Candamu Canduku

Candamu Canduku
SLC 16



"Selamat ya Bu, pak, saat ini usia kandungan Bu Laras sudah menginjak tiga bulan." Ucap seorang dokter yang bernameTag Bella. Ya, itu adalah dokter Bella yang dulu menanganinya saat mengalami keguguran pertama dan juga menangani kehamilan Anja.


"Alhamdulillah....." Ucap Laras dan Seno serempak. Sepasang suami istri itu pun nampak berkaca-kaca.


"Terimakasih sayang, terimakasih!" Seno langsung menghujani wajah sang istri dengan ciuman bertubi-tubi tanpa menghiraukan dokter Bella dan juga seorang perawat yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Berarti saya nggak penyakitan kan dok?" Meski Laras merasa sangat bahagia, namun tak bisa dipungkiri kalau ia merasa was-was.


"Penyakitan?" Dokter Bella terlihat mengernyitkan alisnya.


"Iya, pasalnya saya tidak merasakan tanda-tanda kehamilan apapun. Hanya tubuh saya saja yang semakin berisi."


"Bagus itu! Ini namanya hamil ngebo. Nggak semua ibu hamil seperti Bu Laras. Setiap ibu hamil pasti berbeda-beda keluhannya. Bahkan ada juga yang couvade syndrome, di mana sang suami lah yang mengalami mual dan ngidam." Jelas dokter Bella. "Namun ada beberapa catatan Bu, karena di dalam catatan medis Bu Laras sudah pernah terjadi keguguran sebanyak dua kali dan yang terakhir berakibat fatal dengan rahim Bu Laras, maka saya sarankan agar Pak Seno harus ekstra hati-hati menjaga bu Laras."


"Siiap dok!" Sahut Seno mantap. "Saya akan selalu berada di samping istri saya untuk menjaganya." Seno siap menjadi suami siaga.


Setelah keluar dari rumah sakit, mereka memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan, Seno tak henti-hentinya menggenggam tangan sang istri seraya menciuminya.


"Terimakasih sayang, terimakasih!" Entah ucapan terima kasih itu yang ke berapa kali. Sejak dinyatakan hamil hingga perjalanan pulang, Seno tak henti-hentinya mengucapkan kata terima kasih kepada sang istri. "Apa pengen makan sesuatu?"


"Entahlah, rasanya aku tidak pengen apapun. Aku sudah cukup bahagia karena Tuhan menjawab doa ku selama ini." Ya, memang Laras tidak seperti ibu hamil yang lainnya. Oleh karena itu, ia tidak menyadari kalau ia telah berbadan dua.


"Baiklah, kita pulang saja kalau begitu. Mama sama Camel pasti senang dengar kabar bahagia ini." Seno kembali mengecup tangan istrinya sekali lagi setelah itu ia fokus menyetir.


*****


Kabar bahagia itu langsung menyebar ke seantero rumah makan, sesaat setelah mereka tiba di rumah. Semua orang seolah ikut merasakan kebahagiaan pasangan tersebut. Apalagi Bu Mayang yang juga sangat mendambakan seorang cucu. Meskipun ia sudah menganggap Camelia dan juga anak-anak Anja sebagai cucunya sendiri, namun tak bisa dipungkiri kalau dia juga menginginkan cucu dari anak semata wayangnya itu.


"Terimakasih ma, ini juga berkat doa mama dan doa semua orang yang menyayangi Laras." Laras mengurai pelukanya. "Camel di mana ma, pasti dia senang kalau tahu mau punya adik." Laras celingukan mencari anaknya.


"Camel kan masih sekolah." Bukan Bu Mayang yang menjawab melainkan Seno.


"Oh iya, aku lupa!" Laras menepuk jidatnya sendiri. "Apa hamil membuat ku pikun?" Seno dan Bu Mayang hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan bumil tersebut.


"Ya sudah ayo istirahat, ingat apa kata dokter!" Seno mengingatkan sang istri tentang nasehat dokter Bella seraya menuntun istrinya menuju ke kamar.


"Aku istirahat dulu ma." Pamit Laras kepada ibunya.


"Ya, istirahatlah. Jangan melakukan apapun yang membuat mu capek." Nasehat Bu Mayang yang juga paham dan mengerti kondisi anaknya.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ