DEVANO

DEVANO
52. Ada apa?



"Qi lo mau pulang bareng gue atau sama Vano?" tanya Rizal setelah acara meeting bareng antara DS Boys dan Ghosterion selesai dan di tutup.


"Emmmm sama kak Rizal aja deh." jawab Qia setelah menimang.


"Heh kan lo-"


"Sssttt cerewet! Bosen gua seharian sama elu mulu kak. Gua mau pulang sama kak Rizal aja, lagian juga rumah kita kan beda arah." sergah Qia memotong kalimat protes Vano.


"Emang yang paling bener tuh lo buruan bikin rumah bareng sih Van, biar bisa antar jemput terus haha." ledek Rizal.


"Bener juga Zal." sahut Vano refleks. Qia auto blushing karena terus-terusan di comblangkan dengan Vano karena jawaban ngawur bin ngelantur itu.


...****************...


"Huft..."


Ditengah keramaian yang terasa sangat sepi dan mati. Itulah gambaran posisi yang di rasakan oleh Sammuel saat ini. Cowok itu sedang duduk termenung sendirian di salah satu kursi kayu yang berada di sekitaran tepi taman kota. Ada banyak sekali hal yang mengganggu fikirannya. Deeva. Sial! Bahkan cewek periang cap buaya betina yang selalu di gadang-gadang menyukai dirinya pun ikut masuk memehuni ruang berfikirnya.


"Pusing gue sama ini hidup! Hidup udah males, mau mati tapi belum siap juga sama amal." keluh Sammuel menghela nafas panjang. Kepalanya ia sandarkan ke punggung kursi karena terlampau letih.


Hiks hiks


Kedua mata Sammuel yang awalnya tadi terpejam langsung terbuka lebar. Tangis? Siapa yang menangis di saat adzan maghrib berkumandang seperti ini.


'Apa jangan-jangan mbak kunti ya? Kata Adam kan, mbak kunti sering keluar tuh tiap maghrib begini.' batin Sammuel bergidik ngeri. Ia mengelus-eluskan tangannya ke tangan yang lain. Entah mengapa pula otak yang biasanya super dewasa itu kini malah jadi kekananak-kanakan. Seperti seorang pengecut yang takut dengan setan.


"Hiks gue harus gimana." kembali. Suara itu terdengar kembali.


"Ini sih orang, bukan kunti. Ya kali kunti bisa gue elo?" lirih Sammuel menghembuskan nafas lega. Lagi pula apa-apaan dia tadi? Ia berfikir terlalu jauh! Bahkan suara tadi terdengar sangat familiar meski diiringi serak tangis.


Sammuel segera memutar pandangannya kesana dan kemari untuk memastikan siapa orang di balik tangisan itu.


"Deeva?!" cicit Sammuel kaget. Rupanya isakan tangis itu berasal dari Deeva. Meski agak ragu, Sammuel tetap melangkah menghampiri Deeva yang duduk sendirian di kursi taman yang berada tak jauh dari tempatnya semula.


Semakin dekat langkah Sammuel, semakin terdengar jelas pula suara isak tangis dari bibir Deeva.


'Dia kenapa ya? Sampek gue datang aja dia ga sadar. Biasanya di jarak sekian ratus meter aja Deeva udah bisa ngenalin aura gue deh.' batin Sammuel heran dengan keanehan ini. Sammuel memang selalu tau kalau Deeva selalu bisa mengenali aura dan sosok tegap tubuhnya meski jaraknya masih cukup jauh, tapi ya kembali lagi ke pasal awal bahwa Sammuel memang cuek dan cenderung bodoamat. Apalagi dengan julukan buaya Deeva yang terkenal seantero sekolah.


"Ekhemm... Lo diputusin sama buaya lo?" tanya Sammuel setelah deheman singkat.


Deeva mendongak.


"Kak Sammuel?" cicit Deeva hampir tak terdengar. Sammuel lalu mendudukkan dirinya di samping Deeva.


"Iya kan? Lo di putusin pasti ya?" tanya Sammuel kekeuh. Ini antara Sammuel yang tidak peka, ngelawak, atau memang hati batu? Capek!


"Ishh enggak, bukan itu. Ada yang lebih sakit daripada urusan hati tau." sungut Deeva sebal. Sammuel mengeryit heran.


"Ya terus kenapa nangis?"


"Papa...."


"Papa lo... Kenapa?" tanya Sammuel agak ragu. Oke, Sammuel tau kalau pertanyaannya tadi sangatlah jahat. Tapi ini ga sepenuhnya salah Sammuel juga dong? Kan semua orang juga tau kalau Deeva ini cowoknya banyak, jadi ya wajar aja sih Sammuel nething.


"Papa kritis di rumah sakit." jawab Deeva pelan.


"Tadi lo kelihatan baik-baik aja di sekolah?" tanya Sammuel tak mengerti. Kalau papanya sakit keras, kenapa Deeva masih bisa ketawa-ketiwi tadi siang?


"Baru aja tadi pas gue pulang sekolah kak, jantung papa kumat." cicit Deeva dengan satu lagi lelehan air mata di pipi mulusnya. Roboh! Dinding beku di hati keras Sammuel langsung lenyap runtuh seketika saat melihat cewek periang ini menangis.


Refleks Sammuel menarik Deeva mendekat padanya dan mendekap tubuh itu dengan erat dan hangat. Seolah Sammuel berusaha mengalirkan kekuatan dan ketegaran pada hati rapuh Deeva.


Oke, pelajaran yang kita dapat di part ini! Semua yang dingin akan menghangat pada waktunya, yang kaku akan luluh, yang tak peduli akan peduli, semua akan menjadi si bucin setelah menemukan orang yang tepat.


"Doain, jangan di tangisin Dev." bisik Sammuel. Deeva mengeratkan pegangannya pada jaket yang dikenakan oleh Sammuel. Cowok itu masih berseragam lengkap dengan jaket Ghosterionnya karena setelah dari markas DS Boys tadi dia belum sempat pulang.


"Thanks kak Sam." ucap Deeva. Sammuel mengangguk-angguk. Dagu tegasnya berpangku di atas puncak kepala Deeva sambil tangannya terus mengelus-elus punggung cewek itu.


"Kapanpun lo butuh gue." ucap Sammuel penuh arti dan teka-teki. Deeva kurang mengerti, tapi ia mengangguk dalam pelukan hangat Sammuel.


Drtt drtt


"Siapa?" tanya Sammuel saat Deeva melepaskan erat peluknya karena Hp nya berdering.


📞Mama is calling....


"Dari mama." jawab Deeva menyeka lelehan sisa air matanya. Sammuel mengangguk dan diam membiarkan Deeva berbicara dengan mama nya itu.


...****************...


Drtt drtt


📞Rayhanesse is calling....


"Tumben jam segini nelpon?"


Qia : Halo Rehanese... Kenapa?


Rayhan : Bahagia banget dih.


Qia : Haha ya harus lah! Gua tiap hari juga bahagia kali.


Rayhan : Karena udah jadian sama Vano ya?


Rayhan : Masih mau ngeles?


Qia : Ngeles apaan si? Orang enggak.


Rayhan : Ga usah bohong!


Qia : Astaga Rehan... Lu kerasukan apaan si? Sumpah gue ga ada apa-apa.


Rayhan : Sebenernya gue ga percaya sih, tapi ya udah lah anggep aja iya.


Tin tin


Qia yang saat itu sedang duduk di kursi taman pun menoleh pada mobil lambo putih yang memasuki pekarangan rumahnya. Platnya bukan milik keluarga Qia. Lalu siapa yang bertamu sesore ini?


Rayhan : Apaan tuh?


Qia : Ga tau, mobil asing.


Rayhan : Di jemput Vano lagi? Baru aja tadi lo bilang ga ada apa-apa. Plinplan banget!


Qia : Eh ya bukan git-


*Tut tut....


'Ini Rayhan kenapa si? Sumpah aneh banget*.' barin Qia heran sendiri. Karena ia kepo siapa yang datang, Qia memutuskan untuk berjalan mendekat menghampiri mobil yang sudah terparkir rapi tapi pengemudinya seperti masih enggan untuk keluar.


"Jalan yuk?" ajak suara berat yang kepalanya menyembul di jendela mobil. Qia sedikit berjingkat karena kaget. Orang itu tak lain adalah Vano. Qia auto melongo saat tubuh tinggi tegap ini turun keluar dari mobilnya.


"Kak Vano?!!" pekik Qia takjub. Bukan semata-mata karena aura yang memancar kuat dari lelaki berkemeja putih dan jas hitam casual ini. Tapi juga karena waktu yang sangat wow! Baru saja satu jam yang lalu Vano mengantarkan Qia pulang ke rumah setelah acara di markas DS Boys, dan sekarang? Cowok itu sudah kambali mendatangi Qia dengan tampang serapi ini. Emang dasar si kuyang!


"Biasa aja kali ngeliatin gue nya, gue tau kok kalo gue cakep." ucap Vano membuyarkan lamunan Qia. Qia menabok lengan Vano.


"GR aja terus!!" semprot Qia kesal. Vano tertawa renyah.


"Makanya ga usah ngelamun! Buruan ganti baju sana." suruh Vano memutar tubuh Qia agar segera masuk.


"Lah kok ngatur?!!" pekik Qia menolak pergi.


"Lo mau dinner pake kaos sama celana pendek gini? Kalo mau ya udah ga papa, gue sih ayo aja." sahut Vano malah menarik lengan Qia untuk beralih masuk mobil. Qia mencekal tangannya sendiri dari genggaman Vano.


"Ngawur!! Emang siapa yang bilang gue mau dinner? Gue juga ga nyuruh kan?" sungut Qia sebal.


"Mama yang nyuruh Vano. Kenapa hm?" celetuk Andin yang tiba-tiba muncul dari atas teras. Qia mendongak kaget.


"Hah? Apa ma?" cicit Qia tak percaya. Andin mengangguk serius.


"Iya. Sekarang kamu cepet mandi terus ganti dress yang cantik gih! Biar Vano nanti mama yang nemenin ngobrol di ruang tamu." suruh Andin. Qia mengangguk pasrah dan setuju, lagi pula ia memang lumayan bosen tak ada acara. Jadi oke aja lah.


Setelah Qia naik ke atas, Vano pun menyusul Andin untuk menanyakan sesuatu.


"Tante Andin?" panggil Vano. Andin mendongak kecil.


"Apa Vano?"


"Perasaan tante ga pernah nyuruh Qia deh." ucap Vano janggal. Andin tertawa kecil.


"Halah ga papa Van, Qia itu anaknya keras kepala terus juga susah di atur. Emang perlu sedikit kebohongan dan paksaan ekstra biar dia mau nurut." jawab Andin enteng tanpa beban.


Pantas saja Vano merasa heran, sebenarnya mengajak Qia dinner adalah murni ide Vano sendiri tanpa suruhan ataupun paksaan dari siapapun. Andin ternyata hanya sekedar memberi pelumas di dalam hubungan putrinya dan putra dari sahabatnya itu.


"Oh gitu, hehe makasih deh tan kalo gitu." ucap Vano terkekeh sopan. Andin mengangguk sambil menepu-nepuk pundak Vano beberapa kali.


"Perjuangin anak tante dengan serius dan sungguh-sungguh ya Van? Tante sama mama kamu sih cuma bisa doain sama bantu dikit-dikit doang. Selebihnya ya tergantung sama kamu dan Qia sendiri." tutur Andin penuh harap.


'Trabas lah lampu ijo!!' seru Vano bersorak ria penuh kemenangan dalam dirinya.


"Tante percaya kamu laki-laki baik buat melengkapi hidup anak tante. Selamat berjuang boy!!" pekik Andin mengangkat dua tangan terkepal tanda memberi semangat. Vano mengangguk siap.


"Siap tante!! Pesan tante akan Vano jalankan dengan sebaik mungkin dan semaksimal mungkin." sahut Vano membuat senyum tipis terukir dari wajah Andin.


"Ya sudah kalo gitu kamu tunggu aja di ruang tamu gih.. Tapi maaf, tante ga bisa nemenin kamu ngobrol. Soalnya tante mau ada acara ke kantornya papanya Qia sama Raga." ucap Andin mempersilahkan bakal calon mantunya untuk masuk. Vano mengangguk.


"Iya tan, tante have fun sama om Antoni. Urusan Qia tante ga usah khawatir, dia aman sama Vano." sahut Vano. Setelah berjabat tangan dengan Vano pun Andin pergi.


Setelah hampir 40 menit menunggu di ruang tamu.


Tap tap tap


Vano mengedarkan matanya ke arah datangnya suara derap langkah sepatu itu. Matanya kemudian berhenti dan terpaku di satu orang gadis bergaun pendek berwarna merah maroon yang tampak sangat cantik dan manis di tubuhnya yang berkulit putih susu. Rambut panjang yang di biarkan tergerai dengan beberapa aksesoris gelang serta kalung liontin yang membuat kata 'cantik' begitu pantas di sandingkan dengan Qia.


Jangan panggil dia Queensha Qianne Rollex kalau ia tidak tampil cantik menawan dan memikat.


"Wow! She look so preety, god!" lirih Vano geleng-geleng kepala.


'Sialan gue jadi deg-deg an gini gegara denger dia muji kek gitu.' batin Qia panik dengan blushingnya. Kali ini telinga dan otaknya tidak error ngebug dan bisa di ajak bekerja sama.


"Ekhem!! Masih mau dinner atau batalin dinner aja nih?" tanya Qia memecah keheningan serta konsentrasi yang menguasai jiwa Vano. Vano sempat gelagapan tapi kemudian menetralkannya dengan deheman singkat.


"Ya dinner lah! Ayok." jawab Vano menyodorkan lengan tertekuknya untuk di gandeng ala-ala pasangan romantis pada umumnya. Qia mengambil kesempatan alam ini dengan baik. Tangan putih mulusnya melingkar cantik di jas hitam yang dikenakan oleh Vano, si tampan yang macho!


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰