
Brum brum brum
Brum brum
Sorak sorai penonton terdengar sangat antusias menunggu duo leader geng besar saling salip nanti. Vano dan Raga masih memainkan deru gas mereka di garis start.
"Huuuuuuuuu."
"COME ON MAN!!"
"KUY KUY KUY."
"AYO GAS GAS GAS!!!"
"Lah jadi gue? Kan gue ga ikut balap." tanya Bagas polos. Kubu Gosterion dan DS Boys berada di sisi jalan yang berbeda, alias berhadapan.
Sammuel yang berada tepat disebelah Bagas menghela nafas panjang.
"Motornya yang di gas tolol, bukan elo!" semprot Sammuel kesal. Bagas nyengir kuda.
"WUUUUU WUWUWUUUU ABANG HARUS MENANG!!!" teriak Qia heboh dari seberang jalan.
"Tumben lo antusias banget?" tanya Rizal heran.
"Ya iyalah kak. Soalnya gue taruhan sama Vano tuh. Bahaya kalo abang kalah nanti!" jawab Qia apa adanya. Rizal mengeryit.
"Emang apa barang taruhannya?"
"Elu." jawab Qia ngawur. Rizal melongo lemot. Qia pun melirik Rizal yang cengoh disampingnya, kemudian kembali membuka suara.
"Kalo dia menang nanti lo bakal jadi babunya Ghosterion, nah kalo abang yang menang, kak Vano yang bakal jadi babu di geng kita!" tambah Qia memperbesar kengawurannya tadi.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
"Apa?!! Serius lu? Sialan gue dijadiin sapi item!!" pekik Rizal sadar. Qia tertawa dengan angguk-anggukan kecil.
"Ahahahhaa kambing item kali kak." koreksi Qia.
"Parah amat lu cil!" keluh Rizal melas. Qia menepuk-nepuk pipi kakak sepupunya itu dengan gemoy.
Puk puk puk
"Becanda doang kak Izal... Yakali make elu jadi bahan taruhan? Gue taruhan individu doang kok." ucap Qia membuat Rizal bisa menghela nafas lega.
"Huh untung aja. Awas lu!"
Drtt drtt
Benda pipih hitam di saku jaket Qia berdering.
📞Rayhanesse is calling....
"Aduh. Pake nelpon sekarang lagi nih dia."
Brum brum bruuuummmmm
Segera setelah dua motor hitam melaju kencang membelah sepinya jalanan malam, Qia pun mundur dari tempat awalnya berada.
"Bahaya kalo kak Rizal cepu ke abang nanti, mending gue angkat teleponnya di belakang."
Qia : Halo Re?
Rayhan : Belok kiri terus jalan maju.
Qia : Hah?
Rayhan : Gue lagi di deket arena. Lo kesini bentar atau gue yang kesana?
'Kalo dia kesini nanti ketemu kak Rizal dong?' batin Qia.
Qia : Disebelah mana?
Rayhan : Samping toko kosong.
Qia : Oke, wait!
Rayhan : Ya.
Tut tut tut.....
"Sakalian gue tanyain soal tawuran waktu itu kali ya?" batin Qia berlalu pergi, sesekali ia menengok kebelakang untuk memastikan Rizal tidak menyadari kepergiannya.
Sementara tanpa Qia sadari, dari seberang jalan sana ada dua pasang mata sedang memperhatikan setiap gerak gerik langkahnya.
"Qia mau kemana diem-diem gitu?" tanya Gabby berbisik pada Sammuel di sampingnya.
"Ga tau, gue bukan bapaknya." jawab Sammuel cuek meski sebenarnya ia juga sama bertanya-tanya dengan Gabby.
"Aneh, dia kek ngehindarin Rizal deh pak." lanjut Gabby, Gabby memang kadang tak tau cara untuk berhenti meskipun lawan bicaranya sudah mengsavage nya. Atau lebih gampang disebut sebagai manusia ngeyel.
"Udah dibilangin ga tau juga masih aja diterusin!" omel Sammuel malas. Gabby berdecak.
"Paan si lu? GR! Gue cuma lagi ngomong sama pohon jambu nih." gerutu Gabby kesal. Tanpa menjawab, Sammuel lalu memutar pandangannya ke pohon yang tadi ditunjuk oleh Gabby.
"Setress lo!" sungut Sammuel. Tau apa masalahnya? Pohon disebelah Gabby bukanlah pohon jambu, tapi pohon beringin.
"Kita ikutin yuk Sam? Gue penasaran nih dia mau kemana. Ntar kalo calon bu bos kita kenapa-napa gimana?" ajak Gabby ngeyel. Sammuel memutar bola matanya malas, tangannya masih bersidekap dada dari awal.
"Ga usah ngepoin Qia! Yang mau pdkt kan si Vano, bukan elo!" ketus Sammuel.
"Ya kan ga papa kali kita back up selagi Vano nya sibuk balapan." bantah Gabby lagi. Sammuel menarik nafas, bersiap mengeluarkan amunisi pedasnya agar Gabby segera berhenti menganggunya.
"Lo kenapa si Gab? Emang lo mau pacaran bertiga sama Vano hah?!!"
Jleb
"Buset makjreng amat pak!!"
...****************...
"Ah Vano makin ganteng banget deh kalo naik motor kek gitu." cicit seorang perempuan dengan dress pendek berwarna merah menyala. Dua perempuan seumuran dengannya yang berdiri di kanan kirinya mengangguk setuju. Mereka bertiga tampak antusias menatap dua punggung lebar yang tengah melaju menjauh dengan motornya masing-masing.
"Setuju sih Sar, Vano emang ganteng banget kalo balapan gini. Lawannya Vano itu juga ga kalah ganteng, uh buat gue bisa kali ya? Daripada Bagas ga bisa direbut mulu dari dulu." sahut Dewi membenarkan dan berujung curhat.
"Iya noh ambil aja lawannya Vano itu! Bagas mulu lu kejar dari jaman PLS. Mana sampe sekarang ga dapet-dapet lagi ah." sahut Sarah setuju.
"Kalo menurut gue si, Vano mau ngapain aja juga tetep cakep. Bangun tidur di kelas jamkos juga masih aja cakep tuh cowok!" sela Wulan senyum-senyum sendiri. Wulan memang suka melihat orang ganteng tanpa pandang bulu.
Sarah si ketua geng menonyor kepala Wulan.
"Jangan kelewatan! Vano itu milik gue." ketus Sarah, Wulan nyengir sambil mengelus kepalanya.
"Eh eh itu bukannya Qia anak baru itu ya?" pekik Wulan heboh. Dewi
"Lah iya tuh Sar! Ngapain dia jalan ke lorong sepi sama gelap kek gitu?.
"Atau jangan-jangan dia mau....."
Dewi, Sarah dan Wulan saling pandang dengan senyum penuh curiga kesenangan. Lalu sama-sama saling mengangguk.
"Kita ikutin aja yuk?" ajak Dewi, si kompor.
"Gue takut gelap njir." elak Wulan hendak menolak.
"Ga ada takut-takutan Lan. Gue setuju sama Dewi, kita ikutin si cewek songong itu!" sembur Sarah menarik tangan Wulan.
"T-tapi Sar...."
"Ga ada tapi-tapian!! Siapa tau kita bisa nemuin sesuatu yang bisa bikin Vano ilfeel sama dia." kekeuh Sarah.
...****************...
"Mana si dia? Ini udah bener kok ada toko kosong. Anaknya mana coba?" tanya Qia bermonolog, ia mendongak untuk memastikan kalau bangunan tua yang ada didepannya ini adalah bekas kios toko yang telah kosong.
Pssstt pssttt
Qia menoleh ke belakang, tepat sekali saat itu juga seorang lelaki beralis tebal menatapnya.
"Aaaaaa mmmphh-" jerit Qia terkejut.
"Ssssttt berisik heh!" omel Rayhan menyumpal mulut Qia dengan telapak tangannya.
Setelah menyadari apa yang terjadi, Qia langsung menyingkirkan tangan kekar itu dengan cemberut.
"Ishh lo ngagetin anjir!" omel Qia. Rayhan terkekeh.
"Ya sorry, mana gue tau kalo lo bakal sekaget ini." elak Rayhan membela diri. Qia mendengus.
"Ya udah langsung to the point aja lo ada apaan nyuruh gue kesini?" tanya Qia to the point.
"Ck. Gugup banget kenapa si?"
"Males basa-basi."
"Lo masih marah sama gue?" tanya Rayhan peka. Qia langsung spontan menatap sepasang bola mata hitam pekat dihadapannya.
"Iya? Masih marah soal tawuran waktu itu?" tanya Rayhan lagi. Qia melengos berusaha mengabaikan amarahnya yang tiba-tiba ingin meledak saat Rayhan mengingatnya tentang hal itu.
'Ga bakal ada habisnya kalo gue bahas sekarang, toh masalahnya udah berlalu juga. Ga ada gunanya juga nasehatin Rayhan buat damai sama Ghosterion, mereka emang udah terlahir untuk saling musuh kan?' batin Qia bermonolog.
"Qi!" panggil Rayhan menyentuh pundak Qia. Qia terhenyak lalu menggeleng.
"Enggak. Lupain aja soal tawuran! Apa yang mau lo omongin?"
"Gue mau confess." jawab Rayhan to the point.
'Sial. Confess lagi confess lagi! Gue benci harus ngerasa ga enak karena nolak dia, tapi gue juga ga mungkin nerima dia dengan harus ngebohongin hati gue sendiri. Argh tau gini gue tetep nonton balap aja deh.' gerutu Qia merutuki kebodohannya.
"Confess?" tanya Qia sok polos. Padahal ia sudah mengerti apa maksud Rayhan karena cowok itu sudah beberapa kali menyatakan perasaannya pada Qia meski selalu tertolak.
"Iya. Sekali lagi untuk kesekian kalinya gue mau lo tau kalau gue bener-bener sayang dan cinta sama lo Qi!"
"Gue tau lo udah tau perasaan gue selama ini, tapi lo masih ga ngizinin gue buat tau gimana perasaan lo ke gue?"
"Lo ga pernah ngizinin gue buat masuk lebih jauh."
Deg.
'Duh duh aduh tolol Qia tolol!! Kejebak lagi kan lu? Bingung kan lu gimana caranya nolak sahabat sendiri hah?!'
"Mmm...."
Rayhan meraih jemari tangan Qia, mengelus punggung tangan putih yang hampir tenggelam dibalik lengan jaket hitam yang kebesaran untuk ukuran tubuhnya.
"Gue mau. Gue pengen lo jadi pacar gue Qi!"
"Lo mau kan?" tanya Rayhan menatap mata Qia dalam-dalam. Qia menelan salivanya sendiri sambil merutuki kebodohan besarnya ini.
Cup
Rayhan mencium punggung tangan Qia dengan tiba-tiba. Qia kaget bukan main, ia gelagapan bukan main.
'Ah kalo aja ga gue temuin pasti gue ga bakal kebingungan kayak gini nih.' batin Qia.
......................
Ckrek
Satu jepretan foto berhasil diambil oleh satu dari tiga orang perempuan yang mengintip mereka dibalik semak pepohonan tak jauh dari tempat Qia dan Rayhan berdiri.
"Nah kena lo sekarang bit*h!!" maki Sarah tersenyum puas. Dewi dan Wulan bertos ria.
"Gue yakin kalo Vano bakal ilfeel sama lo habis ini!"
"Vano ga bakal deket-deket lagi sih pasti." tambah Dewi.
"Udah puas kan lo pada? Sekarang ayo pergi weh. Gue takut nih gelap-gelapan kek gini!!" rengek Wulan. Dewi memutar bola matanya malas.
"Penakut!"
"Yaudah ayo, bentar lagi juga balapannya pasti selesai. Gue mau liat ayang Vano masuk finish!" ajak Sarah kemudian mereka bertiga pun pergi dari semak pengintaian.
......................
"Kenapa lo harus kek gini sih Re?" tanya Qia menghela nafas pasrah, ia sudah kehabisan akal untuk menghadapi perasaan lelaki didepannya ini.
Sudah berulang-ulang kali Qia mengatakan kalau ia hanya menyayangi Rayhan sebagai teman dan seorang kakak, sebagaimana perasaan Qia kepada Devan DS Boys. Tapi mengapa Rayhan seolah selalu mengartikan perhatian dan sayang Qia dengan berlebihan?
Ternyata memang benar, segala hal yang berlebihan itu tidak baik. Kecuali uang!
"Gini gimana? Cinta sama lo? Emang sesalah itu ya perasaan gue? Gue juga ga pernah nyangka kalo gue bakal jatuh cinta sama temen gue sendiri."
"Tapi kenapa dari sekian banyak temen cewek lo, kenapa harus selalu gue?"
"Karena lo berbeda dan lo spesial Qi. Gue ga pernah bisa nemuin cewek sebaik dan sesempurna lo!"
"Tapi ga ada yang spesial dari gue Re, bahkan buat jatuh cinta sama lo aja gue ga kepikiran. Sorry banget, tapi gue sayang sama lo cuma sebagai temen deket doang." tolak Qia sehalus mungkin. Ia tak mau menyakiti perasaan Rayhan.
"Please! Kali ini aja, kasih gue kesempatan ya? Gue bener-bener pengen memulai hubungan serius sama lu."
'Duh gimana ya? Mana deruman motor udah mulai kedengeran lagi tuh, keburu abang sama kak Rizal nyadar kalo gue pergi dong?' batin Qia cemas.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA GUYS🥰🥰
Komen yang banyak kek woi biar author semangat nih buat double up besok!!