Candamu Canduku

Candamu Canduku
Riani & Seno 04



Dengan keahlian yang di dapatkannya selama bekerja di tempat pak Raffi, Seno memutuskan tidak kembali lagi ke Surabaya dan memilih membuka mebel sendiri di desa tempat tinggal istrinya. Mebel tersebut di beri nama "RS MEBEL". Seno dan Riani memutuskan tinggal bersama kedua orang tua Riani. Riani yang hanya anak tunggal, menjadi tempat bergantung kedua orang tuanya. Sedangkan bapaknya Seno juga di minta Seno untuk tinggal bersamanya serta bisa membantunya di mebel. Seno juga merekrut beberapa tukang kayu di desa itu yang mau bergabung dengannya.


Usaha yang baru dirintisnya sekitar dua Minggu yang lalu itu sudah mendapatkan banyak pesanan. Bukan hanya orang-orang daerah sana saja yang menjadi customernya, tetapi juga dari luar kota. Riani memang memasarkan usaha suaminya lewat internet sehingga usaha suaminya yang baru di rintis itu sudah lumayan terkenal. Kendalanya hanya satu, yaitu mereka belum memiliki mobil pickup sendiri sebagai sarana pengiriman. Sementara ia masih menyewa mobil pak lurah jika ingin mengirim barang.


Rencananya Seno ingin mengkredit sebuah mobil pickup, namun uang mukanya masih belum terkumpul. Jadi untuk sementara waktu, mobil pak lurah lah solusi terbaiknya.


"Mas, sarapan dulu, ayo!" Riani menghampiri suaminya yang ada di mebel. Ya, halaman rumah Riani yang luas itu sudah di sulap menjadi mebel. Jam tujuh pagi di mebel masih sepi karena jam kerja di mulai pukul delapan.


"Bapak mana?" Seno celingukan mencari bapaknya dan juga bapak mertuanya.


"Udah di dalam semua, ayo cepetan udah di tunggu." Riani menarik tangan suaminya.


"Sebentar dech sayang, akhir-akhir ini kamu kok jadi makin cerewet?"


"Apa kamu bilang!" Riani melotot ke arah suaminya seraya berkacak pinggang.


"Nah, sekarang tambah galak." Goda Seno sekali lagi.


"Coba ulangi lagi!" Wajah Riani sudah merah padam sepertinya sebentar lagi akan keluar tanduk.


"Muuuaach!" Seno mencium pipi istrinya kemudian berlari memasuki rumah.


"Mas Seno!" Teriakan Riani menggema di halaman rumah. Riani segera mengejar suaminya masuk ke dalam rumah.


"Ada apa to nduk? Pagi-pagi udah teriak-teriak begitu." Bu Tutik yang baru saja usai menata makanan di meja makan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya. "Ayo sini duduk, ambilkan suami dan bapak mu." Bu Tutik memerintahkan Riani untuk melayani suami dan mertuanya.


Setelah sarapan usai, Seno dan bapaknya langsung kembali ke mebel, dan disana sudah mulai berdatangan para tukang kayu yang bekerja di mebel Seno. Sedangkan Riani langsung membereskan meja makan dan mencuci piring-piring kotor.


Kedua orang tua Riani yang dulunya seorang buruh tani itu sekarang sudah tidak bekerja lagi atas permintaan Seno. Ya, Seno melarang kedua mertuanya untuk bekerja lagi. Keseharian pak Lukman sekarang adalah membantu di mebel bersama besannya. Sedangkan Bu Tutik hanya duduk manis saja di rumah menemani Riani yang akhir-akhir ini sikapnya sering berubah-ubah. Kadang marah-marah tanpa sebab, kadang tiba-tiba sedih. Dan juga semua inginnya harus di turuti layaknya anak kecil jika menginginkan sesuatu akan ngambek dan nangis. Begitupun Riani jika keinginannya tak terpenuhi maka sudah bisa di pastikan sofa yang ada di depan televisi akan menjadi kamar kedua bagi Seno suaminya. Entah mengapa Riani sendiri juga bingung dengan moodnya yang berubah-ubah seperti itu.


Riani sedang mencuci pakaian di belakang menggunakan mesin cuci. Namun saat ia berdiri menunggu pengering yang berhenti tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Akhirnya ia pun mendudukkan dirinya sebentar di atas tumpukan kayu guna mengurai denyutan di kepalanya.


"Pusing buk!"


"Yowes sana istirahat biar ibuk yang selesaikan."


"Gak usah buk, tinggal dikit. Ri, udah gak papa kok." Riani kembali berdiri karena mesin sudah mati.


Riani membawa satu ember penuh baju cucian ke depan untuk di jemurnya. Seno yang melihat itu pun segera menghampiri istrinya.


"Sayang, kok gak minta tolong."


"Gak papa mas, enteng juga. Kan habis di kering, jadi gak berat. Sudah sana balik, aku mau jemur baju." Seno pun melangkah kembali ke mebel. Namun baru saja beberapa langkah sudah terdengar seperti benda terjatuh di belakangnya.


Bruukk!


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚