
Kring kring kring
"TELAT GOBL*K LU BUNYI BARU SEKARANG!!!" maki Qia emosi mandiri pada jam wekernya itu. Masalahnya sebenarnya hanya satu, jam weker itu sudah setengah waras alias bobrok.
"Gue udah bangun dari tadi, mandi aja udah kering nih. Baru lo bunyi!" omelnya lagi.
"Bentar lagi gue ulang tahun kan ya? Apa gue minta kado jam weker aja ya dari papa? Ini jam udah buluk, error, ngeselin pula!" gerutu Qia menimang-nimang kado apa yang akan ia minta dari papanya tahun ini.
"Oke, ntar gue minta ke papa. Jam weker merk dior!"
Tok tok tok
"IYA BENTAR!!!" sahut Qia berteriak. Ia bergegas bangkit dari atas sofa, masih dengan satu kaki yang belum dipakaikan sepatu. Dan satu lagi tangan membawa sepatunya yang lain.
Kriet
Kosong. Tak ada satu pun manusia di depan kamarnya!
"Ini siapa yang gabut ngetok pintu kamar gua? Bang Raga kan biasanya belum bangun jam segini." tanyanya pada dirinya sendiri.
"Tau ah, balik aja." jawabnya kemudian ia masuk.
Tok tok tok
Baru satu langkah setelah Qia menutup pintu, ketukan pintu kembali terdengar.
"Ck. Siapa si?!" gerutunya sebal, lagi-lagi kosong tak ada seorangpun disana.
"Ini rumah gue tiba-tiba jadi horor gini ya? Hih serem iiiiwwww." cicit Qia bergidik ngeri lalu buru-buru masuk dengan mengunci kamarnya dari dalam.
Sementara di sudut tembok.
"Ini keseruan pertama dari gue buat lo, tunggu yang lainnya nanti ya cantik?"
"Sekarang gue mau make seragam dulu." ucap Vano bermonolog, rupanya ia adalah pelaku dibalik kebingungan Qia barusan.
Vano baru saja kembali dari mengambil seragamnya dan iseng ingin menakut-nakuti Qia karena semalam Raga memberitahunya kalau Qia adalah tipe orang aneh yang suka menonton film horor tapi ia sendiri takut dengan setan dan semacamnya.
"Ahahaha seru juga ngerjain tuh anak."
📞Gabby is calling....
"Tumben Gabby nelpon pagi-pagi?" lirih Vano sembari berjalan menuju kamarnya.
Vano : Kenapa Gab?
Gabby : Gue dapet dikit info soal Raja.
Vano : Raja kelas sepuluh yang mau gabung ke geng kita itu?
Gabby : Iya.
Vano : Lo hari ini sekolah kan?
Gabby : Sekolah lah.
Vano : Ya udah kita obrolin nanti aja di sekolah.
Gabby : Emang ga papa di sekolah? Bukannya resiko ya?
Vano : Lo lupa gue punya ruangan khusus di Airlangga?
Gabby : Iya deh yang punya sekolah!
Vano : Nah tu tau lo haha.
Gabby : Ya udah nanti istirahat pertama gue ke ruangan lo, oke?
Vano : Oke.
Tut tut tut...
"Dibahagiakan oleh cinta, dibuat berjuang oleh Qia. Dan akhirnya tetep diputer balik ke masalah-masalah beginian." lirih Vano setelah menutup teleponnya dengan Gabby. Ia melemparkan iPhone itu ke ranjang sementara ia masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti seragam.
"Namanya juga warna hidup, gue tinggal ngejalanin aja. Ga usah ribet!"
...****************...
"Non Qia mau sarapan roti atau nasi goreng non? Ini bibi baru aja selesai bikin nasi goreng." tanya bibi Ijah menawarkan.
Qia menggeleng dengan senyum tipis.
"Qia ga sarapan bi, males hehe. Minum susu ini aja!" jawab Qia menunjukkan segelas susunya pada sang ART. Bi Ijah pun mengangguk.
"Ya sudah kalo gitu non, bibi mau anter sarapan ini ke mas Raga dulu ya? Soalnya semalem mas Raga yang request minta sarapan nasi goreng terus di anter ke kamarnya."
"Manja banget si abang." jawab Qia geleng-geleng. Wanita separuh baya yang telah bekerja dirumahnya sejak Raga masih bayi itu hanya tersenyum simpul dengan anggukan.
"Ga papa atuh non, mas Raga ada kelas daring. Makanya ga bisa turun buat sarapan." jawab bi Ijah, Qia manggut-manggut. Dari kecil memang Raga sangat akrab dengan bi Ijah karena saat Qia lahir, mamanya lebih sibuk mengurus Qia bayi daripada Raga yang sudah mulai beranjak dua tahun.
"Ya udah deh iya, si paling kesayangannya abang ehehehe."
"Ah non bisa aja! Ya udah bibi ke atas dulu ya non?"
Kini hanya tinggal Qia di meja makan. Ia melihat sekilas jam dinding besar di sudut ruangan, sudah hampir jam setengah tujuh dan Vano belum menunjukkan tanda-tanda akan datang.
"Kadal kok belum ngabarin mau jemput jam berapa ya? Tumben juga dari semalem ga ada notice sama sekali." tanya Qia mengeryit heran.
Untuk memastikan kekepoannya, Qia membuka aplikasi pesan ijo itu. Barangkali Vano sudah mengabarinya tapi ia yang tidak tau.
Zonk!
Nyatanya memang tidak ada notice sama sekali dari cowok itu. Hanya ada bekas chatingannya kemarin sore, itupun berhenti di Qia yang mengirim beberapa foto ke Vano.
Setelah mengecek pesan kosong dari Vano Qia tak langsung pergi dari roomchat itu. Qia malah membuka kembali beberapa riwayat foto yang ia kirim kemarin sore ke nomor berakhiran 1310 itu.
Qia menatap lama layar handphonenya saat fotonya bersama Vano memenuhi layar. Foto cantik yang semakin aesthetic karena sunset saat itu, banyak pula foto random yang mereka ambil kemarin saat mereka makan ice cream dan arum manis babi di tepian danau.
'Gue kelihatan bahagia banget di foto ini. Apa emang dia cinta dan kenyamanan yang gue cari selama ini ya?' batin Qia tersenyum tipis. Secara tidak sadar ia mulai menyadari kalau hatinya mulai jatuh pada sosok laki-laki yang konon katanya dingin dan cuek tapi nyatanya sangat perhatian dan hangat padanya.
"Kalo suka tuh bilang! Mumpung gue ada disini nih." celetuk suara berat dari arah belakang kursinya. Qia terkejut, matanya membulat saat mendengar suara serak yang familiar itu.
Deg.
Qia kemudian menoleh. Betapa terkejutnya ia saat melihat Vano berdiri setengah membungkuk tepat di belakangnya, ia bersidekap dada dengan tatapan resenya. Qia langsung refleks membalikkan layar iPhonenya di atas meja.
"Ngapain lo disini pagi-pagi?" tanya Qia gugup. Rasanya seperti ia baru saja mencuri dan ketahuan, adem panas woilah!
"Lo sendiri ngapain liatin poto gue pagi-pagi? Udah jatuh cinta ya lo? Cepet banget Qi. Padahal plan gue buat seminggu loh?" cerocos Vano pede syndrom lagi. Qia mengerutkan kening heran.
"Dih? Gr banget, anak siapa lo?!"
"Ngapain mandengin poto gue hmmm? Daripada disitu kurang jelas dan real, mending sini deh mandengin muka gue aja nih lebih cakep aslinya kok." ucap Vano memajukan wajahnya dengan satu alis naik turun. Senyum nakalnya terbit tiap kali ia melihat pipi Qia memerah karena salting dan malu-malu.
"Cielah pipinya merah tuh! Ketebelan blas-on atau lagi salting cil?" goda Vano lagi, gemas dan candu sekali rasanya melihat Qia salting seperti ini.
"Apaan sih lu!" ketus Qia salting mendorong pundak Vano agar mundur. Vano tertawa terbahak-bahak.
"Udah selesai sarapan?" tanya Vano berdiri tegap seperti semula, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.
Qia mengangguk.
"Ya udah ayo berangkat!" ajak Vano hendak meraih pergelangan Qia tapi Qia menarik tangannya terlebih dahulu sebelum Vano bisa meraihnya.
"Kenapa?" tanya Vano menaikkan sebelah alis.
"Kok lo tiba-tiba udah disini? Gue ga denger suara motor atau mobil tuh? Terus ini tas lo mana?" tanya Qia bertubi-tubi.
Vano menarik nafas panjang sebelum buka mulut.
"Pertama, gue nginep disini. Ke-" melihat bibir Qia hendak terbuka protes, Vano segera menutup bibir tipis itu dengan satu jari telunjuknya.
"Eitss diem dulu cil! Gue udah dapet lampu ijo dari Raga semalem, dia yang nawarin gue nginep ya gue mau lah. Yakali gue nolak kesempatan emas, buat simulasi serumah sama lo?!"
"Hah? Simulasi apa sorry?" tanya Qia kurang peka. Vano memilih mengalihkan pembicaraan daripada ia malah jadi ketahuan dan confess hari ini, ini belum waktunya!
"Dan yang kedua, motor gue udah nangkring di garasi lo sejak tadi malem. Ketiga dan yang terakhir, gue ga bawa tas. Mang Ojan tadi lupa ga ngebawain tas sekolah gue." jawab Vano menjelaskan. Qia manggut-manggut.
"Terus lo sekolah gimana kalo ga pake tas?"
"Kan ada elo Qi." jawab Vano santai. Ia yang tadi mengajak Qia berdiri, malah ia yang ikutan duduk sekarang.
"Lah? Gimana ceritanya! Kita aja beda kelas." cicit Qia tak faham.
"Gue nanti minta buku kosong lo satu sama bolpoin, buat pegangan doang siapa tau hati gue lagi mau terbuka buat diem stay di kelas."
"GR amat! Siapa juga yang mau ngasih buku ke elo dih?" ledek Qia bergidik. Vano manggut-manggut sambil tangannya dengan santai mengambil gelas susu milik Qia tadi.
Glek glek
Hanya dengan beberapa cegukan saja, gelas susu sisa Qia itu langsung tandas seketika. Benar-benar tak merasa berdosa sekali, Vano malah menampakan senyum manisnya setelah menghabiskan sisa susu cokelat itu.
"Hmm seger juga bekasan lo." ucap Vano ngawur. Qia melotot.
"Kak kok elo-"
"Kalo lo ga mau ngasih buku kosong sama bolpoin, ya dengan sangat terpaksa gue bakal nyeritain kejadian malam itu ke Raga. Biarin aja si BESTIE lo itu dihabisin sama Raga plus Rizal!" ucap Vano santai penuh ancaman. Qia mendelik seketika.
"Jangan main cepu gitu dong! Ga asik lo Dal." semprot Qia menggerutu malas.
"Siapa yang lo panggil Dal?" tanya Vano bingung.
"Elo! Udah ah ayo beragkat kak... Udah setengah tujuh lebih tuh." rengek Qia menarik-narik pundak seragam Vano sambil tangannya yang lain menunjuk jam dinding. Vano mengangguk nurut lalu berdiri.
"Tapi buku sama bolpoin-"
"Iya ntar gue kasih!! Sekarang ayo berangkat dulu." potong Qia cepat-cepat. Ia ada ujian Kimia hari ini di jam pertama, makanya ia ingin cepat sampai di kelas.
"Ya udah ayo!"
"Kok bisa ya kadal dapet lampu ijo dari abang gue? Sejak kapan juga si abang bisa diajak negosiasi?" lirih Qia menggaruk belakang telinganya yang tak gatal. Vano yang mendengar lirihan itu hanya tersenyum simpul.
'Lo belum tau aja sekuat apa image dan kepercayaan Raga ke gue Qi. Jelas lah gue bisa lebih mudah deketin lo karena gue udah lebih dulu kenal baik sama Raga ataupun Rizal. Ada untungnya dan ga ada ruginya juga gue jadi anak baik, haha.' batin Vano tersenyum simpul.