
Drtt drtt
"Enggghhh...." suara lenguhan malas seorang gadis yang enggan membuka matanya.
Drtt drtt
"Ah siapa si ganggu mulu!!" gerutu Qia sebal. Ia refleks melemparkan salah satu bantal yang ia pakai ke lantai karena kesal. Satu hal yang sangat dibenci oleh Qia adalah saat tidurnya terganggu
"Tulang gue berasa remuk kek habis tawuran njir." keluh Qia kemudian. Entah ia sadar atau sedang mengigau.
Drtt drtt
iPhone yang ia letakkan di atas nakas kembali bergetar. Oke, kali ini Qia memanjangkan tangannya untuk mengambil benda pipih itu.
📞Rayhanesse is calling....
"Tumben ni anak?"
Qia : Hm.. Apaan Re?
Rayhan : Lama amat ngangkat telepon. Lagi sama cowok lu?
Qia : Hah? Apanya? (maklum ya bestie, namanya juga baru bangun tidur nyawa belum ngumpul.)
Rayhan : Ahahaha ga papa, btw ada acara nggak malam ini?
Qia : Malam? Lu gila? Ini udah pagi ege.
Rayhan : Ck. Elu yang ngigo Qia!! Ini masih malam woy.
"Lah?" Qia kemudian memutar pandangannya ke arah jam dinding berwarna hitam itu. Benar saja! Jarum pendeknya berada di antara angka delapan dan sembilan.
"Lah gue kira tadi ketiduran sampe pagi." gumam Qia masih setengah connect.
Rayhan : Qi lo masih disitu kan?
Qia : Eh hah?! Engghh iya gue masih disini kok.
Rayhan : Jadi gimana? Ada janji sama orang lain ga?
Qia : Eng-
Tok tok
"ADA APA BANG?!!!" teriak Qia sambil menjauhkan iPhonenya dari telinga.
Cklek
Pintu terbuka, Qia refleks menyembunyikan handphone yang ia pegang tadi di bawah selimut tebal miliknya.
"Baru bangun?" tanya Raga melihat tampang acak-acakan Qia. Qia mengangguk dengan cengiran canggung, ia takut Raga tau kalau ia baru saja telponan dengan Rayhan.
"Ehehe iya bang. Kenapa?" tanya Qia kepo.
"Abang rapi banget mau kemana?" belum sempat Raga menjawab pertanyaan pertama, Qia kembali melemparkan satu pertanyaan lain.
"Lo lupa dek?" tanya Raga balik.
"Lupa apaan?" tanya Qia balik. Bukan Qia namanya kalau ia tidak bertanya balik kepada orang yang bertanya padanya.
"Malem ini kan abang mau balapan sama Vano!! Jadi ikut ga?" jawab Raga. Qia mengangguk cepat, ia selalu antusias dengan semua hal yang berkaitan dengan balapan.
"Ikut!!! Yodah Qia siap-siap sekarang bang. Tapi tungguin!"
"Hm, abang tunggu di bawah."
Setelah itu, Raga pun keluar dari kamar Qia sedangkan Qia mengambil kembali handphone yang ia sembunyikan tadi.
Qia : Sorry ya, tadi kaget abang gue langsung masuk.
Rayhan : Iya ga papa, lo mau keluar sama Raga?
Qia : Iya nih Re hehe, lo tadi nanya apaan gue lupa?
Rayhan : Engg itu, besok gue mau ngajak lo berangkat bareng. Mau?
Qia : Okey mabro!
Rayhan : Janji ya!
Qia : Iya bawel.
Rayhan : Oke kalo gitu gue udahin dulu ya telponnya? Ada urusan Qi.
Qia : Emm oke.
Tut tut tut.....
"Ayeyeye nonton balapan, gue udah siap ngejulidin kak Vano kalo dia kalah nanti ahahhaa." sorak girang Qia yang langsung turun dari ranjang menuju lemari baju.
...****************...
"Oh jadi DS Boys sama Ghosterion mau balapan, Raga sama Vano, dan ada Qia. Gue bisa nemuin Qia disana nanti pas mereka mulai sibuk ke balapan." lirih Rayhan tersenyum miring.
Kriet
"Mau kemana lo?" tanya Dika. Ia baru saja sampai dan masuk ke dalam kamar Rayhan saat teman seumurannya itu berdiri.
"Mau ke-"
"Eh gue ada info cog!!" pekik Dika mode heboh.
"Gue yang punya info! Copas mulu lu." sungut suara berat yang nyelonong masuk melewati Dika yang masih berdiri di ambang pintu.
"Cih lo udah balik Vel?" tanya Rayhan menghampiri sahabatnya yang satu lagi itu. Namanya Marvel, satu sekolah juga satu geng dengan Rayhan. Marvel pergi liburan ke London selama 2 minggu ini, meskipun belum ada jadwal liburan dari sekolah. Maklum Marvel adalah yang paling sultan diantara mereka bertiga karena ia adalah anak dari pemilik saham SMA Garuda.
Marvel mengangguk.
"Udah, tangan gue udah gatel disana ga ada bahan ribut haha." jawab Marvel tertawa receh.
"Sialan lu!"
"Lo mau denger infonya ga si Re? Lo harus tau ini nih!" potong Dika tak sabaran. Rayhan menaikkan sebelah alis.
"Info apaan?"
"Vano mau lawan balap sama Raga woeee!!"
"Itu doang?" tanya Rayhan malas, karena ia sudah mengetahui hal ini. Dika mengangguk.
"Iya."
"Lo ga mau kesana Re? Pasti ada si Qia juga." celetuk Marvel heran, tumben respond dari Rayhan biasa saja. Rayhan berdecak.
"Gue udah tau! Ini gue juga mau pergi kalo lo berdua ga ngehadang gue!!" ketus Rayhan yang langsung berjalan melewati Marvel dan Dika yang saling tatap.
"Bos lo kenapa tuh?" tanya Marvel. Dika mengendikkan bahu.
"Ada Qia, ada Vano. Ya lo tau sendiri lah Vel." jawab Dika yang sudah tau soal Vano - Qia - Rayhan.
"Tau apaan? Gue ga tau apa-apa?" tanya Marvel cengoh. Ia baru kembali dari London setelah dua minggu, dan drama cinta segitiga Rayhan baru dimulai seminggu terakhir.
'Iya juga, dia kan udah pergi waktu Qia ketemu Vano di Airlangga.' batin Dika bermonolog.
"Ah ntar juga lo bakal tau! Kita ikutin si Rayhan dulu." alih Dika yang langsung menarik jaket Marvel untuk segera pergi.
...****************...
Plak
"Lo celingukan mulu nyari apaan dah?" tanya Adam menepuk kepala Vano, terdengar sangat renyah dan bergizi.
"Hah?!" cengoh Vano yang menoleh kaget. Matanya memang sedari tadi celingukan kesana kemari mencari seseorang.
"Lo nyari apaan ege!!" ulang Adam. Ia berusaha mengikuti arah pandangan Vano tadi, mencari tau apa yang sedang dicari oleh leader geng motornya itu.
"Nggghhh itu gue lagi... Ya nyariin Raga lah, gue kan mau tanding sama dia." jawab Vano kelagapan. Sammuel berdecih.
"Kalo nyari Qia ya bilang aja lagi nyariin! Susah banget lo jadi cowok." ketus Sammuel, biasalah.
Adam manggut-manggut, yang lain tertawa.
"Oh nyariin pawang toh."
"Hahahaha emang cuma Sam yang bisa ngeskakmat Vano." cicit Bagas tertawa paling puas.
"Diem lu calonnya Depa!" ketus Vano menatap Sammuel dengan tajam. Sammuel langsung kembali lagi ke dunia senyapnya.
"Dan cuma Vano juga yang bisa bikin Sam kicep ahahahaha." sahut Bintang heboh.
"Gabby mana Tang?" tanya Vano menoleh pada Bintang yang berdiri di sampingnya tapi agak kebelakang.
"Bangs*t! Gue dari tadi di samping lo tolol." maki Gabby menjitak kepala Vano. Rupanya cowok itu berdiri berseberangan dengan Bintang.
Vano meringis.
"Ga keliatan Gab!"
"Nyariin Qia mulu sih lu." sindir Adam.
"Otw bucin yagesya." sahut Bagas.
"Bentar lagi traktiran nih asik!!" seru Bintang bersemangat dengan semua hal-hal berbau gratisan.
Jangan tanya kemana perginya Gabby dan Sammuel, mereka hanya nyimak. Biasalah!
"Taruhan nih bentar lagi Vano sama Qia bakal jadian!" celetuk Bagas. Adam, Gabby, Bintang sama-sama mengangguk.
"Itu juga kalo Qia ga khilaf." sahut Sammuel dengan wajah datar tanpa dosanya. Keempat lelaki itu menoleh dengan tatapan tak kalah datar dari Sammuel. Kenapa temannya satu itu tak mau bekerja sama dengan mereka?
"Kenapa?" tanya Sammuel polos.
"Se-enggak sejalan itu kita berdua sayang!" pekik Adam lebay mode on. Bagas yang berdiri disebelanya bergidik ngeri.
"Dih dih najis banget monyet!!"
Tak memperdulikan ocehan teman-temannya, Vano justru fokus menatap ke seorang gadis tomboy yang tampak cantik dan serasi dengan outfit serba hitamnya. Sepatu putihnya membuat gadis itu sangat mudah dikenali di dalam kegelapan malam.
Qia.
"Makin cakep aja." lirih Vano tanpa sadar. Sudut bibirnya tertarik membentuk lengkungan senyum.
Gabby yang berada disebelahnya yang pertama kali peka, ia mengikuti arah pandang Vano lalu berdehem.
Ehem ehem
"Qia tomboy makin cantik ya pak?" sindir Gabby. Yang lain ikut menoleh termasuk Vano.
"Oalah pantesan aja diem."
"Berisik lu pada!!" sungut Vano sebal.
"Weh weh Qia jalan kesini woy!!" pekik Adam heboh. Vano memutar pandangannya lagi, memang benar kalau gadis itu sedang berjalan ke arahnya dengan senyum tipis. Sepertinya Qia mendengar apa yang dikatakan oleh Adam tadi.
"Makin semangat tuh disamperin bidadari." ledek Bintang.
"Pucuk di cinta ulat pun tiba." sahut Adam geleng-geleng.
"Ulam tolol bukan ulat!" sela Bagas menonyor kepala Adam dengan sebal. Yang ditonyor cuma nyengir.
'Mau ngapain ni anak?' batin Vano bertanya-tanya. Tadinya saat Vano memandang Qia dari kejauhan, cewek itu sedang berbicara dengan Raga, Rizal, Devan dan Haikal. Dan sekarang ini dia berjalan sendirian menuju gerombolan Vano, nyali besar? Memang iya.
"Gimana bro?" sapa Qia berhenti tepat di depan motor hitam Vano. Satu alis Vano terangkat sebagai respond.
"Apanya?"
Sok cuek! Bohong kalau Vano benar-benar biasa saja setelah Qia datang. Sementara lima wayang tampan yang berjaket sama satu sama lain itu memilih diam dan memperhatikan dua manusia lawan jenis ditengah mereka.
"Udah siap?" tanya Qia tersenyum tipis. Vano mengangguk santai meskipun hatinya sedang parade kemerdekaan.
"Udah."
"Udah apanya?" tanya Qia lagi. Vano mengerutkan dahi.
"Udah siap balapan, itu kan maksud lo?" jawab Vano enteng. Qia menggeleng sambil berkacak pinggang. Wajahnya tampak sangat menyebalkan seperti rubah yang bertemu dengan serigala.
"No! Bukan itu maksud gue."
"Ya terus?"
"Lo udah siap buat kalah apa belum hah?" tanya Qia tersenyum miring. Qia tau kalau persentase kemenangan Vano melawan Raga abangnya hanya 40%. Vano pernah menang, tapi tidak sesering Raga yang memang sudah diakui sebagai raja jalanan oleh banyak geng motor sejak 2 tahun terakhir.
Vano mendelik, cewek satu ini memang tidak punya rasa takut sama sekali. Sama halnya dengan Vano, Bagas, Adam, Bintang dan Gabby juga tercengang dengan nyali yang ditunjukkan oleh Qia. Bahkan Sammuel yang notabene bodoamatan pun sampai tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.
"Ck. Untung aja cewek lu!" balas Vano sedikit sebal. Qia geleng-geleng kepala sambil mengetok-ngetok kepala motor Vano beberapa kali.
"Ya terus kalo gue cewek kenapa hm? Lo lupa lo aja pernah kalah lawan balap sama gue." ledek Qia memeletkan lidah dengan satu mata ngewink.
"Itu keberuntungan doang buat lo! Kali ini gue ga bakal kalah lagi dari Raga." ucap Vano yakin. Ia memang lebih sering kalah dari Raga, mungkin Vano memang jago motor tapi Raga berada satu langkah lebih tinggi dari pada kemampuannya. Raga memang its another level!
"Masih sore jangan mimpi ya kaka." ledek Qia lagi dan lagi.
"Pssstt Gas." bisik Adam, Bagas menoleh.
"Apaan?"
"Bukannya ini udah malem ya?"
"Iya, emang kenapa?"
"Kenapa Qia bilang ini masih sore? Ngigo kali ya dia?" tanya Adam polos. Bagas yang sudah kehabisan akal untuk meladeni otak snewen Adam langsung menonyor kepala kosong itu.
"Bukan dia, tapi elu yang bego!" ketus Bagas.
Back to Qia dan Vano.
"Lo nyepelein gue banget dah?"
"Iya. Nyepelein lo sekarang udah jadi hobi baru. Emang kenapa? Lo ga terima kak?" tanya Qia balik. Vano bersimrik, terbesit sebuah ide cemerlang dalam otaknya.
"Berani taruhan?"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰