Candamu Canduku

Candamu Canduku
Bab 35. Mimpi Buruk



Anja nampak gelisah dalam tidurnya. Terlihat dari bulir-bulir peluh yang membasahi keningnya.


"Tidaaaaakk!" Jerit Anja seraya mendudukkan dirinya.


"Hey sayang, ada apa?" Zian tergagap dalam tidurnya karena mendengar teriakan sang istri. Sontak ia ikut terlonjak dan mendapati istrinya yang sudah terduduk dengan berlinang air mata.


"Ada apa?" Tanya Zian sekali lagi seraya membawa Anja ke dalam pelukannya.


"Ak-aku tadi mimpi buruk mas." Jawab Anja terbata. Zian lalu mengurai pelukannya kemudian mengambil air minum yang ada di meja samping tempat tidur.


"Minum dulu biar tenang." Di sodorkannya segelas air putih kepada istrinya.


"Sudah lebih tenang?" Anja hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Mau cerita? Atau mau tidur lagi?" Tanya Zian, karena waktu masih menunjukkan pukul dua dini hari.


"Ak-aku tadi seperti melihat sebuah kecelakaan tepat di depan mataku. Tapi aku gak tau itu siapa. Karena wajahnya tidak terlalu jelas." Jelas Anja tentang mimpinya kepada suaminya.


"Sudah, itu hanya mimpi. Jangan di pikirkan. Sekarang kita tidur lagi ya." Mau tak mau Anja pun merebahkan tubuhnya kembali. Namun hingga pagi menjelang, matanya tak juga mau terpejam barang sebentar. Sedangkan Zian sudah terlelap kembali di sampingnya. Akhirnya ia memutuskan untuk membersihkan diri dan segera menyiapkan sarapan untuk suaminya.


*****


Zian berpamitan kepada istrinya. Tak lupa ia juga menyapa dan menciumi perut istrinya yang sudah terlihat membuncit.


"Sayang, ayah pergi kerja dulu ya. Baik-baik di rumah sama bunda." Bisik Zian di depan perut istrinya seraya mengelusnya.


"Iya ayah." Jawab Anja dengan menirukan suara anak kecil.


"Eh sayang, dedeknya gerak." Zian terlihat berbinar saat merasakan gerakan calon anaknya.


"Sudah sana berangkat. Ini sudah setengah delapan." Usir Anja.


"Siap nyonya! Sayang, ayah berangkat dulu ya." Zian mengelus perut sang istri sekali lagi kemudian segera berangkat bekerja.


Terlihat Anja yang keluar dari sebuah gang kemudian berjalan menyusuri jalanan kota yang terlihat padat oleh kendaraan roda dua dan roda empat tersebut. Sebenarnya ia lebih suka jalan kaki dari pada naik motor, toh jarak rumah dan warung juga dekat. Namun suaminya yang over protective itu selalu saja melarangnya. Takut capek lah panas lah, apa lagi sekarang dirinya hamil. Padahal sinar matahari pagi bagus untuk kesehatan.


"Hey Nja, kesini lagi." Sapa Riani saat melihat Anja mendekat ke arahnya.


"Gue mau cerita sama loe." Ucap Anja seraya mendudukkan dirinya di belakang meja kasir. Riani terlihat mengernyitkan sebelah alisnya.


"Tunggu sebentar, gue mau melayani pengunjung dulu. Atau loe mau tunggu di kamar aja. Entar kalau udah sepi gue ke belakang. Ya, memang pagi ini warung nampak ramai.


"Ada apa Nja?" Tanya Laras mendekat setelah mengantarkan pesanan. Hari ini memang Laras tidak ada jam kuliah pagi.


"Entar aja gue cerita, gue ke belakang dulu." Anja beranjak dari duduknya kemudian berjalan gontai menuju ke belakang. Sedang kan Laras menoleh ke arah Riani seolah bertanya "Ada apa?" tapi Riani hanya meggelengkan kepalanya.


Setelah warung terlihat sepi, Riani dan Laras pun segera menghampiri Anja ke kamar. Namun mereka berdua tak menemukan Anja di dalam sana. Ternyata Anja sedang bercengkrama dengan Bu Mayang di teras rumah sebelah. Akhirnya mereka mendekat dan ikut duduk di kursi yang ada di teras tersebut. Melihat sahabatnya yang sudah duduk, Anja pun langsung menceritakan mimpinya semalam kepada Bu Mayang dan kedua sahabatnya.


*****


*****


*****


*****


*****


Pegangan yang kuat gaess, sepertinya sebentar lagi akan ada angin topan yang menerjang πŸ€­πŸ˜‚πŸ˜‚


Kalau gak kuat boleh lambaikan tangan ke kamera sekarang πŸ–οΈπŸ–οΈ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚