
Ceklek!
Tak berselang lama setelah Nara pergi, Laras dan Bu Mayang datang. Nampak Laras yang kesusahan menggendong karpet bulu yang biasanya mereka gelar di warung, kemudian langsung menjatuhkannya ke lantai.
"Ri, gimana keadaan Anja?" Tanya Bu Mayang mendekat. Terlihat Anja yang masih belom sadarkan diri.
"Alhamdulillah Bu, sudah lewat masa kritisnya. Kandungannya juga baik-baik saja." Jawab Riani pelan.
"Zian dimana? Bagaimana keadaannya?" Pertanyaan Bu Mayang barusan membuat Riani dan Seno saling pandang sebelum akhirnya Seno menceritakan kronologi kejadian yang sempat di ceritakan Nara kepada mereka tadi kepada Bu Mayang. Tentunya Nara tidak menceritakan penyebab kecelakaan itu adalah dirinya. Nara hanya menceritakan garis besarnya saja, bahwa mobil Zian bertabrakan dengan mobil Box.
Suara tangis yang tertahan memenuhi ruang perawatan Anja. Nampak Riani, Laras serta Bu Mayang yang berpelukan saling menguatkan.
Waktu sudah semakin larut, mereka memutuskan untuk beristirahat. Riani, Laras dan Bu Mayang tidur di atas karpet yang di gelar di samping ranjang perawatan Anja. Sedangkan Seno membaringkan tubuhnya di atas sofa.
*****
Di tempat lain....
"Loe di mana?" Tanya Nara saat sambungan telpon terhubung. Saat ini Nara sudah berada di hotel tempatnya menginap. Ya, Nara memang di minta sang papa untuk mengurus kantor cabang yang ada di kota S ini karena ada sedikit masalah di sana.
"Gue masih di kantor. Ini siap-siap mau ke rumah sakit." Jawab Bima di seberang sana.
"Langsung ke hotel saja. Klik!" Nara langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Bima.
Selang empat puluh menit Bima tiba di hotel dengan wajah kusutnya.
"Loe ngapain ke rumah sakit? Sakit loe?" Tanya Bima namun tidak ada jawaban dari Nara.
"Cari apartemen, gue akan tinggal agak lama disini."
"Untuk apa? Kita disini cuma sampe lusa." Tanya Bima heran.
"Baiklah." Jawab Bima pasrah kemudian kembali ke kamarnya sendiri.
*****
Pagi harinya Nara dan Bima kembali ke rumah sakit untuk membantu pemakaman jenazah Zian. Bima yang nampak kebingungan cuma bisa pasrah menerima setiap titah dari sang boss. Ada banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya, namun ia tak berani membuka suaranya karena takut singa jantan itu akan mengamuk.
Sudah ada Radit di sana, di dalam ruang perawatan Anja. Mungkin Riani atau Laras yang menghubunginya. Sedangkan Shasa masih dalam perjalanan karena tadi saat Laras menghubunginya, Shasa sedang mampir ke kantor papanya. Para lelaki akhirnya pergi setelah jenazah siap di kebumikan. Sedangkan para perempuan menjaga Anja yang sampai saat ini belum sadarkan diri.
Jenazah Zian di makamkan di TPU terdekat. Nampak pak Raffi sekeluarga juga teman-teman Zian yang ada di mebel turut serta Hadir di pemakaman Zian. Tak ketinggalan para tetangga juga hadir di sana.
Setelah prosesi pemakaman selesai, semua orang akhirnya meninggalkan pemakaman. Seno dan Radit pun segera kembali ke rumah sakit. Tertinggal Nara dan Bima yang masih betah di sana. Nara nampak menunduk dalam di samping pusara Zian. Seribu kali maaf dan sesal pun tak akan mampu mengembalikan Zian.
"Ayo! matahari sudah terik." Bima menepuk bahu Nara pelan. Meskipun ia penasaran setengah mati, tapi ia akan menunggu sampe Nara siap cerita kepadanya. Nara pun segera bangkit berdiri meninggalkan makam.
Sesampainya di kantor, Nara segera masuk ke dalam ruangannya. Ya, Nara memilih kembali ke kantor untuk menenangkan diri. Bima pun ikut masuk ke dalam ruangan Nara dan mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruangan tersebut. Akhirnya Nara pun menceritakan semuanya kepada Bima, mulai dari ia yang di telfon mamanya hingga mobil Zian yang tertabrak mobil Box. Sedangkan Bima hanya diam membisu, namun seolah-olah ia paham dengan perasaan sahabatnya itu. Pastilah rasa bersalah yang teramat besar yang saat ini di rasakan Nara.
*****
*****
*****
*****
*****
Wes emboh, matanya emak bengkak sak kepel2 gegara dari tadi nangis gak mau berhenti πππ€§π€§
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ