DEVANO

DEVANO
76. Riweh sia



"Badan gue pegel banget buset." keluh Qia menarik tangannya ke atas. Ia baru saja selesai memakai sepatu hitam putihnya.


"Baru jam enam lebih? Tumben gue pagi banget siap-siapnya." ucapnya lagi setelah melihat jam di handphonenya.


"Gue telfon Kak Vano aja ah, biar ga kelamaan nunggu."


"Eh jangan deh, ntar kepalanya gede lagi tuh. Tunggu aja di depan." ralat Qia geleng-geleng. Baru saja ia akan memasukkan iPhonenya ke dalam saku, benda pipih itu berdering.


📞Mamacantik is calling.....


Qia : Hallo ma? Mama udah nyampe?


Andin : Hallo sayang, iya ini baru aja sampe penginapan.


Qia : Syukurlah.


Andin : Disana udah pagi kan? Buruan berangkat kalo udah siap-siap, jangan nunggu telat!


Qia : Iya ma, ini juga udah siap tinggal berangkat aja.


Andin : Dianterin abang?


Qia : Boro-boro mau nganterin, tidur aja belum bangun tuh sama kak Izal!!


Andin : Rizal nginep kah? Semalem pasti habis keluar kan kalian bertiga?


Anton : Hayo Qia kamu masih keluar malam? Papa kurung nanti ya kalo papa udah balik dari Paris.


'Mamp*s ke-gep! Kalo tau ada papa, gue ga bilang tadi.' batin Qia mengutuk dirinya sendiri. Anton memang super overprotektif kepada putri kecilnya itu. Anton juga membatasi jam malam untuk Qia, hanya sampai jam 10 selebihnya maka Qia akan menanggung hukuman dari papanya.


Qia : Ehehehe i'm sorry pasom, tapi semalem Qia jam 10 udah ada dirumah kok.


Fyi, pasom itu singkatan papa handsome. Panggilan kesayangan Qia ke papanya karena Qia memang lebih cenderung akrab ke papanya meskipun papanya overprotektif padanya, sedanhkan Raga cenderung lebih dekat dengan Andin.


Sembari berbicara di telepon, Qia berjalan keluar rumah untuk menunggu Vano.


Anton : Yakin jam 10?


Qia : Ehehehe lebihan dikit sih pa.


Anton : Emm oke nanti kamu terima lebihan hukuman dari papa juga.


Qia : Ish papa mah gitu. Yang pulang jam dua tuh si abang sama kak Izal, kenapa jadi Qia doang yang kena?


Anton : Kalo gitu kamu pulang sama siapa jam 10? Tuhkan ketahuan boong!


Qia : Haiss enggak bohong pa sumpah!! Orang Qia pulang beneran jam setengah 11 an.


Anton : Alone?


Qia : No pasom!! Qia dianterin kak Vano. Tanya aja ke dia kalo ga percaya.


Anton : Oh yaudah kalo gitu ga papa, ga jadi dihukum.


Qia : Lah?


"Mama ini anaknya mau ngomong lagi." sayup-sayup Qia mendengar papanya menyerahkan kembali teleponnya ke mamanya.


"Papa kok langsung berubah pikiran? Heran. Gue ngejelasin dia ga percaya, giliran nama kak Vano disebut aja langsung berubah pikiran." heran Qia geleng-geleng.


Andin : Halo sayang?


Qia : Iya ma.


Andin : Kamu bawa mobil sendiri atau mau dianter sopir?


Qia : Dijemput kak Vano ma.


Andin : Wah bagus banget sayang! Aman pasti kalo sama Devano ganteng itu.


"Emak bapak gue pada kenapa si?" lirih Qia terheran-heran.


Andin : Ya udah mama tutup ya telfonnya. Mau istirahat.


Qia : Iya.


Tut tut tut....


"Udah keracunan Devano ni orang berdua." ucap Qia geleng-geleng.


"Pasti karena gue ganteng ya Qi?"


"BUJU BUSETTT!!!" pekik Qia terkejut hingga refleks melompat ke belakang. Si biang kerok pembuat onar itu malah tersenyum lebar sambil menyandarkan tubuhnya di body samping mobil.


"Kenapa lo?" tanyanya polos.


Qia masih terengah-engah menata ulang nafasnya setelah terkejut setengah mati tadi. Ia mengelus-elus dadanya lalu melotot garang.


"Kenapa lo bilang? Elu ngangetin woi!!" semprot Qia kesal. Vano tertawa kecil.


"Gue? Enggak ah. Lo aja kali yang lebay, orang gue cuma nanya biasa ga pake teriak-teriak juga." bantah Vano bersidekap dada.


"Ngeselin!" ketus Qia. Ia kemudian berjalan turun dari teras rumahnya yang lumayan tinggi bertingkat. Anehnya, Vano malah berjalan menaiki tangga teras rumah.


"Eh eh mau kemana?" tanya Qia mengaet lengan baju putih Vano.


"Mau pamit sama tante Andin lah, yakali gue bawa anak orang tanpa izin." jawab Vano santai. Qia tercekat.


'Sesempurna ini sifat sikapnya kak Vano? Omegos. Ini bener-bener diluar ekspetasi gue si, tampangnya doang minus akhlak. Aslinya cakep banget!!' batin Qia terpukau kagum.


Ctik


Vano menjentikkan jemari tepat di depan mata Qia.


"Woi malah bengong! Mama lo ada dimana? Keburu kesiangan entar." ucap Vano menyadarkan Qia. Qia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mencari kesadarannya.


"Nggak usah kak."


"Kenapa?"


"Mama gue lagi di Paris sama papa." jawab Qia. Vano manggut-manggut.


"Raga dimana?"


"Masih tidur noh di ruang tamu sama kak Izal."


"Ya ga usah ke siapa-siapa! Lagian semalem juga abang gue udah ngasih izin."


"Oke, kalo gitu kita berangkat sekarang!!" ajak Vano yang gantian menarik pergelangan tangan Qia menuju mobil.


"Tumben lo bawa mobil? Jiwa anak motornya kemana?" tanya Qia setengah meledek. Vano berdecak, demi apapun gadis disampingnya ini super julid. Apapun hal yang terlihat berbeda dari biasanya, ia akan mengupasnya hingga sedemikian rupa.


"Gue ga bawa mobil tuh." jawab Vano menunjukkan dua telapak tangan, ada teknologi untuk membuat Qia diam karena sebal. Lihat saja!


"Lah ini?" tunjuk Qia ke mobil sport hitam bergaris putih di depannya. Qia yakin kalau mobil itu adalah milik Vano karena mobil ini terlalu full modif untuk disebut milik papa atau mamanya.


"Gue naikin doang, gila kali ada orang yang mau bawa mobil! Berat Qi."


Plak


"Anak anj-"


"Udah bawel! Ayo buruan masuk." suruh Vano tak sabar. Vano sudah membukakan pintu tapi Qia masih enggan masuk.


"Jawab dulu! Lo kenapa bawa mobil? Gue agak trauma ya soal semalam."


"Astaghfirullah dosa lo suudzon mulu. Gue beda kali sama bestie lo itu!"


"Ya terus kenapa ga bawa motor aja?"


"Rok sekolah lo pendek, ntar malah jadi tontonan diliatin orang. Mending pake mobil aja biar gue doang yang bisa liat." jawab Vano ngawur. Qia menatapnya malas.


"Semua cowo emang sama aja!" ketus Qia yang langsung nyelonong masuk. Vano menyunggingkan senyum sambil menutup pintu mobilnya.


'Kalo gue jawab jujur, yang ada kepala lo gede!'


...****************...


"Sepi amat kek hati gue." celetuk Qia saat mobil Vano keluar dari kompleks perumahannya. Vano mengemudi dengan santai tanpa ngebut seperti biasanya saat ia naik mobil sendiri.


"Mau gue ramein?" sahut Vano menawarkan diri.


"Hah?"


"Ck. Dia yang ngawalin, dia juga yang lemot." lirih Vano geleng-geleng.


"Siapa sorry? Lo ngomongin gue?" tanya Qia menaikkan sebelah alis. Otaknya memang sering error akhir-akhir ini tiap ia berdekatan dengan Vano.


"Nggak ada. Tuh setel aja musik biar rame!" jawab Vano mengalihkan. Qia manggut-manggut kemudian mulai mencari lagu kesukaannya.


"Ah jelek."


"Bukan bukan."


"No."


"Ah susah banget nyari lagu yang bagus." gerutu Qia kesal karena tak kunjung menemukan lagu yang ia sukai.


"Dari tadi juga lagunya bagus kali, lo aja yang ribet." sahut Vano melirik Qia disampingnya. Qia memicingkan mata.


"Kalau ga diajak ngomong, ga usah nyahut. Berisik!" sembur Qia.


"Ini mobil siapa, yang kek bos siapa?" sindir Vano geleng-geleng.


"Ngomong sekali lagi gue tabok lu!" ancam Qia. Vano menonyor kepala Qia yang semena-mena ini sebelum ia melengos ke depan dengan ekspresi datar.


"Ish ni anak asfgjsnxzbsjsr." gerutu Qia berbahasa alien. Tak mau darah tinggi pagi-pagi, Qia memilih untuk mencari lagu lagi.


"Nah ini dia yang gue cari bray!!" pekik Qia kegirangan. Ia langsung membesarkan volume.


🎶Semua yang bernafas perlu


Menemukan cahayanya


Semua yang bernafas perlu


temukan arti hidup dan lengkapi jiwanya


oooo.....


"Akhirnya ku tlah temukan kamu....." lirik Qia yang mulai terbawa alunan lagu.


"Dan semestaku tercipta."


Vano refleks menoleh, memperhatikan gadis cantik yang tengah asyik bernyanyi sambil menatap jalanan setengah padat di depannya.


'Semesta gue udah terbentuk dari lama, tapi bentuknya makin sempurna sejak gue jatuh cinta ke sosok lo yang bawel dan banyak tingkah Qi.' batin Vano tersenyum tipis. Gadis berambut cokelat itu masih tak menyadari kalau Vano tengah memperhatikannya dalam diam.


"Dan aku, takkan pergi dan melepasmu. Dengan sadarku, ku masih mau, tuk menuju tujuku...."


"Dan ku berjanji tuk selalu ada, sampai waktunya...."


"Karena semesta, ku ada pada kamu..." setelah reff itu berakhir, Qia menoleh. Vano yang tertangkap basah memperhatikan Qia pun kelagapan.


"Ngapa lo ngeliatin gua? Lo pasti ga pernah ngeliat cewek secantik gue kan? Ngaku lo!" tuduh Qia. Sebenarnya ga nuduh juga sih, emang bener yagesya?


"Dih?" sahut Vano dengan pertanyaan andalannya tiap kali ia bingung harus berkata apa.


"Alah ngaku aja lu! Curi-curi pandang cie... Naksir lu ya?" goda Qia menaik turunkan alis. Qia memposisikan diri menghadap kesamping ke arah Vano yang menyetir dengan so cool padahal Qia tau cowok itu sedang gugup setengah mati.


"Paan si mak? Berisik!!" gerutu Vano mendorong jidat Qia agar menjauh darinya. Qia tertawa puas.


"Ahahaha gugup banget!! Nerveous ya deketan sama dewi kecantikan? Haha."


"Btw suara lo, oke juga." puji Vano setelahnya. Ia tak munafik, suara Qia memang sedap di dengar.


"Oh ya jelas dong!! Namanya juga Queensha Qianne, pasti jago nyanyi lah." jawab Qia sombong. Vano memutar bola matanya malas.


"Nyesel gue muji."


"Ahahahaha."


"Ahaha ahihihi, ketawa lo!" sembur Vano menonyor kepala Qia lagi. Qia sempat memperhatikan wajah Vano yang mendekat padanya, ada yang aneh.


"Eh loh muka lo ngapa jadi tambah jelek gini kak? Kok gue ga liat ya tadi." pekik Qia heboh saat melihat lebam di sudut bibir Vano.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰