Candamu Canduku

Candamu Canduku
Riani & Seno 16



Tepat pukul empat sore, mobil ambulans yang membawa jenazah Riani memasuki halaman rumah Pak Lukman. Jerit tangis sanak saudara serta tetangga memenuhi halaman tersebut. Pak Lukman yang duduk di depan di sebelah sopir segera turun dari mobil, begitupun sopir ambulans yang segera turun kemudian segera membuka pintu mobil ambulans bagian belakang. Keluarlah Seno dan Bu Tutik yang menggendong baby Camelia. Ya, sesuai dengan permintaan istrinya, Seno memberikan nama Camelia kepada anak perempuannya.


Tak berselang lama mobil Pak lurah yang dikendarai oleh dua orang perawat laki-laki tiba di samping mobil ambulans tersebut. Karena melihat kondisi Seno yang tidak mungkin untuk mengendarai mobil sendiri, akhirnya Pak Lukman meminta perawat yang mengendarainya, sedangkan Seno ikut di dalam mobil ambulans.


Dua orang perawat tersebut segera keluar dari mobil Pak lurah, kemudian segera membantu sopir ambulans mengeluarkan jenazah Riani dari dalam mobil ambulans.


Jenazah Riani di letakkan di ruang tamu yang kursi dan mejanya sudah dikeluarkan. Isak tangis tak henti-hentinya memenuhi rumah Pak Lukman. Bu Tutik duduk bersimpuh di samping jenazah sang anak dengan menggendong cucunya, baby Camelia. Isak tangis masih terdengar dari mulut perempuan yang baru saja menjadi nenek tersebut.


Seno yang sudah tersadar dari shock-nya langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung mengabari Laras dan juga Anja, sahabat istrinya tersebut. Setelah itu ia segera keluar dari kamarnya kemudian duduk bersimpuh di samping istrinya.


Pak Lukman memutuskan, jenazah Riani akan di kebumikan besok saja karena hari hampir gelap.


"Buk!" Pak Lukman berbisik di telinga istrinya. "Ibuk istirahat dulu, bawa Camel ke dalam." Bu Tutik pun langsung tersadar kalau saat ini ia sedang menggendong cucunya. Bu Tutik segera meraih uluran tangan dari suaminya. Pak Lukman kemudian membimbing sang istri untuk masuk ke dalam kamar.


"Sabar le, ini ujian untuk kita semua. Setelah ini, kita rawat Camel sama-sama." Bapaknya Seno menepuk pundak anaknya, mencoba menguatkan. Seno hanya mengangguk tanpa berucap sepatah kata pun.


Selepas Isya' para jamaah tahlil dan juga sanak saudara serta tetangga sudah memenuhi rumah kediaman Pak Lukman untuk mengadakan tahlilan bersama-sama.


Malam itu baby Camelia nampak rewel, sedikit-sedikit menangis. Entahlah, mungkin baby Camel juga merasakan apa yang dirasakan oleh orang tuanya serta orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Cup cup cup, sini nak ikut ayah." Seno mengambil alih baby Camel dari gendongan Bu Tutik. "Kenapa nak? Kangen bunda ya? Maaf, maaf kalau kamu harus kehilangan bunda. Tapi ayah janji, ayah akan menjadi ayah terbaik untuk mu." Seno mencium baby Camelia dengan air mata berlinang, yang membuat Bu Tutik kembali ikut menangis.


"Ibuk buat susu dulu Sen." Pamit Bu Tuti segera keluar dari kamar tersebut menuju ke dapur untuk membuat susu.


"Ya Allah, kenapa bukan aku saja yang kau ambil. Kenapa harus anak ku. Hiks.. hiks.." Bu Tutik menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Pak Lukman yang tadi melihat istrinya ke belakang langsung mengikutinya. Pak Lukman segera merengkuh Bu Tutik ke dalam pelukannya.


"Sudah ya Bu, kita ikhlaskan saja. Mungkin ini yang terbaik." Kedua orang tua tersebut saling berpelukan dalam tangis dan saling menguatkan satu sama lain.


*****


*****


*****


*****


*****


Dada emak nyesek rasanya gaess 😭😭


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚