
"Maaf sayang, maafkan aku." Ucap Seno sekali lagi, namun Laras tak menghiraukannya. Laras reflek mendorong tubuh suaminya itu dengan kekuatan penuh hingga Seno seketika terjungkal dari atas tempat tidur.
"Auuuww!" Seno memegangi p@nt@tnya dan punggungnya bergantian. Teriakan Seno sama sekali tak dihiraukan oleh istrinya. Laras melangkah mendekati kalender yang menggantung indah di dinding kamarnya. Laras mengamati angka-angka yang tertera pada kalender tersebut. Biasanya ia sering melingkari hari pertama saat ia mendapatkan tamu bulanan. Namun di dalam kalender tersebut ada tiga bulan yang nampak bersih tanpa coretan satupun.
Deg!"
Laras mengelus perutnya perlahan, dan semua itu disaksikan oleh Seno suaminya yang masih terduduk di lantai. Seno sengaja tak mendekati istrinya karena ia mengira istrinya itu marah kepadanya. Perlahan Laras melangkah menuju lemari kemudian membukanya.
Deg!
Dua bungkus besar pembalut masih utuh di dalam lemari tersebut. Laras kembali meraba perutnya, kali ini terdengar suara isakan yang keluar dari bibirnya. Mendengar itu, Seno langsung beranjak menghampiri istrinya tanpa memperdulikan pinggangnya yang terasa nyeri.
"Sayang ada apa?" Seno langsung merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. "Maafkan aku, aku nggak bermaksud menyakiti perasaan mu. Plis, maafkan aku." Laras semakin tergugu dalam pelukan suaminya, membuat Seno semakin bingung dan semakin merasa bersalah. Seno pun semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa mungkin aku hamil?" Ucap Laras tiba-tiba yang membuat suaminya terkejut.
"Hah?!" Seno langsung mengurai pelukannya. "Kamu bicara apa tadi?" Seno hanya ingin memperjelas ucapan istrinya.
"Apa mungkin aku hamil?" Ulang Laras.
"Ha-hamil?" Beo Seno melongo karena terkejut.
"Sudah tiga bulan aku nggak datang bulan, pembalut ku masih utuh." Jelas Laras. "Tapi aku juga takut kalau ini penyakit." Laras meraba perutnya yang memang terlihat sedikit berisi dengan air mata yang kembali berlinang.
"Ssssttt! Jangan berpikiran yang macam-macam. Berfikir lah hal-hal yang baik agar hal baik pula yang menjadi kenyataan. Besok kita periksa ke dokter ya?" Seno kembali merengkuh tubuh istrinya. Laras mengangguk dalam pelukan sang suami. "Sekarang kita istirahat." Seno menuntun istrinya mendekat ke arah ranjang. Seno langsung ikut membaringkan tubuhnya di samping sang istri kemudian menarik selimutnya untuk menutupi tubuh keduanya. "Kita berdoa sama-sama ya, semoga apa yang ada di dalam sini benar-benar anak kita." Seno mengelus lembut perut sang istri. Laras kembali mengangguk. Mereka berdua pun langsung menengadahkan kedua tangannya seraya memejamkan matanya mengumandangkan doa terbaik di dalam hati mereka masing-masing, kemudian mengucapkan aamiin seraya menangkupkan kedua tangan mereka ke wajah masing-masing.
*****
Seno dan Laras langsung pergi ke rumah sakit setelah mengantarkan anaknya ke sekolah terlebih dahulu. Tadi saat sarapan, Laras sudah memberitahukan keadaan dirinya kepada sang mama. Dan Bu Mayang tak henti-hentinya mengucap syukur atas sesuatu yang belum pasti kebenarannya itu. Namun firasat seorang ibu tidak pernah salah. Ya, sebenarnya Bu Mayang sudah menduga akan hal itu. Dilihat dari perubahan bentuk tubuh anaknya saja ia sudah tahu kalau anaknya itu sedang berbadan dua.
Seno menggandeng tangan sang istri yang terasa dingin itu saat memasuki rumah sakit. Hari masih terlalu pagi, dan baru ada dua orang yang mengantri di depan ruang dokter kandungan yang masih tertutup rapat karena waktu baru menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit. Biasanya jam praktek memang dimulai pukul delapan pagi.
Setelah menunggu selama lima belas menit, akhirnya dokter pun memasuki ruangan tersebut. Laras harus menunggu lagi dua antrian yang ada di depannya. Dan antrian pertama akhirnya dipanggil oleh seorang perawat. Tak berselang lama, antrian kedua pun mulai memasuki ruangan setelah antrian pertama keluar dari ruangan tersebut.
Semakin mendekati antriannya, tubuh Laras rasanya semakin gemetar. Ada rasa takut yang bersemayam di hatinya.
"Ibu Larasati." Ucap perawat tersebut setelah antrian kedua meninggalkan ruangan. Laras dan Seno segera beranjak dari duduknya kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ