
Seminggu lamanya Riani di rawat di rumah sakit umum yang ada di kota, akhirnya pagi ini ia di perbolehkan pulang karena kondisinya yang sudah membaik. Bengkak di kakinya juga sudah hilang, begitupun rasa pusing yang menderanya juga berangsur-angsur mereda.
Dengan digendong oleh suaminya, Riani dan Seno memasuki rumah yang sudah seminggu ini ditinggalkan oleh mereka. Bu Tutik dan Pak Lukman sudah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah. Banyak para tetangga yang melihat kedatangan Riani langsung berhambur ke rumah Riani untuk menjenguknya. Salah satunya adalah Bu Lilis orang yang pertama kali melihat bengkak pada kaki Riani.
"Gimana Ri, udah sembuh?" Bu Lilis duduk di kursi samping Riani.
"Udah Bu, alhamdulillah."
"Kan, aku bilang juga apa? Jangan terlalu cape, ibu hamil nggak boleh kelelahan."
"Tapi kan katanya ibu hamil disuruh banyak gerak biar sehat?" Riani menyanggah ucapan Bu Lilis.
"Iya juga ya." Bu Lilis garuk-garuk kepala yang membuat orang-orang yang ada disana tertawa.
Karena Riani harus banyak istirahat, akhirnya para tetangga pamit pulang. Riani langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, sedangkan suaminya sudah ke mebel setelah mendudukkannya di kursi yang ada di ruang tamu.
Bu Tutik masuk ke dalam kamar Riani dengan membawa nampan yang berisikan makanan serta minuman untuk anaknya.
"Makan siang dulu, setelah itu minum obat baru istirahat." Riani duduk bersandar di kepala ranjang.
"Mas Seno udah makan Buk?"
"Belum ada yang makan. Nggak apa-apa kamu makan dulu, setelah ini nanti ibu panggil suami kamu dan bapak untuk makan siang." Bu Tutik ingin menyuapi anaknya tersebut, namun Riani menolaknya.
"Aku bisa sendiri Buk, ibu panggil Mas Seno aja sama bapak biar makan siang dulu." Bu Tuti akhirnya meninggalkan Riani di kamar sendirian.
Riani beringsut turun dari atas tempat tidurnya karena ia merasakan desakan di kantung kemihnya. Dengan menyeret kakinya perlahan ia segera masuk ke dalam kamar mandi. Namun saat akan keluar dari kamar mandi, rasa pusing kembali menyergapnya hingga ia berpegang kuat pada dinding kamar mandi. Di pejamkannya sebentar matanya guna mengurai rasa pusingnya. Perlahan rasa pusing itu memudar, Riani langsung keluar dari kamar mandi dan mendapati sang suami yang duduk di tepi ranjang.
"Udah makan mas?" Riani mengulas senyum agar suaminya tak khawatir.
"Nanti saja, duduk sini aku suapi." Seno menepuk ranjang di sebelahnya. Riani segera duduk di samping sang suami.
"Cuma masih lemas aja."
"Makan yang banyak biar cepet sehat." Riani mengangguk.
"Cariin jambu monyet donk mas, kayaknya di bikin rujak kacang kok enak." Seno mengernyit.
"Emang lagi musimnya?"
"Gak tau juga, coba tanya sama ibuk. Biasanya di pasar banyak yang jual."
"Tapi kalau gak lagi musimnya juga gak ada sayang."
"Iiiiihh coba aja dulu!" Rengek Riani.
"Tapi ini udah jam setengah satu sayang, pasarnya udah tutup. Besok saja ya, atau coba kamu pesen mas Ulil yang tukang sayur itu, barangkali ada." Bener juga kata suaminya, biasanya kan kalau tukang sayur berangkat ke pasarnya pagi-pagi buta. Riani meraih ponselnya lalu mengirim pesan kepada mas Ulil tukang sayur yang biasa mangkal di dekat rumahnya.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ