
"AYANG VANOOOOO!!!" pekik Sarah heboh menyambut kedatangan Vano di teras rumahnya. Vano yang baru saja melepas helmnya tampak menghela nafas panjang dengan lamunan.
"Dosa apa gue dapet takdir seburuk ini." lirihnya menggerutu namun tetap melangkah memasuki teras, demi masa depannya dengan Qia. Catat, hanya demi Qia!
"Ayo ih buruan masuk!! Malah ngelamun di sini." ucap Sarah menarik lengan Vano agar segera turun dari motor.
"Ck. Sabar!" keluh Vano malas.
"Rumah lo sepi banget? Ini rumah orang atau kuburan?" tanya Vano saat mereka memasuki ruang tamu Sarah.
"Papa lagi ke luar kota, mama gue arisan sama temen-temennya." jawab Sarah santai. Vano mengeryit aneh.
"Jam segini masih keluyuran arisan? Buset ternyata masih mending nyokap gue yang sering lupa pulang karena operasi." lirih Vano.
"Kenapa Van?"
"Ga papa, kita langsung mulai aja belajarnya." pungkas Vano tak ingin mengulur waktu. Setelah beberapa waktu fokus dengan materi bisnis dan perusahaan, Sarah mengajukan sebuah pertanyaan di luar kotak.
"Tadi sore lo ga di rumah, jalan sama siapa?" tanyanya. Vano melirik tanpa minat.
"Kepo."
"Ck. Gue dikasih tau papa lo pas gue nelfon, lo lagi di Quqi cafe kan? Sama siapa? Tinggal jawab doang pelit banget." gerutu Sarah sebal.
"Berdua sama Qia, eh?!!" cicit Vano teringat sesuatu. Niatnya ingin mengompori Sarah agar segera diam, tapi ia malah merasa bersalah dengan Qia yang mungkin sedang menunggunya malam ini.
'Mamp*s! Gue lupa belum ngabarin dia dari tadi.' batin Vano menepuk jidatnya kasar.
"Kenapa Van?" tanya Sarah heran melihat Vano yang tampak kebingungan.
"Gue belum ngabarin Qia." jawab Vano membuat Sarah memutar bola matanya malas. Namun segera melahirkan ide cemerlang di otaknya.
'*Aha, gue komporin lagi l*o sialan.' batin Sarah yang diam-diam segera meraih handphone yang mulanya tergeletak di atas meja. Mengambil gambar Vano yang sedang sibuk mencari handphonenya di saku jaket yang ia lepas tadi. Dengan background tembok putih berhiaskan pigura foto Sarah dan keluarganya di belakang sana.
Cekrek - Send to Qia.
"Ini bakalan jadi malam yang panas banget buat lo cewek sialan." lirih Sarah tersenyum miring. Angel foto yang tampak sempurna untuk mengompori seseorang.
"Ngapa lo senyum-senyum sendiri?" tanya Vano mengeryit heran. Sarah terkekeh kecil dengan gelengan.
"Enggak papa, eum handphone lo udah ketemu?" tanya Sarah mengalihkan. Vano menggeleng pasrah.
"Keknya gua lupa bawa deh, seinget gua tadi gua charger di kamar." jawab Vano menggaruk kepalanya frustasi. Sudah terbayang di pelupuk matanya tentang bagaimana amukan Qia akan menerjang mentalnya besok karena ia tak jadi mengajaknya pergi jalan-jalan dan lupa pula tak mengabarinya. Double kill!!
"Pas banget dia ga bawa handphone, jadi ga bisa ngabarin Qia. Keknya alam emang lagi berpihak ke gue deh." lirih Sarah tersenyum licik penuh kemenangan.
"Terus gimana Van?" tanya Sarah basa-basi.
"Ck. Pake nanya lagi lo! Ya lanjut belajar lah, buruan selesain semua yang mau lo tanyain. Gue mau buru-buru cabut ke rumah Qia." sungut Vano.
"Iya, sabar dong!"
...****************...
"Rumah lo ga pindah kan?" tanya Raja sebelum ia berdiri dari duduknya di kursi yang berhadapan langsung dengan Deeva. Deeva yang setengah lugu pun menggeleng.
"Enggak, kenapa?"
"Ga papa, ya udah gue duluan ya? Sorry banget ga bisa nganterin lo pulang hari ini. Gue ada perlu sama bokap." ucap Raja tersenyum manis. Deeva mengangguk dengan raut wajah memelas, padahal dalam hatinya ia malah bersyukur karena Raja tak perlu mengantarnya pulang malam ini.
"Iya ga papa, lo take care ya!"
"Iya cantik." jawab Raja mengelus puncak kepala Deeva, Deeva terhenyak kaget tapi sudah terlanjur.
Setelah Raja pergi, Deeva menoleh ke ujung belakang cafe. Memberi satu tatapan tajam pada seorang laki-laki yang kini berjalan tergesa ke arahnya.
"Dapet apa Dev?" tanya Gabby antusias. Deeva mengambil tas mungilnya di meja lalu berjalan keluar cafe, di ikuti oleh Gabby di sebelahnya.
"Si anjir ditanyain malah-"
"Dapet angin doang Geboy!!" omel Deeva mengeluh.
"Kok?"
"Tuh anak pinter banget ngalihin topik. Tiap gue mau nyoba masuk ke ranah geng motor, dia pasti selalu bisa ngelak sama sok baik-baikin Ghosterion."
"Oke, besok kita coba la-"
"Ga ada ah nggak.... Nggak berani gue Geb."
"Ah ilah apaan lu tiba-tiba mundur?"
"Gue takut Sammuel tau."
"Tapi kenyataannya dia ga tau kan?"
"Ini tuh belum tau, bukannya nggak tau!"
...****************...
Drtt drtt
Drtt drtt
Drtt drtt
Suara dering hp bersahutan di antero ruangan bernuansa motor malam ini. Semua handphone yang tersambung dengan wifi di markas Ghosterion itu berdering bersamaan, tanda bahwa ada seseorang yang mengirim pesan di grup motor dibawah pimpinan Vano dan Gabby itu.
[Putra send a photo]
📷@Sammuel cewek lo bang?
"Sejak kapan manusia macam Sammuel punya pacar?" tanya Roni polos. Roni bukan siswa dari Airlangga, jadi ia tak terlalu tau segala hal tentang Sammuel yang hanya ia kenal sebagai temannya di Ghosterion.
Adam menyenggol lengan Roni.
"Dia emang ga punya pacar, tapi dia udah punya jodoh cok!"
"Masa?"
"Iya, itu Deeva namanya. Tapi lo diem aja! Keknya Sammuel belum buka wasap dan dia belum tau foto itu, jangan kasih tau dia atau culanya bakal keluar." peringat Adam serius, Roni mengangguk nurut. Mereka berdua sedang bersama-sama melihat ke arah Sammuel yang tidur di atas sofa yang berhadapan dengan kursi mereka.
"Deeva ini selingkuh gitu maksudnya?" bisik Roni. Adam mengendikkan bahu tak tau.
"Gue ga tau juga sih, tapi dulunya emang dia doyan pelihara buaya. Pokoknya yang penting lo diem aja jangan ngasih tau Sam-"
"SAMMUEL WOY PATUNG MANEKIN BANGUN LO!!!" teriak Bagas yang baru datang tapi langsung heboh.
Sammuel terbangun seketika, matanya memerah karena kesal dibangunkan secara tidak baik seperti ini.
"Lo mau gua cekek hah?!!" teriak Sammuel marah. Bagas bergidik namun setelahnya segera menunjukan layar handphonenya, foto seorang gadis yang mengenakan dress pendek selutut yang sedang duduk berduaan di sebuah cafe bergaya eropa outdoor.
Wajah laki-laki di foto itu memang tidak jelas, tapi wajah gadis itu tampak sangat jelas bagi Sammuel. Dan poin paling pentingnya adalah mereka berpegangan tangan di foto itu.
Sammuel mengepalkan tangan penuh emosi. Matanya makin memerah perih karena melihat foto itu.
"Sial." umpat Sammuel yang refleks merebut paksa handphone Bagas dan membantingnya ke lantai.
Prang
Setelahnya, Sammuel bangkit dari sofa dan segera pergi begitu saja entah kemana. Tanpa rasa bersalah juga tentunya! Meninggalkan Bagas yang masih syok menatap nanar handphonenya yang terbanting dalam keadaan tengkurap, dalam sekejap ia menyesali perbuatannya tadi. Kenapa ia harus mengadu sih? Sial.
"Poor Bagas." ucap Roni geleng-geleng.
"Nasib gue kek muka lu Ron, sama-sama jelek."
"Gue tampan paripurna ya cok!"
"Lagian salah lo sendiri sih! Udah tau Sammuel paling ga suka diganggu pas tidur, elu tunjukin foto panas lagi tuh. RASAIN GAS RASAIN!!" tegur Adam mode lurus.
"Hm bener tuh. Adam baru aja nyuruh gue buat ga ember Gas sebelum lo dateng-dateng langsung cepu!" tambah Roni.
"Dahlah mau cuti aja gue jadi manusia. Salah mulu ngadepin orang."
"AHAHAHAH."
...****************...
"AAAAAAA DEKADAL LU BENER-BENER PARAH BANGET BANGKEE!!" teriak Qia ngamuk di atas kasur. Sprei dan bantalnya sampai berserakan tak karuan karena tingkahnya malam ini.
"Gua black list lu baru tau rasa!" gerutunya lagi. Sedari tadi ia hanya mondar-mandir di dalam menu aplikasi ijo hanya karena menunggu kabar dari Vano yang katanya ingin mengajaknya pergi malam ini.
Drtt drtt
Deringan notifikasi itu membuat Qia bersemangat membuka aplikasi ijo yang sedari tadi ia perhatikan.
"Semoga ini dari si kad-"
"Sarah? Ngirim foto apaan lagi ni anak." gerutunya berubah malas.
Sarah send a photo
"Sial. Pantesan aja lupa yang disini nunggu kabar, ternyata lagi ngurusin yang disono." gerutu Qia refleks melempar handphonenya ke tembok dan....
Prang
"Percuma gue nahan diri buat nyari tau keadaannya Rayhan demi ngejaga perasaannya Vano, dianya malah asik-asikan sama Sarah. Jangankan nepatin janji buat jalan-jalan? Ngabarin aja enggak."
"Emang salah gue jatuh cinta segala." cicit Qia mengusap air mata yang menetes begitu saja di pipi kirinya. Qia mengusap air matanya kasar, lalu beranjak bangkit dari kasurnya menuju lemari pakaian. Mengambil sebuah jaket denim, memakainya lalu keluar kamar tanpa memperdulikan nasib handphonenya yang mungkin saja pecah.
"Time to back in the past." ucap Qia.