DEVANO

DEVANO
92. Qia rese



📞Dekadal is calling....


"Kebetulan gue butuh moodboster." lirih Qia sebelum menarik tombol hijau.


Qia : Oi?


Vano : Udah tidur apa belum?


Qia : Belum. Kenapa kak?


Vano : Gue mau ke sana, lo jangan molor dulu!


Qia : Mau ngapain? Udah larut njir.


Vano : Udah ga usah bawel! Tungguin bentar.


Qia : Nanti abang gue mar-


Tut tut tut.....


"Emang semena-mena banget si kadal, nelpon sendiri matiin sendiri. Untung gue anak baik!" gerutu Qia geleng-geleng.


...****************...


Prang


Rayhan menghujani tembok didepannya dengan benda-benda mudah pecah yang ada di hadapannya. Entah itu guci hiasan, atau miniatur lain.


"Sial! Nomor gue di blokir sama Qia."


"Arghhhhhhh......"


"Terus gue harus gimana sekarang? Gue makin susah nyari celah kalo kek gini caranya."


"Nemuin ke rumahnya mustahil, ada Raga. Nemuin di sekolah ada Vano, gue harus kek gimana sekarang brengs*k!!" maki Rayhan makin kehilangan kendali diri.


Pyarrrr


Terakhir, ia menjatuhkan satu piala kaca dari meja kamar. Untunglah kamarnya ini kedap suara, kalau tidak pasti hal ini sudah menghebohkan seisi rumah.


"Jendra? Atau mungkin gue bisa make dia buat nyari celah biar gue bisa ketemu Qia, tanpa Vano!" ucap Rayhan yang akhirnya menemukan jawaban dari kebimbangannya malam ini.


Seulas senyum simrik terbit dari wajahnya.


📤Jendra


Jen gue ada misi baru buat lo!


Besok, kita atur strategi gimana caranya gw bisa nemuin Qia di Airlangga.


Send.


"Oke, tenang Rayhan... Calm down! Lo pasti bakal bisa nemuin Qia. Lo tinggal atur siasat aja sama Jendra, gimana caranya lo bisa masuk ke sekolah itu tanpa harus khawatir sama Vano." ucapnya bermonolog menghadap kaca. Menatap pantulan dirinya yang tampak sangat kacau malam ini.


...****************...


Tit tit tiiittttt......


Seorang lelaki separuh baya namun bertubug kekar itu muncul dari balik gerbang besi bernuansa putih.


Berjalan santai menghampiri sebuah mobil sport yang berhenti tepat di depan rumah sang majikan.


"Mang bukain atuh?!" pinta Vano menyembulkan kepalanya dari jendela mobil.


"Ini teh mas ganteng yang tadi sore nganterin neng Qia ya?" tebak satpam bernama panggil Mang Udin itu. Vano mengangguk.


"Iya mang, saya Vano. Yang tadi sore kesini. Bukain atuh?"


"Aduh mas punten, ini teh bukannya saya ga mau bukain. Tapi mas Raga selalu pesen ke saya, kalo saya ga boleh ngizinin temen cowoknya neng Qia masuk ke rumah kalo udah lewat jam sembilan malam. Nanti saya dimarahin sama mas Raga, takut mas!!" jawab mang Udin sopan.


Vano berfikir sejenak lalu mengambil iPhone dari saku jaket yang ia kenakan.


"Kalo gitu bentar ya mang."


📞Calling Bocil galak....


Qia : Hm halo.... Apaan? Udah nyampe kak?


Vano : Udah, tapi ga dibolehin masuk sama mang Udin. Katanya dia dimarahin Raga kalo ada temen cowo dateng di atas jam sembilan?


Qia : Emang iya sih, ya udah kasih telfonnya ke mang Udin gih!


"Mang ini Qianya mau ngomong."


"Oh iya..." jawab mang Udin menerima uluran handphone Vano.


Setelah beberapa saat, Mang Udin menyerahkan kembali handphone Vano dengan kondisi Qia sudah mematikan teleponnya.


"Gimana katanya mang?"


"Ayuk mas masuk aja, bentar ya saya buka dulu gerbangnya dari dalam."


"SIAP MANG!!"


...****************...


Kriet


Qia membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Keluar dengan langkah mengendap-endap.


"Abang udah tidur apa belum ya? Gue bangunin apa enggak? Tapi Kak Vano bilang cuma sebentar doang disini. Ga papa kali ya, daripada ntar ngebangunin abang juga kebo kalo udah tidur." ucap Qia bermonolog. Karena tak ada mama dan papanya di rumah, seharusnya ia harus izin pada Raga tapi karena kamarnya terlihat sangat sepi jadi ia mengurungkan niat.


Tanpa berbelok ke kamar kakaknya, Qia langsung melengos turun melewati tangga. Vano pasti sudah ada di teras saat ini.


"Lagian si kadal juga kesini pake nunggu larut malem segala, kenapa ga dari tadi aja coba?"


Ting tong


Ting tong


"Si anjir malah mencet bel, udah dibilangin tadi jangan berisik juga ah."


Qia buru-buru berlari menuju pintu agar Vano tak terus menerus memencet bel nya.


Kriet


Pintu terbuka lebar, munculah seseorang dengan tinggi menjulang di depan pintu. Vano menenteng sebuah paper bag di tangan kanannya, seolah ingin menunjukkan apa yang ia bawa pada gadis cantik dengan piyama merah menyala itu. Rambut yang dicepol menambah daya tarik tersendiri.


"Merah menyala, aku menyebutnya cantik dan pemberani." ucap Vano tiba-tiba.


"Heh!! Ngomong apa lo?"


Qia memutar bola matanya jengah.


"Ya udah langsung tudep aja, lo ada apaan kesini malem-malem? Bisa ngamuk abang gue kalo gue nerima tamu cowok jam segini." tanya Qia to the point.


"Emang lo pernah ada nerima tamu jam segini?" tanya Vano setelah melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Qia menggeleng dengan cengiran.


"Ehehehe ya ga pernah juga sih."


"Ye dasar!! Nih gue bawain babi." ucap Vano menyodorkan totebag putih yang ia bawa tadi. Mendengar kata babi, Qia langsung gercep ingin merebut totebag itu. Tapi Vano lebih gesit, ia menarik kembali uluran tangannya tadi.


Sedikit mempermainkan Qia sepertinya akan sangat asyik.


"Eittsss gugup banget mbak!!"


"Ck. Lo ah!!"


"Ga semudah itu."


"Ini lo niat ngasih ga sih kak? Ah lama ah!!" gerutu Qia tak sabaran. Hidungnya mencium aroma manis pancake sejak tadi, ditambah lagi dengan Vano menyebut nama karakter kesukaannya. Pasti ini adalah pancake berbentuk babi, Qia tau itu.


"Ya niat lah! Kalo enggak, ngapain gue bela-belain kesini malem-malem hah?"


"Ya udah kalo gitu bawa sini!!" pinta Qia melas. Vano masih setia menggeleng.


"Ya minimal kasih gue masuk dulu kek, masa iya tamu dibiarin berdiri disini. Dingin tau!!" protes Vano mengkode ingin dipersilahkan masuk. Qia menye-menye menirukan gerak bibir Vano tanpa suara.


"Dingin tii dingin, anak motor kok lebay kedinginan!!" ketus Qia ngamuk.


"Malah ngamuk."


"Dahlah lagi badmood nih gua, ditambah-tambahin mulu!"


"Lah?"


"Kalo ga niat ngasih ga usah pake protes-protesan lu! BYE!!!" ancam Qia balik yang hendak menutup pintu tapi Vano segera menahan pintu itu dengan kedua kaki dan salah satu tangannya.


"Buset galak bener."


"Gue lagi mode singa nih, ga usah mancing!" omel Qia menajamkan tatapannya.


'Keknya ni anak beneran badmood, bisa diterkam mati nih kalo gue masih ngerese.' batin Vano ketar-kerir.


"Kasih dulu pancake babi gue, baru lo boleh masuk!" ucap Qia setelahnya.


"Lah tau darimana kalo ini pancake?" tanya vano mengeryit heran. Qia tersenyum bangga dengan satu alis naik turun.


"Gue S3 ilmu perpancakekan. Gue udah hafal baunya tau kak...."


"Ya udah nih ambil! Makan yang banyak biar cepet tinggi." ucap Vano menyodorkan totebag itu. Qia sudah tak memperdulikan lagi ejekan Vano karena ia lebih tertarik untuk mencium aroma pancake lebih dekat.


"Hmmm arshhhh wangi pancake emang yang terbaik!!" seru Qia antusias.


"Ekhemmm dingin woi angin sini!!" sindir Vano berdehem. Qia mendongak lalu nyengir tipis.


"Ehehe iya iya sorry, silahkan masuk paduka!!" suruh Qia minggir agar Vano bisa lewat. Setelah Vano masuk, Qia menutup pintu dengan salah satu tangannya.


"Raga di markas?" tanya Vano sembari mendudukkan pantatnya di sofa ruang tamu. Qia menggeleng.


"Enggak, lagi bertapa di kamar."


"Jam segini udah tidur?"


"Ga tau sih, tapi keknya tadi kamarnya udah sepi."


"Bentar ya, gue panggilin abang gue dulu kak! Ntar orangnya bisa ngamuk kalo kita cuma berduaan doang disini." sambung Qia hendak menuju tangga, tapi suara berat dari arah halaman belakang menghentikan langkahnya.


Bahkan Vano yang tadinya sudah mengangguk setuju pun langsung mendongak.


"Ada apaan dek?" tanya Raga to the point. Ia berjalan dengan memasukkan jari tangannya ke saku hoodie yang ia pakai. Malam ini memang sangat dingin hingga cowok itu harus membungkus tubuhnya menggunakan hoodie tebal.


"Tuh ada kak Vano! Abang dicariin sama dia." ucap Qia ngawur, padahal sudah jelas kalau Vano datang untuknya.


'Lah? Kapan gue bilang gue nyari Raga? Perasaan gue diem dari tadi.' batin Vano aneh.


'Mamp*s lu gue kerjain balik kan sekarang! Siapa suruh mainin bungkus pancake gue tadi.' batin Qia tersenyum devil.


"Tumben lo malem-malem gini? Ada apaan Van?" tanya Raga beralih ke Vano. Vano hendak menjawab, tapi segera dipotong oleh Qia.


"Abang tadi dari mana? Kok dari halaman belakang?"


"Ngobrol sama kaka tua." jawab Raga enteng. Qia melongo.


"Jam segini ngomong sama burung? Buset abang gue. Emang seisi rumah ga ada yang bener otanya ya?" lirih Qia heran. Ini sudah hampir jam sepuluh malam dan Raga bilang ia habis ngobrol dengan burung peliharaan milik papanya?


"Daripada ngobrol sama kamu juga ditinggal mulu!" jawab Raga sebal. Qia nyengir.


"Mwehehehe. Ya udah tuh abang temenin kak Vano ya? Gue mau menikmati pancake ini di kamar." ucap Qia menunjukkan paperbag yang ia bawa.


"Lah lo ga gabung disini Qi?" tanya Vano protes tak terima.


Qia menggeleng santai.


"Pancake ini terlalu enak untuk dibagi-bagi... Karena udah ada bang Raga juga, jadi gue mau ke kamar aja oke kak? Oke lah masa enggak!!" ucap Qia yang seenak jidat langsung kabur melarikan diri.


Gadis yang nampak sangat lucu saat berlari kecil menaiki tangga dengan memegang erat paperbag berisikan pancake susu, coklat dan strawberry itu.


Vano melongo, sepertinya Qia sedang mengerjainya karena pancake itu telah berada ditangannya. Sementara Raga berjalan mendekat.


'Awas aja si bocil, gue kerjain balik lo besok!' batin Vano.


"Lo sebenernya nyari gue atau cuma mau ketemu sama adek gue Van?" tebak Raga. Percayalah di balik diam dan cueknya, Raga adalah tipe laki-laki yang sangat peka terhadap lingkungan sekitar.


"Gue ga suka berbelit Ga, gue kesini emang buat Qia sih haha."


"Ada perlu apa?"


"Tuh tadi ngasih pancake doang, kebetulan tadi habis nganterin nyokap beli pancake."


Raga manggut-manggut.


"Intinya lo dikerjain sama Qia kan? Dia sengaja ngumpanin gue ke elo biar dia ya perlu nemenin lo disini?" tebak Raga lagi. Vano mengangguk.


"Keknya emang iya, udah dapet pancake langsung mode rese lagi tuh dia." jawab Vano geleng-geleng.


"Mau gue bantu buat balas dendam ngerjain Qia balik gak?" tawar Raga menaik turunkan alis. Vano mengerutkan alis bingung.


"Maksud lo?"


"Lo nginep aja disini, lo bisa ngerjain dia besok pagi-pagi.