
"Loh? Kok ilang?" cicit Qia celingukan. Punggung lebar Raja tiba-tiba menghilang di tikungan koridor menuju lapangan belakang.
Qia menggaruk kepalanya yang tak gatal karena bingung. Dia manusia, bukan jalangkung.
"Aneh banget." lirihnya.
"Siapa yang aneh?" celetuk suara berat yang menepuk pundaknya dari belakang. Qia menoleh seketika.
'Mamp*s gue.' batin Qia.
Bagaimana tidak? Yang ia buntuti sejak tadi tiba-tiba berada di belakangnya.
"Lo ngikutin siapa?" tanya Raja lagi. Qia menggeleng kikuk.
"Kesasar." balasnya ngawur sebelum kabur.
"Gue tau lu ngikutin gue! Keknya gue perlu lebih hati-hati lagi deh, dia udah curiga dan pasti bakal ngasih tau Vano." ucap Raja bermonolog setelah Qia menghilang dibalik tembok.
Drtt drtt
📩DM from @deevanasonia
Gue tau, lo yg kmrn nabrak gw kan?
Btw lo di kelas 10 apa?
Sudut bibir Raja tertarik seketika setelah membaca notice dari gadis yang ia kirimi pesan tadi.
"Nih cewek mantep buat selir gue."
...****************...
"ARGHHH HAMPIR AJA TADI!!!" teriak Rayhan menggila.
"Kalau aja gua berhasil nusuk perutnya setan bacot itu, bakal makin mudah buat kita ngelengserin Ghosterion dari tahtanya. Plus juga gue bakal bisa ngambil Qia dari Vano sialan!"
Dika, Marvel dan beberapa anak BB lain yang juga ikut dalam kerusuhan tadi diam mendengarkan ketua mereka marah-marah karena serangannya yang digagalkan oleh Vano.
"Tapi lo yakin mau ngelakuin itu Re? Menurut gue niat sama langkah lo itu terlalu kejauhan." protes Marvel yang akhirnya buka suara. Sejujurnya cowok itu malah merasa lega karena Vano berhasil menggagalkan tusukan Rayhan pada Adam tadi.
Marvel memang ingin mengalahkan Ghosterion dan pasukannya, tapi ia ingin menang dalam cara yang benar dan dikenal kuat dalam artian kata gentle. Bukan sebagai pengecut!
Banyak yang mengangguki setuju pendapat Marvel, tapi tak ada yang berani menolak tindakan Ketua mereka.
"Kenapa? Takut lo? Sejak kapan lo jadi cupu banci gini hah?!" sentak Rayhan auto berurat.
"Ck. Bukan gitu sialan! Gue rasa tindakan lo ini terlalu berlebihan deh, gue juga suka cari masalah sama mereka Re tapi ga dengan pake cara lo. Kita bisa menang dengan segala cara tapi jangan dengan senjata. Gue ngerinya kita-"
"Om gue polisi bintang-" potong Rayhan yang juga terpotong oleh suara yang lain.
"Bintang kecil?" celetuk Dika polos. Marvel dan Rayhan menatap tajam ke arahnya secara bersamaan, Dika memang buta waktu!
"Ck mata lo bintang kecil! Pokoknya lu pada tenang aja, backingan kita kuat." ucap Rayhan menyalakan api keyakinan pada anak buahnya. Ia tau, akan ada banyak orang yang terpengaruh dengan kata-kata Marvel tapi ia tak akan berhenti begitu saja sebelum ia berhasil melumpuhkan Ghosterion bersama pilar-pilarnya.
"Tapi ini tentang prinsip geng kita Re! Dari awal BB dibentuk, ga ada sedikitpun peraturan yang menghalalkan 'membunuh'. Gila lo ya?!"
"Ngalahin sama ngebunuh punya arti beda jauh." sambung Marvel lagi.
"Gue ga peduli. Gue mau Ghosterion mati sampe akar!" jawab Rayhan ngeyel penuh penekanan.
Marvel mengepalkan tangannya geram.
"Lo bener-bener berubah ya sejak Qia ninggalin lo? Lo bukan Rayhan yang dulu gue anggep pantes mimpin Bloody Bat."
"Terus maksud lo gimana? Lo mau ngambil alih kursi leader? Ambil aja kalo lo mau! Tapi gua bakal tetep ngelakuin apa yang gua mau." tantang Rayhan berdecih remeh.
Sudah cukup! Rayhan sudah melampaui batas kesabaran Marvel, sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk Marvel mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini mengganjal di hatinya.
"Gue temen lo tapi makin kesini gue makin ngerti kenapa cewek yang lo incer selama ini lebih milih orang baru daripada orang yang udah lama sama dia!"
"Maksud lo Qia?"
"Hm, gua rasa Qia ngambil keputusan yang tepat dengan lebih milih Vano daripada elo!"
"Jaga mulut lo Vel! Jangan ngelewatin batas."
"Oh ya? Dan lo sadar ga? Bisa aja Qia ngejauhin lo ya gara-gara sifat lo yang kek gini nih. Ga konsisten jadi laki!"
"Bac*t anj-"
"Apa? Pukul? Pukul lah!! Ayo." potong Marvel menantang balik pukulan Rayhan yang melayang di udara. Rayhan juga mencengkeram kerah seragam Marvel karena emosinya memuncak.
"WOY WOY udah!! Apaan si lo berdua? Kita ini satu, ga usah berantem anj*ng." lerai Dika yang akhirnya buka mulut. Ia memisahkan kedua sahabatnya yang terlibat perang inter itu.
"Lo jelasin nih ke temen lo!" ketus Rayhan kemudian pergi meninggalkan ruang rapat markas BB. Marvel tersenyum sinis menatap punggung lebar Rayhan yang menghilang dibalik pintu kayu.
Dari seluruh anggota BB geng, dari awal terbentuk hingga sekarang memang hanya Marvel yang berani menyuarakan pendapatnya pada Rayhan. Karena hanya Marvel yang tak terikat apapun pada Rayhan kecuali sebatas ikatan pertemanan saja.
"Dari dulu nyali lo emang paling the best Vel! Gue sebenernya setuju sih sama lo, tapi gue-" salut Dika menepuk-nepuk pundak Marvel. Bahkan tak sedikit anggota BB lain yang juga sependapat setuju dengan ucapan Marvel tadi.
Marvel memutar bola matanya malas.
"Kalo gitu ngapa lo diem aja bangs*t! Tuh sekarang makin semena-mena ketua lo."
"Gue takut sama Rehan anj*ng! Bokap gue kerja sama bokap dia, ntar kalo gue nentang dia bisa-bisa bapak gue jadi gelandangan."
"Ck. Dahlah mending gue turu aja di rumah Jupri." pungkas Marvel yang juga memutuskan untuk pulang saja. Hari ini sangat melelahkan baginya.
"Jupri siapa lagi anj*ng?" tanya si polos Dika.
"Bokap gue nyet!"
"Lah bukannya Jefri ya?"
"Nama medoknya tolol! Ah dahlah cabut duluan gue."
...****************...
"Huffttt capek banget jadi manusia hari ini" keluh Qia merebahkan tubuhnya di kasurnya. Hari yang sangat melelahkan dan penuh teori.
"Btw si kadal tumben ga ngerusuh di wasap gue." lirih Qia yang baru teringat dengan Vano. Seketika ia terduduk sambil mencari handphonenya di dalam tas.
Dan ketemu.
"Tuhkan kosong! Ni anak basket atau muncak?"
Drtt drtt
"Malah emaknya yang keiket batin sama gue.... Aneh banget." cicit Qia sebelum akhirnya menarik tombol hijau.
Qia : Halo tante? Ada apa tan?
Irma : Haisss panggil Bunda aja Qia.
Qia : Oh iya lupa, ada apa bund?
Irma : Itu si anak bandel, dia sama kamu nggak?
Qia : Maksudnya kak Vano?
Irma : Ya iya, emang siapa lagi yang lebih bandel dari dia?
Qia : Ehehehe.
Irma : Tadi pagi dia bilang mau jemput kamu, berarti dia pulangnya juga sama kamu kan? Kalo emang lagi sama kamu ya ga papa, bunda cuma mau mastiin kalo anak bandel itu ga lagi ngelakuin hal yang aneh-aneh.
Qia : Emang kak Vano belum pulang ya?
Irma : Loh kok malah nanya bunda?
Qia : Gini bund, kak Vano tadi main basket di SMA Merpati bareng tim sekolah. Terus sekitar jam 12 tadi anak-anak yang lain udah balik ke sekolah, sedangkan kak Vano enggak. Aku pikir dia udah pulang.
Irma : Dia ga ada cantik.
Qia : Kemana ya?
Irma : Hih memang menyebalkan sekali anak itu. Awas aja nanti kalo pulang!
Qia : Gini aja deh, biar Qia cari ke tempat nongkrongnya ya bund.
Irma : Emang ga ngerepotin?
Qia : Enggak, takutnya ada apa-apa juga nanti.
Irma : Vano udah berhasil ngerebut hati kamu ya cantik?
Qia : Eh?
Irma : Ahahaha, ya sudah nanti hati-hati ya. Bunda masih ada operasi sore ini, see you calon mantu!
Qia : Hehe iya bunda.
Tut tut tut....
"Salbrut banget gua dipanggil calon mantu."
...****************...
"Non Deeva mau mampir kemana lagi non?" tanya sopir Deeva melirik anak majikannya dari spion dalam. Deeva menggeleng sambil meminum susu yang baru saja ia beli dari minimarket.
"Langsung pulang aja pak."
"Baik non." jawab sopirnya mengangguk. Tapi takdir berkata lain, baru saja Deeva ingin menyandarkan kepalanya di kursi mobil, ia malah menemukan sebuah motor sport hitam yang tak asing sedang terparkir di tepi jalan dekat danau menuju rumahnya.
"Keknya ga asing deh." lirih Deeva.
Deeva membuka jendela mobil, mengeluarkan kepalanya untuk memastikan motor itu dengan cara memeriksa plat mobilnya.
S 1 K4T.
"Tuhkan bener! Itu motornya kak Sam coy." pekik Deeva auto heboh. Ia buru-buru menepuk pundak sopirnya di depan.
"Tapi ngapain ya kak Sam disini sendirian? Mana udah setengah sore juga."
"Pak berhenti pak!!" pinta Deeva memekik.
"Kenapa non?" tanya sopir setelah menghentikan laju mobil tak jauh dari motor milik Sammuel tadi.
"Saya mau turun sebentar, pak Yogi tunggu di sini bentar ya?" pesan Deeva sebelum membuka pintu mobi lalu keluar setelah sopirnya mengangguk.
"Siap atuh non."
...****************...
"YO WASAP!!!" teriak Raja saat memasuki pintu markas bercoretan 'Bloody Bat'.
Dika menoleh bersama beberapa anak yang sedang bermain kartu poker bersamanya.
"Ngapain lo nyet? Tumben ke sini jam segini." tanya Dika kembali fokus pada permainannya bersama yang lain.
"Tumben sepi gini? Pada kemana Dik." tanya Raja celingukan. Markas yang biasanya berisik jadi sangat sepi saat ini.
"Tadi ada perang dingin, Rehan ngamuk terus cabut gitu aja."
"Siapa yang nantangin Rehan perang?" tanya Raja kepo. Ia duduk di tangan sofa tepat bersebelahan dengan Dika.
"Siapa lagi kalo bukan sepupu lo!"
"Si Marvel?"
"Hm."
'Enaknya gue kasih tau Rehan soal Qia tadi ga ya? Ah ga usah lah, entar yang ada gue dimaki-maki lagi sama dia. Males banget! Mending gue hadapin Qia sendiri aja, gue bisa sendiri ngehandle tuh cewek.' batin Raja mengurungkan niat.
Awalnya ia datang ke markas untuk mencari Rayhan dan memberitahukan padanya kalau Qia mulai mencurigai penyamarannya, tapi ia mengurungkan niat setelah mengingat mulut pedas Rayhan yang pasti akan terdengar sangat menyebalkan.
"Malah ngelamun! Lo punya info apa kemari hah?" gertak Dika membuyarkan lamunan Raja. Raja menggeleng kikuk, menemukan alasan untuk mengalihkan perhatian Dika.
"Lo liat ni!" tunjuk Raja pada layar ponselnya.
"Paan?"
"Ini!"
"Cewek? Terus apa hubungannya sama gue?" tanya Dika polos. Yang diperlihatkan oleh Raja adalah beberapa foto Deeva di instagram.
"Gue lagi ngincer cewek ini bro!"
"Dih si kadal! Tugas lo di Airlangga buat masuk Ghosterion ye, bukan nyari cewek." cibir Dika menggeleng malas.
"Aelah buat selir gue doang biar hidup gue ada warnanya. Lagian gua masih inget tujuan gue kali!"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK😍