
"Woy Qia!!" teriak Vano yang jengkel karena Qia sedari tadi mengacuhkannya, cewek itu malah asyik menatap beberapa orang di seberang meja.
"Eh hah?"
"Lo ngeliatin apa si dari tadi?" tanya Vano heran. Qia menunjuk empat orang laki-laki bertubuh penuh tato di sekujur tangannya. Qia bahkan sampai harus berpindah tempat duduk jadi di kursi yang paling dekat dengan Vano, karena tadinya mereka duduk berhadapan.
"Itu orang kek ga asing tuh."
"Lo punya sugar daddy empat? Serem banget selera lo?" tanya Vano bergidik ngeri.
Plak
"Ngawur!!" sembur Qia menabok lengan Vano di sampingnya. Vano meringis kecil.
"Terus siapa? Bapak lo?" tanya Vano masih dalam mode ngelanturnya. Padahal ia sendiri sudah pernah bertemu dengan Antoni Rollex, selaku ayah Qia dan juga klien bisnisnya.
"Ngawur!! Bapak gue mana pernah pake baju acak-acakan kek premam gitu!!"
"Ya terus?"
"Itu kek mirip banget sama orang yg pernah hampir ngebegal tante irma. Mama lo!" sahut Qia membuat kedua bola mata Vano kian membulat tajam.
"Hah?"
"Iya kak serius!! Dulu kan setelah dia nyabet tangan gue pake pisau terus gue bales sampek kena bagian deket mata. Tuh persis bgt sama yg di wajah ornag itu." tunjuk Qia pada salah seorang yang punya luka sabetan pisau di wajah bagian kiri, tepat di antara jidat dan bawah mata. Hanya daerat mata yang tak terdapat luka. Sama persis seperti serangan Qia malam itu.
"Sial!" umpat Vano langsung berdiri dari duduk dan menghampiri laki-laki yang dimaksud oleh Qia. Beraninya orang itu mengganggu mamanya, dan bahkan melukai tangan Qia.
"Eh eh kak Vano!!" pekik Qia buru-buru menyusul Vano, tak lupa juga ia meraih iPhone Vano yang masih tergeletak di atas meja.
...****************...
"Eh ssssttt boss!!" panggil salah seorang laki-laki dengan tato besar di bagian lengannya. Orang yang di panggil bos itu menoleh.
"Apaan?"
"Itu cewek ngeliatin kita terus dari tadi."
"Mana?"
"Tuh yang make baju merah gelap. Keknya ga asing dia sama kita."
"Maksudnya?" orang itu pun menoleh. Ia kembali melengos lagi setelah tau siapa perempuan yang dimaksud oleh anak buahnya itu.
"Sial! Jangan sampai dia inget kita."
"Lah kenapa bos?"
"Lo tolol atau pikun? Itu kan cewek yang pernah gagalin rencana begal kita dan nolongin nyokap musuhnya Rehan yang udah hampir kita pake sebagai sandera." jawab orang itu. Ketiga anak buahnya manggut-manggut mengerti.
"Oh itu cewek cantik incerannya Rehan itu kan ya? Yang jago bela diri? Yang tempo hari ngelawan kita?"
"Iya."
"Buset tuh jalan sama cowok lain tapi, bukan sama Rehan."
"Rehan ngenes."
"Semoga aja dia lupa."
"Doa nya telat bos! Cowoknya udah jalan ke sini tuh, pasti ceweknya habis ngadu tuh. Secara waktu itu lo kan udah bikin tangannya berdarah." seru salah seorang yang melihat Vano mendekat dengan tatapan tajamnya. Tangannya bahkan tampak terkepal geram dengan rahang mengeras.
Ketiganya langsung menoleh bersamaan, benar saja tampak seorang cowok tampan dengan wajah datar bengis mendekat ke arah mereka.
"Jadi lo orangnya hah BRENGSEK!!!" maki Vano langsung mencengkeram kerah jaket lelaki yang di wajahnya benar-benar nyata terlukis goresan pisau yang tadi diceritakan oleh Qia.
"Cih siapa lo? Ga ada angin ga ada hujan main srepet. Mau sok jagoan hah?!!" bentak orang itu meronta dari tikaman Vano. Tapi tentu tak akan menbuahkan hasil karena tenaga Vano itu sudah bersatu dengan emosi.
"Kak Vano udah!!" cicit Qia menarik-narik kemeja hitam di bagian pinggang Vano. Vano menoleh sekilas lalu kembali menajamkan tatapannya pada orang di depannya.
"Lo kan preman yang mau nyelakain mama gue hah?!! Lo juga yang udah bikin tangan cewek gue luka. Lo preman apa banci?!!" sentak Vano sarkas. Qia malah salfok ke kata 'cewek gue' maksudnya itu siapa? Qia? Atau?
Drtt drtt
📞Gabby is calling.....
Hp Vano yang digenggam oleh Qia bergetar, nama Gabby tertera dilayar displaynya.
"Lawan gue sini bangs*t!!" pekik Vano yang sudah bersiap melayangkan tinjunya.
"KAK VANO CUKUP!!!"
Kepalan tangan Vano sontak berhenti di udara sebelum sampai menyentuh wajah musuhnya ini. Nafas Vano memburu, pikirannya kalut tapi ia masih bisa mengenali suara Qia dengan baik.
"Turunin tangannya! Gabby nelfon, ini pasti lebih penting." pinta Qia yang dengan lembut meraih tangan Vano lalu mengelus-elus dada bidang Vano agar emosinya cepat mereda.
Vano mengambil Hp dari uluran tangan Qia.
"Urusan gue sama lo belum selesai!" pungkas Vano sebelum pergi dan membawa Qia.
...****************...
"Kamu temannya Deeva ya?" tanya Sonny, papanya Deeva.
"I-iya om, saya Sammuel. Kakak kelasnya Deeva." ucap Sammuel memperkenalkan diri. Saat itu di ruangan serba putih ini hanya ada Sammuel, Deeva, Sherly, dan Dira. Sedangkan Gabby dan David, kakak laki-laki Deeva ada di luar.
"Iya saya sudah tau nama kamu kok. Sudah saya dengar banyak sekali hal tentang kamu, Deeva sudah sering menyebut nama kamu Sam." tutur Sonny apa adanya. Sammuel melirik Deeva yang tampak salting melting blushing sinting, eh enggak sampai sinting deh wkwk.
"Kamu temannya Gabby kan?" tanya Sonny lagi. Sammuel mengangguk. Bahkan di kondisi selemah ini, pria separuh baya itu masih bisa menanyakan hal-hal kecil tentang Sammuel. Cowok yang selama ini selalu hadir di setiap curhatan hati Deeva kepada papa nya.
"Iya."
Sonny tersenyum tipis, rupanya memang benar apa yang selama ini ia dengar dari putrinya. Kalau Sammuel, cowok yang disukai oleh Deeva ini adalah manusia kulkas yang sangat irit bicara meskipun di dalam dirinya ia adalah orang yang perduli dan baik.
"Hm bagus deh Sam, uhuk uhuk kalau Deeva sudah berhasil menemukan laki-laki terbaik versi dirinya. Kayaknya kamu ini anak yang baik dan bertanggung jawab ya? Om bisa jadi lebih tenang kalo nanti sewaktu-waktu om pergi ninggalin Deeva. Karena sudah ada kamu!" ucap Sonny seperti meracau, entah apa yang ada di fikirannya.
Sammuel tercekat hingga lidahnya sama sekali tak bisa ia gerakan. Kenapa Sammuel merasa akan ada sesuatu yang akan terjadi pada keluarga Deeva?
"papa ngomong apaan si? Papa ga akan pergi ninggalin Deeva! Papa akan tetep disini sama aku, sama mama, sama abang juga!!" sergah Deeva mengeratkan genggaman tangannya di punggung tangan papa nya.
Sonny mengulas senyum tipis. Tatapannya menatap putrinya, tapi bibirnya ingin bicara dengan yang lain. Hanya tentang Deeva dan Sammuel. Tidak ada hal lain yang menarik perhatian Sonny selain Deeva. Istri dan menantunya seperti tak ada, bahkan laki-laki berumur hampir kepala enam itu juga seperti tak mengingat keberadaan anak pertamanya. Saya ulangi sekali lagi, hanya Deeva!
"Sammuel?" pangggil Sonny. Sammuel menatap kembali ke arah mata papanya Deeva.
"Gimana om?"
"Om titip Deeva ya, tolong jaga dia dengan baik. Sebaik yang kamu bisa, kalau umur dan waktu om udah ga cukup buat ngejaga dia."
Sammuel tampak speechless mendengar penuturan papa Deeva yang lebih mirip seperti sebuah wasiat dan pertanda seolah ia akan pergi jauh.
"Sam? Kamu bisa jagain Deeva buat om kan?" tanya Sonny memecah hening di kepala Sammuel. Sammuel kemudian mengangguk kecil tapi pasti.
"Iya om, Sam janji akan menjaga Deeva sebaik yang saya bisa." jawab Sammuel yakin. Sonny tersenyum kemudian berusaha meraih jemari Sammuel dengan tangan kirinya karena posisi Sammuel dan Deeva yang berhadapan, hanya terhalang oleh bangkar Sonny.
Sonny kemudian menyatukan tangan Sammuel dan Deeva di atas dirinya.
"Deeva sayang, kamu baik-baik ya sama Sammuel? Papa percaya dan yakin sepenuhnya kalau kelak kamu bakal nemuin kebahagiaan yang sesungguhnya, hanya saat kamu bersama dengan Sammuel." desis Sonny serius. Pandangannya tampak sayu tapi menyiratkan kebahagiaan dan lega di dalamnya.
"Papa ngomong apa si pa? Kayak mau kemana aja tau-"
"Pa-"
"Papa pamit ya sayang? Ma..." panggil Sonny makin melemah. Dira kemudian mendekat ke samping kepala suaminya. Genggaman tangan Sonny, Sammuel, dan Deeva terlepas.
"Iya pa?"
"Mama bahagia terus ya, jangan terpuruk terlalu lama." lirih Sonny dengan suara serak yang sudah hampir menghilang. Dira mengangguk paksa, meskipun ia yakin kalau tak akan ia temui bahagia tanpa suaminya.
"David-" panggil Sonny pada putranya. David yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelah Sammuel dan Gabby pun menggenggam tangan papa nya.
"Iya pa?"
"Papa titip adik sama mamamu ya? Jaga mereka se-"
Tit tit tit.......
Belum sampai Sonny menyelesaikan permintaannya kepada David, waktunya telah lebih dulu habis. Alat pendeteksi detak jantungnya telah berdecit nyaring dengan tanda lurus tanpa detakan getar sedikitipun. Tangan yang tadi masih bisa menggenggam erat istri dan anaknya itu kini sudah terkulai lemas tak bernyawa. Matanya menutup sempurna.
Nafas terakhirnya telah berhembus! Tunai sudah segala urusannya di dunia. Hari ini, Sonny Anderson tutup usia dengan meninggalkan seorang istri dan dua orang anaknya.
Ceklek
Dokter Sasa yang menangani papanya Deeva masuk dan memeriksa keadaannya. Dira masih terpaku dengan disangga berdiri oleh menantunya, Sherly. Masih ada sedikit harapan kalau-kalau suaminya bisa tertolong. Tapi tuhan berkata lain, dokter Sasa menggeleng kecil.
"Saya ikut berduka cita ya bu Dira." ucap dokter itu lembut mengelus punggung mamanya Deeva. Ia lalu mundur untuk memberikan ruang untuk istri dari almarhum pasiennya.
Satu tetesan air mata langsung meluncur bebas. Tangis Deeva sudah tak terbendung lagi. Gadis itu menggoyang-goyangkan tubuh sang papa karena masih belum terima.
"Papa bangun!!! Deeva ga bisa tanpa papa." rengek Deeva histeris, ia menangis sejadi-jadinya. Cinta pertamanya telah pergi jauh dan tak akan kembali. Bagaimana Deeva bertahan sementara pilar penyangganya telah tiada?
Deeva adalah anak kesayangan Sonny. Bahkan saking sayangnya, hingga di ujung hembusan nafas terakhir dari kehidupannya ini, hanya Deeva yang menjadi topik favoritnya. Putri kecilnya yang baru akan tumbuh dewasa tapi takdir tuhan sudah lebih dulu mengambilnya, bahkan sebelum Sonny bisa melihat putrinya menikah dengan lelaki yang ia cintai.
'Dan disinilah gue, gue yang sudah terikat dengan janji yang gue buat sendiri. Untuk Deeva!' batin Sammuel memantapkan keputusan yang ia buat pada mendiang papa Deeva sebelum nafas terakhirnya berhembus.
Sammuel berjalan memutari bangkar untuk menghentikan kegilaan tangis Deeva yang semakin tak terkendali.
"Dev cukup!!" pekik Sammuel menarik tubuh Deeva hingga kepalanya menabrak dada bidang Sammuel. Di dekapnya tubuh Deeva yang masih bergetar hebat karena tangis.
Deeva sesegukan, rasanya sangat hancur!
"Dev udah Dev! Ikhlasin, biarin papa lo pergi dengan tenang. Seenggaknya papa lo udah udah ga ngerasain sakit lagi kan? Lo bisa ngelewatin ini." ucap Sammuel lagi.
"Enggak! Gue ga bisa tanpa papa. Gue takut sendirian tanpa dia hiks." cicit Deeva terisak dalam pelukan Sammuel. Sammuel kemudian melepaskan pelukannya dan beralih menangkup kedua pipi Deeva dan menatapnya serius.
"Hey! Tatap mata gue!"
"Lo ga akan pernah sendirian. Gua akan selalu ada di sini, di samping lo, dan buar lo. Gue janji!" ucap Sammuel kembali membuat janji. Mata Deeva memerah dengan selingan isakan yang masih terasa kental.
Deeva menubruk tubuh tegap Sammuel. Mencari ketenangan untuk jiwanya yang jelas terguncang oleh kepergian papanya.
"Cinta pertama gue udah pergi ninggalin gue kak. Hiks hiks dunia ini jahat, gue takut." cicit Deeva memeluk erat tubuh atletis itu. Seolah ia ingin berlindung dari jahat kejamnya dunia.
"Kalo gitu izinin gue buat jadi cinta terakhir lo Dev! Gue akan pernah ninggalin lo, lo ga usah takut."
Deeva sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa menangis mengingat semua hal yang terjadi ini di dalam dekapan Sammuel..
'Gue bakal berusaha ngeyakinin diri gue buat percaya dan cinta sama lo Dev! Gue udah janji sama papa lo, dan gue ga akan mengingkari janji itu. Karena gue bukan pengecut!' batin Sammuel yakin tanpa ragu.
...****************...
"Gue anterin pulang nih?" tanya Vano. Qia mengangguk.
"Hm."
"Eh Qi."
"Hah?"
"Btw tadi lo ngelus-ngelus dada gue kan ya?" tanya Vano teringat hal yang tadi sempat membuatnya deg-deg an tapi bisa ia sembunyikan karena emosinya pada preman tadi juga cukup besar dan menguasai dirinya.
"Iya. Buat nenangin lo!"
"Kalo gitu sekarang gantian aja gimana?" tanya Vano lagi. Satu alis Qia terangkat.
"Maksudnya?"
"Ya gue elus-elus balik dada lo, biar lo juga tenang." celetuk Vano polos. Qia melotot dan menabok kepala Vano karena saking refleks dan saking kesalnya.
Plak
"Ngawur aje lu!!" pekik Qia menyilangkan tangannya di dada. Vano tertawa receh sambil mengusap kepalanya.
"Astagaaaa gue bercanda doang Qiaaaaa!! Baperan amat lu jadi cewek?!!"
"Baperan matamu!! Area sensitif nih, elu tuh jadi cowok ngawur aja tuh humornya." omel Qia sebal. Vano kemudian mengelus-elus lembut puncak kepala Qia.
"Maaf maaf cup cup cup, jokes dikit doang. Toh juga enggak gue lakuin tuh." elak Vano membela diri.
Drtt drtt
"Bunyi tuh!"
📞Gabby is calling.....
"Gabby." ucap Vano lirih. Qia mengendikkan bahu.
Vano : Halo Gab? Kenapa si lu nelpon mulu!!
Gabby : ......
Vano : Hah seriusan?!! Inallillahi-
Gabby : .......
Vano : Oke oke gue sama Qia langsung ke rumahnya sekarang.
Tut tut....
"Kenapa kak?" tanya Qia setelah Vano mematikan teleponnya. Ia heran topik bicara apa hingga membawa namanya juga?
"Bokapnya Deeva meninggal."
"Innalillahiwainalillahirajiun. Terus sekarang gimana? Dimana meninggalnya?"
"Rumah sakit, ini udah perjalanan pulang. Lo mau takziah kan?" tanya Vano memastikan terlebih dahulu. Qia mengangguk.
"Oke kalo gitu sekalian kita kesana sekarang. Anak-anak yang lain udah dikabarin sama Gabby." ucap Vano memutar balik arah kemudi karena rumah Deeva dan Qia berlawanan arah.
"Tapi baju gue?"
Vano menoleh dan melirik dress yang dipakai oleh Qia. Benar juga, tak mungkin ia memakai baju itu? Tapi tak memungkinkan juga untuk pulang lebih dulu karena ini sudah hampir jam 10 malam, bisa makin larut kalau mereka pulang dulu. Vano kemudian teringat sesuatu.
"Ada jaket gue di belakang, nanti lo pake aja. Dress lo kan udah panjang tuh yang bawah." ucap Vano membuat Qia mengangguk setuju.
"Oke."
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰