DEVANO

DEVANO
90. Antartika telah mencair



"Kenapa Deev?"


"Hah? Apanya kak?" tanya Deeva tak mengerti. Wajar saja ia tak mengerti, bahkan Sammuel langsung mengajukan pertanyaan tanpa menyebutkan intro terlebih dahulu.


"Kenapa nyuruh Gabby?" ulangnya lagi. Deeva mengeryit heran, Sammuel bisa melihat ekspresi bingung Deeva dari pantulan kaca spion.


"Kapan aku- eh gue kapan gue nyuruh Gabby kak?" tanya Deeva balik.


"Tadi pas minta dianter pulang."


"Oh itu...."


"Iya."


"Sebelumnya sorry nih kak, sorry banget. Tapi tadi Gabby aja yang asal nyeplos. Sebenernya ga gitu ceritanya-"


"Terus?" potong Sammuel tak sabaran.


"KAK MINGGIR DULU BISA GA MOTORNYA? GUE TAKUT KITA JATUH NANTI." pekik Deeva ngegas tiba-tiba. Sejujurnya ia trauma karena pernah jatuh dari motor saat masih SMP karena bercanda sambil jalan bareng temannya.


"Oke." Sammuel pun langsung meminggirkan motornya di jalanan cukup lenggang, dibawah pohon rindang.


"Lanjut!"


"Oke, jadi mama kan lagi ke Bandung sama tante alias mamanya Gabby, nah mama nitipin aku- eh gue ke Gab-"


"Kalo mau pake aku, pake aja. Ga usah belibet aku gue aku gue terus." potong Sammuel gemas dibalik muka datarnya yang menyebalkan itu.


"Eh? Apa?"


Deeva lemot is back!


"Tadi mama lo nitipin gimana?" tanya Sammuel mengalihkan topik. Deeva manggut-manggut, menarik nafas panjang sebelum kembali bercerita.


"Nitipin aku- eh gue- eh aku aja deh. Nitipin aku ke Gabby kan, terus ga tau maksudnya apa malah lempar tangan ke kakak. Sebenernya mama minta Gabby yang nganter aku pulang gegara sopir ikut mama ke Bandung. Eh si anjir malah nyuruh kak Sam yang nganterin, aku aja juga kaget tadi ga ngerti maksudnya apa." jelas Deeva panjang lebar.


"Oh jadi sebenernya bukan gue yang dikasih tanggung jawab sama mama lo?"


"Bukan kak, hehe. Lagian kak Sam tadi main iya-iya aja sih, kan bisa nolak kalo emang ga mau.


"Gue ga bilang gue ga mau Deev. Gue mau kok tanggung jawab atas diri lo! Mama lo emang ngasih tanggung jawabnya ke Gabby, tapi mendiang papa lo udah mercayain tanggung jawabnya buat gue!" jawab Sammuel panjang lebar. Tumben mulutnya mau mangap lama?


"Hah?" sahut Deeva cengoh. Ia kurang fokus mendengarkan ucapan Sammuel karena ia sudah digagal fokuskan oleh banyaknya jumlah kata dan suara yang dikeluarkan oleh seorang Sammuel hari ini. Saat bersamanya pula!


"Kak sorry gue gagal fokus tadi, kakak ngomong apa?"


"Ga jadi." sahut Sammuel terlanjur unmood lagi.


'Deeva bener-bener cewek yang bisa naik-turunin mood gue. Bisa gila gue lama-lama berduaan kek gini, polosnya bikin gue nahan emosi mulu.' batin si paling tidak sabaran.


"Pegangan lagi! Kita lanjut jalan."


'Kak Sam tadi ngomongin apaan si? Ah Deeva shibal. Bisa-bisanya ga dengerin crush ceramah.' gerutu Deeva mengutuk telinganya.


...................


"Mmmm yum yum."


"Enak, manis, pas banget ga nyakitin juga."


"Nyengir lu dikasih makan!" celetuk Vano geleng-geleng melihat Qia melahap arum manis itu hingga sisa separuh.


"Enak kak. Lo mau?" tanya Qia menawarkan, ia ingin menyuapkan sepotong arum manis yang ia comot tapi Vano menggeleng. Ia paling anti dengan makanan manis.


"Ga mau! Ga doyan."


"Ishh kak Vano mah! Ini tuh jajan yang super manis, ga bikin sakit gigi apalagi sakit hati, enak banget plus bikin candu tau. Ketagihan lo ntar kalo udah mau nyoba!!" ucap Qia ngeyel ingin menyuapi Vano.


Ah iya, mereka kini sedang duduk santai di atas kap mobil Vano. Persis menghadap danau, pemandangan yang sangat cocok untuk mengusir awan hitam di hati Qia.


"Gue jauh lebih manis." jawab Vano mulai ngawur.


"Dih? Pede banget lo!" ketus Qia bergidik.


"Gue juga ga bakal nyakitin lo." lanjut Vano lagi. Qia membuang muka, ada senyum salting yang ingin ia sembunyikan.


'Ini anak dari tadi narik ulur saraf baperan gua njir. Dan sialnya gue salting beneran.' batin Qia.


"Dan pastinya gue juga enak. Enak banget loh Qi! Ntar ya tunggu kita punya takdir dan lo nyoba gue, fix sih saat itu lo bakal tau kalau ternyata ada hal lain yang lebih enak dan nyandu selain arum manis itu." ucap Vano mode 18++++.


Plak


Qia refleks menampol kepala Vano. Tujuannya satu, biar lurus.


"Saraf lu kecengklak tuh! Gila kali ah." cicit Qia. Vano masih mengelus-elus kepalanya yang menjadi korban kekasaran tangan Qia. Udah tau Qia cewek berpower, masih aja suka asal ngomong.


"Tangan lo diciptain dari besi cap apaan sih? Panas banget sakit." keluh Vano tersakiti. Qia menatapnya tanpa kepedulian ataupun rasa iba sedikitpun.


"Besi baja kualiatas premium bintang lima! Ngapa lo kagak terima hah?!!"


"Galak banget jadi cewek. Tadi aja mewek, sekarang mematikan." gerutu Vano.


"Semua cowok emang sama aja otaknya! Ga ada bersih-bersihnya 100 persen. Lama-lama gue bisa Phobia cowok beneran nih."


"Ahahaha kidding babe!" ucap Vano refleks sambil mengacak-acak rambut Qia.


"Hah?"


Vano kelagapan saat ia sadar ia keceplosan bicara, secepat kilat ia selalu bisa membalikkan keadaan.


"Hah heh hoh mulu! Buruan habisin tuh, biar kita bisa cepetan pulang. Oh atau lo emang sengaja ya ngulur waktu biar bisa terus berduaan sama gue?" goda Vano menaik turunkan alis. Qia memasang tampang heran.


"Ngaku lo!" suruh Vano.


"Ga usah GR!" ketus Qia menonyor jidat Vano. Vano ngebug seketika.


Bukankah ini biasanya jadi dialog dan kebiasaannya? Kenapa jadi berbalik?


"Ngelamun mulu! Kemasukan setan ntar baru tau rasa." celetuk Qia lagi. Vano bersimrik.


"Kalo setannya elo mah ga papa, kesenengan gue."


"Wah bener-bener minta diaduin ke abang ni orang, nantang lu ye lama-lama!"


Qia bersiap merogoh saku seragamnya untuk mengambil handphone dan ingin menelepon Raga untuk mengancam Vano agar otaknya lurus. Tapi Vano cepat-cepat merebutnya.


"Dih gue kan punya abang, ya terserah gue lah."


"Gue bercanda doang astagaaaaa."


"Bercandanya ga asik ah, bikin otak traveling."


"Ya itu masalah lo! Berarti otak lo yang minta di beresin, bukan gue!" sungut Vano.


"Lah?"


...****************...


"Bisa-bisanya si Rehan ke Airlangga nyari Qia, sedangkan Qia lagi enak-enakan berduaan disini sama Vano njir." cicit Dika berbisik. Marvel memutar bola matanya malas.


"Lagian si Rehan bandel sih! Udah dibilangin ga usah ngarepin Qia lagi, masih aja ngeyel."


"Namanya juga cinta kali Vel. Kek ga pernah fall in love aja lu!"


"Udah pernah dih. Cewek gue ada noh di Arwana..... Elu kali jones sampek sekarang belum laku!" jawab Marvel garis keras. Dika memutar bola matanya jengah.


"Ya udah kita kasih tau dia ga nih?"


"Ya kasih tau lah! Kasian juga tu anak ntar berjamur di gerbang Airlangga." suruh Marvel.


Cekrek


Marvel dan Dika tadi sedang dalam perjalanan menuju QuQi cafe, tapi mereka berhenti dan mengintip dari balik pohon rindang di samping jalan saat melihat mobil dengan plat familiar berhenti di dekat sana.


Dan benar saja, pemilik mobil itu sedang berduaan di atas kap mobil bersama Qia. Gadis pujaan hati dari sahabat mereka.


📤(Send photo to Rayhan)


"Udah gue kirim ke dia."


"Ya udah kita lanjut jalan sekarang! Haus juga dari tadi."


"Kuy ke QuQi cafe, biar lo ga ngatain gue jomblo mulu!"


"DASAR BUAYA!!"


...****************...


Ckit


Sammuel menghentikan motornya tepat di depan rumah dengan pagar putih menjulang. Rumah bertuliskan nomor enam di tembok pagar, rumah Deeva.


"Yeay udah sampe." ucap Deeva sambil perlahan turun dari atas motor. Sammuel tersenyum tipis.


'Kek bocah habis pulang main.' batin si paling dingin tapi super care.


"Thanks ya kak." ucap Deeva dengan senyum lebar yang manis, menampakan gigi gingsulnya yang tak terlalu kentara.


"Iy-"


"Eh non Deeva udah pulang!!" seru seorang wanita setengah baya yang muncul dari balik gerbang besi itu. Sammuel dan Deeva menoleh bersamaan.


"Eh bi Leha." sapa Deeva.


"Bibi kira tadi bakal pulang sama den Gabby, soalnya nyonya titip pesennya gitu." ucap ART rumah Deeva itu. Deeva nyengir.


"Ehehehe enggak bi, Gabby kabur."


Drtt drtt


Deeva mengecek handphone di tangannya saat mendengar suara deringan, tapi kosong! Ternyata deringan itu berasal dari ponsel milik Sammuel.


"Ada apa kak?" tanya Deeva saat Sammuel seperti hendak mengetikkan balasan.


"Dev gue langsung pulang ya? Gu-"


"Kenapa? Mau ngapain emang?" tanya Deeva tak sabaran. Ada satu kesamaan diantara mereka, yaitu sama-sama tidak sabaran dan selalu ingin cepat.


"Nyokap minta dijemput."


"Yah jadi mampir dulu nih kak?" tanya Deeva lesu. Sammuel manggut-manggut, sebenarnya ia tak tega melihat raut wajah kecewa Deeva tapi ia juga tak akan membiarkan mamanya pulang sendirian tanpa jemputan darinya.


"Next time aja mungkin, ini nyokap baru aja minta jemput soalnya. Kapan-kapan gue main ke rumah lo!" jawab Sammuel menunjukkan layar iPhonenya sebentar lalu memasukan ke dalam saku jaket.


"Janji mampir ya?"


"Ya."


Bibi Leha mengintip sosok Sammuel yang berada dibalik Deeva karena posisi Deeva membelakangi bi Asih. Laki-laki di sebelahnya ini tampak asing di matanya, maklum waktu itu saat kematian ayahnya Deeva, Bi Asih sibuk jadi tidak tau kalau Sammuel pernah ke rumah ini.


"Loh non cowoknya udah ganti lagi ya? Kok beda dari yang kemarin? Tapi yang ini lebih ganteng sih non, bibi mah jujur banget orangnya." celetuk Bi Leha bertanya dengan sangat polos.


Deeva melotot, mengisyarakatkan lewat komat-kamit bibir seolah meminta ART itu untuk diam.


"Bibi diem!"


"Aduh Non, maaf atuh. Bibi ga tau." bisik bi Leha lirih. Tanpa Deeva dan bi Leha sadari, Sammuel mendengar bisikan mereka dan tersenyum miring sangat tipis.


"Cowoknya Deeva belum ganti kok Bi, kebetulan saya cuma T-E-M-E-N nya aja." celetuk Sammuel datar. Datar atau kecut mas?


"Eh? Mmm enggak kok den tadi bibi bercanda, aden yang paling ganteng hehe. Kalo gitu bibi permisi ya den, non. Punten atuh!" ucap bi Leha buru-buru kabur sebelum Deeva ngambek bin ngamuk.


Deeva nyengir kelagapan. Harus bagaimana sekarang?


'Ah baru aja bisa ngobrol asik sama kak Sam tadi, udah balik canggung lagi kan sekarang. Si bibi bisa-bisanya juga nanya gitu tadi ih!' batin Deeva memaki momen perusak ini.


"Jangan marah ke bibi, tanpa dia nanya tadi juga gue udah tau lo kemarin pulang di anter sama siapa." ucap Sammuel tiba-tiba.


Keterkagetan Deeva bertambah berkali-kali lipat.


"Eh hah?"


"Lo kemarin pulang bareng anak IPS 2 kan? Tau gue."


"Mmm itu cuma-"


"Gue udah tau lo mau bilang apa. Gue pamit duluan!" potong Sammuel yang kemudian pamit sebelum pergi. Deeva hanya bisa mengangguk-angguk pasrah penuh kebingungan.


"Kak Sam anaknya peramal bukan sih? Tebakannya bener mulu perasaan." monolog Deeva saat punggung Sammuel menghilang di tikungan komplek.