DEVANO

DEVANO
101. Ungkapan?



"Lo darimana aja pak?" tanya Bintang saat Sammuel kembali bergabung di meja mereka.


"Nyariin Deeva nih pasti." tebak Gabby sok tau.


"Gak."


"Ulululuuuu sensi amat." ledek Adam gemoy. Ratu dan Manda sebagai saksi Deeva pergi dengan Kevin hanya bisa diam menyimak.


"Tadi gue ketemu Rayhan di halaman belakang." ucap Sammuel setelah beberapa saat hanya hening diantara mereka.


Brushhh


Adam menyemburkan jus jeruk yang ia minum karena terkejut.


"Iyuhhh kak Adammmmm!!!! MUNCRAT NIH." jerit Manda mengomel. Sebagian seragamnya basah karena disembur oleh Adam yang berhadapan dengannya.


"Emang anak setan si Adam." gerutu Bagas mengambil tisu untuk diberikan ke Manda. Manda pun mulai membersihkan baju seragamnya yang agak kuning di bagian yang terkena semprot tadi.


"Sorry Man sorry. Ga sengaja gue." cicit Adam.


"Lo bilang apa tadi Sam?" tanya Gabby to the point.


"Gue ketemu Rayhan. Dia make almet Airlangga, lengkap!" jawab Sammuel menerangkan.


"KOK BISA?!!!"


"Dapet baju dari siapa dia?"


"Ada orang dalam?"


"Ya mana gue tau. Ngapa lo jadi nanya gua hah?! Gua bukan emaknya!" sentak Sammuel badmood. Melihat Deeva dengan lelaki lain agaknya membuat suasana hatinya diterpa badai gelap.


"Buset ngasih inpo cuma setengah, pake ngamuk lagi lu!" decak Bagas geleng-geleng.


"Bodoamat!" ketus Sammuel lagi dan lagi. Setelah itu Sammuel kembali berdiri dari duduknya lalu pergi begitu saja.


"Lah mau kemana lagi WOY!!" tanya Adam heran. Ada apa dengan kulkas satu itu?


"Kelas." jawab Sammuel singkat tanpa menoleh.


Tentu saja sikap dingin yang semakin dingin ini meninggalkan banyak tanda tanya besar bagi teman-temannya.


"Algojo kulkas lagi kenapa si?" tanya Adam heran.


"Moodnya lagi down bray..." jawab Bagas.


"Tapi kok bisa Rayhan masuk sini pake almet? Mana lolos juga." tanya Adam lagi.


"Rayhan itu siapa si?" tanya Ratu bingung. Manda yang sama-sama tak mengerti ikut manggut-manggut menanyakan hal yang sama.


"Anak SMA Garuda, ketua geng motor yang musuhan sama Oster."


"Ooooo..."


'Apa ini ada hubungannya sama orang yang gue buntutin semalem ya?' batin Bintang berfikir keras.


"Kita balik yuk Gas? Gue takut Sam nanti ngamuk ditengah jalan terus ngegebukin orang." ajak Adam takut. Sammuel memang sebringas itu! Ia bisa menghajar siapapun yang mengganggunya saat badmood, jangankan mengganggu? Sekedar menyenggol jalannya saja ia bisa langsung ngamuk.


"Beb aku balik ya? Bahaya kalo Sam nonjok pak Bambang nanti." pamit Bagas pada Amanda.


"Kok jadi pak Bambang?"


"Tau sendiri si Bambang suka nyenggol orang kalo lagi jalan."


"AHAHAHHAA." gelak tawa mereka meledak karena semua siswa di SMA Airlangga pun tau kalau guru killer satu itu memang hobi nyenggol-nyenggol orang kalo lagi jalan.


"Gue sih takutnya Bambang nyenggol Sam pas culanya lagi mode keluar. Bisa masuk UGD dia, pfffftt." tambah Adam semakin ngakak.


'Apa jangan-jangan dugaan gue bener kalo orang semalam itu beneran Raja? Bisa jadi dia anak BB yang nyamar buat masuk ke Oster kan?' batin Gabby makin yakin dengan dugaannya.


"Tang ikut gue!" ajak Gabby setelah Adam dan Bagas pergi. Hanya tinggal mereka dengan Ratu dan Manda di tempat itu.


"mau kemana lo?"


"parkiran."


"Ngapain?"


"Ngecek motor Raja. Ah banyakan nanya lu Star!!" ketus Gabby jengah. Daripada lelah berdebat, ia langsung menarik lengan Bintang untuk pergi.


"Lah tinggal kita berdua lagi Man?" monolog Ratu.


"Hm."


"Kok sepi? Qia belum kesini?" celetuk Deeva yang kembali duduk di depan mereka. Ratu dan Manda saling tatap.


"Ngapain lo balik?" tanya Ratu sengit. Deeva mengeryit.


"Ngape lu belagu tiba-tiba hah?!"


"Lo baliknya telat Deepaaaaa..... Kak Sam udah keburu kabur." gerutu Manda jengah menatap wajah tak berdosa Deeva.


"Ngambek dia." tambah Ratu.


"Hah? Apanya ngambek?" tanya Deeva lemot mode on.


"Ga tau juga suh, tapi tadi dia habis dari belakang ya kan Rat?"


"Hm. Ketemu musuhnya gitu, lo habis dari mana? Kalo lo juga dari lapangan belakang sih fix kak Sam sebenernya buntutin elu cuma dia ngelak buat ngaku!!"


"Nah bener! Lo dibawa Kevin kemana hah?"


"Lapangan belak- EH WAIT WAIT WAIT!! Lo bilang apa tadi Rat??" pekik Deeva heboh mode on. Tapi cengoh sekarang heboh.


"Kak Sam dari lapangan belakang...."


"Dia ngikutin gue dong? OH YESSS!!!" pekik Deeva kegirangan.


"Si anjir kecyduk crush malah kesenengan." ucap Manda geleng-geleng tak habis pikir.


"Orang kalo sarafnya kegencet jadinya gini nih, ANEH!" sahut Ratu tak habis pikir part dua.


"Ya kan minimal artinya dia kepo, Ratu, Mandut!!"


"Tapi anaknya ngamok tolol."


"Spek dingin kek dia tuh ngambeknya ga menye-menye bray... Santai!!"


"Caranya tinggal diemin balik, sok-sokan ga ngerti, tunggu aja sampe anaknya buka mulut sendiri. Setelah itu baru deh gue minta maaf! Simple kan?"


"Astaghfirullah...."


...****************...


"Motonya kuning gini? platnya S 4 RJ." lirih Gabby memperhatikan plat motor yang terparkir di ujung. Tadi ia dan Bintang sempat bertemu dengan anak kelas sepuluh yang tau dimana tempat Raja memarkir sepeda.


"S 3 JN motor item, mana kata lo tang?" tanya Gabby kemudian.


"Kan gue juga ga bilang itu Raja, cuman mirip doang By." jawab Bintang ikut heran. Posturnya memang mirip Raja, tapi bisa saja ia salah sangka bukan?


"Ya sama aja! Lo bilang kan orang itu bahas Airlangga." sungut Gabby yang kebetulan punya tingkat kesabaran yang melebihi kata tipis.


"Kan anak Airlangga ga cuma dia doang."


"Ya iya juga sih, tapi tu anak emang aneh! Apalagi Sam ketemu Rayhan disini, ga tau kenapa meskipun kita belum dapat bukti apa-apa... Gue yakin banget kalo Raja ada hubungan sama Rayhan." tutur Gabby logis.


"Maksud lo, dia gay?" tanya Bintang ngawur. Gabby menatapnya datar.


"Paan si?"


"Becandaaaaa... Ya mungkin dugaan lo emang bener. Gini ya! Selama gue kenal lo, lo ga pernah salah soal nilai orang apalagi soal feeling. Ya mungkin aja emang Raja itu anak BB yang nyoba masuk ke Oster-"


"Tapi buktinya ngebantah mulu ogeb!!"


"Ya kan bisa aja dia ganti motor By. Mukanya bening gitu, gue yakin Raja itu anaknya orang tajir! Percaya deh sama gue."


"Sok tau!"


"Si anjir giliran gue udah serius malah elu yang becanda." gerutu Bintang sebal.


"Ya udah kalo gitu buktinya mana kalo bokapnya tajir??" tanya Gabby ngeyel.


"Ya emang ga ada si."


"Ah dahlah... Kita balik aja! Cari bukti lain."


...****************...


"Huh capek banget gue!!" gerutu Qia melemparkan kain lap ke sembarang arah. Ia telah menyelesaikan hukumannya dengan Vano.


Masih di dalam toilet, Vano duduk disebelah Qia. Ia tertawa kecil.


"Ngetawain gue kan lu?" tanya Qia memicingkan mata.


"Dih? GR!"


"Bilang aja lu naksir gue." ceplos Qia setengah sadar.


"Emang iya. Kan gue udah ngaku kemarin?" jawab Vano menaikan sebelah alis dengan kedua mata yang menatap Qia lekat.


Deg.


"Aduh salah ngomong gue." cicit Qia lirih. Sudut bibir Vano tertarik.


"Gimana jadinya?"


"Apanya?" tanya Qia sok polos. Vano mendengus, ia tau kalau kepolosan Qia ini hanya berlaku saat ia menyeret Qia kedalam hal yang serius.


"I love you. Do you love me too?"


"Mmm hah?" tanya Qia mengedipkan bola matanya beberapa kali. Ia cukup terkejut dengan apa yang diungkapkan oleh Vano hari ini. Kemarin memang sudah, tapi tidak sejelas ini.


"Do you love me too?" ulang Vano dengan tatapan yang semakin dalam memaut Qia. Seolah terhanyut oleh alur yang dibuat oleh Vano, Qia mengangguk yakin.


"Yes, i do." jawabnya tanpa sadar. Vano tersenyum tipis, memang ia tau kalau Qia dalam kondisi tak sadar. Tapi bukankah sesuatu yang terjadi dengan refleks tanpa kesadaran adalah hal yang sejujurnya?


"Really?" tanya Vano antusias.


"Yeah, i-"


Drtt drtt


Iphone Qia berdering, ia merogoh saku seragamnya lalu melihat siapa yang meneleponnya.


'Sialan ganggu aja tuh orang!' gerutu Vano memaki dalam hatinya. Hanya tinggal satu langkah lagi untuknya mendapat pengakuan dari Qia, tapi? Ah sudahlah.


📞Rahyan is calling....


'Kenapa nelfonnya pas ada kak Vano si? Jadi makin ga bisa ngangkat kan gue.' lirih Qia dalam hati.


"Dari siapa?" tanya Vano berusaha mengintip tapi Qia buru-buru menyembunyikan layar handphonenya.


"Kepo!!" ucapnya sambil mereject telepon tadi.


"Alah palingan juga dari si cabul." sahut Vano enteng. Qia mengeryit tak mengerti.


"Si cabul? Siapa?" tanyanya balik. Aneh kan? Emang aneh kalo yang namanya Qia diketemuin sama cowok random bernama Vano.


"SAHABAT LO!" sindir Vano pedas. Mendengar penekanan ekstra di kata sahabat itu membuat Qia langsung mengangguk mengerti, yang dimaksud pasti adalah Rayhan.


"SOTOY!!" sembur Qia.


"Dahlah yuk balik laporan ke bu Friska. Kan udah kelar nih!" ajak Qia kemudian berdiri tapi Vano menariknya kembali.


"Jawab dulu yang tadi." suruh Vano.


Qia sok polos come back!


"Tadi ada apaan?"


"Ck. Pengakuan lo Qianne! Gue butuh lo dan segala pengakuan lo."


"Oh yang itu...."


"Hm, ayo buruan!"


"TAPI BOONG WLEEEE." pekik Qia memeletkan lidahnya lalu kabur secepat kilat sebelum Vano kembali menerkamnya. Vano yang kalah gesit hanya bisa berdecak sebal.


Sebenarnya bukan menakhlukan hati Qia yang susah, tapi menakhlukan ego dan gengsinya yang rumit!


"Dasar bocil kegedean gengsi! Udah keceplosan ngaku juga masih mau ngelak lagi dia, heran gue." gerutu Vano yang kemudian juga pergi.