DEVANO

DEVANO
97. Ide aneh Vano



"Kenapa sih lu? Tiba-tiba merengut gitu hah?"


"Ga papa." jawab Deeva menghela nafas. Ketiga sahabatnya hanya bisa saling pandang karena tak mengerti.


Drtt drtt


📩Geboy


Deev kesini dong lu, gw mau ngomong nih.


"Hah?" cicit Deeva menaikkan sebelah alis, sepersekian detik kemudian ia menoleh ke arah kirinya. Menatap aneh ke arah anak laki-laki berponi acak-acakan yang juga sedang menatapnya.


Gabby. Cowok itu sedang duduk di bangkunya bersama Bintang.


"What the hell?!!" pekik Deeva tak habis pikir. Apa Gabby sudah kehilangan separuh akal sehatnya? Kalau ia sendiri berada di kelas yang sama dengan Deeva, lalu untuk apa ia mengirim pesan wasap? Apa susahnya bicara langsung.


'Dia disini, dia yang butuh, tapi kenapa gue yang disuruh nyamperin dah?'


"LO GA PUNYA KAKI APA GIMANE GEBOYYY!!" teriak Deeva mengeluarkan sisi toa nya. Gabby malah nyengir tak berdosa.


"Kenapa Deev?" Ratu mengeryit heran.


"Tuh si Geboy ngechat nyuruh gue nyamperin dia, padahal jarak deket njir." jawab Deeva menggerutu. Ratu auto nengok ke Gabby.


"Sono sini doang lo pake wasap Gab?" tanya Ratu geleng-geleng. Gabby mengangguk santai.


"Mager."


"Emang anak ajaib lo!"


"Deev buruan kesini woi!! Ada yang mau gue omongin." panggil Gabby mengkode Deeva dengan tangannya.


"Ogah! Lo yang butuh, lo aja yang kesini." tolak Deeva mentah-mentah.


"Bantuin gue bakal gratis kesempatan mepet Sammuel. Yalin lo ga mau nih?"


"Shibal! Tau aja lo mana kesukaan sama kelemahan gue." gerutu Deeva yang auto nurut berjalan mendekati Gabby di bangkunya.


"Ketika buaya menemukan pawangnya." puji Qia geleng-geleng.


"Ketika toa menemukan muazin nya." tambah Ratu.


"Ketika si mager menemukan mesin 7993 cc." sahut Manda ikut terheran-heran.


...****************...


"Hoaammm bosen banget gue dikasih makan fisika mulu. Tau gitu gue milih ke kelas IPS aja dulu." keluh Adam menguap.


Bu Friska, guru fisika yang terkenal killer itu sedang mengajar di depan.


"Ada sosiologinya c*k, Makin ribet! Otak lo mana nyambung!" sahut Bagas menoleh ke cowok berambut makin acak-acakan karena terus menidurkan kepalanya di meja sejak bu Friska masuk tadi. Fisika memang musuh bebuyutan Adam sejak kelas sepuluh. Otaknya benar-benar mampet di satu pelajaran itu!


"Meskipun ga becus sosio, paling nggak kan ada geografinya woe. Jago tuh gue!"


"Lo bisa matpel geo? Sejak kapan?"


Adam mengangguk.


"Pelajaran yang bisa nentuin letak lokasi jodoh kan? Bisa banget gue. Udah ketemu malah, tuh ada di jalan anggrek perumahan anggara gang tiga nomor 7A blok C."


"Ck. Itu sih rumahnya Ratu!" ucap Bagas malas. Adam tertawa.


"Ya kan itu jodoh gue Gas."


"Sok tau lo!"


"Ahahaha."


"Dam psstt Dam!" panggil Vano menendangi kaki kursi Adam dari belakang. Adam menoleh, bersamaan dengan Bagas.


"Apaan?"


"Umpanin gue ke bu Friska." suruh Vano. Adam melongo, ngebug, ngelag, tak connect bercampur kaget.


"Hah? Gimana gimana?" tanya Adam sekali lagi. Vano berdecak.


"Gue ga bawa buku Dam, cepet cepuin gue ke bi Friska biar gue dihukum." jawab Vano memperjelas perintahnya tadi. Memang benar Vano tak membawa buku Fisika. Vano meminjam buku kosong dari Qia tadi. Jangankan buku fisika, tas saja Vano tidak bawa.


"Waterpak!! Serius lu Van?" tanya Adam lagi dan lagi. Vano sudah bersiap melayangkan tangannya ke kepala Adam, tapi tak jadi.


Sama halnya dengan Adam, Bagas dan Sammuel juga menatap heran ke arah cowok berambut hitam pekat itu.


"Ah bacot lo! Buruan... Gue lagi pengen dihukum hari ini." suruhnya tak sabaran.


"Ini anak aneh banget habis makan apa dah?" tanya Adam geleng-geleng.


"Semalem lo nginep di Qia, dikasih makan apa pak?" sahut Bagas.


"Dua." tambah Sam yang antara niat dan nggak niat salam membully Vano.


"Dikasih cinta. Buruan laporin gobl*k nanya mulu lu pada!!" omel Vano kebakaran jenggot.


"Aneh lu pak!"


"LOH VAN KOK ELO GA BAWA BUKU SIH WOEEEE?!!" teriak Adam menggema di seluruh penjuru kelas. Jangankan yang lain, Vano yang menyuruhnya saja sampai menutup telinga karena kaget.


"Buset."


"ADAM LO BERISIK WOY!!"


"TOA MULUT LU AH."


"NGAGETIN MULU PERASAAN!"


Teriakan Adam tentu saja mengundang anarki dari seluruh penghuni 12 MIPA 2. Yang dihujani protes hanya bisa nyengir.


'Nah sip, tunggu gue sama bu Friska di kelas lo Qi. Lo bakal dihukum bareng gue lagi hari ini.' batin Vano tersenyum miring. Kok ada orang yang kegirangan dihukum?


"Tuh bu, si Adam yang mulai." adu Dita. Bu Friska geleng-geleng.


"Adam kamu ini kenapa lagi hah?!" omel bu Friska pindah haluan ke sumber keributan tadi.


"Buk ini loh si Vano masa ga bawa buku sih buk? Liat aja nih, dia pake buku kosong doang." adu Adam yang mulai mengeluarkan bakat menghasutnya. Sengkuni mode on.


"Jangankan buku, tas aja ga bawa dia." tambah Bagas si tukang kompor.


"Ga niat sekolah dia." sahut Sammuel, si sekali nimbrung langsung skakmat.


"Lebih ke anak gobl*k bin tolol bin setress, ga waras dan ga ada otak sih dia." imbuh Adam tertawa puas meledek Vano, kapan lagi ia bisa mengejek Vano tanpa takut digeplak?


"Gue nyuruh cepuin doang nj*ng bukan ngatain gue!!" gerutu Vano malas.


"Nanggung Van, sekalian."


"Buy one, get one."


"Satu cepu gratis ejekan dan makian, haha."


"VANO MANA TAS DAN BUKU FISIKAMU HAH?!!" pekik bu Friska yang tiba-tiba sudah disamping meja Vano, tepat di belakang Adam.


"Bu Friska tenang dulu dong! Kuping saya nih.". cicit Vano mengelus telinganya.


"Tas sama bukumu mana hah?" ulang bu Friska menurunkan volume suaranya.


"Dibawa Qia bu." jawab Vano enteng. Adam dan Bagas auto saling tatap sedangkan Sammuel langsung melirik Vano heranx punya rencana apa lagi dia kali ini?


"Lah kok jadi Qia?" bisik Adam heran. Bagas mengendikkan bahu tak tau.


"Ga tau gue."


"Qia? Qianne Rollex itu?" tanya bu Friska mengingat nama Qia. Vano mengangguk.


"Iya. Qianne anak 11 ipa 5 tuh."


"Yang waktu itu pernah saya hukum bareng kamu itu?"


"Iya."


"Kalo gitu sekarang pergi ke kelasnya! Minta tas dan bukumu lalu kembali kemari." suruh bu Friska mundur satu langkah, maksudnya untuk memberi jalan Vano agar lewat.


'Gue kan pengennya dihukum berdua sama Qia, bukan modus sendirian ke kelasnya. Satu-satunya cara ya bu Friska harus ikut ke kelasnya Qia lah.' batin Vano berfikir bagaimana caranya agar bu Friska mengikutinya kesana.


"Saya sendirian aja bu?" tanya Vano.


"Ya. Memang mau ditemani siapa? Adam? Bagas? Atau Sammuel? Mau bolos atau ngambil buku kamu hm?"


"Kita-kita kena mulu perasaan!" keluh Bagas mendramatisir.


"Ini yakin saya sendiri nih?" tanya Vano sekali lagi. Ia mengedipkan sebelah matanya ke Adam sebagai kode, dan bagusnya Adam memahami arti kode itu.


"Iya Devan-"


"Emang ibu bisa percaya sama muka model begini bu? Bukannya balik kesini, malah dia nyantol di kelas Qia loh bu." kompor Adam. Vano menghembuskan nafas lega, Adam memahami kode matanya.


"Iya bu, dia pasti bakal bolos kalo dibiarin sendirian." tambah Bagas. Bu Friska manggut-manggut, benar juga!


"Kalo gitu akan saya temani kamu ke 11 ipa Vano! Kalau tidak kamu pasti akan bolos kan?" ucap bu Friska finally. Vano terkekeh, ada lega dalam hatinya.


"Nah itu tau."


"Kalian semua jangan berulah ya! Saya antar Vano ke 11 ipa dulu." ucap bu Friska sebelum pergi.


"Siap bu Fris!!"


Setelah itu keduanya pun pergi berjalan bersisian menuju kelas Qia. Lagi-lagi bu Friska selalu masuk jebakan batman yang dibuat oleh Vano and the geng. Emang gerombolan laknat!


"Vano Vano...."


"Apa bu kenapa?"


"Padahal kamu ini murid berprestasi, fisika sama matematikamu aja selalu dapat 100 sempurna, tapi ada aja ulahmu yang bikin saya dan guru-guru yang lain pusing tujuh keliling. Kalau aja kamu anaknya nurut dan ga suka bikin ulah, pasti kamu udah jadi paket komplit murid teladan Airlangga!" ucap bu Friska setengah curhat.


Vano mengulurkan tangan.


"Sini bu, saya pegangin kalo pusing."


"Astaga...."


"Ya kan buat bumbu kehidupan doang buk, biar masa sekolah saya itu seru. Ga melulu soal prestasi, hambar!!" ucap Vano santai dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celana.


"Lagian juga masa depan saya sudah terjamin meskipun saya nakal dan suka berulah." tambahnya lagi.


"Kok gitu?"


"Bapak saya kan kaya."


"Ya udah terserah kamu! Capek saya, nyerah saya ngomong sama kamu!!"


...****************...


"Anj- auuuuhhhh ashhshh." cicit Qia kelejotan berdiri dari kursinya.


"Kenapa lo?" tanya Ratu heran.


"Lidah gue kegigit anjrit." keluh Qia menunjuk sandwich dimejanya. Sandwich itu berasal dari Deeva, tapi si pemiliknya masih berada di meja Gabby dan Bintang.


"Itu artinya ada yang lagi ngomongin lo tau!" sahut Manda. Qia berdecak, lidahnya sakit sekarang.


"Mitos! Milenial masih aja percaya begituan."


"Yeee dikasih tau ga percayaan banget!"