
Dua bulan pun berlalu....
Zian nampak menurunkan Anja di pinggir jalan, tepatnya di depan rumah makan Bu Mayang. Ia nampak terburu-buru karena waktu menunjukkan sudah hampir pukul delapan. Dan itu semua karena ulahnya yang akhir-akhir ini sering melakukan serangan fajar kepada istrinya. Setelah ia mengecup kening istrinya, Zian segera melesat menuju ke tempat kerjanya karena hari ini ada pengiriman keluar kota. Semalam memang ia sudah memberi tahu istrinya.
*****
"Pagi Ri, pagi Ras." Sapa Anja pada kedua sahabatnya.
"Pagi Nja!" Jawab Riani dan Laras kompak.
"Eh Nja, kok loe gendutan sich?" Cetus Laras seraya memindai Anja dari atas hingga bawah.
"Masak sich Ras? Emang iya Ri?" Tanya Anja kepada Riani. Riani pun sontak ikut memindai tubuh Anja dari atas hingga ke bawah kemudian ke atas lagi.
"Kok gue baru ngeh ya?" Ucap Riani keheranan.
"Loe ada timbangan gak Ras?"
"Tenang gaess, gue selalu sedia. Yuk ke kamar gue." Anja pun segera mengekor di belakang Laras. Sedangkan Riani tetap standby karena harus menjaga warung.
"Hah, lima puluh kilo?" Anja syok melihat angka yang tertera pada timbangan yang di naikinya.
"Timbangan loe rusak kali Ras?"
"Enak aja! gue habis nimbang ya tadi pagi dan BB gue masih tetap sama empat puluh enam."
"Emang loe biasanya berapa?" Imbuh Laras bertanya kepada Anja.
"Seinget gue terakhir nimbang kalau gak empat tujuh ya empat delapan. Entahlah gue lupa."
"Gimana?" Tanya Riani saat Anja dan Laras kembali ke warung.
"Mungkin timbangan Laras rusak, masak iya BB gue lima puluh Ri? Yang benar saja."
"Emang loe nya aja yang gendutan." Cibir Laras.
"Tapi perasaan gue gak gendut. Iya kan Ri?" Anja mencari pembelaan.
*****
Jam satu siang Anja izin untuk pulang karena kurang enak badan. Namun bukannya pulang malah ia menyetop sebuah angkot dan langsung menaikinya. Sejak pagi pikirannya tidak tenang akibat memikirkan berat badannya yang naik drastis. Mungkinkah ia saat ini sedang hamil? Sebab kalau di ingat-ingat ia sudah dua periode tidak mendapatkan tamu bulanan. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli alat tes kehamilan. Namun saat turun dari angkot tiba-tiba HPnya berdering.
"Hallo mas."
"Sayang, aku lagi mampir makan siang sekalian istirahat sebentar. Kamu udah makan belum?"
"Sudah mas."
"Aku mungkin nanti agak telat jemputnya. tunggu di warung saja ya sampe aku datang."
"Love you."
"Love you too." Setelah panggilan terputus Anja segera mematikan HPnya dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian ia segera masuk ke dalam apotik.
Setelah mendapatkan barang yang ia butuhkan Anja segera pergi mencari angkot kembali. Anja turun di depan sebuah toko bakery yang ada di pinggir jalan. Ya, hari ini adalah hari ulang tahun Zian yang ke dua puluh lima. Anja ingin memberikan sedikit kejutan untuk suaminya. Anggap saja ini sebagai balas dendamnya kepada suaminya. Namun setelah membeli kue ulang tahun ia bingung harus memberi kado apa untuk suaminya tersebut. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang karena sinar matahari yang terik membuat kepalanya sedikit pusing.
Anja sedang menunggu angkot di pinggir jalan saat matanya tak sengaja melihat penjual es tebu di seberang jalan. Susah payah Anja menelan salivanya membayangkan betapa segarnya es tebu tersebut saat membasahi kerongkongannya. Anja pun tanpa pikir panjang langsung menyeberang jalan dan menghampiri penjual es tebu tersebut.
*****
Di tempat lain....
Setelah makan siang dan istirahat sejenak, Zian dan Seno melanjutkan kembali perjalanannya. Namun saat baru beberapa menit berkendara, ia kepengen minum es tebu.
"Eh Sen, kok gue tiba-tiba pengen minum es tebu, dimana kira-kira ada yang jual es tebu?"
"Ngidam loe?" Tanya Seno heran.
"Jalan aja terus, biasanya juga banyak di pinggir-pinggir jalan." Dan benar saja, di depan sana sudah terlihat penjual es tebu yang mangkal di pinggir jalan.
*****
Zian tiba di rumah makan saat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia langsung masuk lewat pintu samping.
"Ri, Anja mana?" Tanya Zian pada Riani.
"Loh, bukannya sudah pulang sejak siang tadi?" Riani nampak kaget.
"Pulang?" Beo Zian.
"Iya, Anja izin pulang tadi siang katanya gak enak badan." Jelas Riani.
"Kok gak ngasih tau gue?" Zian yang nampak panik langsung melesat keluar dan segera mengendarai motornya menuju ke rumah. Dan bertambah paniklah saat tiba di rumah namun rumah dalam keadaan gelap gulita seperti tidak ada penghuninya.
*****
*****
*****
*****
*****
Hayolo Anja kemana? π€π€π€π€
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ