DEVANO

DEVANO
68. Tercyduk



"Arghhhhh sial!! Ga jelas banget gue. Kenapa jadi sesek gini ya?" dumel Qia menatap kesal pantulan dirinya di cermin wastafel.


"Lagian ngapain juga gue tadi ke UKS? Bukannya tidur enak, eh malah ngeliat pemandangan kek gitu anjrit? Its damn! Mana hati gue langsung nylekit perih tadi."


"T-tapi, ge kanapa ya? Ga mungkin kan gue suka sama cowo rese itu? Hiiiii enggak enggak. Its impossible!!" kekeuh Qia menepis jauh-jauh apapun hal yang ia fikirkan tadi.


Setelah bosan bertarung dengan isi kepalanya, ia memutuskan untuk kembali ke kelas saja dan tidur siang.


Cklek


"DORRR!!!"


"Aaaaaaaaaaaaaaa mphh-"


"Hust berisik!!" omel Vano yang sigap menyumpal mulut Qia dengan telapak tangannya. Melihat siapa biang keroknya, Qia langsung menepis kasar tangan kekar itu.


"Paan si ngagetin mulu huh!" ketus Qia uring-uringan. Saat ia hendak pergi melewati Vano, lengannya ditarik kembali ke tempat asalnya berdiri tadi.


"Paan si sensi amat, pms lo?" tanya Vano heran, kedua alisnya terangkat bersamaan.


"Ga."


"Dih?"


"Minggir, gue mau pergi!" usir Qia mencoba melepaskan diri, tapi tak berhasil. Bukannya melepaskan tangannya dan membiarkan Qia pergi, Vano malah sedikit mendorong tubuh Qia untuk mundur masuk lagi ke dalam toilet, pintu masih terbuka lebar.


"Eh eh mau apa lo? Awas ya kalo macem-macem, gue putusin pala lo!" ancam Qia garang, panik? Tentu. Vano mengikis jarak begitu banyak di antara mereka.


Tak menjawab, Vano justru tersenyum miring.


"Lo cemburu?"


"H-hah?" jawab Qia tergagap, pertama karena ia tak mengerti dan kedua karena wajah Vano terlalu dekat dengannya.


"Uks, lo cemburu?"


"Nggak!" ketus Qia.


"Yakin?"


"Ya yakin lah! Ngapain juga gue cemburu, dih."


"Terus kenapa langsung lari pergi?" tanya Vano makin memojokkan Qia. Qia menelan salivanya kasar, sial.


"Gue kebelet pengen ke toilet! Makanya gue pergi." elak Qia masih pintar menyusun alasan. Sudut bibir Vano tertarik tipis, seperti sedang mencemooh seseorang.


"Tapi kok hawanya panas ya? Padahal in door, ada pendingin ruangan juga." sindir Vano menatap AC di atas ruangan. Qia berdecak.


"Ck. Ini ga panas kok, cuma gosong doang kak. Eh-" pekik Qia refleks. Secepat mungkin ia membungkam mulut nakalnya sendiri.


Sial.


"Oh cuma gosong.... Mmm jadi lo gosong ngeliat gue dipepet Sarah kek tadi hm?" goda Vano menaik turunkan alisnya, bahkan untuk pertama kalinya ia berani menoel dagu tirus milik Qia.


Qia blushing.


"Dih? Paan si garing!" semprot Qia yang mencoba menutupi pipinya yang merona karena perlakuan Vano barusan.


"Ga usah ngelak mulu!" Vano menonyor jidat Qia pelan.


"Ga usah nonyor mulu!" sembur Qia balik menonyor jidat Vano. Mereka masih berada di posisi yang sama dengan tadi, dekat hampir tak bersekat.


'Paling enggak sekarang gue udah tau gimana isi hati lo ke gue Qi.' batin Vano girang.


"Lampu ijo." lirih Vano tiba-tiba.


"Apa?" sahut Qia kurang jelas. Vano menggeleng.


"Ga ada. Nanti lo pulang sama gue!" jawab Vano mengalihkan topik. Sekarang gantian Qia yang menggeleng.


"Ga ada. Gue mau pulang sam-"


"Sama Rehan?" potong Vano cepat. Qia menggeleng cepat.


"Ck. Ya bukan lah!"


"Terus?"


"Mau balik sama kak Rizal, sekalian mau ikut ke markas DS Boys." jawab Qia seadanya. Tadi di dalam mobil, Raga sudah memberitau Qia kalau sepulang sekolah nanti Rizal lah yang akan menjemputnya untuk kemudian di bawa ke markas.


"Ya udah gue anterin, abang lo sama anak-anak DSB juga ga bakal keberatan kalo gue datang ke markas mereka." sahut Vano enteng.


Qia masih menggeleng.


"No mean no! Gue udah janjian sama kak Rizal. Yakali dia jemput kesini tapi ga ketem-"


Tut tut tut.....


📞Calling Rizal.....


"Lo nelfon siapa?" tanya Qia heran. Vano menempelkan jari telunjuknya ke bibir Qia agar diam, dan benar saja Qia langsung mingkem rapat-rapat.


Vano : Halo Zal?


Rizal : Ada apaan?


Vano : Lo nanti jemput Qia?


Rizal : Yoi bro! Mau gue bawa ke markas sama Raga. Kenapa emang? Lo mau ngajak dia kencan? Ntar malem aja kalo iya, sore ini Qia ga boleh pergi dulu.


Vano : Enggak, gue cuma mau minta izin ke elo doang.


Rizal : Izin apaan?


Vano : Biar gue aja yang nganterin dia ke markas, ga papa kan? Jadi lo ga perlu jemput ke sini. Ga bakal gue bawa kemana-mana juga, gimana?


Rizal : Seriusan lo?


Vano : Iya. Lo bisa pegang ucapan gue!


Rizal : Oke. Ya udah lo bawa aja tuh anak, hati-hati kalo ketemu tukang es krim di jalan.


Vano : Kenapa emang?


Rizal : Dompet lo siap-siap nipis, Qia kan doyan es krim ahahaha.


Vano : Aelah gampang itu mah. Yodah Zal thanks ya!!


Rizal : Oke mabro.


Tut tut tut....


"Udah kan? Lo pulang sama gue! Ga ada alasan dan penolakan lagi!" tegas Vano sambil memasukan kembali iPhonenya ke saku celana. Qia mengeryit malas.


"Dasar kang maksa!" ketus Qia kesal.


"Biarin! Salah sendiri minta di paksa mulu." jawab Vano menye.


"Dih ya terserah gue lah."


"Sesekali lo nurut kek sama calon pacar, eh calon imam aja deh." celetuk Vano tanpa dosa.


"Ngawur! Becanda lu kelewatan kak." sahut Qia berkacak pinggang. Vano melangkah maju lebih dekat, sementara Qia mundur perlahan hingga terpojok di wastafel toilet.


Hingga jarak mereka tinggal satu hembusan nafas, barulah Vano menghentikan langkahnya.


"Gimana kalo gue ga cuma bercanda?" tanya Vano serius.


Glek.


'Sial! Gue gerah lagi.' batin Qia panik. Ia tak tau harus menjawab apa.


'Tahan Vano tahan! Lo gentle, lo bisa ngontrol diri.' batin Vano menekan keinginan dalam dirinya.


"Kenapa jadi ga cerewet hm?" tanya Vano lagi.


"Mmm gue....."


"Gue apa?" Vano menaikkan sebelah alis, menunggu jawaban.


"Gue-"


"ALLAHUAKBAR SETAN KASAT MATA!!" pekik suara berat dan lantang dari arah pintu. Adam dan Bintang. Refleks Vano menarik dirinya dari Qia, keduanya sama-sama tampak


"Istighfar ya klen! Berduaan di kamar mandi begini mau apa woy? Mana mepet banget kek jam masuk sekolah." tutur Bintang geleng-geleng, ia berkacak pinggang di samping pintu.


"Aduh Van parah lo! Nyari tempat yang aesthetic dikit lah. Di apartemen lo kan bisa, luas, aman dan lebih nyaman jangan di sini ah. Ga modal amat lu jadi cowok!!" tambah Adam si otak kotor.


"Congor lu Dam!" semprot Vano menonyor kepala Adam dengan kesal.


"Ah minggir-minggir gue mau lewat!!" usir Qia yang langsung kabur melewati Adam dan Bintang yang berdiri di kanan kiri pintu.


'Berasa ke-gep gue.' batin Qia bergidik ngeri setelah melewati dua manusia rese tadi.


"WOY MAK BOS KONTRAKAN!! NTAR LO PULANG SAMA GUE." teriak Vano dengan kepala menyembul dari pintu. Qia tak menjawab juga tak menoleh, hanya acungan jari tengahnya saja yang ia jadikan jawaban.


"Ck. Emang cuma dia yang berani sama lo Van." salut Adam kagum.


"Jangan lupa pake hastag Qia berani beda!!" seru Bintang tertawa receh. Kedua tangan Vano terulur memegang belakang kepala Adam dan Bintang.


Dug.


"Awduh sakit b*ngke!" dumel Bintang.


"Vano emang yang paling bangs*t sialan." gerutu Adam yang ikut kesal karena kepala bagian kirinya sekarang terasa pusing setelah bertubrukan langsung dengan kepala Bintang.


Azab!


...****************...


"Gas nggak nih?" tanya Bagas menaik turunkan alis pada Adam, sementara matanya melirik-lirik ke arah samping tepatnya ke arah gerbang bagian dalam.


Bagas, Adam, Bintang dan Sammuel sudah nangkring di atas motor mereka yang terparkir tepat didepan gerbang. Letak yang sangat strategis.


"Hah? Apaan? Mata lo kenapa?" tanya Adam. Adam lemot is back!


"Ck. Itu ada bebeb gue!!" jawab Bagas berdecak malas.


"Terus harus gue apain? Lo mau gue tikung apa gimana maksudnya?" tanya Adam masih tak connect.


Plak


"Ngawur! Maksud gue, itu ada gengnya juga. Lo serius mau mepet si Ratu apa kagak si hah?! Kurang gercep lu." semprot Bagas kesal menabok kaki Adam di sebelahnya. Barulah Adam connect. Sepertinya memang butuh sedikit kekerasan untuk menyambung kabel otak Adam yang setengah putus.


"Oh." ucap Adam manggut-manggut.


"Tumben ide lo berguna Bag!" puji Adam menepuk-nepuk pundak Bagas.


...----------------...


"Van."


"Hm? Paan?" sahut Vano dengan pandangan lurus ke depan. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.


Gabby dan Vano, si ketua dan wakil dari Ghosterion itu baru saja menyelesaikan urusannya di kelas 10 IPS 3. Seluruh angkatan kelas 10 yang ingin bergabung di Ghosterion dikumpulkan jadi satu di ruangan itu untuk diberi beberapa pengarahan tentang tes yang akan mereka lewati sebelum bisa masuk dan bergabung dengan Ghosterion geng.


"Gue curiga sama satu orang di kelas tadi." ucap Gabby lagi.


"Lo juga curiga?" sahut Vano. Kali ini ia memutar kepalanya menghadap Gabby. Gabby mengangguk.


"Yang pake tas hitam, duduk di pojok?" tebak Gabby memastikan kalau dugaannya dengan Vano itu sama.


Vano mengangguk.


"Namanya Raja Geb, gue juga curiga sama gerak-geriknya tadi. Lo sama Bintang coba cari info tentang dia." ucap Vano memberi perintah. Gabby dan Bintang adalah yang paling bisa diandalkan dalam stalking orang.


"Oke, gue cari nanti habis nongki."


...****************...


Di markas DS Boys.


"ASSALAMUALAIKUM BRODI!!" teriak seseorang yang baru saja melangkahkan kakinya memasuki ruangan berkedok abu-abu putih yang cukup luas. Orang itu tak lain adalah Rizal yang baru pulang dari sekolahnya.


"Waalaikumsalam."


"Raga kemana Put?" tanya Rizal pada Putra yang sedang asyik bermain kartu poker bersama 5 orang lainnya.


"Ke atas tadi."


"Sama siap-"


"Kok lo sendirian? Adek gue mana?" potong suara berat dari ujung tangga di ujung ruangan. Rizal menoleh.


"Yo mamen gue!!" seru Rizal menghampiri sepupunya itu.


"Adek gue mana nyet!!" omel Raga menggerutu, Rizal nyengir sambil merangkul pundaknya.


"Dibawa Vano, tadi dia bilang mau nganterin Qiak kesini." jawab Rizal. Raga manggut-manggut kemudian duduk bersebelahan dengan Rizal di sofa, bergabung dengan anggota DS Boys yang lain.


"Kok cuma gitu?" tanya Rizal heran. Raga menaikkan sebelah alis.


"Apanya?"


"Respond lo cuma gitu doang?"


"Ya emang harus gimana?"


"Lo serius ngerestuin mereka? Vano? Lo beneran percayain Qiak ke dia? Tumben lo gampang percaya ke orang?" tanya Rizal bertubi-tubi. Raga mengendikkan bahunya acuh.


"Gue belum terlalu percaya sama Vano, tapi seenggaknya gue yakin Qiak bisa aman dideket dia. Jadi ya udah simple!" jawab Raga santai.


Tin tin brummmmm


Belum sampai Rizal membuka mulut, sebuah deruman motor mengalihkan perhatian Raga yang langsung berdiri dari duduknya. Beberapa anak DS Boys yang lain juga berusaha mengintip siapa yang datang.


"Itu pasti Vano." lirih Raga yang langsung pergi keluar markas.


Sementara diluar markas.


"Udah nyampe." ucap Vano setelah mematikan mesin motor.


"Lo ga mau turun? Atau mau ngajak muter lagi? Atau emang masih mau mepet-mepet ke gue?" tanya Vano heran karena Qia tak kunjung turun.


Plak


Satu geplakan keras nyasar ke helm hitam full face yang dikenakan oleh Vano.


"Auuhh kasar amat si!!" omel Vano mengeluh, ia memutar kepalanya hingga berhadapan dengan Qia di jok belakang. Qia memutar bola matanya malas.


"Lepasin dulu tangan gue b*ngke! Baru gue bisa turun." maki Qia kesal. Vano melirik kedua tangan Qia yang masih melingkar di pinggangnya karena salah satu tangan Vano sendiri yang menahannya.


Vano nyengir.


"Hehe sorry sorry gue lupa." ucap Vano terkekeh polos. Qia menatapnya malas, Vano pun melepaskan tautan tangan Qia dari pinggangnya.


"Hihi sirry sirry gii lipi." gerutu Qia menye sambil turun dari motor Vano. Tak lupa ia merapikan roknya terlebih dahulu dan menepuk-nepuk jaket yang tadi ia gunakan sebagai penutup lutut kaki.


Qia mengulurkan jaket bertuliskan 'Ghosterion Gang' itu ke pemiliknya, si manusia es rese yang menyebalkan.


"Nih ambil! Makasih." ucap Qia datar. Vano pun menerima uluran jaket itu setelah ia melepas helm.


"Judes amat tuh muka, manisin dikit kek. Udah dianterin juga ih, mana lo tadi pake acara nggeplak kepala gue, nggak minta maaf pula." cerocos Vano memasang tampang melas. Qia memutar bola matanya malas.


"Iya kakak Devano yang paling cakep!!! Maaf tadi kelepasan, makasih juga ya udah di anterin dengan selamat tanpa lecet hm." tutur Qia halus dan lembut. Lebar senyumnya yang cantik membuat dunia Vano benar-benar teralih sepenuhnya, ia terpana untuk kesekian kalinya.


'Gue mau ngeliat senyum ini terus setiap hari Qi, gue juga mau jadi alasan lo untuk ini. Senyuman lo udah jadi candu buat gue. Arghh sial!! Gue beneran udah jatuh cinta sama ini cewek galak.' batin Vano hampir gila.


"Apaan lagi yang lo cari hah?! Udah puas kan gue halusin? Yodah sono pergi lu!! Hussssss husssss." usir Qia dengan galaknya. Ekspresi wajahnya kini sudah berubah 180 derajat.


Vano terlonjak kaget.


"Busetttt cepet banget berubahnya." keluh Vano mengelus dadanya. Qia menghela nafas panjang.


"Hufffttt gue mau masuk markas, lo kan bukan anak sini kak. Jadi udah sono pergi aja husss!!" usir Qia ngeyel.


"Lagian ngapa gugup si? Ribet lu mak."


"Mak? Lo mau ngajak ribut kak? Gue masih muda cakep gini dikatain mak emak." omel Qia melotot garang. Vano nyengir tengil.


"Ya ga salah dong? Lo kan galak kek emak-emak kontrakan."


"Ah tau ah serah!!"


"Ahahaha becanda nyonya!! Ngambek mulu kek bocil." ledek Vano menoel-noel hidung Qia. Qia tak berkutik, ia hanya bisa membulatkan mata karena kaget bercampur salting tentunya.


Prok prok prok


"Udah makin berani ya sekarang?!" seru suara tak asing dari arah markas. Raga.


"Waduh udah nempel aja nih." sahut Rizal kompor.


Tercyduk!


'Buset sehari udah ke-gep dua kali gue.' batin Vano memaki alur hidupnya hari ini. Pertama Adam dan Bintang, sekarang Raga dan Rizal.


"ABANGGGGGG!!" pekik Qia menghambur ke pelukan sang abang.


"Bang tuh anak rese bang! Masa aku dikatain emak dari tadi." keluh Qia cepu. Vano melotot.


"Dih dih emang kenyataannya kek gitu." sahut Vano membela diri.


"Tapi Vano emang bener sih, elu kan bawel kek emak-emak." timpal Rizal.


"Sialan!" maki Qia.


"Van ayo masuk! Gue buatin kopi." tawar Raga melambaikan tangan. Vano menggeleng.


"Next time aja Ga, thanks tapi gue juga ada urusan dikit di markas. Gue cabut dulu deh." tolak Vano halus. Ia kemudian memakai kembali helm full face nya dan menyalakan motor.


"Oke, next kita ketemu lagi di arena." tantang Raga menaik turunkan alis. Vano terkekeh dibalik helmya.


"Lo jual, gue beli bro!"


"Ah udah udah cukup basa-basinya woy!! Abang sama Kak Vano berisik!! Sono lu jauh-jauh pergi sono husssss." usir Qia yang langsung berbalik pergi karena tak mau berdebat lagi dengan Vano.


Vano tersenyum simpul dalam diam.


'Liat aja Qi, sekarang gue yang jatuh cinta. Tapi besok lo yang pasti bakal jatuh cinta, persis seperti apa yang gue rasain.' batin Vano bersimrik.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰