DEVANO

DEVANO
65. Seribu alasan



"Bolos ngapa woyy suntuk kali aku!!" celetuk Gabby bosan. Gabby dan Bintang sudah nangkring di kelas Vano. Padahal masih jam delapan pagi. Sejak guru di mata pelajaran pertama keluar, duo pentolan Osther yang tersangkut di kelas 11 itu sudah menyusup di kelas seniornya, 12 MIPA 2.


"Kita kemarin udah kena skors double kill dari telat sama terlibat tawuran. Ga usah ngadi-ngadi lu Geb." jawab Adam malas.


"Tau tuh, ngajakin nyesat mulu!" ketus Bagas.


"Gue kemarin sampek kena semprot sama bebeb Manda." sambungnya lagi.


"Dih?" cicit Gabby heran. Tumben teman-temannya ini melebih-lebihkan perkara sepele. Alay!


"Elu sih enak kemarin ga masuk, jadi ga ikutan dapet reward lu Nyet!!" semprot Bintang menjitak kepala Gabby. Sementara yang lain asyik nyemprot Gabby, Vano dan Sammuel memilih untuk kalem menjadi team nyimak.


Gabby mengelus bekas jitakan tadi dengan perlahan.


"Dih salah sendiri lo pada ga ngajakin gue." jawabnya santai tanpa dosa.


"Dih mulus banget congornya anak bapak Yanto!" sembur Adam bar-bar.


"Weeeee ngapa jadi bawa-bawa kakek gue nyet! Bapak gue kan Bonar." sahut Gabby tak terima. Adam nyengir, sejujurnya ia lupa nama kakek dan ayah Gabby, makanya dia sering kebalik dalam menyebutkan namanya.


"Nah itu maksudnya! Anak dari anaknya bapak Yanto."


"Bertele amat anying!"


"Geb bogeb." celetuk Bintang geleng-geleng.


"B*okep?" tanya Vano antusias. Gabby memutar bola matanya malas, namanya makin tak punya harga diri didepan teman-temannya sendiri.


"Giliran begituan aja connect mulut lo pak!" ketus Gabby malas. Vano terkekeh.


"Jangan-jangan Vano jadi agresif sama kata 'itu' gara-gara pernah seapartemen sama dede emesh ya?" celetuk Adam heboh. Otaknya kembali traveling lagi setelah mengingat kejadian kemarin.


"Wah kalo iya, bahaya sih si Vano! Main gas aja padahal belum jadian." sahut Bagas manggut-manggut.


"Qia kemarin sampek bantuin Vano dari serangan Rayhan kan ya? Padahal kan posisinya si Rayhan itu sahabatnya Qia, dan juga lebih dulu kenal. Masa iya dia tiba-tiba mau belain Vano kalo ga ada apa-apa?" jelas Bintang bertanya-tanya. Ia mengeluarkan semua teori yang mempunyai kemungkinan atas kejadian tawuran kemarin.


Keenamnya mengangguk-angguk karena memahami ucapan Bintang tadi. Saya ulangi, keenamnya! Termasuk Vano yang juga sama setujunya dengan pemikiran Bintang.


"Plot twist, Vano sama Qia backstreet." celetuk suara ringan yang sangat berbeda dari keenam cowok itu. Semuanya menoleh ke arah belakang Bintang, karena cowok itu duduk di atas meja Adam.


Dita. Masih inget Dita kan? Udah lupa? Oh ya udah itu urusan kalian. Wkwk.


"Ngapain lo? Nguping mulu!" sembur Bintang, masih ingat juga kan? Bintang dan Dita tidak pernah akur tiap kali mereka bertemu.


"Heh bocah! Ini kan kelas gue, ya terserah gue lah. Elo tuh tamu ga diundang, nguping mulu ke kelas orang." semprot Dita jauh lebih galak. Bintang sampai mundur refleks karena kaget.


"Gue kan ke sini ngikut bapak gue." cicit Bintang beralasan, sejujurnya melihat tampang galak Dita yang melotot ini sedikit membuat Bintang meleyot eh takut.


"Bodoamat!" ketus Dita. Dita berjalan mendekat ke arah Adam dan Bagas, tempat tujuannya nimbrung ke gerombolan Vano.


"Woalah Dit Adit!!" pekik Bintang tepat di samping telinga Dita karena ia berdiri di sebelahnya. Merasa namanya dinistakan oleh Bintang 'redup' ia lantas menoleh diiringi tajamnya tatapan mata.


"Salah server tolol! Gue Dita, bukan Adit." sembur Dita. Bintang berlagak sok polos dengan menggaruk-garuk belakang telinganya yang tak gatal.


"Oh salah ya? Gue kira kebalik."


"Kalaupun dibalik ya jadinya Atid bukan Adit, LOL!" ketus Dita entah untuk yang keberapa kali. Tak pernah ada kata sabar tiap kali Dita dipertemukan dengan Bintang.


"Atid tolongin tid bang Jarwo makin deket!! Aaaaaaa........" teriak Bintang heboh, memeragakan salah satu dialog di serial kartun televisi.


Dita menghela nafas jengah.


"Lo over tolol gini dikasih makan apa sih di rumah heh?"


"Makan elu!" jawab Bintang ngawur. Dita auto menerbangkan layangan tangannya ke udara, tapi tak langsung mendaratkannya ke kepala Bintang karena sebagai anak osis dia wajib jaga image.


"Gua gampar baru tau rasa lo!" ancam Dita Karang, eh Dita garang.


"Eh eh enggak deh gue cuma bercanda. Baperan amat!!" cicit Bintang panik, dia lupa kalau orang yang ia nistakan namanya ini adalah atlet emas di sekolah.


'Dahlah bisa darah tinggi gue ngeladenin nih bocah satu.' batin Dita mengalihkan perhatiannya langsung kepada Bagas dan Adam.


"Heh Adam sama Bagas, bayar kas cepet! Lo berdua kabur mulu dari kemarin, nih numpuk banyak!" ucap Dita garang menagih uang kas pada dua cowok rese itu. Sammuel dan Vano sudah aman, meskipun sering telat sekolah tapi mereka tak pernah telat bayar uang kas. Katanya sih karena malas diomelin oleh Dita yang cerewet + galak.


Sebenarnya Dita hanya sekertaris kelas dan bendahara kelasnya adalah Ani. Tapi karena di kelas ini hanya ada satu orang yang berani berhadapan dengan geng Vano dan orang itu adalah Dita, maka Dita selalu dijadikan bendahara dadakan oleh Ani. Khusus untuk menarik uang kas ke geng satu ini.


"Berapa bund?" tanya Adam. Ga usah baper! Inget ya, author dulu udah pernah bilang kalau Dita adalah sepupunya Adam.


"Lo sama Bagas sama aja, 80 ribu." jawab Dita setelah mengecek catatan kosong dari dua nama itu. Bagas langsung mengeluarkan lembaran uang seratus ribuan.


"Nih gue bayar! Lo beruntung Dit, gue lagi ga pengen mancing emosi lo hari ini." ucap Bagas. Dita berdehem malas. Kalaupun Bagas tak memancing emosinya, tetap ada Bintang yang sejak tadi sudah membuat tensi darahnya naik.


"Nih kembal-"


"Biat minggu depan aja! Gue lunas + 1 ya?"


"Hm iya mas Bagas iyaaaaaaa." jawab Dita sok manis. Ia selalu bersikap manis setelah mendapatkan apa yang ia mau.


"Nah lo nyengir lo sekarang!" cibir Bintang. Dita hanya meliriknya tajam, bodoamat!


"Dam lo mana cepetan bayar!" sergah Dita kembali ke mode galaknya. Adam nyengir.


"Ah gue-"


"Dam lo kalo masih ngeles ga mau bayar, gue aduin ke tante Anna kalo lo ngaret bayar kas karena selalu make uang lo buat rokok di atap sekolah. Mau lo kismin sebulan ga dikasih uang?" ancam Dita yang sudah kehabisan kesabarannya selama empat minggu ini. Empat minggu sudah Adam selalu beralasan, padahal dompetnya tebal. Tapi disuruh bayar 20 ribu perminggu aja susahnya udah ngalah-ngalahin ujian tes masuk Akpol. Ehhe!


Kelemahan Adam tergunakan sudah. Secepat kilat ia langsung merogoh saku kantong celananya.


"Ampun kakak Dita ampun! Ya udah nih nah ambil semua!!" pekik Adam menyerahkan dua lebar uang lima puluh ribuan dari dalam dompet. Dita tersenyum puas.


"Nah gini dong! Kan enak nih kalo lo nurut dari tadi." ucap Dita manggut-manggut menerima uluran uang di tangan Adam. Dita masih berdiri di samping meja Adam karena harus mencatat uang dari Adam maupun Bagas tadi.


"Ck woy ayolah bolos! Ke kantin, gue pengen bakso." teriak Gabby tak sabaran. Terlalu lama ia menunggu kesudahan drama kolosal penarikan uang kas ini.


"Mau makan apapun juga tetep aja lu kurus kerontang kek tulang berjalan. Jangan berisik!!" sahut pedas dari seorang cowok yang kalian pasti sudah tau itu logat andalan milik siapa.


Yap! Sammuel, pulang yuk nak. Gabby udah kena mental tuh.


"Singkat, padat, dan laknat lo pak!" gerutu Gabby kesal.


"Tapi sama sih Gab. Gue pengen makan basreng!" ucap Bintang membenarkan sambil mengelus-elus perut ratanya.


"Lo juga sama aja! Makan berminyak terus, buncit ntar tau rasa lo!" sahut Adam meledek. Padahal ia tau kalau mereka semua paling anti sama perut buncit meskipun jajanannya kebanyakan lumayan berminyak.


"Dih ngejek gue lo? Perut gue kotak enam woy!" protes Bintang tak terima. Ini sama seperti tak menghargai wibawa perut six pack nya.


"Dih songong!"


"Lo ga percaya? Mau liat? Mau gue bukain nih?"


"Coba aja." suruh Vano, Adam dan Bagas bersamaan. Vano udah mulai buka mulut, eh malah Gabby yang jadi ikutan trend Sammuel buat jadi tim nyimak.


"Jangan deh, ada kakak Dita yang terhormat. Ntar malah jadi dia yang tersipu klepek-klepek sama gue! Kan bahaya." jawab Bintang mengurungkan niatnya padahal tangannya sudah siap membuka baju seragam bagian bawahnya. Dita memicingkan mata malas.


"Dih najis bocah prik! Pede amat jadi anakan setan!!" semprot Dita kesal. Setelah puas memaki Bintang, Dita pun pergi.


"Kan kan mbulet lagi! Ayo ke kantin wuooooyyyy... Gue laper! Dam ayo lah... Lo ga pengen ayam gepreknya mbak yeyem?" keluh Gabby merayu Adam menggunakan menu favoritnya di kantin.


Vano mengangguk refleks tapi Adam masih ngeles.


"Pengen sih, tapi gue males bikin masalah ah, kemarin udah dapet double skors. Tinggal kurang 10 point lagi aja nih, gua bakal dapet surat panggilan orang tua." jawab Adam ragu. Ia ingin bolos dan makan ayam geprek, tapi ia tak ingin digeprek oleh bundanya.


"Ya terus apa hubungannya?" tanya Gabby heran.


"Emangnya kalo dapet surat, jadi auto diboikot dari kantin apa gimana?" sahut Vano tak mengerti dengan cara berfikir Adam.


"Onyok onyok onyok kacian bingit sohib gue ululululuuuuu!!" pekik Bagas gemas mencubit kedua pipi Adam. Keempat yang lain bergidik ngeri melihat interaksi menyebalkan ini. Sammuel adalah yang paling benci dengan situasi seperti ini, ia lebih mending melihat Bagas ngebucinin Manda daripada ngejokes sama Adam dengan cara seperti itu.


Najis!


"Hiyahahahahaa itu sih masalah hidup lo Dam."


"Lagian juga elu kan anak tunggal, ga bakal tega lah tuh nyokap lo!" sahut Gabby masih bersikukuh merayu teman-temannya.


Ini Oster boy's pada kenapa si? Yang biasanya langsung cas cus tiap ada yang ngajakin bolos, sekarang malah jadi menye kelamaan banyak alasan dan pertimbangan.


Gara-gara Rayhan anj*ng kemarin pake acara ngajak tawuran segala! -Adam.


Waduh kok ngamokkkkk!! -Author.


Sabar Thor, salah sendiri tokohnya Adam lu bikin kek gini haha. -Vano.


DIEM BAC*T!! -Sammuel.


Seketika gua nyesel ngasih peran judes ke Sam. -Author.


Apa lo bilang? -Sammuel.


Ga dulu. -Author.


Oke back!


"Ayolah kawan! Lupakan masalah kemarin, mari buat masalah lagi."


"Bocah prik!"


"Bac*t. Kalo mau bolos ya bolos aja, ga usah berisik!!" sentak Sammuel yang kesabarannya sudah tersedot habis sejak tadi. Magma emosi panas dalam tubuhnya sudah tak bisa terbendung lagi karena terus dipancing.


"Tau tuh pake nego-negoan udah kek emak-emak!!" sahut Vano ikut berdiri mengikuti Sammuel. Sammuel dan Vano belum bisa langsung lewat karena kaki Bintang dan Gabby menghalangi jalan.


Prok prok


"Diam menyerupai batu, bergerak langsung ngegas. BUKAN SEMBARANG ALGLOJO!!" puji Bintang bertepuk tangan ricuh.


Plak


"Heh algojo g*blok!" maki Adam setelah menepuk keras paha Bintang yang nangkring di atas meja, tepat di depan matanya.


"Nah itu lo paham tuh!"


"Minggir lu bac*t!!" sembur Sammuel menyingkirkan paksa kaki dua manusia penghalang jalan. Bintang hampir saja terjatuh dari meja kalau Adam tak segera menangkap tangannya.


Berbeda nasib dengan Bintang, Gabby tak sampai terhuyung karena ia sudah siap sedia turun dari meja.


"Nah ini dia mas-mas panutan gue. Yang kalem tapi gercep. Yok lah Sam!" seru Gabby langsung merangkul Sammuel dan pergi duluan.


"Gas ayo!!" ucap Vano langsung menarik kerah baju Bagas. Bagas nurut saja.


"Heh tungguin gue sama adek gue dong!!" pekik Adam yang tertinggal bersama Bintang.


"Banyak cincong sih hidup lu!" ketus Vano.


"Ayok kita susul mereka kakak!!" cicit Bintang alay. Adam bergidik ngeri.


"Alay bet najis!!"


...****************...


"Rat." panggil Qia menyenggol lengan Ratu yang sedang menyalin materi dari papan tulis. Ratu berdehem sebagai jawabannya.


"Hm?"


"Kantin yuk! Haus nih." bisik Qia. Ratu menoleh lalu menggeleng.


"Jangan sekarang tapi! Nunggu bu Biologi keluar dulu ya? Ini orang tuh temennya nyokap, dia langsung ngadu kalo gue bolos." jawab Ratu nego. Qia berdecak.


"Gue hausnya sekarang anjrit mana bisa dipending!!" gerutu Qia.


"Ayok Qi!" celetuk Deeva nguping. Kebiasaan 'nyabang' yang dimiliki oleh Deeva ternyata bukan hanya untuk masalah 'buaya' saja, tapi juga berlaku untuk pelajaran. Yap! Tangan lentiknya masih sibuk menulis di atas buku meskipun kepalanya menoleh ke belakang dan berbicara kepada Qia.


Baru setelah menuliskan beberapa kata, Deeva meletakan bolpoinnya dan menoleh sempurna ke belakang.


"Seriusan?" tanya Qia semangat forji.


"Tapi nanti habis pelajaran ini ya?" sambung Deeva. Raut wajah gembira di wajah Qia langsung berubah kecut. Deeva emang the real kang php!


"Ck. Gue maunya sekarang Deevaaaaaa..... Elu mah sama aja kek Ratu!!" sungut Qia makin kesal.


"Yah tapi gue ga bisa keluar di jam biologi, otak gue suka nyadat sama ini materi satu."


"Ya udah kalo gitu ga usah deh. Man psssttt!!" sahut Qia tak jadi memaksa Deeva, ia kemudian beralih pada Manda yang masih sibuk menulis. Ratu, Deeva dan Manda ibarat si kutu buku yang rajin menulis sedangkan Qia adalah si kutu gabut yang rajin bolos.


Circle yang sangat membagongkan bukan?


Deeva menyenggol lengan Manda yang tak kunjung menoleh, anak itu memakai sepasang earphone karena memang sudah jadi kebiasaan tiap materi pelajaran berlangsung.


"Apa?" tanya Manda pada Deeva. Deeva melirik tempat Qia.


"Dipanggil Qia tuh!"


"Ada apaan Qi?" tanya Manda kemudian.


"Lo ga mau nemenin gue Man?" tanya Qia mengedip-ngedipkan matanya, sok imut.


"Kemana? Toilet?" tanya Manda menebak. Qia tentu saja menggeleng.


"Kantin."


"Lama nggak?"


"Pesen minum, diminum, setelah habis baru balik. Mau lah ayolahhhhh!!"


"Mmm gue lagi nyalin pr buat jam matematika habis ini. Mana tinggal sepuluh menit lagi, nah kalian bertiga mah enak udah ngerjain! Ya kali nanti gue dihukum sendirian." jawab Manda nyengir. Qia mengintip dua buku berjajar di meja Manda, tenyata memang benar! Cewek satu itu masih menyalin pr.


"Yee pantesan aja lo anteng dari tadi." cibir Ratu jengah.


"Pantesan aja gue ngerasa aneh lu dari tadi nunduk terus." tambah Deeva geleng-geleng. Yang diserang hanya nyengir kuda.


"Hehe peace cil!!"


"Ah dahlah gue duluan aja. Bye!!" pungkas Qia jengah. Kalau ia tau akhirnya tetap sendiri, lebih baik tak usah menawari teman-temannya dulu tadi.


"Nyali lo emang oke Qi!" puji Deeva.


"Ga rugi gue punya sepupu kek gini." puji Ratu.


"Kakak srikandi kita nih bos!!" seru Manda mengingat kejadian tawuran kemarin yang melibatkan Qia sebagai satu-satunya anak perempuan di arena.


"Dahlah!"


"Loh Qia? Kamu mau kemana?" tanya guru Biologi karena Qia berdiri dari kursi.


"Mau izin ke toilet sebentar bu."


"Ditemani Ratu?" tanya bu Biologi lagi. Pasalnya ia heran kenapa Ratu masih duduk dengan santai di kursinya.


"Oh enggak bu, saya bolang dan saya pemberani! Permisi."


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰