DEVANO

DEVANO
86. Si paling drakor



"Apaan kok gua?"


"Tuh lo ditaksir ketos." tunjuk Bintang menggunakan dagunya. Qia mengeryit heran lalu menoleh ke belakang samping.


Memang benar ada dua laki-laki berjas hitam osis yang tengah mengawasi mereka.


"Ga tau, ga kenal." ucap Qia geleng-geleng pelan. Bintang ikutan geleng-geleng.


"Cinta bertepuk sebelah tangan njir."


"Tu anak masih belum bosen saingan sama Vano." celetuk Gabby setelah sekian lama diam membisu. Ia adalah salah satu saksi mata kegigihan Valdo untuk bersaing dengan Vano, dalam hal apapun.


"Belum bosen kalah juga dia." sahut Bintang.


"Lo lagi ngomongin gue ya?" tanya Qia polos.


"Ngomongin tembok! Ya elu lah ege." sahut Bintang ngegas.


"La kok ngamok."


"Saran gue sih, lo sama Vano aja. Lebih terjamin hidup lo ketimbang sama Valdo ketos ambisius itu tuh. Alur hidup Vano lebih santuy dan menikmati yekan." ucap Bintang menepuk-nepuk pundak Qia. Qia mengeryit aneh.


"Lo dari tadi jadi mak comblang mulu perasaan, cocok ini cocok itu. Mending ini mending itu, heran banget." sahut Qia menggerutu.


"Bakat terpendam gue emang." jawab Bintang bangga menepuk-nepuk dada kirinya.


"Lebih tepatnya bakat terpendam yang memang lebih baik tetap dipendam." celetuk Manda asal nyahut. Bintang mendelik pada sosok perempuan yang duduk di sebelah Gabby.


"Nah betul! Bakat yang ga pantes buat digali." sahut lagi satu perempuan yang duduk di sebelah kirinya, Ratu.


"Manda Ratu asu!!" semprot Bintang mengeluarkan kata-kata bijaknya.


"Lo berani kasar sekarang Tang? Wah awas aja lu gue aduin ke-" ucap Manda mengapung, ia langsung membungkam mulutnya sendiri setelah sadar.


"Apa? Mau ngadu ke siapa lo? Bagas hah?!"


"Ga jadi."


"Ahahahaha."


"Ish ini pada ngomongin apa si. Kenapa sama Valdo sama kak Vano hah? Apa cuma gue yang masih ngang ngeng ngong dari tadi?" tanya Deeva uring-uringan sendiri karena ia tak kunjung mengerti sejak tadi. Ia diam karena mencerna maksud Bintang dan Gabby, tapi apalah daya otak tak sampai.


Puk puk puk


Qia menepuk-nepuk punggung tangan Deeva yang tergeletak di atas meja.


"Udah Deev udah, kalo ga kuat mikir langsung angkat tangan aja." tutur Qia halus.


You know lah maksudnya apa.


"Otak lo lemot buat mikir ginian Deev. Mending lo diem sambil makan aja deh saran gue." sahut Ratu.


"Nah betul!!" pungkas Manda.


"Sialan emang."


...****************...


"QIA UDAH PUNYANYA TEMEN GUA BRO! LU GA DIAJAK, GA USAH IKUT-IKUTAN NGINCER!!" teriak lantang seorang laki-laki diujung sana.


"Buseh congornya Bintang berisik bener." cicit Rino terkejut, sementara yang diteriaki hanya berdecih pelan.


"Lihat aja, gue ga bakal kalah dari Vano kali ini." ucap Valdo ambisius. Rino menoleh, menatap raut wajah sahabatnya.


"Val lo masih belum sadar kah?"


"Apaan?"


"Terlalu ngandalin ambisi, ga bakal berakhir baik. Lo sadar ga? Dari segala aspek kekalahan lo sama Vano, itu semua ada sangkutannya sama ambisi lo. Lo terlalu ambisius! Saran gue lo udah ga usah lanjut lah, Gita aja Gita." saran Rino ketar-ketir. Menurutnya, sifat terlalu ambisius yang dimiliki oleh Valdo lah yang justru membuat cowok itu lemah dan selalu kalah. Dan satu lagi! Meskipun aslinnya baik, tapi Valdo terlalu keras kepala. Ia tak pernah mau mendengarkan saran dari Rino ataupun Shinta.


"Qia adalah satu hal yang berbeda Rin. Udah lo stop nyebut nama Gita! Mending lo bantu gue mikir gimana caranya deket sama tuh cewek." tolak Valdo mentah-mentah.


"Lah? Gue kan team suksesnya Gita, gimana caranya lo malah ngajak gue ngedeketin Qia?"


"Ya udah kalo ga mau! Gue bisa sendiri. Minimal jangan ngeganggu langkah gue!" ketus Valdo sebal. Rino memutar bola matanya malas.


"Dasar kepala batu!" umpat Rino setengah emosi. Dan seperti biasa, Valdo hanya memasukkannya ke telinga kiri lalu dikeluarkan lewat telinga kanan.


Drrtt drtt


📞Shinta is calling.....


"Hp lo bunyi tuh! Ga liat lo?" ucap Rino mendengus sebal. Valdo hanya manggut-manggut tipis.


"Dari cewek lo. Angkat aja sendiri!" suruh Valdo enteng.


"Lah emang ngadi-ngadi ni bocah! Udah jelas-jelas dia yang ditelpon, malah nyuruh gue yang ngangkat." gerutu Rino malas.


"Cewek lo bawel, males gue. Mending lo aja yang ngadepin."


"Lah lo pikir gue ga capek dengerin dalilnya tiap hari?"


"Itu masalah lo! Dia kan hidup mati lo." ucap Valdo setengah menyindir karena Rino si bucin memang selalu menyebut kalau Shinta adalah cinta sehidup sematinya.


"Sialan."


Drrtt drtt


Terlalu lama berdebat hingga deringan ribut itu kini berpindah tempat ke handphone Rino. Rino mengeluarkan benda pipih itu dari saku seragamnya.


📞Sayang is calling....


Rino : Halo beb?


Shinta : Halo bab halo beb! Buruan balik!! Pak Bambang habis kesini tau.


Rino : Ngapain? Sejak kapan dia gabut nengok ke ruang osis?


Shinta : Ngabarin kalo habis istirahat ini pak kepsek ngajak rapat buat acara bulan depan sama anggota inti.


Rino : Inti osis?


Shinta : Ya iyalah osis, yakali basket!


Rino : Ya udah aku ot-


Tut tut tut...


"Ada apaan?"


"Kelar istirahat nanti kepsek ngajak rapat buat bahas acara bulan depan."


"Rapat? Semendadak ini?"


Rino manggut-manggut. Valdo kemudian melirik jarum jam tangan di pergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul 09.25 tepat.


"Oh **** men! Bahkan lima menit lagi udah bel, dan dia baru ngomong sekarang?!!" pekik Valdo auto panik.


Rino memutar bola matanya malas.


"Si Wijaya Purnama emang suka banget bikin anak osis kalang kabut sampek jungkir balik." keluh Rino asal nyebut nama kepala sekolahnya.


"Kalo gitu ngapain masih disini! Ayo balik. Proposal aja belum kelar dibikin." ucap Valdo langsung pergi begitu saja meninggalkan Rino yang masih melongo tak habis pikir.


"Nah kan gue lagi yang disalahin? Padahal dia yang duluan ngajak kesini." ucap Rino bermonolog.


"RIN BURUAN KAMPRET!!!" seru Valdo ngegas.


...****************...


"RIN BURUAN KAMPRET!!"


Mendengar seruan keras itu, Bintang lalu menoleh. Benar tebakannya, suara itu berasal dari Valdo.


"WIDIH BURU-BURU AMAT MAS? KAN BELUM NDEKETIN QIA NIH." celetuk Bintang ngawur.


Plak


"Ga usah bawa-bawa gue mulu nyet!!" ketus Qia ngegas.


Bintang mengelus-elus punggungnya yang panas, tapi ia tetap fokus pada Valdo yang pergi disusul oleh Rino.


"No Rino woy!! Temen lu mau kemana? Belum juga dapet." ucap Bintang ngeyel. Valdo sudah tak menghiraukannya sama sekali karena ia fokus pada tujuannya menuju ruang osis.


"Lagi sibuk dia, ntar juga balik lagi." sahut Rino yang notabene kenal baik dengan Bintang. Sebenarnya bukan hanya Bintang, tapi dengan Gabby, Vano maupun anak-anak Ghosterion yang lain pun ia kenal baik. Tapi memang ia lebih dekatnya dengan Valdo karena satu tugas dengannya.


"Ahahaha."


"Gue duluan ngeb!" ucap Rino melambaikan tangan. Bintang mengangguk dengan acungan jempol, Gabby juga mengangguk sebagai jawaban.


Oke, akhirnya setelah Bintang diam terbitlah pembukaan topik oleh Ratu.


"Qi ntar jalan-jalan yuk? Ngemall. Udah lama banget kita ga Quality time berdua." ajak Ratu. Qia manggut-manggut.


"Ayo, tapi gue pulang dulu. Habis dari rumah baru gue jemput lo!" jawab Qia tanpa pikir panjang.


"Kenapa ga langsung aja pas pulang sekolah nanti?" tanya Ratu mengeryit. Qia berdecak, sepupunya ini lupa atau memang tak sadar?


"Gue ga bawa mobil Ratu.... Lo juga kan ga bawa kan?" tanya Qia. Ratu mengangguk.


"Tapi kan ada sopir gue yang jemput nanti."


"Gue ga bisa pulang bareng lo ih."


"Ya tapi kenapa? Kan enak ga usah muter jauh-jauh pulang dulu Qiak...."


"Udah ah ga usah cerewet. Pokoknya nanti pulang dari rumah gue jemput lo. Gue nanti pulang bareng kak Vano soalnya." omel Qia jengah. Ratu melotot tak percaya, sama halnya dengan Deeva dan Manda.


"Seriusan?"


"Demi apa?!!"


"Woah makin lengket aja lu berdua."


"Hmmm... Gue udah kemakan janji, pulang pergi sekolah bareng dia seminggu ini." jawab Qia melas meratabi nasib.


"Lah kok bisa pake janji-janji segala?"


"Dalam rangka apaan?"


"Ini temen lo semalem kalah taruhan sama Vano, hukumannya antar jemput sekolah seminggu." celetuk Bintang nimbrung.


"Cih itu sih bukan hukuman, lebih ke kebahagiaan yagesya." sahut Manda menaik turunkan alis.


"Ini sih pdkt berkedok taruhan!" ucap Deeva.


"Kak Vano pinter juga modusnya." tambah Ratu.


"Aku menyebutnya modus dengan gaya!"


"Tau ah." ketus Qia.


"Oke fix kalo gitu lo pulang bareng kak Vano dulu, habis itu baru kita jalan nih?" tanya Ratu nyeletuk. Qia mengangguk sambil meminum soda miliknya.


"Hm."


"Btw Ini lo berdua ga mau ngajak gue sama Deeva gitu?" tanya Manda mengeryit heran.


"Nggak!" ketus Qia ngasal.


"Dzolim banget astaga!!"


"Kan lo sendiri tadi pagi yang bilang, pulang sekolah mau diajak jalan sama mama lo Mandut!!" jawab Qia kemudian. Manda nyengir sambil menggaruk rambut bagian belakangnya.


"Lah iya, gue hampir aja lupa ehehehe."


"Terus lo ga nawarin gue bisa ikut atau enggak gitu? Cuma Manda doang yang lu anggep temen hah?" celetuk Deeva ikutan iri ngang ngeng ngong.


"Emang lo bisa? Ya udah ayo bertiga." ajak Ratu cepat, tanggap dan tepat.


"Iya Deev, ntar gue mampir ke rumah lo sebelum ke rumah Ratu. Kan searah tuh!" sahut Qia, si penjemput. Ratu dan Qia sudah menunjukkan respond yang sangat antusias, tapi si kampret Deeva malah menggeleng ogah-ogahan.


"Ogah! Gue nanti mau nonton rekomend drakor dirumah, daripada muterin mall capek-capek. Mending juga ngedrakor aja." jawab Deeva dengan tak santainya.


"Lah anak anj*ng dia yang nawarin diri, dia juga yang nolak."


"Tau gitu ngapain tadi minta ditawarin Deeva!!!"


"Gue iseng doang tadi. Lagian gue baru aja dapet rekomendasi drakor bagus dari internet! Ga boleh dilewatin nih kesempatan emas." jawab Deeva dengan wajah tanpa dosanya.


"Iya deh percaya, si paling drakor."


"Ahahahaha."