
"Cih 2021 masih aja telponan sama mantan." sindir Adam remeh. Ratu menatap nya tajam.
"Sembarangan!!"
"Ciee Adam cemburu hiyaaa!!" pekik Bagas heboh.
"Tanda-tanda couple lagi nih." celetuk Bintang. Bagas mengangguk setuju.
"Bener tuh! Dari ribut jadi loplop haha." sahut Bagas tertawa. Adam menabok kepala Bagas dengan kesal.
Plak
"Aduh Woii!" pekik Bagas mengelus kepala nya.
"Duh beb, sakit banget ya?" tanya Manda yang sigap mengelus-elus kepala pacar nya. Bagas mengangguk dengan bibir mengerucut. Jiwa bucin nya mulai lagi.
"Mmm iya beb, sakit." cicit Bagas melas.
"Lebay nyet!! Biasanya digebukin orang juga kolot! Gini doang manja." ketus Adam kesal melihat kebucinan tak tau tempat ini.
"Ihh kak Adam apaan si kasar banget!!" omel Manda galak. Adam bergidik ngeri.
"Buset galak bener!" jawab Adam. Bagas menonyor kepala Bagas hingga sedikit terhuyung, hampir mengenai kepala Ratu kalau saja Adam tak buru-buru mengendalikan gerak dirinya.
"Nabok kepala itu kerjaan gue buat elu, kenapa lo malah kebalik heh?!" protes Bagas mengomel. Adam mengendikkan bahunya acuh.
"sekali-kali gantian ga papa lah bray."
Drtt drtt
Kembali Hp Ratu yang tergeletak di atas meja, tepat di sebelah Adam itu berdering dan menampakan nama yang sama.
📞Andimas is calling....
"Eh eh Kodam!!" pekik Ratu panik saat tangan kekar Adam lebih dulu menyabet Hp nya. Adam menjauhkan jangkauan tangan Ratu yang berusaha meraih tangannya yang memegang Hp Ratu.
"Diem lu!" sentak Adam geram. Entah kenapa pula ia jadi kena mood break down saat ini. Ratu yang baru pertama kali mendengar bentakan Adam pun langsung terdiam seribu bahasa, sama hal nya dengan semua teman-teman nya yang menyaksikan hal ini. Memang Adam dan Ratu selalu terlibat pertengkaran setiap bertemu, tapi Adam tak pernah meninggikan suaranya kepada Ratu apalagi membentak nya. Hanya Sammuel, Bagas, Vano, Bintang dan Gabby yang tau tentang sifat buruk di balik Sifat friendly dan asik dari dalam diri Adam. Cowok itu memang baik dan maha asik, tapi ada satu masa dimana keadaan hatinya kurang baik apalagi ditambah dengan ada yang memancing emosinya. Maka dunia di sekitar Adam si pelawak tongkrongan itu tidak akan baik-baik saja!
Adam : Hallo!!
Dimas : Siapa nih?
Adam : Lo siapa sih ganggu dia terus?
Dimas : Gue mantan nya. Lo siapa?
Adam : Mantan doang? Cih!
Dimas : Gue mau bicara sama Ratu. Balikin Hp nya ke dia!
Adam : Ah bacot! Lo dateng cuma buat ngerusak suasana hati nya doang!
Dimas : Maksud lo apa hah? Siapa sih lo?
Adam : Jangan ganggu dia lagi, atau kita one by one!
Dimas : Ber-
Tut tut...
"Emang cewek tuh naif ya? Bilangnya disakitin terus ga mau ngulangin, tapi masih aja mau dipepet. Nanti disakitin lagi baru mewek, baru nyesel. Bego lu!!" ketus Adam geram. Tak tau angin apa yang membuatnya tampak sebegitu kesal nya. Adam meletakan benda pipih putih gold itu di atas meja lalu pergi begitu saja. Entah mau kemana.
Ratu tercekat mendengar tiap kata yang terlalu kasar dan menusuk dari Adam. Mungkin memang benar kalau Ratu naif dan bodoh, tapi ia tak bermaksud sedikitpun untuk mau dekat lagi dengan Dimas. Ratu hanya sekedar ingin tau saja. Dan ya, sepertinya hal itu lah yang menjadi pemicu emosi Adam.
"Adam kenapa sih?" tanya Bintang heran.
"Cemburu kali tuh." celetuk Gabby enteng.
"Ratuuuuu!! Are you okay?" pekik Deeva langsung berpindah duduk menghampiri Ratu yang masih tercekat diam. Manda juga langsung menarik Bagas agar bergeser tempat duduk.
"Ratu weyy?" panggil Manda jadi panik sendiri karenanya.
"Lo tenang aja Rat, Adam pasti ga ada niat kasar kok. Dia emang gitu kalo kebawa emosi." tutur Bagas menengahi. Manda memicingkan mata nya tajam.
"Terus yang tadi apa heh?!" tanya Manda galak. Bagas terjingkat kaget karena kena bentakan sarkas dari pacar nya sendiri.
"Lah beb kok jadi aku yang kena semprot sama kamu?" tanya Bagas mengerucutkan bibirnya. Manda menghela nafas nya pasrah. Benar juga? Kenapa jadi Bagas yang harus ia marahi? Kenapa tidak Adam saja.
...****************...
"Kenapa ngeliatin mulu? Terpesona ya? Haha gue tau kok gue emang ganteng." celetuk Vano melirik tipis ke samping kursi kemudinya. Vano tau Qia terus meliriknya sejak mereka berhenti di perempatan jalan tadi.
"Dih GR!!" ketus Qia sewot sambil membuang pandangannya ke segala arah. Vano tertawa kecil, ia tau kalau Qia sedang salting.
"Gue ga GR, lo emang merhatiin gue kan dari sejak di perempatan tadi?" tanya Vano lagi. Qia memutar kembali pandangannya kepada Vano dengan alis berkerut sebelah.
"Kenapa? Ada yang mau lo tanyain mungkin?" tanya Vano menebak. Ia mungkin laki-laki cuek dan bodoamat, tapi sebenarnya dia ini peka. Sangat-sangat peka, hanya kadang suka males aja.
"Tadi di perempatan itu..." tanya Qia menggantung. Vano mengeryit menunggu kelanjutan kalimat tanya dari lawan bicaranya.
"Tadi apa?"
"Lo seriusan nolongin kakek tua itu? Emang itu siapa lo? Sampek lo segercep itu kak?" tanya Qia memberondong Vano dengan banyak rentetan pertanyaan nya. Vano manggut-manggut, pada intinya karena Qia tau tentang kakek-kakek yang ia tolong di jalan tadi, berarti Qia memperhatikan nya.
"Sampek segitunya lo ngawasin gue?" tanya Vano dengan tampang menyebalkannya. Qia menatap cowok itu dengan tatapan datar bercampur malas.
"Tuh kan di tanya serius juga malah becanda!!" omel Qia menggerutu sebal. Vano tertawa.
"Gitu aja ngambek! Kakek tadi bukan kakek gue Qi, dia ternyata agak bermasalah sama penglihatannya terus ga berani nyeberang jalan. Ya karena gue tau, ya udah gue bantuin lah." jawab Vano apa adanya. Qia kembali tertarik dengan topik ini.
"Terus kalo bukan siapa-siapa lo, kenapa lo harus peduli?" tanya Qia lagi. Vano menoleh sejenak lalu tersenyum tipis.
"Emangnya harus nunggu satu darah ya buat nolongin sesama?" tanya Vano balik. Qia manggut-manggut dengan kedua sudut bibir yang tanpa sadar sudah tertarik sempurna ke atas.
'Sial! ternyata dia ga seburuk tampangnya yang arogan.' batin Qia blak-blakan memuji Vano.
"Jangan ngeliatin gue terus! Nanti naksir, malah jadi repot!" potong Vano membuat Qia tersadar dari lamunan penuh pujian tadi.
"Dih amit-amit!!" cicit Qia bergidik ngeri.
"Dah sampek!" ucap Vano. Qia mengerjap saat mobilnya sudah memasuki gerbang tinggi yang mengelilingi rumahnya. Kok cepet banget?
"Cepet amat?" tanya Qia heran. Vano melirik tipis.
"Kata orang, kalo kita ngerasa cepet dalam suatu perjalanan itu artinya kita nyaman sama orangnya. Makanya waktu terasa berputar lebih cepat." celetuk Vano. Qia memutar bola matanya malas.
"Mulai lagi kan lu." gerutu Qia sebal. Vano terkekeh kecil lalu keluar lebih dulu dari mobil, Qia memandangi Vano yang tampak berjalan memutari mobil sampai akhirnya membukakan pintu untuknya.
Qia berjalan perlahan mulai menaiki satu persatu anak tangga menuju teras rumah utama. Vano mengikuti langkah Qia dari belakang.
"Lo ga pulang kak?" tanya Qia menoleh.
"Gue anter lo sampek dalem dulu, baru gue pulang." jawab Vano. Qia mengangguk tipis.
'Baik banget sih astaga gemes pengen nyubit pipinya, tapi ogah ah ntar makin GR dia.' gerutu Qia gemas.
"Oh iya, kan motor lo ada di sekolah tuh. Pulang bawa mobil gue aja ga papa kak." usul Qia. Vano menggeleng.
"Ga usah, gue gampang nanti. Sekarang ayo masuk dulu. Bawel mulu lo dari tadi!! Lo masih butuh istirahat." suruh Vano tak sabaran. Qia berdecak sebal.
"Tuhkan bener! Baru aja gue akuin baiknya, eh udah ngeselin lagi." gerutu Qia lirih.
"Lo bilang apa?" tanya Vano yang melihat bibir Qia berkomat-kamit tanpa suara. Qia menggeleng cepat dan berbalik kembali.
"Nggak ada!"
Vano geleng-geleng kepala heran karena sikap Qia. Dia kenapa sih? Bawel sama ga jelas mulu kerjaan nya.
Krak
"Eh eh!!" pekik Vano menangkap tubuh Qia yang terhuyung ke belakang. Sepertinya kakinya terkilir lagi saat menaiki anak tangga terakhir. Qia menghembuskan nafasnya lega karena Vano menangkap dirinya hingga tak terjatuh terjungkir balik ke lantai.
"Keras kepala sih! Kalo tadi lo nurut, kaki lo ga akan terkilir lagi." omel Vano langsung menggendong Qia ala brydal style dan memasuki rumah.
"Assalamualaikum." ucap Vano sat memasuki ruang tamu. Kosong! Tak ada orang.
"Rumah lo kosong gini?" tanya Vano tanpa melirik Qia di gendongan nya, ia memutar pandangan ke seluruh antero rumah. Kakinya terus melangkah menuju tangga.
"Mama gue pasti ada di atas, udah ah kak gue bisa jalan sendiri kok." jawab Qia meminta diturunkan.
"Kaki lo tadi terkilir lagi. Ga usah bawel sehari aja bisa ga sih? Ini juga demi kebaikan lo sendiri!!" omel Vano garang.
"Malu nanti kalo diliatin sama nyokap. Dan kakak bisa dimarahin besar-besaran karena gendong anak gadisnya." elak Qia ngeles lagi. Vano teringat kalau nyokap Qia adalah sahabat baik dari mama nya sendiri.
"Santai aja, nyokap lo kan jinak sama gue." jawab Vano santai.
"Dih lo pikir ap-"
"Loh Qia!!" pekik suara keibuan dari arah samping. Vano memutar tubuhnya ke arah sumber suara. Andin berdiri disana, sepertinya ia baru saja kembali dari dapur.
"Vano juga? Kamu kenapa Qia sayang kok di gendong gini?" tanya Andin cemas. Qia mengkode Vano. Vano mengerti dan menurunkan Qia di sofa dekat mereka.
"Anak tante kenapa Van?" tanya Andin.
"Tadi kesleo di sekolah tan." jawab Vano sopan.
"Iya ma, tadi kesleo terus ditolongin sama kak Vano." jawab Qia ikutan. Ia takut kalau mamanya marah karena Vano ngasal main gendong.
"Duh kok bisa sih sayang kamu ceroboh banget!! Dan Vano, makasih ya udah nolongin anak tante." ucap Andin. Vano mengangguk.
"Tapi kakinya Qia kayaknya terkilir lagi deh tan gara-gara dia maksa naik tangga sendiri tadi." jawab Vano memberitahu.
"Oh ya? Ya udah nanti biar tante urut kakinya di kamar. Sekali lagi makasih ya Van!" sahut Andin santai. Sama sekali tak ada raut wajah marah atau kesal di wajahnya yang awet muda itu.
'Lah kok mama ga marah? Giliran sama Rayhan aja gue di amuk langsung, kenapa sama si kuyang Vano malah baik beneran? Aneh banget!' batin Qia heran.
"Bibi, tolong panggilin pak mamat ya biar bantu nganter Qia ke kamarnya. Kalo nunggu Mas Anton nanti kelamaan sampek malam." suruh Andin pada Bi inah, ART nya yang ada di sana.
"Eh emmm biar Vano bantu aja gimana tan? Biar Vano yang gendong Qia sampek ke kemar." potong Vano cepat. Andin dan Bi inah menoleh.
"Serius ga papa Van? Qia berat loh." tanya Andin memastikan. Vano mengangguk yakin.
'Ini mama kenapa jadi jinak banget ya?' tanya Qia dalam hatinya.
"Iya tante, ga papa kok." jawab Vano. Andin pun mengangguk setuju.
'Enak aja sopir itu bisa gendong Qia. Enggak! Mending gue aja dih.' batin Vano bergidik lalu kembali mengangkat tubuh Qia untuk di bawa naik ke kamar Qia. Sementara Andin tak langsung mengikuti dari belakang, ia merogoh iPhone di saku dressnya.
"Niat amat lu Kak?" tanya Qia heran.
"Gue kan ganteng dan baik hati." jawab Vano santai. Qia mendengus malas.
'Oke Qia! Lo salah ngomong lagi. Makin gede nih kepalanya si kuyang.' gerutu Qia kesal. Vano terus berjalan menaiki tangga bersama Qia di gendongannya.
Sementara di ruang keluarga.
📞Calling Irma......
Irma : Halo Ndin? Kenapa?
Andin : Aaaa Irma kamu tau nggak?!
Irma : Enggak! Kan kamu belum cerita.
Andin : Aaaa aku seneng banget tau ini hm.
Irma : Kenapa? Butikmu untung besar? atau salon nambah cabang?
Andin : Ishh bukan itu. Anakmu nganter pulang anakku lagi tau!! Malahan Vano gendong Qia naik ke kamarnya.
Irma : APA?!!! SERIUS??
Andin : Iya ir iya... Kayaknya tanpa perlu kita ngatur mereka, kita tetep bakal jadi besan deh karena pilihan mereka sendiri.
Irma : Aaaaa oh my god! Ini perlu di rayakan. Kita harus bikin acara dinner keluarga Ndin. Duh senangnya aku kalau benar Qia jadi menantuku!!
Andin : Kalo gitu sama! Aku juga suka sikap Vano yang perhatian dan bertanggungjawab. Semoga saja mereka di gariskan oleh takdir ya ir!
Irma : Aamiin paling serius.
Andin : Ya sudah aku mau naik ke kamar Qia juga. Ga baik ninggalin anak cowok sama cewek di kamar berdua.
Irma : Oke sip! Aku juga ada operasi mendadak nih.
Andin : Oke see you calon besan haha.
Irma : See you too dong haha.
T**utt tutt....
Setelah mematikan telepon, Andin langsung bergegas menyusul Vano dan Qia di kamarnya.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰