pergi dulu, gue mau ngobatin punggung lo yang sakit." tahan Qia saat Vano hendak turun dari ranjang UKS.


"Hah apaan?" tanya Vano telmi.


"Tadi lo bilang punggung atas lo sakit kan kak?" tanya Qia. Vano mengangguk.


"Well, and than?"


"Sini gue obatin." ucap Qia hendak membalikkan punggung Vano, tapi Vano bersikeras masih menghadap kearahnya.


"Hah?"


"Hah heh hoh hah heh hoh mulu!!" kesal Qia yang kesabarannya sudah diujung tanduk.


"Serius gue ga ngerti."


"Punggung lo, belum diobatin sama tante Irma kan?Sini gue kompres sekalian mumpung udah disini." ucap Qia memperjelas tujuannya.


"Belum sih tapi-"


"Topa tapi mulu! Diem lu. Berbalik!" tegas Qia garang mode on, Vano terhenyak lalu buru-buru berbalik.


"Galak banget calon gue." gerutu Vano lirih sembari memutar duduknya menjadi membelakangi Qia.


"Apa sorry?" sahut Qia tidak bisa mendengar dengan jelas. Kepalanya menyembul dari samping bahu Vano. Vano yang terkejut langsung mencari alasan.


"Tuh kotak obatnya di atas meja tuh." tunjuk Vano mengalihkan. Qia memicingkan mata curiga.


"Selalu mencurigakan!"


Qia kemudian berbalik pergi mengambil kompresan di almari kaca yang terletak di pojok ruangan. Ia kembali dengan sebaskom air hangat, fasilitan di UKS SMA Airlangga memang sangat lengkap.


Sementara itu Vano melepas seragam putihnya sebelum ia kena semprot lagi. Tapi ia masih menyisakan kaos putih polos yang ia pakai.


"Kaos lo kak." ucap Qia yang tangannya mulai mencelupkan kain handuk putih kecil ke dalam air hangat yang ia bawa tadi.


"Kenapa kaos gue?" tanya Vano dengan kepolosannya. Qia menghela nafas jengah.


'Sabar Qia sabar, lo pasti bisa ngadepin kak Vano! Jangan sampe ini air anget lo siramin ke muka songongnya.' batin Qia berusaha mengontrol emosi.


"Lo mau gue kompres dari atas kaos hah?" tanya Qia agak ngegas, tapi bibirnya tetap full senyum. Vano menoleh ke arah Qia.


"Dibuka juga?"


"Hm."


"Ntar lo histeris lagi ngeliat roti gua."


"Dih lebay! Roti-rotian kek gitu udah bosen gue ngeliatnya. Ga usah GR!!" ketus Qia si paling serba biasa.


"Apa coba ulangi?" tanya Vano hampir suudzon.


"Ck. Gue punya abang kak!!"


"And then?"


"Abang gue sering telanjang dada di rumah. Lagian juga lo kan berbalik kak, yang gue obatin cuma punggung lo bukan dada!"


"Oh gitu, ngomong dong." sahut Vano manggut-manggut. Jiwa suudzonnya langsung lenyap begitu saja.


Alhamdulillahnya mata cewek incarannya ini masih the real of suci.


"Ah oh ah oh, buruan ih! Gue mau balik ke kelas habis ini ada ulangan harian." gerutu Qia gemas memutar paksa kepala Vano agar menatap ke depan. Vano terkekeh kecil sambil membuka kaos putih polosnya.


Punggung lebar berotot itu terekspos dengan sangat jelas. Terpampang tanpa penghalang apapun di depan mata Qia. Ini adalah pertama kalinya ia melihat punggung polos orang lain selain kedua saudaranya di rumah.


Oke, bisa dikatakan kalau kepolosan dan kesucian mata Qia telah ternodai hari ini.


#RIP Mata Suci Qia.


Tak mau membuat Vano peka dengan keterkejutannya, Qia langsung buru-buru mengompres punggung yang memang memar itu. Hanya ada satu memar tapi kelihatan sangat parah dan pastinya ngilu, mungkin ini juga yang menjadi alasan Vano menjemputnya menggunakan mobil hari ini.


"Sakit nggak?" tanya Qia menekan-nekan luka itu dengan perlahan. Vano menggeleng.


"Gue cowok tampan yang kuat, anti letoy. Yakali dikompres doang bisa ngerasa sakit." jawab Vano sombong. Qia yang terpukau dengan kepedean seorang Vano auto punya rencana jahat.


Qia sengaja menekan luka lebam itu dengan keras agar Vano tahu rasa.


Jleb


"Makanya jangan belagu!" ketus Qia. Vano berdecak.


"Galak banget."


"Udah diem ah, gue mau fokus nih."


"Ya udah iya gue diem. Ssstt." lirih Vano bertingkah seperti sedang mengunci mulutnya rapat-rapat. Qia meliriknya dengan senyuman tipis yang manis.


'Nah kalo anteng gini kan ganteng lu!' batin Qia salting sendiri. Untung saja posisi Vano masih membelakangi Qia, jadi ia aman tanpa harus ketahuan oleh si cowok rese itu.


"Mau gue pijet nggak?" tanya Qia setelah ia selesai mengompres punggung itu. Vano segera memakai kaosnya, meskipun ia suka menggoda Qia tapi bukan seperti ini juga caranya.


"Emang lo bisa?" tanya Vano sambil merapikan lengan kaosnya, tangannya meraih seragam di samping bantal lalu ia segera berbalik menghadap Qia.


Terekspos lagi lah badan kekar full otot yang hanya dibatasi oleh kain putih polos itu. Qia refleks melotot. Melihat punggungnya saja sudah membuat jantungnya parade, apalagi melihat bagian depannya? Wah! Sangat tidak ramah untuk jantung mungil Qia.


'Tidak ramah, bintang satu.' batin Qia.


"Mak?" panggil Vano mengibaskan telapak tangannya tepat di depan wajah Qia.


Hening tak ada jawaban, pandangan Qia masih kosong.


"Shuttt."


"Qiak!!"


"Woi mak!!" pekik Vano menjentikkan jarinya dengan keras. Qia auto menoleh.


"Hah? Apa kak?"


"Kenapa ngelamun? Mesum lu ya?" tebak Vano bergidik ngeri.


"Dih?"


"Astaghfirullah Qia, istighfar lu! Cowok tuh dijaga, jangan dirusak." tutur Vano geleng-geleng kepala seolah ia adalah yang paling benar disini. Qia menatapnya aneh.


"Kata-kata lo kebalik ga sih kak?" tanya Qia bingung. Ia seperti tidak asing dengan kata-kata tadi, tapi seperti ada yang berbeda dan mengganjal.


"Udah ga usah dipikirin, lo tau mau mijit?" tanya Vano beralih topik. Qia mengangguk.


"Lo bisa?"


"Ya bisa lah. Apa sih yang nggak gue bisa hah?" sahut Qia sombong. Vano mengangguk.


"Ya ud-"


"Tapi gue ga mau mijitin lo kak, haha." potong Qia tertawa sumbang. Sudah kubilang! Qia ini psikopat berkedok si cantik yang suka telmi.


"Kebiasaan ngerjain orang tua lu!" ketus Vano menonyor kepala Qia. Qia kali ini tidak mengamuk, ia hanya tertawa kecil.


"Bukan mukhrim, ga baik pijit-pijit gitu asal megang gitu."


"Maksud lo harus nunggu halal dulu gitu?" celetuk Vano dan dengan polosnya Qia mengangguk.


"Kata papa sih gitu.. Gue ga boleh ngelewatin batas, ga boleh asal megang cowok selain abang sama Kak Rizal."


"Om Antoni emang pinter ngasih wejangan buat ngejaga anaknya biar aman terkendali, full set no minus buat gue." lirih Vano manggut-manggut.


"Hah? Ngejaga siapa? Maksud lo, gue kak?" celetuk Qia. Tumben telinganya berada di mode tajam.


"Nggak! Maksud gue si Raga." jawab Vano ngawur.


"Iyuhhh bxb lu ya?" cicit Qia bergidik ngeri.


"Istighfar lu mak! Gue cowok normal ya, anti belok-belokan."


"Ya kan kali aja."


"Yi kin kili iji-"


"Banyak omong lu Depano! Pake seragam lo sono." ucap Qia merebut baju seragam yang dari tadi di pegang oleh Vano, lalu dilemparkannya seragam itu hingga mengenai wajah Vano.


"Heleh, ngapain dipake? Seneng kan mata lu dapet asupan vitamin?" goda Vano menaik turunkan alis.


"Dih?"


"Gengsinya tinggi amat mbak!!"


"Percaya deh sama si paling ga punya kaca!" bantah Qia sarkas. Vano tertawa geli. Kalau dipikir-pikir memang benar juga kalau diantara mereka berdua, sama-sama tidak ada yang mau mengalah dari ego dan gengsi.


"Sama-sama gengsian, ga usah ngatain!" tonyor Vano. Qia melotot sebal, entah sudah berapa kali kepalanya ditonyor Vano hari ini.


Qia berkacak pinggang, menatap cowok rese itu dengan sangat galak.


"Lo mau gue cek-"


"HEH APA-APAAN INI?!!!"


Vano dan Qia refleks menoleh ke arah pintu UKS, siapa lagi tukang obrak SMA Airlangga kalau bukan si guru BK? Pak Bambang.


Ya! Lelaki setengah baya dengan kumis garangnya itu sudah berdiri kokoh dengan bersidekap dada di ambang pintu. Mata elangnya menatap lurus kepada Qia dan Vano di tengah ruangan. Terus mengintai dan siap melahap dua manusia penambah pekerjaannya itu.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰