
"Pssstt Gas Bagas!!" panggil Adam berdesis pelan karena bu Yuyun masih stay mengajar di depan kelas.
"Apaan?" sahut Bagas ikut berbisik.
"Kita ga bolos apa? Bosen nih gue dari tadi pagi diem mulu di kelas." tanya Adam. Bagas menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Sammuel dan Vano yang tampak anteng dan diam di pelajaran BK kali ini.
Kemudian Bagas kembali menatap Adam dengan gelengan kepala.
"Enggak dulu keknya, tuh anak berdua aja anteng banget."
"Yaelah."
"Lagian juga Bintang Gabby pasti belum keluar kelas, nanti biar barengan."
"Lama njir."
Vano hanya bisa memutar bola matanya jengah menonton keributan unfaedah di depan matanya itu.
Drrtt drtt
Handphone di laci meja Vano berdering, cowok itu buru-buru melihat notice masuk itu. Rupanya dari Bintang.
📩Bintang
Mending lo ke kantin skrg pak.
Daripada cewek lu disamber orang hayo?
"Maksud?" tanya Vano mengeryit aneh.
📤DevanoEthan
Maksudnya apaan?
Lo udah dikantin sm Gabby?
📩Bintang
📷(mengirim foto)
Udah dari tadi sm Gabby, nontonin ketos modusin Qia.
Read.
"Maderfaker!! Sialan si Valdo." gerutu Vano refleks mengumpat. Bagas dan Adam menoleh bersamaan ke belakang, bahkan si patung es bernama Sammuel pun sampai ikut menoleh ke arah cowok berambut hitam pekat itu.
"Kenapa lo?"
"Mau ngamanin posisi gue." jawab Vano singkat lalu berdiri dan pergi begitu saja.
"Bu, saya izin ke toilet." ucap Vano sebelum melewati guru muda itu. Bu Yuyun hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Bu, saya izin ke toilet." ucap Vano sebelum melewati guru muda itu. Bu Yuyun hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Mau kemana sih tu anak? Aneh banget." tanya Bagas mengeryit bingung.
"Ngang ngeng ngong tiba-tiba langsung cabut aja." gerutu Bagas lagi.
"Sulit dimengerti, semoga harinya senin selalu." sahut Adam geleng-geleng.
"Kalau mau tau ikutin, ga usah berisik lu. Ganggu gue aja!" ketus Sammuel melepaskan satu airpodsnya.
Adam dan Bagas melongo.
"Pantesan aja lu anteng dari tadi, kuping lo aja kesumpetan gitu." ucap Adam menghela nafas malas.
"Bodoamat!" ketus Sammuel.
Drrt drtt
Baru saja tercipta hening, malah muncul kembali suara notice yang memecah keheningan diantara tiga manusia itu.
"Dari siapa Dam?"
"Vano, bentar gue baca dulu chatnya."
📩Bapak Oster
Gw ke kantin duluan nyet!
Ntar lo nyusul aja bertiga.
"Wuih ****** ni anak. Bisa-bisanya kita ditilap!" pekik Adam refleks.
"ADAM ADIAKSARA JANGAN BERISIK!!" omel suara halus tapi keras dari depan sana. Adam menatap bu Yuyun dengan cengiran khas tanpa dosanya.
"Ehehehe iya bu, maaf atuh." ucapnya, btw bu Yuyun memang asli orang sunda.
"Kenapa si Vano?"
"Nyelonong ke kantin dia." jawab Adam sambil mengetikkan balasan ke Vano.
📤Adam Adiaksara
Kok lo ga ngajak bangkeee
📩Bapak Oster
G ush bct!
Nyusul aja kalo mau ikut.
Ada Qia Ratu and the geng.
"Ada Ratu njir, ah modusin ahhhh." lirih Adam.
📤Adam Adiaksara
Ok gw otw.
Read.
"Di kantin ada Qia dan kawan-kawan Gas. Cabut yuk!!" ajak Adam menaik turunkan alis.
"Ayok lah! Gue mau ngelarin masalah sama Manda juga."
"Pak lo kudu ikut. Ayo!!" seru Adam beralih ke Sammuel di belakangnya. Tanpa babibu Adam langsung menarik paksa airpods yang nangkring cakep di telinga cowok beralis tebal itu.
"Ck. Ganggu mulu! Kenapa sih lo?" sungut Sammuel kesal. Satu hal yang paling ia benci adalah saat ada yang berani menganggunya saat mendengarkan musik, tapi bukan Adam namanya kalau ia tak suka menentang hukum alam.
"Ayo ke kantin, Vano nunggu."
"Ga ah. Nanti aja sekalian istirahat."
"Ck. Ah ga seru lu pak! Mageran amat sih kalo udah dengerin musik. Ga berjiwa sosial sama sekali, nolep lu!"
"Bodoamat." ketus Sammuel, si paling bodoamat.
"Lo ga lihat jam Dam? Mata lo ga liat hah?"
"Ya apa hubungannya sih, toh kita hampir tiap hari bolos. Biasa aja tuh ga usah lihat jam!"
"Masalahnya nangung banget. Tuh semenit lagi udah bel, tunggu bentar aja kenapa si. Gugup banget kek orang antri minyak!" omel Sammuel jengah. Adam dan Bagas auto menoleh ke dinding depan, tempat jam kelas bertenger.
Memang sudah menunjukkan jam 09.29, hanya satu menit saja menuju bel istirahat berbunyi.
"Lah iya jug-"
Ting tung
Time to break up!
Tepat saja sebelum Adam menyelesaikan jawabannya ke Sammuel, bel sekolah tanda istirahat berbunyi nyaring.
"Tuh denger!" ucap Sammuel langsung berdiri dari duduknya. Sementara bu Yuyun di depan juga sudah bersiap untuk pergi.
"Baik anak-anak, jam pelajaran saya sudah selesai. Sampai jumpa lagi minggu depan oke?"
"Siap Bu Cantik!!!"
...****************...
"Btw taruhan lo semalem apa aja Qi?" celetuk Bintang. Dari tadi hingga sekarang, cowok itu benar-benar tidak kehabisan akal dan topik untuk saling ngobrol. Contoh teman yang asik tapi juga ngeselin.
"Menurut gue, tipe orang kek Vano ga mungkin cuma ngajuin satu persyaratan doang." sahut Gabby.
Qia menghembuskan nafas pasrah.
"Satu lagi masih misteri."
"Maksudnya?" sahut semua orang kepo.
"Ga tau, kak Vano bilang dia bakal tagih janji itu sewaktu-waktu."
"Ahahha apes banget lu semalem."
"Namanya juga nasib, ga ada yang tau kapan apesnya. Tau gitu gue ga taruhan pake keberuntungannya abang gue!" keluh Qia masih merutuki kekalahan Raga semalam.
"Iya sih bisa-bisanya Raga kalah sama Vano. Padahal adeknya aja pernah ngalahin Vano hanya dengan satu tikungan doang." pekik Bintang auto heboh. Tawanya tergelak mengingat wajah cengoh Qia semalam saat Vano menagih janji taruhan mereka.
"Sib nasib buruk!!"
"Emang Qia pernah balapan sama kak Vano?"
Bintang mengangguk.
"Bentar Tang! Gue kurang percaya sama modelan kek lu, mending gue nanya Gabby aja." potong Manda sebelum Bintang angkat bicara tadi.
"Sialan! Padahal gue ga pernah boong." ucap Bintang sebal.
"Gab iya Gab?" tanya Manda menoleh ke sampingnya. Gabby kemudian juga menoleh bersama dengan anggukan kepalanya.
"Iya, pernah sekali waktu itu."
"Menang? Menang dari kak Vano? Busettt itu cowok bisa dikalahin juga ternyata ya/"
"Iya Mandaaaaaa, buset lu cerewet banget elah. Untung aja kupingnya Bagas tebel, jadi betah kan dia." cicit Gabby geleng-geleng.
"Woaahhhh!!!"
"Kenalin ni bos, sepupu gue... Qia si anak racing!!" pekik Ratu menarik tangan Qia ke atas hingga menghantuk kepala Bintang yang banyak dosa. Eh yang tidak berdosa!
Dugh
"Aduh anjrit!" cicit Bintang.
"Ratu apaan sih lu, diliatin orang noh!" omel Qia menarik tangannya kembali.
"Gitu doang sepupu lu?" sahut Deeva nantang. Ratu mengangguk bangga.
"Nih kenalin juga bestie gue, Manda si bucin langganan gamon." ucap Deeva menunjuk Manda yang duduk disebelah Gabby tadi. Gabby refleks menahan tawa.
"Pffftt."
"Lah kok jadi gua?" tanya Manda polos.
"Yang kerjaannya putus nyambung siapa kalo bukan lo?" tanya Deeva balik.
"Yang bener mah Ratu si anak gamon." tak mau diroasting sendirian, Manda malah menarik-narik nama Ratu.
"Ujung-ujungnya gue juga yang kena." keluh Ratu.
"Terus Deeva apaan? Si anak buaya gitu?" celetuk Qia nyamber. Tawalah yang pertama kali jadi respond untuk pertanyaan Qia barusan.
"Ahahahha."
"Setuju gue setuju ahahahha."
"Gue anak gunung, pecinta alam bukan pecinta buaya!" ucap Ratu menyindir si buaya betina, Deeva.
"Gue anak bunda." celetuk Bintang ikut-ikutan.
"Gue anak kandung." sahut Gabby.
"Gue anak Indonesia." tambah Manda ngawur.
"Gue anak bokap nyokap aja." ucap Qia. Kini semua perhatian tertuju pada Deeva, menunggu sahutan dari cewek itu. Tapi seolah tak mempunyai urat kepekaan, Deeva malah asyik dengan jajannya sendiri.
"Deev lu anak apaan woi? Giliran lu yang nyeletuk." senggol Gabby pada Deeva yang masih saya asyik melahap kentang gorengnya. Oh ralat! Kentang goreng Qia.
Deeva manggut-manggut sambil menelan kentang goreng terakhir.
"Gue anak yatim." ucap Deeva enteng tanpa beban. Kelima orang disekelilingnya syok hingga tak bisa berkata-kata, haruskah mereka tertawa atau kasihan? Bingung.
"Anjir Deeva!!"
"Dark jokes yang sesungguhnya."
"Gelap banget woee!! Lampu mana lampu?"
"Tuh di atas, mata lo ga keliatan?" sahut Deeva yang dengan polosnya menarik rambut Manda dan menghadapkannya ke langit-langit kantin. Kepolosan Deeva is back.
"Bukan gitu maksudnya ege!" omel Manda menata kembali rambut belakangnya.
"Gini nih jadinya kalo otak buaya collab sama otak polos. Ngeselin!!"
"AHAHAHAH."
"Mana orangnya?" celetuk suara berat dari belakang kursi tempat Qia duduk bertiga bersama Bintang dan Ratu. Manda, Gabby dan Deeva sudah tau siapa orang itu tapi tiga yang lain belum, mereka menoleh bersamaan.
Vano.