Candamu Canduku

Candamu Canduku
Riani & Seno 15



Oweeeeeeekk............


Setelah berjuang selama hampir satu jam lamanya, akhirnya Riani berhasil melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Seno pun tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur dalam hatinya.


"Selamat sayang, kamu seorang ibu yang hebat!" Seno menghadiahi wajah Riani dengan banyak kecupan. Riani yang masih merasa lemas hanya diam saja tanpa merespon ucapan suaminya.


Dokter segera menyerahkan bayi tersebut kepada seorang perawat yang membantunya untuk dibersihkan terlebih dahulu.


"Dok, pasien kejang-kejang!" Teriak salah satu perawat yang membantu persalinan, membuat semua yang ada di sana panik seketika.


Dokter langsung beranjak dari tempatnya yang semula ada di bawah kaki Riani langsung berpindah ke samping brankar guna mengecek kondisi pasiennya.


"Mohon maaf Pak, bapak silakan keluar dulu biar pasien kami tangani." Seorang perawat membimbing Seno untuk keluar dari ruang persalinan tersebut. Seno yang shock melangkahkan kakinya keluar menuruti ucapan perawat tersebut.


Bu Tutik dan Pak Lukman yang tadi sudah mendengar tangisan bayi, langsung menghampiri Seno saat melihat menantunya itu keluar dari ruang persalinan.


"Bagaimana keadaan Riani dan bayinya Sen?" Cecar Bu Tutik, namun Seno hanya diam saja lalu mendudukkan tubuhnya ke kursi tunggu yang ada di depan ruang bersalin. Air mata Seno tiba-tiba menetes perlahan membasahi pipinya, membuat Bu Tutik menggelengkan kepalanya.


"Seno, apa yang terjadi?" Bu Tutik mengguncang kedua bahu Seno untuk menyadarkan menantunya itu. Sesaat kemudian, terdengar isak tangis yang keluar dari mulut Seno.


"Tidak-tidak! Apa yang terjadi dengan anak ku?" Jerit Bu Tutik. Pak Lukman langsung merengkuh Bu Tutik ke dalam pelukannya.


"Sabar Bu, kita tunggu dokter dulu."


Ceklek!


Terdengar pintu ruangan di buka, Bu Tutik dan Pak Lukman serta Seno serempak menoleh dan mendapati seorang dokter yang berjalan ke arah mereka. Bu Tutik langsung mencecar dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan anak dan cucu saya dok? Mereka baik-baik saja kan dok? Mereka selamat kan dok?" Pertanyaan demi pertanyaan Bu Tutik lontarkan kepada dokter tersebut, namun dokter tersebut hanya menggeleng lemah serta menghela nafasnya panjang.


"Tidak! Anak ku!" Jerit Bu Tutik saat tubuh Riani sudah di tutup dengan selembar kain putih. Bu Tutik segera menyingkap kain putih tersebut kemudian membuangnya serampangan. Di peluknya tubuh Riani yang sudah tidak bernyawa itu.


"Tidak! Bangun nak, bangun!" Teriak Bu Tutik mengguncang tubuh anaknya.


"Sayang, kamu hanya tidur kan? Kamu pasti kelelahan setelah melahirkan anak kita. Gak papa, sekarang kamu istirahat dulu ya, aku akan menjaga anak kita." Seno menciumi kening istrinya.


Pak Lukman yang melihat dan menyaksikan istri serta menantunya hanya bisa menahan tangisnya.


"Sudah Bu, biarkan Riani tenang. Sekarang Riani sudah tidak merasakan kesakitan lagi. Tugas kita sekarang adalah menjaga cucu kita bersama-sama." Ucap pak Lukman dengan air mata yang berlinang, namun sekuat mungkin Pak Lukman menahannya agar suara tangisannya tidak terdengar.


"Tidak! Riani tidak boleh pergi! Biar ibu saja yang pergi!" Bu Tutik masih meraung memeluk tubuh anaknya. Pak Lukman segera merengkuh tubuh istrinya kemudian memeluknya dengan erat. Sedangkan Seno masih setia duduk di samping brankar istrinya seraya menggenggam erat tangan sang istri.


*****


*****


*****


*****


*****


Emak gak kuat, ngetik ini sambil mewek 😭😭


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚