
Devano Rega Pratama
Arsya Putri Rahadian
Arash Herina
Foto diatas adalah ilustrasinya saja:)) biar gampang buat ngebayanginya hehe
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Arsya disuruh menunggu diruangan Vano, ia mondar mandir saat ini ia sedang gelisah. bagaimana jika ayahnya menemukanya lalu bagaimana jika ia dijodohkan.
Vano masuk keruanganya dilihatnya Arsya mondar mandir seperti setrika. Namun ia acuh, ia menjatuhkan badanya ke sofa. Arsya kaget melihat majikanya sudah berada didalam ruangan.
"Maaf Tuan saya tidak tau kalau tuan sudah datang" Vano tidak menjawab, ia memejamkan matanya.
"kemarilah!" Arsya segera mendekat, duduk disamping Vano.
" Tolong pijat kakiku!" Arsya mengangguk dan mulai memijat kaki Vano, ia faham Vano baru sembuh.
"Tuan saya pesankan makanan ya, tuan belum makan siang"
"Saya mau makan dirumah saja! saya ingin kamu yang masak"
"Tapi Tuan masih nanti sore, sedangkan tuan belum minum obat, saya akan memasak untuk Tuan nanti tapi sekarang makan dulu ya" Vano mengangguk, Arsya segera bangkit namun dicegah oleh Vano.
"Mau kemana?"
"Pesan makanan untuk Tuan"
"lewat GoFood saja"
"Saya tidak punya hp Tuan" Vano menyodorkan hpnya ke Arsya.
"Nih, pesan apa saja kecuali seafood saya alergi" Ucapnya, Arsya mengangguk. Diam diam Vano mencuri pandang ke wajah Arsya dilihatnya inchi demi inchi mulai dari alis,mata, hidung dan yang terakhir bibir.
Bibir tipis dan berwarna pink, seakan menjadi candu untuknya setelah kejadian tadi pagi. Kenapa perasaanya tidak karuan saat mengingat kejadian tadi pagi.
Tok..tok...
Sial! kenapa harus datang secepat ini! umpat Vano. Arsya mengelap bibirnya dengan tissu. lalu bergegas membuka pintu.
"Terima kasih Tuan Laks" Ucap Arsya seramah mungkin.
"Baik Nona, saya permisi dulu"
"Tuan ini makananya" Arsya membukakan kotak makanan, Vano segera mengambil alih kotaknya lalu menyuapkanya ke mulutnya.
"Kau tidak makan?" Tanya Vano disela mengunyah.
"Tidak tuan, saya masih kenyang. Tuan bolehkah saya membaca map itu" Tunjuk Arsya Vano mengangguk.
Arsya mulai membacanya dengan teliti, sesekali ia menghitungnya dengan kalkulator. Vano hanya memperhatikan sambil makan.
"Sok sok an pakai menghitung! apa dia faham dengan dunia bisnis" ucapnya dalam hati. Sampai akhirnya Vano selesai makan siangnya, bersamaan dengan Arsya yang menghampirinya.
"Tuan,kenapa kau ceroboh sekali!"Vano terkejut bagaimana asistenya berani mengatainya ceroboh, Vano mulai geram.
"Kau mengataiku ceroboh?" Vano berkata seraya menahan amarahnya, alih alih menjawab Arsya menarik tangan Vano hingga duduk disampingnya.
"Apa Tuan membaca surat perjanjian ini dengan seksama?"
"Iya."
"Apa tuan juga tau berapa jumlah uang yang tuan keluarkan? dan apa tuan tau juga berapa kerugian yang akan tuan alami jika tuan yang kalah?" Vano tak mengerti maksud Arsya..
"Lihat Tuan, disini tertera jumlah uang yang akan tuan keluarkan dan disini isi perjanjianya berbeda denga kesepakatan. Lihat Tuan hampir saja rugi 2M untuk proyek seperti ini! Lebih baik Tuan batalkan, jangan ceroboh Tuan jangan terlalu percaya dulu" Vano mulai membaca seksama dan menghitungnya berulang.
"Kamu benar" Ia beranjak dari duduknya lalu duduk dikursi kerjanya ia mulai fokus menggarap proyeknya.
"Darimana kau tau dunia bisnis sperti ini?" Tanya Vano tanpa melihat Arsya.
"Saya pernah bekerja disalah satu perusahaan besar, saya pernah menghandle proyek seperti ini, dan beberapa kali memenangkan tender. namun ada orangyang tidak suka dengan saya makanya saya difitnah" jelas Arsya, Ia sedikit berbohong agar tidak ketahuan.
"Oke, kalau begitu kamu harus membantu saya menyelesaikan proyek ini"
"dengan senang hati tuan" Vano semakin tidak karuan melihat Arsya tersenyum semanis ini.