
"Jadi gini ceritanya...."
Flashback on
"Jadi gini rasanya jatuh cinta haha." lirih Vano sembari menikmati jalanan sepi di larut malam itu. Ia baru saja akan pulang setelah mengantar Qia tadi.
"Hoammm ngantuk." Vano menguap, ia belum tidur sejak tadi siang di sekolah. Padahal biasanya ia selalu menyempatkan diri untuk molor.
"Tadi perasaan ga ngantuk sama sekali pas sama Qia, sekarang udah jauh gini bisa langsung nguap ya? Aneh haha."
"Bisa gila gue lama-lama deket sama Qia. Jauh nyariin, deket bisa jadi gila. Ahahaha."
Tit tit tiiiiiiitttttt
Brum brum brummm
"Ck. Apaan lagi nih!" ketus Vano kesal melirik spion motornya. Baru saja moodnya bagus karena ia merasa sangat bahagia beberapa menit yang lalu, dan sekarang? Semuanya dirusak oleh segerombolan pemotor di belakang sana.
Brum brum
"WOY MINGGIR LO!!" teriak salah satu pemotor bising yang memimpin di depan. Vano meliriknya sinis, ternyata itu Rayhan.
"Emang ga ada bosennya ni anak kalah sama gue! Mana beraninya bawa orang se-RT lagi tuh." gerutu Vano malas.
"WOYYY!!!"
"Ladenin ga ya? Kalo enggak nanti gue dikira pengecut, tapi gue udah ngantuk mana bisa konsen sih anj*ng! Ah bodoamat lah!!" gerutu Vano yang malah tancap gas pol.
"Gue ga akan kalah kalau cuma lawan mereka doang mah, tapi rasa ngantuk gue lebih gede daripada keinginan buat ngehajar mereka. Dahlah!"
Bukan takut ya, tapi Vano ngantuk. Sangat ngantuk! Vano adalah tipe jagoan yang punya jiwa mager super ketika sedang mengantuk. Jadi, daripada meladeni si biang kerok, ia lebih memilih untuk kabur dan segera tidur nanti.
BRUM BRUM
"SIAL DIA KABUR. KEJAR WOY!!!" teriak Rayhan emosi. Gerombolannya pun langsung ikut tancap gas mengikuti Vano yang sudah melaju gesit di depan.
Vano terus mengendarai motornya dengan kencang membelah jalanan sepi ibu kota. Begitu pula dengan Rayhan dan anak-anak BB gang yang terus berusaha mengejarnya sejak tadi.
Brum brum
Hingga saat sudah dekat dengan perumahan tempatnya tinggal, Vano tiba-tiba ngerem mendadak dan langsung berhenti begitu saja ditengah jalan. Helmnya masih dipakai, bahkan motornya saja masih menyala, tapi dia hanya diam tanpa bergerak sedikitpun.
"Kalo gue masuk perumahan dan mereka masih ngeyel buat ngejar gue, bakal jadi ribut nanti? Apalagi jam segini kan satpam cuma dua di depan." ucap Vano menimbang keputusan lagi antara lari dan segera tidur atau menghadapi mereka.
"Kalo ntar rame, pasti pak rete bakal ngadu ke bokap. Jaminannya pasti motor gue disita semua nih! Bisa jadi bahan julidnya Adam sama Bintang dong kalo gue kemana-mana pake mobil, bukan motor."
Brum brum brum
"Mau lari kemana lagi lo hah?" ucap Rayhan yang sudah menghentikan motornya disamping Vano. Sedangkan anak-anak BB yang lain memutari Vano dan Rayhan menggunakan motornya.
"Ah bodoamat lah, mending gue nahan ngantuk buat ngeladenin mereka daripada motor gue kena sita papa." lirih Vano pasrah.
"Turun lo!" suruh Vano yang lebih dulu turun dari motor. Agak kebalik tapi ya udahlah. Ga usah heran juga, inilah Vano.
"Cih."
"Anjay bawa pasukan." celetuk Vano tertawa mengejek.
"Ini orang sekampung tang lo bawa? Lo mau adu jago atau karnavalan hah?!" cibir Vano lagi. Tampak Rayhan yang mengepalkan tangannya dengan geram.
"Ga usah bac*t lo njing!" sentak Rayhan kesal. Vano bersimrik.
"Ngaca! Lo yang mulai duluan."
"Gue ga bakal memulai kalau lo ga ikut campur di kehidupannya Qia. Lo udah jadi penghalang asal lo tau!" hardik Rayhan, rahangnya sudah mengeras sejak tadi.
"Oh ini masih tentang Qia? Bener juga sih emang, gue suka jadi penghalang buat lo." ucap Vano yang malah memancing keributan.
Vano berjalan mendekati Rayhan dengan dua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
"Sekedar saran...."
"Kalau mau dapetin cewek itu pakai hati sama otak bro. Jangan cuma pake nafsu doang! Qia terlalu berlian buat didapetin pemulung ga beratittude kaya lo setan!!" bisik Vano tepat di telinga Rayhan. Jelas sekali rahang mengeras milik lawan bicaranya itu, lawannya pasti sudah emosi dengan bisikan pedas Vano tadi.
Rayhan langsung refleks mengarahkan tinjunya ke Vano, tapi Vano tak kalah gesit. Cowok itu menangkap kepalan tangan Rayhan lalu mencengkeramnya kuat.
"Mulai sekarang.... Selain Raga sama Rizal, lo juga harus ngelewatin gue dulu sebelum lo mau ngedeketin Qia. Gue pastiin lo ga bakal aman kalo lo MASIH BE-RA-NI NYENTUH DIA!!" tegas Vano penuh penekanan.
"Cih. Emang lo siapa mau sok jadi pahlawan disini hah? Lo juga bukan siapa-siapanya, jadi jangan sok akrab."
"Bukan apa-apa itu cuma sekarang, besok atau lusa pasti beda lagi."
Rayhan mengepalkan tangan geram. Ucapan Vano ini punya maksud seolah-olah Qia akan menjadi miliknya.
"Lo tau ga kenapa?" tanya Vano. Rayhan tentu saja tak menggubris, hanya memainkan matanya saja.
"Karena gue gentle man, bukan pengecut kelas teri kayak lo!" ketusnya kemudian.
"Brengs*k!" maki Rayhan menghujani Vano dengan pukulan. Hingga akhirnya keributan pun terjadi.
Bug bug krak
Ada sekitar 20 orang lebih yang memutari Vano dengan banyak serangan dari segala sisi. Awalnya Vano tetap memimpin jalannya perkelahian. Tapi lama-lama karena melawan terlalu banyak orang dalam sekali tempo, Vano mulai ngos-ngosan sendiri menangkis dan membalas setiap serangan yang datang.
'Sial! Masih mending satu lawan sepuluh, lah ini dua puluh lebih cog!! Mana tenaga gue udah kekuras banyak sejak balapan tadi.' batin Vano di sela perkelahian sengitnya.
Nafasnya benar-benar tak karuan, lelah berkelahi ditambah lagi dengan fakta dirinya yang merupakan perokok aktif tiap ia berkumpul dengan teman-temannya.
Vano yang selalu berjanji untuk tidak merokok lagi tiap ia ngos-ngosan, tapi selalu mengulanginya lagi hanya setelah beberapa jam saja.
"Ngos-ngosan gitu nafas lo? Udah ngerasa ajal mendekat?" tanya Rayhan tersenyum miring. Tentu saja kondisinya terlihat lebih baik dari Vano, ia punya 20 orang disekililingnya sedangkan Vano sendirian.
"Ini karena gue ngerokok. Bukan karena kewalahan ngehadepin lo!"
"Really?"
Saat Rayhan hendak memulai serangannya lagi, sekelompok pemotor datang dengan lampu putihnya yang sangat silau.
Brum brum brum
Motor-motor itu mulai senyap satu persatu karena dimatikan oleh pemiliknya. Satu persatu dari mereka juga mulai turun mendekat ke kerumunan.
Prok prok prok
"Waduh seru banget.... Satu lawan berapa ratus aja nih?" celetuknya yang pertama. Gerombolan itu tak langsung menghampiri Vano dan Rayhan, tapi mereka berhenti di ambang batas kegelapan yang tidak terkena pancaran cahaya lampu jalanan.
Hanya terlihat segerombol bayangan hitam tanpa wajah yang jelas.
"Dicari, nyali dan keberanian yang telah hilang." sahut yang satu lagi.
"Cita-cita lo ketinggian buat dapetin adek gue, kalo jiwa pengecut lo lebih gede dari pada nyali yang lo punya!"
Dari ketiga suara berbeda itu ditambah lagi orang terakhir yang menyebut kata "adik" Vano sepertinya tau siapa gerombolan yang datang itu.
'DS Boys sama Raga bukan si?' batin Vano sambil memegangi pundak bagian belakang sampingnya yang agak nyeri karena terus terkena tendangan maupun pukulan.
"Siapa lo?!" tanya Rayhan sombong. Bodoh! Sepertinya cowok rese itu tidak bisa memahami tiga suara tadi.
"Gue? Gue pihaknya Vano." ucap Raga yang akhirnya maju selangkah tepat dibawah sinar lampu. Wajah tampannya terlihat dengan jelas dengan sinar itu.
"Udah gue duga." lirih Vano menghela nafas lega, setidaknya ia tak perlu mengkhawatirlan punggungnya lagi.
"Lo?"
Tak menjawab pekikan kaget Rayhan, Raga menoleh ke belakang dan majulah gerombolannya dengan Devan dan Rizal di bagian depan kanan dan kiri.
"Kalo mau ngadu skill jago, pastiin jumlahnya sepadan dulu lah atau minimal 1 banding 2. Jangan keroyokan sekampung!" Tegas Rizal kesal. Laki-laki berstatus sepupu Qia dan Raga itu tampak khawatir saat melihat kondisi Vano. Memang tidak terlalu buruk, tapi Vano sama sekali tak melepaskan tangannya dari punggung. Pasti ada cidera disana.
"Gaya lo ini, sama sekali nggak mencerminkan anak motor yang baik asal lo tau! Lo lebih pantes disebut preman kampung." ucap Raga si mulut pedas dan super padat.
Rayhan tentu saja bingung harus bagaimana, ia tak mungkin asal bertindak sekarang. Raga dan Rizal adalah kelemahan terbesarnya karena mereka berdua adalah kunci utama menuju Qia.
'Sial! Kenapa harus ada Raga sama Rizal? Gue gagal lagi ngehabisin si brengs*k Vano.' maki Rayhan kesal mengepalkan tangan.
"Tangan lo udah siap tuh, mau sekarang aja berantem? Ayo!" ajak Raga mulai berjalan maju. Rayhan berdecak.
"BB CABUT!!!" seru Rayhan dan diikuti oleh anak buahnya. Mereka pun pergi dari tempat itu meninggalkan Vano bersama Raga dan yang lain.
Ada dua alasan yang membuat Rayhan memilih mundur. Pertama adalah karena ada Raga dan Rizal, yang kedua karena anak-anak DS Boys juga tak kalah banyak. Lebih dari sepuluh orang, BB bisa saja kalah kalau ia tetap ingin melawan geng Raga.
"Cih banci dia." cicit Rizal bergidik ngeri.
"Amit-amit kalo yang modelan gitu jadi adik ipar lo Ga." sahut Devan ikutan ngeri. Raga hanya berdehem, ia mendekat kepada Vano yang juga berjalan ke arahnya.
"Are you ok?" tanya Raga, logat setengah bulenya kambuh. Vano mengangguk.
"Gue oke kok. Thanks udah nolongin gue bro!"
"Terus punggung lo?" tanya Rizal yang sejak tadi tak melepaskan pandangannya dari tangan yang terus menekan-nekan punggung Vano.
"Keknya itu parah deh Van, lo sampe merem melek gitu."
Vano menggeleng sambil menepuk-nepuk punggungnya itu.
"Nggak papa, punggung gue dulu pernah cidera parah gitu pas latian karate sama bokap. Udah biasa kumat kek begini kalo kena bogem orang." jawab Vano menjelaskan. Mereka manggut-manggut.
"Btw lo kenapa bisa dikeroyok gini? Lo ada masalah sama mereka?" tanya Raga setelahnya.
"JANGAN BILANG LO CERITA KE ABANG GUE?!" pekik Qia menerobos jalan cerita Vano. Vano berjingkat kaget diatas ranjang. Cewek yang sedang duduk di hadapannya ini memang punya energi dan suara yang super duper!
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰
Guys! Buat kalian yang merasa belum membaca DEVANO part 77 (Airlangga) kalian bisa cek di list bab nya ya..... Soalnya kemarin sempet ada masalah gitu guys. Terakhir kali itu aku update 3 sekaligus (part 76,77, sama 78) tapi karena ada sedikit masalah, part 77 itu ga lolos sensor.
Jadi yang terupdate sama sistem dan yang kalian baca waktu itu cuma part 76 (Riweh sia) sama part 78 (Devano modus Axellio) dan part 77 itu belum (mungkin baru beberapa orang aja yang sadar dan udah baca, tapi yang lain belum).
Karena baru lulus sensor 2 hari setelahnya, jadi kalian udah bisa baca part 77 yang sempet hilang itu ya!
Happy reading all💚🖤