
"Ga Raga woy mau kemana lo!!" panggil Rizal panik. Bagaimana tidak? Sedari tadi, ia, Devan dan Raga terus menjadi perhatian banyak siswa-siswi di SMA Garuda karena seragam yang mereka kenakan sangat jauh berbeda apalagi Raga saat ini sedang memakai setelan kemeja dan jas kantor.
Rizal dan Devan panik, takut kalau penyitaan perhatian siswa Garuda ini akan mengundang perhatian dari guru di sana. Tapi berbeda halnya dengan Raga yang tampak acuh dan tak memperdulikan sekitar, tujuannya hanya satu yaitu kelas Rayhan.
"Gue belum pernah se takut ini cok!" bisik Devan sambil menyeimbangi langkah Rizal yang gelagapan menyusul langkah lebar Raga di depan.
"Lo pikir gua gimana hah? Gua juga ngeri kalo ketahuan guru disini."
"WOY BRENGS*K!!" teriakan emosi Raga itu membuyarkan ketakutan Rizal dan Devan. Mereka berdua berhenti tepat di sebelah Raga yang kini berhadapan dengan gerombolan laki-laki yang salah satunya merupakan Rayhan. Lengkap dengan Dika dan Marvel. Ketiganya sontak berdiri menyambut kedatangan super mendadak ini.
"LO APAIN ADEK GUE BANGS*TTT!!" maki Raga yang langsung melayangkan tinju ke perut Rayhan, disusul beberapa pukulan bertubi di wajah rupawan Rayhan.
Saat Marvel dan Dika hendak melawan Raga untuk membantu Rayhan yang kewalahan menangkis serangan, Rizal dan Devan lebih dulu menghadang langkah mereka agar kembali mundur.
"Mereka laki-laki, biarin mereka one by one." tegas Rizal.
"Kalo lo berdua pecundang, silahkan aja bantu dia." suruh Devan remeh. Mendengar itu, Marvel langsung mundur seketika.
"Lo kok nurut aja sih Vel?" kesal Dika.
"Gue ga mau dikatain pecundang yang berani keroyokan Dik. Diem lo!" tegas Marvel. Sebenarnya sifat asli mereka memang cukup berlawanan, entah mengapa mereka masih bisa berteman baik hingga kini.
...****************...
"Vano mana Qi?" tanya Adam saat melihat Qia hanya datang sendirian. Tadi mereka meninggalkan Vano dan Qia di parkiran karena mereka yang memintanya dan mengatakan akan segera menyusul masuk, tapi sekarang ini Qia malah datang sendirian.
"Di telfon mamanya, disuruh pulang sama papanya."
"Hah?"
"Kok gua ngebug sorry?" tanya Bintang lemot.
"Otak lo kapan sih ga ngebug hah? Tiap hari juga gitu nyet." gerutu Gabby jengah dan bosan dengan kelemotan Bintang yang tidak memiliki ujung.
"Ish congor lu By."
"Oke gue ulangin, kak Vano disuruh pulang papanya. Tapi mamanya yang nelfon tadi, udah ngerti?" ulang Qia memperjelas. Teman-temannya mengangguk paham.
"Dih, yang kek kak Vano juga anak papa mamanya ya?" tanya Manda berdecak kagum.
"Emang lu pikir dia keluar dari batu?" balas Qia menaikkan sebelas alis.
"Ck. Enggak gitu juga."
"Ya teros?"
"Maksud gua tuh kok bisa anak bandel di sekolah jadi anak nurut sayang mama papa di rumah gitu loh!!"
"Oh gitu...."
"Ya terus?"
"Apaan?"
"Ah tau ah capek ngomong sama elu Qi."
"Makanya diem aja lu."
"Siap paduka!"
"Dia cewek Man, harusnya maduka dong." koreksi Deeva. Kali ini Manda benar-benar lelah, ia menatap Deeva dengan sangat amat datar.
"Lo ga usah nambahin beban gue!"
"Eumm ampun maduka."
"Hadeh, dosa apa sih gue punya mereka." lirih Manda mengeluh. Qia yang mendengar lirihan menyedihkan itu menahan tawa, entah keluguan Deeva hanya disengaja untuk memancing kekesalan Manda atau tidak, tapi yang ia tau adalah ia sendiri sengaja jadi orang yang menyebalkan hari ini untuk mengganggu mood Manda.
"HAHAHAHAH."
...****************...
Seorang laki-laki berseragam SMA memasuki rumahnya dengan langkah cepat dan penuh gerutuan kesal.
"Masih jadi misteri kenapa gue sama Qia selalu gagal buat-"
"Vano! Kesini kamu." panggil papanya yang membuat leher Vano auto menoleh. Ia menghentikan langkahnya lalu berjalan berbelok menuju sofa tempat papanya duduk. Tak ada mamanya, mungkin ada di dapur.
"Ngapain papa pulang jam segini?" tanya Vano melirik jam tangan di pergelangan tangannya.
"Dasar anak nakal! Papanya pulang bukannya seneng malah ngusir." omel Ethan.
"Nggak gitu, kan tumben papa udah di rumah jam segini. Ganggu aja!" jawab Vano dengan dua kata terakhir yang dikecilkan.
"Papa mau minta tolong ke kamu soalnya."
"Tolong apa?" tanya Vano setelah mendudukkan dirinya di samping sang papa.
"Bantuin Sar-"
"NGGAK MAU NGGAK NGGAK NGGAK." potong Vano meski papanya belum selesai bicara, ia tau betul apa yang akan dikatakan oleh papanya itu.
"Orang papa belum selesai bicara Van."
"Pokoknya kalo berhubungan sama yang namanya Sarah, Vano ogah ah. Pokoknya ga mau!" kekeuh Vano geleng-geleng kepala.
"Ya tapi kenapa sih? Dia cuma minta diajarin beberapa materi yang sulit doang kok."
"Masalahnya ya pa, gara-gara meeting kemarin aja tuh si Sarah udah ngirim foto aneh-aneh ke Qia sampe anaknya ngamuk! Qia aja baru bisa dirayu tadi, masa udah mau nambahin masalah lagi sih? Pokoknya ogah ah Vano capek nyari masalah mulu." cerocos Vano panjang lebar. Ethan sampai melongo mendengar anaknya yang tumben bisa ngoceh selama itu, sebelas dua belas sama mamanya.
"Papa tau pacarmu itu Qia, tapi kan-"
"Bisnis tetap bisnis!" pungkas papanya penuh penekanan.
"Eng-"
"Dari pada di masa depan nanti papa nggak ngasih restu buat kamu sama Qia, papa ngomporin Antoni biar ga ngasih anaknya ke kamu, mending kamu nurutin permintaan papa aja deh kali ini." tutur Ethan setengah mengancam, raut wajahnya tengil penuh goda tapi terlihat sangat menyebalkan bagi Vano.
"Pa-"
"Ga ada penolakan. Kamu ke rumahnya Sarah nanti jam 7!"
"Malam ini?" pekik Vano kaget, bentar lagi jantungan.
'Gua kan tadi udah janjiin Qia muterin Jakarta malem-malem? Wah masalah nih.' batin Vano ketar-ketir. Ia melirik jam tangannya, sudah hampir pukul lima.
"Iya malam ini."
"Tapi nanti malem Vano mau-"
"Yayayaya terserah kamu sih, mau milih malem ini nurut dan masa depanmu terjamin ATAU mau keluyuran malam ini tapi kamu ga bakal bisa ngedapetin Qia di masa depan." potong papanya memasang raut wajah tak berdosa. Vano melongo, apa-apaan ini? Maju kena, mundur pun hancur.
"Sialan."
...****************...
"Kadal tumben banget ga bawelin chat gua ya?" lirih Qia bertanya pada dirinya sendiri. Gadis itu berbaring diatas tempat tidur sejak selesai mandi, sepulang dari cafe.
Memainkan handphonenya tanpa minat, hanya menggeser menu, membuka aplikasi sosmed lalu menekan kembali tombol keluar. Seperti itu terus sampai mampus.
"Tadi bilangnya mau ngabarin kalo udah sampek rumah, nyatanya sampe sekarang ga ada kabar." gerutunya lagi.
"Argghhh emang udah paling bener gue ga pernah suka sama cowok! Ini malah jatuh cinta ke kadal yang hobi banget bikin orang khawatir huh."
"Awas aja lo besok!" ketusnya membanting handphonenya di atas bantal. Bersamaan dengan itu, pintu kamar terbuka lebar. Seorang laki-laki berkaos putih polos masuk ke dalam kamarnya diikuti seorang laki-laki berkemeja di belakangnya.
"Abang lu parah banget Qi sumpah!!" pekik Rizal langsung rusuh. Qia melirik sepupunya tanpa minat, namun ia beringsut bangun dan duduk di atas kasur.
"Kenapa?"
"Dia ngehajar Rehan masa!!" jawab Rizal melompat ke atas tempat tidur Qia, duduk tepat dihadapan gadis yang wajahnya tampak kusut.
"Ah itu mah udah biasa." respond Qia santai.
"Iya ya dek, itu emang biasa aja. Rizal aja yang terlalu heboh!" celetuk Raga sambil menggulung lengan kemejanya ke atas, lalu memilih untuk merebahkan tubuhnya di tempat tidur Qia.
Raga rebahan santai, meletakan kakinya di atas kaki Rizal yang ditekuk karena duduk, Rizal menggeplaknya dengan kesal namun tidak menyingkirkannya.
Plak
"Tapi masalahnya elu ngehajar Rehan langsung di sekolahnya anj-"
"Hah? Ke garuda?!!" cicit Qia terkejut. Ia sampai melongo karenanya. Si paling cool tapi punya jiwa semangat ghibah itu mengangguk antusias.
"Iye... Dan yang lebih parahnya adalah gue sama Devan jadi ikutan kena imbas tau ga? Kepsek Garuda ngaduin gue sama Devan ke pengurus RSHIS atas tuduhan menciptakan kerusuhan di Garuda, padahal gue sama Devan cuma diem doang nontonin abang lo njir." cerocos Rizal mengadu panjang lebar. Qia tertawa terbahak.
"Ahahaha mampus aja lo kak!"
"Lagian salah sendiri! siapa suruh lo nyusul gue hah? Gue ga minta lo sama Devan buat ngikutin." elak Raga melindungi diri. Qia menjentikkan jarinya, setuju dengan ungkapan kakaknya.
"Nah! Bener kata abang."
"Tapi ga papa sih, its ok brother and sister! Kepseknya RSHIS kan om antoni, paman pakdhe uncle kesayangan gue, WLEEEE." sepele Rizal.
"Dih?"
...****************...
"Ck. Ni hp kebiasaan banget dah dari dulu, tiap mau dipake ngabarin orang pasti lowbat." gerutu Vano kesal sambil mencari charge di laci meja. Ia memang tipe orang yang jarang memainkan handphone, ia juga jarang mencharge handphonenya, makanya saat baterainya habis ia sering tidak tau karena saking jarangnya.
"Sambil ngisi, gue mending mandi dulu ah.... Ntar habis mandi baru ngabarin bu bos." monolog Vano sebelum akhirnya meninggalkan handphonenya di charge di atas meja, lalu masuk ke kamar mandi.
...****************...
"Kok lo kesini sendirian?" tanya Deeva mengeryit heran. Gabby yang baru saja sampai di teras rumah Deeva pun langsung menarik tangannya agar masuk ke dalam mobil.
"Apaan sih gugup banget hah? Lo dikejar jurig?" tanya Deeva sebal. Sebenarnya menghadapi Gabby ini sama saja dengan menghadapi Sammuel, dua-duanya sama-sama batu dan irit bicara. Bedanya hanya di status saja.
"Takut ketahuan orang." jawab Gabby sambil memasang seat belt.
"Maksud lo?"
"Yang tau tentang rencana ini tuh cuma kita, Bintang sama Vano. Ntar kalo tiba-tiba Sammuel kesini gimana coba?"
"Ga bakalan juga Sammuel ke sini." jawab Deeva enteng. Dengan santai ia menggunakan seat belt nya sementara Gabby sudah menancap gas untuk pergi ke cafe, tempat rencana pertama mereka akan dilancarkan malam ini.
"Curut lo ga ikut Geb?" tanya Deeva setelah beberapa saat senyap. Gabby menggeleng.
"Biasalah, anak bunda lagi disuruh nemenin ke salon." jawabnya terkekeh.
"Lah? Mana ada orang nyalon malem-malem hah?" tanya Deeva ngebug. Seumur hidupnya baru kali ini ia mendengar orang pergi ke salon malam-malam.
"Like son, like mother. Anaknya aneh, emaknya ya aneh."
"Ahahaha, make sense si."
"Dahlah dari pada ngomongin Bintang, mending lo baca aja novel 'DYLANADEA' tuh baru terbit." suruh Gabby mengalihkan.
Deeva menjentikkan jari.
"Nah bener! Author kan nerbitin novel baru tuh, gas lah."