Candamu Canduku

Candamu Canduku
SLC 04



"Ayaaaaaaahh!" Teriak baby Camelia saat melihat ayahnya baru saja memasuki rumah makan Bu Mayang. Baby Camelia langsung berlari menghampiri sang ayah yang sudah merentangkan kedua tangannya sambil berjongkok.


"Anak ayah gak nakal kan?" Seno berjalan masuk seraya menciumi anaknya. Seminggu berjauhan dengan sang anak rasanya seperti abegeh lagi kasmaran.


"Mel kan pintel." Sanggah baby Camelia.


"Kok gak bilang mau kesini mas?" Laras yang sedang berada di balik meja kasir menolehkan pandangannya sebentar sebelum kembali lagi menghitung bill pembeli pada mesin kalkulator. Warung lumayan rame karena memang jamnya makan malam.


"Habisnya gak ada yang kangen sama ayah." Jawab Seno sambil melirik putrinya yang ada di dalam gendongannya.


"Mel tanen tama ayah, tapi Mel dak mau jauh tama Buna." Baby Camelia menunduk sendu.


"Tadi jam berapa dari rumah mas, kok malam baru tiba di sini?" Laras yang sudah selesai dengan tugasnya menoleh ke arah Seno yang berdiri di dekatnya.


"Habis ashar!" Jawab Seno singkat karena sibuk menciumi kepala anaknya.


"Naik travel?" Seno menggeleng.


"Naik motor?" Lagi-lagi Seno menggeleng, membuat Laras mengernyitkan alisnya.


"Terus naik apa? Gak mungkin naik ojek kan?"


"Aku bawa mobil."


"Mobil? Pinjem pak kades?" Seno menggeleng.


"Terus?" Laras semakin kepo.


"Aku beli mobil bekas, biar mudah kalau sewaktu-waktu pengen ketemu kamu." Jawab Seno tanpa sadar. Namun sedetik kemudian ia segera meralat ucapannya saat menyadarinya.


"Eh, maksud aku kalau Camel kepengen ketemu bunanya."


"Owh....." Laras manggut-manggut. "Sudah makan?"


"Belum!" Jawab Seno cepat karena memang dirinya belum makan dan juga sedang kelaparan.


"Ya sudah aku siapin, mau makan sama apa?"


"Terserah kamu saja, apapun yang kamu masak pasti aku makan."


"Baiklah, duduk dulu, apa nggak capek dari tadi berdiri?"


"Eh, iya, aku duduk." Seno segera mencari kursi yang masih kosong. Entah mengapa ia menjadi salah tingkah. Laras yang melihat itu hanya tersenyum kemudian berlalu ke belakang untuk menyiapkan makan buat Seno.


*****


"Loh Sen, kapan datang?" Sapa Bu Mayang saat melihat Laras dan Seno memasuki rumah.


"Tadi sekitar jam delapan Bu." Seno meraih tangan Bu Mayang kemudian menciumnya.


"Sudah makan?"


"Ayo ayah, Mel udah nantuk." Baby Camelia merengek dalam gendongan sang ayah.


"I-iya sayang, Camel bobok sama Buna ya?" Seno mengelus lembut kepala putrinya.


"Mel mau tama ayah tama Buna." Rengek baby Camelia lagi.


"Eh, kalau bobok sama ayah kita tidur di warung ya." Bujuk Seno, namun baby Camelia menggeleng.


"Mel mau tama ayah tama Buna, hiks.. hiks.."


"Eh, kok nangis?" Seno seketika panik saat melihat anaknya menangis. Hatinya terasa teriris, begitupun Laras dan Bu Mayang yang melihatnya.


"Ya sudah mas, turuti saja. Nanti setelah Camel terlelap, Mas Seno kan bisa pindah." Usul Laras yang tak tega.


"Tap-tapi!" Seno melirik Bu Mayang seolah meminta persetujuan. Bu Mayang pun mengangguk.


"Ayo!" Laras berjalan terlebih dahulu menuju ke kamarnya dan diikuti oleh Seno di belakangnya.


Seno langsung membaringkan baby Camelia ke atas tempat tidur Laras, Laras pun juga langsung ikut naik ke atas tempat tidur. Sedangkan Seno masih berdiri di samping tempat tidur karena merasa ragu.


"Ada apa mas?" Tanya Laras yang melihat Seno hanya diam saja.


"Apa nggak papa aku ikut naik?"


"Gak papa, Jangan khawatir. Ada Camel di tengah-tengah kita kalau kamu takut." Goda Laras seraya tersenyum.


"Eh, bukan itu maksud ku. Baiklah aku naik, nanti setelah Camel terlelap aku akan pindah ke warung." Seno langsung naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di samping sang anak.


Seno mulai mengelus kepala putrinya agar segera terlelap. Sedangkan Laras mengelus punggung baby Camelia yang posisinya tidur menyamping menghadap sang ayah.


Tak terasa Laras ikut terlelap. Perlahan tangan Seno terulur untuk menyingkirkan rambut Laras yang menutupi wajahnya.


"Bolehkah aku membahagiakannya Ri? Aku tidak tega melihatnya terluka oleh laki-laki br3n9$3k seperti Radit. Anak kita juga sangat menyayanginya." Batin Seno dalam hati. Seno langsung turun dari ranjang kemudian menyelimuti kedua perempuan yang disayanginya, setelah itu segera keluar dari kamar Laras.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ