
"Ini semua nih karena kamu Vano. Lihat itu temen-temen kamu, mukanya bonyok semua makin jelek aja. Ga sedap di pandang!" omel pak Bambang garang. Selurus siswa yang ikut andil dalam tawuran tadi, kini sudah berkumpul di tengah lapangan. Dibawah pengawasan pak Bambang dan pak Munir.
"Lah kok jadi saya pak?" protes Vano. Pak Bambang berkacak pinggang dengan mata elang andalannya.
"Ya gimana bukan kamu kalo kenyataannya setelah kamu datang tadi kamu langsung teriak serang seranv gitu heh? Pokoknya kamu dan kalian semua harus tanggung jawab!" omel pak Bambang lagi.
"Gara-gara permusuhan kalian nih sekolah hampir aja berada dalam bahaya, masalah berkepanjangan ini merusak dan membahayakan semua murid di sini tau!!" celetuk pak Munir menambahkan. Pak Bambang mengangguk setuju.
"Ya elah hampir doang kali pak, lebay amat sih!" celetuk Bintang tanpa dosa. Biasalah!
"Pfftt bocah prik!" ucap Adam refleks menahan tawanya yang hampir jebol.
Bintang yang posisinya hanya berjarak Bagas pun menoleh.
"Bapak lu nih Dam, overthingking mulu jadi orang tua." ucap Bintang dengan mudahnya, lagi. Teman-temannya yang sudah tidak bisa menahan tawa karena bar-barnya Bintang pun tertawa ngakak penuh kepuasan.
"Bukan temen gue!" ucap Bagas ngakak.
"Bintang, saya dengar ya! Jangan sampai nilai kepribadian kamu dapat C nanti." ancam pak Bambang garang.
"Lah? Urusannya sama bapak apa? Pak denger ya, bapak kan cuma ngurus raport kelas dua belas. Lah saya masih kelas sebelas pak, bapak ga bisa ngancam-ngancam saya kek gitu dih. Karena guru BK saya itu bu Yuyun!!" jawab Bintang dengan sangat santai.
"Kalo gitu saya tunggu raport C kamu di kelas dua belas." sahut pak Bambang tak mau kalah. Bintang memasang wajah bodoamat nya.
"Bodoamat! Insyaallah tahun depan saya pindah sekolah pak, Bye!" pungkas Bintang menang. Pak Bambang kena mental hingga memutuskan untuk diam saja.
"Sudahlah! Sekarang kalian semua lari keliling lapangan!" perintah pak Bambang menengangi.
"Sepuluh kali, sekarang!!" ulang pak Munir menegaskan.
Semua anak melongo. Bisa-bisanya habis capek tawuran demi sekolah tercinta ini, bukannya disayang-sayang malah dihukum. 10 putaran di panas terik seperti ini pula.
"Apa-apaan nih pak?!" protes Vano tak terima.
"Udah capek pak. Ga usah ditambahin lah!" sahut Bagas.
"Bapak jahat banget etdah, kita kan capek berantem gini juga demi Airlanngga biar mereka ga bisa masuk pak!" protes Adam pula. Bintang manggut-manggut setuju.
"Guru prik!" umpat Sammuel refleks.
Pak Bambang malah dengan santainya berkacak pinggang tanpa mendengar keluhan murid-muridnya yang lain.
"Saya tidak peduli ya, siapa suruh kalian bikin rusuh!! Sekarang ayo lari." suruh pak Bambang mengibaskan tangannya, menyuruh semua murid-murid kang gelud ini segera menjalani hukuman.
"Haha mampus lu pada! Gue sih aman ye wleee." pekik Rizal buka suara. Ia menertawakan Adam yang berdiri di sebelahnya.
"Heh kamu anak Rollex School!" tegur pak Bambang. Rizal mendongak, menatap guru setengah tua dengan kumis lebatnya itu.
"Apa pak?"
"Kamu juga bakal kena sanksi ya! Karena kamu dan satu temenmu itu juga terlibat." jawab pak Bambang menunjuk Devan yang berdiri di sebelah Qia. Rizal mendelik tak terima.
"Biar nanti saya bicarakan ini dengan guru BK Rollex School, kebetulan saya kenal baik dengan pak Alif. Guru kalian!" sambung pak Bambang lagi. Kedua mata Rizal makin membulat sempurna.
"Pffttt mamp*s!" ucap Qia refleks menahan semburan tawanya.
"Loh pak ga bisa dong! Saya kan bukan murid sin-"
"Nah justru itu saya mau laporkan kamu ke pak Alif, kamu ngapain ikutan tawuran heh?" potong pak Bambang. Rizal mendengus malas.
"Kan niat saya baik pak, mau bantuin murid-murid bapak nih!" jawab Rizal masih dalam mode ngeles.
"Apapun alasannya, kamu itu tetep ikut terlibat! Dan kalian semua bersalah. Dan tidak ada alasan lagi!!" kekeuh pak Bambang.
"Ck. Apes banget gue! Udah capek-capek bolos naik pager biar ga ketahuan, eh sekarang malah ketahuan. Gara-gara tawuran pula!" gerutu Rizal pada dirinya sendiri.
Pertanyaannya adalah kenapa pula mereka harus ikut berkumpul ke lapangan saat dipanggil tadi? Padahal mereka bisa saja tadi langsung lari pergi. Rizal Devan, bocah prik!
"Gue kena lagi." keluh Devan mendengus malas.
"Ini semua gara-gara lo, dari tadi ngomong mulu sama Adam! Sampek kita jalan ngikutin mereka, jadi kena kan kita." sambung Devan mengomel pada Rizal, tempat mereka berdiri hanya berjarak Qia di tengahnya saja.
"Ye elu juga kenapa ga ngingetin gue b*ngke!" balas Rizal balik menyalahkan.
"Udah, tapi lo budeg!" sembur Devan lagi.
"Terus ini si Raga kemana?" tanya Rizal celingukan mencari keberadaan leadernya itu.
Sementara dua manusia ini sibuk bertengkar, pak Bambang sibuk menyebutkan apa saja hukuman bagi anak-anaknya itu.
"Raga ga ikut masuk kayaknya. Dia tadi jalan belok, palingan juga nunggu di mobil." jawab Devan.
"Sialan! Kenapa kita ga ikut Raga aja, ngapain juga kita kesini malah nyari penyakit. Mana skors gue udah banyak!" gerutu Rizal makin kesal. Kenapa pula Raga tidak mengajak Rizal dan juga Devan agar tidak masuk?
"Lo pikir lo doang? Kita kan sama aja tolol! Kalo sampai gue dapet surat dari pak Alif, tanggung jawab lu! Kalo sampek gue diusir dua hari dari rumah kek dulu, lo juga tanggung jawab!!" semprot Devan kesal. Rugi besar ia tadi mengikuti langkah Rizal memasuki lapangan Airlangga.
"Pffttt mamp*s ahahaa!" sembur Qia tertawa ngakak. Ia tak bisa menahan tawanya karena mendengar omelan Devan tadi, ia masih sangat mengingat hari itu. Saat Devan menginap di rumah Rizal selama dua hari, alasannya adalah mamanya mengamuk setelah Devan mendapat surat dari BK karena terlibat tawuran.
"Kamu juga sama saja Qia!" sembur pak Bambang galak, mantanya menatap tajam ke arah satu-satunya anak perempuan itu. Qia auto mingkem. Mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Kamu pencetak sejarah ya, kamu jadi anak cewek pertama yang terlibat tawuran fisik!!" ucap pak Bambang geleng-geleng kepala melihat tampilan murid barunya ini. Udah ikut tawuran, outfitnya terlalu sangar pula. Tidak ada tanda-tanda feminim sama sekali, kaos hitam merk gucci, jaket hitam khas geng motor, sepatu converse hitam putih, ditambah dengan celana jeans hitam sobek-sobek pula!
Qia adalah preman magang di mata pak Bambang dan pak Munir.
"Well, dimanapun saya sekolah, saya emang selalu jadi pemecah rekor pak. Pencatat sejarah baru! Bapak pasti bangga ya punya murid seperti saya?" sahut Qia nyengir. Aneh! Bukannya takut, malah ngeladenin pake humor. Dua guru di hadapannya hanya bisa menghela nafas pasrah dengan sabar.
Vano menoleh ke kiri, menatap Qia yang cengengesan dengan tatapan tak mengerti.
'Itu anak tadi kepentok balok kayu atau gimana? Otaknya kek geser gitu. Dimarahin malah diladenin hadeh!!' batin Vano geleng-geleng.
Melihat seluruh perhatian murid-muridnya tertuju pada Qia yang tak memiliki rasa bersalah itu membuat pak Bambang mengambil alih kembali seluruh perhatian.
"Heh ayo tunggu apa lagi? sekarang kalian semua menuju lapangan utam-"
"SAYA TIDAK SETUJU PAK!"
Bukan mereka yang menyuarakan protes, tapi orang lain bersuara lembut dari belakang.
Bu Yuyun!
"Loh?" pekik pak Bambang kaget.
"Alhamdulillah beauty angel gue udah dateng!" seru Bintang refleks, matanya langsung membulat sempurna seolah baru saja mendapatkan asupan vitamin A.
Bagas menyenggol lengan Bintang agar diam. Bintang pun diam, tapi matanya tetap tak mau tinggal diam. Matanya terus mengikuti kemanapun arah wajah bu Yuyun berada.
"Maksudnya gimana ya bu Yuyun?" tanya pak Bambang tak mengerti.
"Menurut saya, mereka tidak perlu diberi hukuman pak. Kita bebaskan saja mereka! Coba bapak fikir ya, kalau saja mereka tidak mau melawan tadi, pasti anak-anak berandalan tadi sudah merajalela masuk dan merusak semuanya. Kita harusnya berterimakasih sama mereka semua loh pak!" jelas bu Yuyun dengan karismanya.
"Dan untuk dua anak Rollex School ini, tidak perlu mengadukan mereka ke pihak sekolahnya. Kita malah harus berterimakasih ke mereka karena sudah mau membantu, padahal mereka bukan siswa di sini." sambung bu Yuyun lagi. Mendengar pengertian dari guru muda cantik ini, Rizal dan Devan sama-sama menghembuskan nafasnya lega.
"Ah bu guru baik banget bu! Udah cantik, pengertian pula ah saya jadi suka hehe." ucap Rizal nyengir. Devan memutar bola matanya malas.
Kebiasaan Rizal memang selalu menyebalkan! Di sekolahnya sendiri juga ia suka menggoda guru-guru muda, di sinipun juga sama saja. Memalukan!
Bu Yuyun hanya mengangguk sebagai respond. Ia sudah terbiasa digoda-goda oleh murid-murid receh seperti ini.
"Lihat saja pak, muka-muka mereka saja sudah seperti ini. Pasti mereka sangat lelah dan merasa sakit pegal di sekujur badannya, masa iya bapak berdua tidak punya hati sampai harus menambah lelahnya mereka?" ucap bu Yuyun lagi. Masih mencoba memberi pengertian pada dua guru seniornya, ia sebagai guru BK baru kan tetap harus berlaku baik pada senior yang lebih tua dan lebih lama.
Bu Yuyun tak tega saja melihat wajah-wajah penuh lebam ini. Miris dan ngeri!
"Nah guru kek gini yang gue cari selama.ini bray!" seru Adam heboh.
"Ah bu Yuyun emang idola gue!!" sahut yang lain.
"Guru idaman kita semua!!"
"Sayang banget dapet guru kek gini, pas gue udah mau lulus."
"Tuh Gas, lihat sendiri kan lu? Guru idaman gue emang termantep. Gimana gue ga klepek-klepek coba?" celetuk Bintang pada Bagas. Bagas menepuk jidatnya sendiri. Bagaimana tidak? Suara Bintang ini tidak bisa dikatakan pelan, pasti bu Yuyun bisa mendengarnya.
"Njir ngeri lu jadi aligator!"
"Eh bu Yuyun. Tapi mereka ini kan tawuran, dan sudah seharusnya mendapatkan huk-" protes pak Bambang masih belum setuju dengan mudah, tapi keburu disela oleh pak Munir yang entah mengapa jadi mode kalem dan baik.
"Tapi kalau saya pikir-pikir lagi, emang betul sih pak yang dibilang sama bu Yuyun. Kasihan anak-anak, mereka kan jadi bonyok-bonyok gini juga karena membela alamamaternya! Mending kita bebaskan saja lah mereka semua." ucap pak Munir sambil sesekali melirik guru baru cantik itu.
Bintang melotot, ia tau kalau guru tua yang sudah hampir berumur setengah abad itu sedang caper!
"Dih caper dia bray!" seru Adam bergidik. Rupanya cowok itu punya pemikiran yang sama dengan Bintang.
Ketiga gurunya menoleh.
"Pak Munir istighfar pak inget istri dirumah nungguin tuh. Anak udah tiga juga masih aja jelalatan nyari daun muda. Bapak kan udah tua, ngalah dong pak!" seru Bintang ngegas. Bagas menginjak kaki Bintang dengan sebal, anggap saja Bagas sedang menggantikan tugas Gabby.
Malu!
"Diem lu tolol!" sembur Bagas kesal. Bintang berdesis.
"Ssstt diem dulu lu! Yakali gue kalah sama Munir." gerutu Bintang garang. Bagas menghela nafas pasrah, oke terserah apa kata Star saja!
"Memangnya kamu mau saya mengalah dari siapa Bintang?" tanya pak Munir heran. Bintang menarik nafas sambil menyusun jawaban.
"Ya dari saya lah! Yang muda yang bercinta, yang tua yang bau tanah. Tob-"
"BINTANG GEONNE!!" semprot pak Munir galak. Bintang agak kaget karena suaranya terlalu keras.
Sementara yang lain hanya bisa tertawa ngakak mendengar ledekan frontal tanpa sensor yang keluar dari mulut Bintang tadi. Sekarang coba kalian fikir? Mana ada murid-murid bandel seperti mereka? Mau dihukum malah ngelawak terus. Untunglah langit sedang bersahabat dengan mereka saat ini, awan hitam mendung mulai berkumpul di satu titik. Jadi suasananya sudah tidak panas seperti tadi!
"Hehe maap pak, saya terbiasa jujur dari kecil." jawab Bintang polos.
"Bocah prik!"
"Bintang garis keras haha!!" seru Adam ngakak.
"Sabar pak! Hidup emang banyak cobaannya." celetuk Vano santai.
"Kalo banyak hadiahnya ya lotre." sahut Bagas.
Pak Munir menghela nafas pasrah, emang susah punya murid seperti mereka.
"Semesta emang suka ngajak becanda pak, jadi jangan baperan jadi orang. Ntar kalo semesta marah, nyawa bapak bisa di-" cerocos Bintang terhenti karena mendapat pelototan mata tajam dari pak Munir. Bintang nyengir
"Hehe ga jadi deh pak. Peace bro!!" cicit Bintang tak jadi meledek.
"Jadi gimana pak Bambang? Tolong bebaskan mereka saja ya pak?" pinta bu Yuyun menyudahi perdebatan kosong ini.
"Hm baiklah kalau begitu, tapi ini tidak untuk diulang ya! Saya tidak mau terjadi hal seperti ini lagi. Kalau kalian ada masalah, selesaikan di luar sekolah!" pungkas pak Bambang setuju untuk tak menghukum murid-muridnya.
"Alhamdulillah."
...****************...
Matanya menatap kosong ke depan, tangannya bersidekap dada, dan kakinya berdiri dengan posisi bersilang. Terdengar hembusan nafas berat dari cowok itu. Sebuah nama tak asing terus saja berputar di otaknya. Satu nama yang entah mengapa, tak pernah bisa lepas dari fikirannya sejak malam itu. Cowok itu tak lain adalah Sammuel Atmajaya.
"Sial! Kenapa gue jadi mikirin Deeva terus? Arghh!!"
"Mikirin cewek? Ini bukan gue. Sammuel mana pernah mikirin hal-hal tabu kek gini." omel Sammuel pada dirinya sendiri. Hampir saja ia merasa asing dengan dirinya sendiri. Sebenarnya apa sih yang terjadi? Harus diakui olehnya, kalau Deeva adalah perempuan pertama yang berhasil masuk dan mengganggu keseimbangan otak serta perasaanya.
Sial!
"Tapi gimana kabarnya ya?" tanya Sammuel seolah sedang berbicara dengan sosok tak kasat mata di depannya. Sebut saja dengan angin. Sammuel menghela nafas berat, mengingat janji yang ia buat sendiri malam ini. Sammuel sebenarnya tidak sengaja, tapi entah mengapa bibirnya seperti punya gerak refleks sendiri dengan melontarkan semua kalimat penenang berisikan janji itu kepada mendiang ayah Deeva.
"Tapi gimanapun juga, gue kan udah janji buat jagain Deeva kan ya? Huh oke! Ngurusin masalah cewek emang bukan gue, tapi jadi pengingkar janji juga bukan gue!" ucapnya pada dirinya sendiri.
"Kamu harus jadi laki-laki tangguh yang penuh dengan tanggung jawab!" pesan dari papa dan kakeknya masih terngiang secara jelas di telinga Sammuel meski saat mendengarkannya secara langsung, itupun sudah sangat lama. Sekitar empat tahun yang lalu.
Drtt drtt
π©+6281234876940
Kak Sam baik-baik aja kan?
Kata Gabby sama Manda tadi habis tawuran?
Read.
Satu alis Sammuel terangkat. Siapa ini? PP dari si pengirim juga kosong.
π€Sam
Sp?
π©+6281234876940
Ini Deeva kak.
Emg belum disave ya?
Read.
Sammuel menepuk jidat. Seingatnya memang dulu, sekitar dua bulan yang lalu kalau tidak salah. Deeva pernah meminta save nomor. Sammuel waktu itu sedang malas, ia hanya membaca pesannya dan lupa menyimpan nomornya.
Biasalah!
"Baru aja dipikirin, udah nongol anaknya." ucap Sammuel lirih.
"Mending telpon aja deh, ngetik mulu capek gue!" lirih Sammuel bermonolog.
What the hell? Capek ngetik? Oh sial. Sammuel memang suka sebercanda itu. Ngetik aja ga ada vokal, bisa-bisanya dia berlagak sok capek!
Mau heran, tapi dia Sammuel.
πCalling Deev.....
Deeva : Ha-hallo kak Sam?
Sammuel : Gue ga papa. Tawurannya cuma bentar doang!
Deeva : Hah? Emang ada tarif lamanya juga ya?
Sammuel : Ga tau juga.
Deeva : Lah?
Sammuel : Lo gimana?
Deeva : A-apanya?
Sammuel : Keadaan lo. Lo udah mendingan kan?
Deeva : Oh itu, udah kok kak. Masih belum terbiasa tanpa ayah sih, but im oke.
Sammuel : Bagus deh kalo gitu. Kalo ada apa-apa, kapanpun lo butuh gue, langsung telfon aja! Gue usahain buat selalu ada buat lo! Gue mau bayar semua janji ke ayah lo.
Percayalah! Deeva saat ini sedang melayang tinggi di puncak dunianya. Cowok dingin yang selama ini ia coba luluhkan, saat ini mengucapkan hal termanis yang pernah ia dengar. Arghhh!!
Sammuel : Lo masih hidup kan? Atau pita suara lo lagi rusak?
Sammuel emang pedas ya bund!
Deeva : Eh enggak kok. Pita suara ku masih sehat!
Sammuel : Oh, baru aja mau gue bawa ke dokter.
Deeva : Bawa gue ke penghulu aja gimana? (Lirih Deeva refleks. Untung saja suaranya terhitung masih pelan.)
Sammuel : Hah? Mau kemana?
Deeva : Eh eh enggak ada kok, hehe.
Sammuel : Gj lu jadi cewek!
Deeva : Btw, thanks!
Sammuel : Buat apa? Gue belum ngelakuin apapun.
Deeva : Ya pokoknya makasih aja dulu.
Sammuel : Hm, iya terserah! Gue matiin, mau jalan sama anak-anak.
Deeva : Iya kak.
Tut tut...
"Bisa beneran kehilangan jati diri kalo gue lama-lama bicara sama cewek." ucap Sammuel bergidik ngeri kemudian berbalik badan, hendak pergi ke kamar mengambil kunci motor dan jaket.
Markas Ghosterion adalah tempat yang sangat tepat untuk melepas lelah dan bosan saat dirinya hanya sendirian di rumah sebesar ini. Papanya sedang keluar kota sedangkan mamanya masih dinas di rumah sakit.
Drtt drtt
...π₯Anaknya bapak Vano...
Dam : @Sam dimana pak?
Gas : Sam ke markas yok!! Tinggal nunggu lo sama @Vano nih.
Tang : 2
Gw wakilin bales chat pak wkwk.
Van : Gw nyusul. Masih di markas DS Boys!
Dam : Yoi pak!
Gas : Percaya deh sama yg mau besanan sama DS Boys.
Van : Bct lu Gas!
Tang : Sammuel mana woy buruan nyaut!! Nyimak mulu lo dari tadi.
Gab : Sabar Tang! Gue ramal, Sam habis telponan sama Deeva tuh haha.
Dam : Seriusan lo Gab? Waduh kedatangan couple baru lagi nih kita.
Tang : Akhirnya gue percaya kalau @Sammuel enggak gay wkwk.
Gas : Gw jg baru yakin kalo Sam beneran cowok normal kek yang dia bilang haha.
Gab : Sialan gue keselek Kopi! @Sam gue ga ikutan julid ya pak.
^^^Sam : Bct ajg!^^^
Dam : Wadoh ngamok dia bray!!
Gas : Aw dede jadi takut!!π©ββ€οΈβπβπ¨
Dam : Salah emot goblok!
Gas : Haha biarin, buat ngerayain kalo Sam batal ngegay wkwk.
^^^Sam : @Gas @Dam ππ»ππ»^^^
Gas : Otak gw traveling bgst!
Gab : Mentang2 udh kenal cewek, @Sam jadi ngeri sekarang haha.
^^^Sam : ππ»^^^
Gas : Tanggung jawab nih siapa yg udah menodai otak gw!
Gab : @Sam dia yg provokator awal.
Dam : Kalo otak gw sih aman, always suci yaππ»ππ»
Gas : Itu sama aja gblok!
Tang : Udh woy saling gblk g usah ejek2an!
@Sam mampir indooktober ya pak?
Rokok gw habis, mager mau keluar.
Gab : Sekalian minuman soda pak! Kulkas markas lagi kosong.
Gas : Pak jangan lupa chiki ya?
^^^**Sam : ππ»^^^
Gas** : Kalo gw g lagi butuh elu, udh gw cekek jempolan lu pak! Gemes amat dari tadi pelit amat typing.
Tang : 2
Dam : Sammuel si bocah prik!
Left.
"Bodoamat dih." ucap Sammuel mengendikkan bahu acuh dan mengantongi iPhonenya. Dari pada menyimak bualan mereka dan jadi ngegas di room chat, lebih baik ia segera ngegas motor!
Betul tidak? Betul itu.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAKπ₯°π₯°