
"Oke, nilai tes kimia kalian sudah keluar dan hasilnya benar-benar memuaskan. Semuanya di atas sembilan puluh lima, bahkan Qianne... Kamu dapat nilai 100 sempurna! Saya takjub sekali dengan kemampuan kamu." ucap bu Kinan, guru kimia sekaligus guru pembimbing tim olimpiade kimia tahun ini.
"Qianne, dengan ini saya nyatakan kamu resmi masuk tim olimpiade kimia Airlangga ya! Selamat bergabung bersama Valdo dan Rino, saya harap kalian bertiga bisa bekerja sama dengan baik layaknya sebuah tim yang hebat." pungkas bu Kinan memutuskan.
Qia berhasil masuk tim kimia, bergabung bersama Valdo dan Rino yang juga sama-sama menguasai sains dibidang kimia.
Prok prok prok
Tepuk tangan hangat dari seluruh peserta seleksi sontak bergema menyambut keberhasilan Qia.
"Karena olimpiade akan diadakan kurang dari sepuluh hari lagi, maka bimbel kalian akan dimulai besok pagi ya! Kalian harus sudah berada di ruangan ini tiap jam delapan pagi sampai jam 1 siang, kecuali saat jam istirahat. Mengerti?" ucap bu Kinan intruksi.
Qia, Valdo dan Rino mengangguk serentak.
"Mengerti bu Kinan."
...****************...
Enam motor sport yang melaju beriringan itu melesat kencang membelah sepinya jalanan ibu kota saat ini. Maklum, ini adalah jam sibuk kantor dan sekolah jadi jalanan lumayan sepi.
Brum brum
Tak berjalan mulus! Keenamnya harus berhenti mendadak saat sebuah gerombolan geng motor lain, yang juga berseragam sekolah lain dari mereka menghadang jalan. Sekitar lebih dari sepuluh motor memenuhi jalan mereka.
Ckit
"Sial." umpat Vano geram. Rayhan lagi, Rayhan lagi!
"Buru-buru banget mau kemana sih geng lawak?" tanya Rayhan dengan nada mencemooh.
"Ck. Babi hutan lagi!" keluh Adam berdecak malas.
"Mau apa lo? Minggir! Gua lagi ga mau ribut." suruh Vano mengibaskan tangan. Bukannya ga mau ribut, tapi lebih ke tak ingin membuang waktu karena mereka pasti sudah di tunggu oleh tim basket yang lain.
"Dih lo takut kalah?"
"YAHAHHAAAAA ga salah lo Re? Vano mah menang terus kali dari elu! Elu tuh ga bosen-bosennya kalah mulu." ledek Adam tertawa dibarengi Bagas, Bintang dan Gabby.
"Ahahhahah."
Seperti biasa, Sammuel hanya akan terkekeh ganteng disaat yang lain tertawa heboh.
"Tapi perasaan ni orang tau mulu deh kita lagi dimana ya By." bisik Bintang pada Gabby yang duduk diatas jok motor disebelahnya.
"Kebetulan kali."
'Gua makin curiga sama Raja, apa mungkin dia mata-matanya ya? Ah gua harus cepet-cepet nyuruh Deeva lanjutin misi.' batin Gabby yang berbeda isi dengan jawabannya pada Bintang tadi.
"Atau mungkin ada yang cepu." tuduh Bintang to the point.
"Ssstt diem star!" omel Adam.
"Kalian-"
"Lo mau ribut sekarang? Yaudah ayo!" potong Vano turun dari motor. Sesuai kode dari Sammuel, bahwa geng BB dibawah pimpinan Rayhan tidak akan mau mengalah sebelum dibuat kalah.
...****************...
"Oke, kalo gitu gue duluan kak." pungkas Qia saat mereka berada dipersimpangan tangga menuju lantai tiga, tempat kelas 12 berada.
Rino dan Valdo mengangguk bersamaan.
"Besok jangan lupa jam delapan di lab kimia btw." pesan Rino yang langsung diangguki mengerti oleh Qia.
"Iya kak."
"Gue duluan ya-"
"Eh Qi!" panggil Valdo tiba-tiba. Qia menoleh dengan satu alis terangkat.
"Kenapa?"
"Thank ya buat semalem." ucap Valdo tersenyum tulus. Qia mengeryit, selain sering lemot ia juga pelupa.
"Hah?"
"Emang lu berdua ngapain semalem?" tanya Rino kepo.
"Yang semalem di jalan-"
"Oh itu, iya santai aja kali. Gue duluan ya? Bye." pamit Qia langsung kabur. Takut kalau Valdo salah faham tentang perhatiannya semalam.
...****************...
"Lain kali kesampingin dulu permusuhan kalian! Hampir aja kita semua kena diskualifikasi gara-gara kalian telat." omel pak Abi menatap keenam anak muridnya bergantian.
"Saya maupun pihak sekolah ga akan ambil pusing kalo kalian adalah anak motor, karena itu hobi kalian! Tapi kalian juga harus bisa membuat pihak sekolah yakin kalau hobi kalian ini tidak akan mengganggu apapun." tuturnya lagi.
Keenam pentolan Airlangga hanya manggut-manggut tanpa bersuara. Bahkan Adam dan Bintang yang biasanya banyak bicara juga ikut diam seribu bahasa saat ini. Mood dan emosi mereka semua sedang labil saat ini. Bukan karena dimarahi pak Abi, tapi karena BB.
Bagaimana tidak? BB hampir membuat happy virus Ghosterion tak selamat tadi. Pertama BB membuat mereka hampir kehilangan Adam, dan yang kedua karena BB lah mereka hampir saja telat datang di SMA Merpati 1. Untung saja pertandingan tetap dapat dimenangkan meskipun fisik mereka sudah sangat lelah sebelum masuk lapangan, bahkan mereka punya beberapa luka lebam di wajah dan tangan.
"Di pertandingan selanjutnya, saya tidak mau hal-hal seburuk ini menjadi alasan lagi! Kalian selesaikan masalah kalian baik-baik, jangan membahayakan diri sendiri. PAHAM?!!" tegas pak Abi penuh penekanan.
"PAHAM PAK!!" bukan hanya yang diomeli, tapi Jonathan, Aldi dan Mario juga ikut meyakinkan gurunya yang sedang naik pitam itu.
"Ya sudah, saya harus kembali ke sekolah dulu bersama Jonathan, Aldi dan Mario. Kalian berenam bisa langsung pulang, obati luka kalian di rumah!" suruh pak Abi mempersilahkan Vano dan kawan-kawan untuk tidak perlu kembali ke sekolah meskipun jam masih menunjukan pukul 11.
"Iya pak."
...****************...
"Jadi lo masuk tim Kimia Qi?" tanya Ratu antusias, Qia mengangguk enteng sambil pandangannya fokus pada handphone di tangan.
"Sama siapa?" sahut Manda.
"Gua tebak pasti ada kak Valdonya kan?" celetuk Deeva sok tau. Qia melirik Deeva dengan satu alis terangkat.
"Dih cem-ceman mana lo Dev?"
"Hah? Maksudnya?"
"Ga jadi deng."
"Bener kan ada kak Valdo di tim lo?"
"Iye...."
"Btw lo tau-"
"Ck ck ck Qianneku sayang.... Gue kan pernah deket sama kak Valdo dulu, gue tau tuh anak otaknya encer banget apalagi di sains kimia. Makanya gue tau! Semua manusia yang bernafas disini juga pasti tau." jawab Deeva nyerocos panjang lebar.
"Dih sorry, gua ga tau tuh." sela Manda menggeleng.
Plak
"Sialan lo buaya!"
"Ahahhahah."
"Heh lo mau kemana?" tanya Ratu mencekal lengan Qia.
"Tau tuh, baru juga duduk. Udah mau cabut lagi!"
"Kak Vano kan lagi di SMA Merpati Qi, mau modusin siapa lo hah?"
"Dih? Siapa juga yang mau modus! Gua kebetelet njir."
"Yang bener kebelet ga si?"
"Nah itu maksudnya!"
"Nah ita nah itu, lu ngomong ngang ngeng ngong mulu lu!"
"Ya kan lu tau lidah gua kadang belibet anj-"
"SELAMAT SIANG ANAK-ANAK!" potong suara bu Kinan memasuki kelas. Jam keenam memang adalah jam Kimia di kelas ini.
"Tuhkan keburu bukim dateng!" omel Qia tetap ngeyel melanjutkan langkahnya setelah melepaskan tangan Ratu dari lengannya.
"Gue temenin deh."
"Ga usah. Gue bukan bocil!"
"Emang keras kepala tu anak." gerutu Ratu kemudian mengeluarkan buku kimianya setelah Qia izin keluar kelas pada bu Kinan.
Drtt drtt
📩DM from @rajendra.aditiante
"Buset gercep juga ni cowok satu." decak Deeva geleng-geleng kepala. Manda yang sedang mencari bolpoinnya di bawah kolong meja pun menoleh.
"Siapa Dep?"
"Ini cowo buta yang kemarin nabrak gue."
"Jangan bilang lo mau-"
"Nggak bakalan! 'Tenang aja Man, gua sekarang udah aman. Gua udah fix milih kak Sammuel yang dingin dan pemberani!" potong Deeva nyerocos panjang lebar.
"Halah lo bent-"
"DEEVA AMANDA!!!"
"M-maaf bu." cicit keduanya saat disemprot oleh bu Kinan karena terlalu berisik.
...****************...
Bukan Ghosterion namanya kalau mudah diatur. Bukannya pulang ke rumah masing-masing, mereka malah memilih untuk ke markas terlebih dahulu. Lebam diwajah mereka harus diobati sebelum pulang ke rumah atau kalau tidak, akan ada singa betina yang mengamuk dirumah mereka.
Maklum. Mereka ini anak motor yang sangar dimata sesama anak motor, tapi mereka hanya seorang anak cupu di depan orang tua mereka.
"Pokoknya kita harus balas mereka Van!" ucap Sammuel mengepalkan tangannya kuat. Cowok super cool ini memang selalu menjadi yang paling tidak terima ketika temannya diganggu. Atau lebih singkatnya, Sammuel akan selalu menjadi garda terdepan bagi orang-orang di sekitarnya.
Meskipun Sammuel sering memaki Adam karena terlalu berisik, tapi ia juga tak akan tinggal diam membiarkan sesuatu hal buruk terjadi pada 'bocah jangkrik' kesayangannya itu.
"Mereka udah ga bisa didiemin." lanjutnya lagi. Kepalan tangannya semakin menguat bersama dengan rahang yang mengeras, bahkan otot wajahnya terlihat samar-samar karena menahan emosi sejak tadi.
"Sabar dulu Sam." sahut Vano. Tidak ada yang berani menjawab emosi Sammuel selain Vano sendiri. Bahkan yang paling tengil dan berisik pun akan diam saat Sammuel mengeluarkan aura panasnya.
"Sabar apalagi? Kurang sabar apa gue selama ini ngebiarin Rehan ngelakuin apapun yang dia mau ke kita semua hah?! Dia hampir nusuk Adam Van, HAMPIR NUSUK!! Emang lo ga liat tadi?" sentaknya.
Vano menghela nafas panjang, sebenarnya ia juga ingin marah karena tindakan nekat Rayhan tadi. Tapi sebagai leader, ia tak boleh membuat situasi semakin buruk apalagi Sammuel sudah berada di puncak tertinggi kemarahannya.
"Gue tau, tapi kita ga boleh gega-"
"Bac*t. Gua cabut!!" pungkasnya pergi meninggalkan kelima temannya yang masih tak bergeming di atas sofa markas.
Hanya bola mata mereka yang berani merespond emosi Sammuel. Pandangan mereka tak luput mengikuti arah punggung Sammuel yang kemudian menghilang dibalik tembok.
"Biar gue yang ngomong sama dia pak." usul Adam hendak berdiri. Vano menggeleng sambil menahan lengan Adam agar kembali duduk.
"Sam lagi emosi, pikirannya panas, suasana hatinya juga ga baik, biarin dulu. Kasih dia waktu buat sendiri."
"Oke...."
"Tapi lu beneran ga kenapa-napa kan Dam?" tanya Bagas meraba seluruh badan Adam, memastikan kalau tidak ada cidera parah padanya.
"Ga papa, hampir kesenggol doang. Untung aja Vano cepet-cepet nendang Rehan tadi." jawab Adam tersenyum tipis, ingin menghilangkan kekhawatiran teman-temannya yang lain.
"Huffttt syukur deh, soalnya gue ngeri kalo lu mati. Gua kan takut setan anj*ng!" ucap Bagas lega. Adam melongo, sementara yang lain memutar bola mata jengah.
Emang susah merubah jiwa humor ke serius kan?
"Sialan congor lo!"
"Ahahaha biar rilex brodi."
...****************...
"I maybe not yours and you not mine....
but i'll be there for you when you need me
it is only me-"
Brak
"Eh anj- astaghfirullah.... Siapa sih yang banting-banting pintu! Ngagetin jantung mungil gue aja." gerutu Qia kesal. Ia mempercepat proses cuci tangannya dan segera keluar dari toilet, ingin mencari tau siapa orang yang telah merusak mood menyanyinya.
Cklek
Qia menekan gagang pintu, tapi ia hanya sebatas mengintip siapa orang dibalik pintunya. Dan apa ini? Kebetulan macam apa yang mempertemukannya dengan sosok laki-laki yang di stalk oleh Deeva atas perintah Gabby.
"Itu Rajendra kan?" lirih Qia bermonolog.
"Oh ya? Ah elu sih bos! Harusnya jangan sampe meleset, biarin aja mereka mati satu AHAHAHAHAH." tawa sarkas Raja membuat bulu kuduk Qia meremang. Qia adalah tipikal orang yang sangar perasa, ia tau betul kalau hal yang ditertawakan oleh Raja adalah hal buruk bagi orang lain.
"Kan biar kita makin gampang ngadu domba mereka." ucapnya lagi.
"Yaudah gua masih di sekolah, nanti gue ke markas lo!" pungkas Raja sebelum mengakhiri telefon. Qia manggut-manggut mengerti, kini kecurigaannya atas keterkaitan Raja dengan BB gang semakin kuat.
"Gue harus pastiin sendiri kalo Raja emang dalang penghianat disini atau bukan. Feeling gue bilang kalo dia itu sebenernya anak BB yang pengen masuk ke Oster untuk sesuatu hal yang buruk." lirih Qia bergegas menyusul langkah panjang Raja yang pergi menjauh.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK😍😍