
Ceklek!
"Loh, kok tidak terkunci?" Batin Zian keheranan.
"Sayang!" Teriak Zian saat memasuki rumah yang gelap gulita tersebut. Namun tidak ada sahutan dari istrinya, yang membuatnya semakin di landa kepanikan setengah mati. Ia kemudian mencari saklar lampu lalu menyalakan lampu yang ada di ruang tamu. Kemudian melesat menuju ke kamar.
Ceklek!
"Sa-"
"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you." Zian hanya mematung di tengah-tengah pintu. Ia baru tersadar saat Anja mendekatinya seraya berucap....
"Happy birthday suami ku tersayang."
"Sa-sayang." Ucap Zian tergagap. Tanpa ba bi bu ia segera meraih kue yang ada di tangan Anja dan meletakkannya ke atas meja kemudian langsung memeluk istrinya erat.
"Sayang, aku sejak tadi khawatir, panik banget takut terjadi sesuatu sama kamu. Kata Riani tadi kamu gak enak badan? Kok gak ngasih tau aku sich?" Cerocos Zian panjang lebar.
"Aku baik-baik saja mas, yuk tiup lilinnya dulu. Aku punya kado spesial buat kamu."
"Apa?" Tanya Zian penasaran.
"Tiup dulu lilinnya baru aku kasih kadonya. Jangan lupa berdoa dulu." Zian pun segera meniup lilinnya. Tak lupa ia berdoa terlebih dahulu.
"Fiuuuhh... Mana kadonya?" Tagih Zian. Anja segera mengambil sebuah kotak kecil panjang yang di hiasi dengan pita dari dalam sakunya, kemudian menyodorkan kepada suaminya.
"Apa ini?" Tanya Zian heran.
"Buka saja." Zian pun segera menarik simpul pitanya lalu membuka kotak kecil tersebut. Di lihatnya ada dua buah testpack yang keduanya menunjukkan dua garis merah. Zian langsung merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya seraya menangis.
"Eh, kok nangis?"
"Ini tangisan bahagia sayang, terimakasih." Zian menciumi puncak kepala istrinya berulang kali sambil mengucap terimakasih. Ia merasa inilah kado terindah yang di berikan Tuhan di hari ulang tahunnya.
Flashback On
Anja tiba di rumah tepat jam dua siang. Ia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus untuk mengecek apakah ia benar-benar hamil atau cuma perasaannya saja. Anja menampung urinnya kedalam sebuah gelas plastik kecil kemudian membuka kemasan testpack yang di belinya tadi lalu mencelupkan keduanya kedalam gelas yang berisi urinnya tadi.
Setelah menunggu beberapa detik dengan harap-harap cemas, Anja segera mengangkatnya dan terlihat dengan jelas dua garis merah pada kedua testpack tersebut. Banjir sudah air matanya, ia merasa ini adalah kado terindah yang di berikan oleh Tuhan kepada mereka di hari ulang tahun suaminya.
Flasback Off
"Terimakasih sayang." Ucap Zian sekali lagi kemudian segera ******* habis bibir istrinya.
"Eeemm.... mas." Anja melotot horor kepada suaminya karena mendapat serangan dadakan. "Mandi dulu sana." Anja mendorong pelan tubuh suaminya.
Ceklek!
Zian segera memakai piyama yang sudah di siapkan istrinya kemudian menyusul Anja yang sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Sayang."
"Heeemm." Anja segera memeluk suaminya.
"Besok kita periksa ke rumah sakit ya?" Anja hanya mengangguk dalam dekapan suaminya.
"Mas gak kerja?"
"Kerja, tapi setelah nganterin kamu periksa dulu. Aku telepon Seno dulu kalau begitu."
"Baiklah." Anja semakin mengeratkan pelukannya.
"Hallo!" Jawab Seno di seberang saat telepon tersambung.
"Besok gue berangkat agak siangan. Bilangin ke pak Raffi, gue mau nganterin Anja periksa ke rumah sakit dulu."
"Hah, Anja sakit? Sakit apa?"
"Kemungkinan istri gue hamil, barusan di tes hasilnya positif."
"Selamat bro."
"Terimakasih." Zian segera meletakkan HPnya ke atas meja setelah sambungan telepon terputus. Kemudian mendekap erat istrinya sambil menciumi puncak kepala Anja.
*****
*****
*****
*****
*****
Alhamdulillah π€²π€² emak ikutan seneng Nja π₯°
Sehat selalu Bumil π₯°π₯°
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ