
Tak terasa kandungan Riani sudah memasuki usia ke sembilan bulan dan sudah mendekati hari persalinan. Sebenarnya dokter yang selama ini menangani Riani saat Riani dirawat di rumah sakit yang ada di kota, menyarankan agar Riani melakukan operasi caesar saja. Mengingat kondisi Riani yang sedang tidak baik-baik saja.
Seno, suami Riani dan juga kedua orang tuanya serta bapak mertuanya menyarankan agar Riani mengikuti saran dokter tersebut, namun Riani menolak keras. Riani ingin menjadi seorang ibu seutuhnya dengan cara melahirkan normal. Padahal Caesar juga sama saja.
"Sayang, kaki mu bengkak lagi." Selepas makan siang, Seno dan Riani duduk selonjoran di atas karpet yang ada di depan TV. Seno langsung memijat kaki istrinya itu pelan-pelan.
"Gak papa, nggak sakit kok. Udah di kirim semua Mas?"
"Udah, tadi udah jalan dua truk. Sebenarnya tadi mau aku sewakan satu truk lagi, tapi kata sopir truknya nggak usah bisa ditumpuk. Jadi, aku nggak jadi nyewa truk lagi." Ya, pagi tadi Seno sudah mengirimkan meja dan kursi pesanan Laras untuk rumah makan Bu Mayang sebanyak dua truk penuh.
"Ssssttttt!" Desis Riani tiba-tiba yang membuat Seno seketika panik.
"Sayang, kenapa? Ada yang sakit? Yang mana yang sakit? Kepalanya kah?" Seno m3r@b@-r@b@ tubuh istrinya.
"Ssssssttt!" Desis Riani lagi seraya mengelus perutnya bersamaan dengan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang kepalanya. Alhasil tangan kanannya ia gunakan untuk mengelus perutnya sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk memegang kepalanya.
"Sayang, yang mana yang sakit? Perut apa kepala?" Riani tak kuasa menjawab pertanyaan suaminya Ia hanya mendesis-desis merasakan sakit yang merajai perut dan kepalanya.
"Ibuk! Bapak!" Teriak Seno dengan keras, membuat Bu Tutik yang ada di belakang tergopoh-gopoh menghampiri mereka, serta Pak Lukman dan besannya yang berada di mebel segera berlari memasuki rumah.
"Ada apa nak?" Bu Tutik ikutan panik.
"Riani kesakitan buk, pak!" Air mata Seno sudah bercucuran membasahi pipinya.
"Tarik nafas nduk, kemudian keluarkan. Lagi, tarik nafas, buang. Sekarang ngomong sama ibuk, apa yang kamu rasakan saat ini." Ucap Bu Tutik mengurai ketegangan di antara mereka. Namun Riani tak menjawabnya, ia hanya memegang kepala serta perutnya sebagai jawabannya.
"Sepertinya istri mu mau melahirkan Sen, ayo cepat kita bawa ke bidan atau ke Puskesmas."
"Ke Puskesmas saja Buk!" Ucap Seno spontan.
"Ya udah, kamu cepetan pinjam mobil Pak lurah." Seno langsung melesat menuju rumah Pak lurah.
Pyooookk!
Air ketuban Riani langsung pecah membasahi karpet tersebut. Seno yang sudah kembali langsung membopong tubuh istrinya tersebut kemudian berlari memasuki mobil, di ikuti oleh Bu Tutik dan Pak Lukman. Sedangkan bapaknya Seno lagi-lagi bertugas menjaga rumah dan mebel. Seno langsung melesatkan mobilnya menuju ke Puskesmas yang ada di kecamatan.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit dengan kecepatan tinggi, akhirnya mobil yang dikemudikan Seno tiba di puskesmas. Seno langsung berteriak memanggil petugas yang ada di lobby Puskesmas. Para perawat yang saat itu berjaga langsung mendorong brankar ke arah mobil. Seno langsung mengangkat istrinya tersebut ke atas brankar, kemudian mereka bersama-sama mendorongnya memasuki ruang persalinan.
Seno ikut masuk ke dalam ruangan tersebut atas permintaan dokter untuk menemani istrinya melahirkan.
"Kamu kuat sayang kamu hebat." Seno menggenggam tangan istrinya mencoba menyemangatinya. "Ayo berjuang demi anak kita." Seno mengecup dahi istrinya. Riani hanya mengangguk lemah.
Sebenarnya dokter menyarankan agar Riani dibawa saja ke rumah sakit yang ada di pusat kota. Namun melihat keadaan Riani yang tidak memungkinkan karena air ketubannya yang sudah pecah dan jarak antara Puskesmas dan rumah sakit yang ada di kota membutuhkan waktu sekitar satu jam, akhirnya dengan bismillah dokter memutuskan untuk membantu persalinan Riani di Puskesmas itu saja.
*****
*****
*****
*****
*****
Emak deg-degan ngetiknya π€ππ
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ