Candamu Canduku

Candamu Canduku
Bab 23. Syok



Sabtu pagi yang cerah secerah suasana hati Zian pagi ini yang sudah berhasil modusin istrinya semalam. Pagi ini muka Zian nampak berseri-seri, berbanding terbalik dengan istrinya yang nampak terlihat kusut. Mungkin kurang tidur, atau bahkan tidak tidur semalaman. Entahlah... berapa ronde pertandingan yang dilakukan mereka semalam.


"Sayang, kusut amat mukanya kayak kurang jatah." Canda Zian menggoda istrinya.


"Jangan mulai dech!" Anja mengacungkan garpu yang di pegangnya ke arah Zian yang sontak membuat Zian bergidik ngeri.


"Kalau cape gak usah kerja. Gimana kalau kamu berhenti saja. Kan udah ada aku, suami mu yang tampan ini yang bertanggung jawab mencari nafkah. Katanya juga gak boleh terlalu cape biar bisa cepet hamil lagi." Cerocos Zian panjang lebar.


"Aku kerja bukan untuk uang mas. Mana ada kerja berangkat sesuka hati dan pulang juga semaunya sendiri. Kamu tahu sendiri kan kalau aku gak betah di rumah sendirian. Kalau di warung kan seenggaknya ada banyak orang yang bisa di ajak ngobrol dan bercanda. Nanti aku janji dech kalau sudah punya anak aku bakalan berhenti kerja." Panjang lebar Anja menjelaskan kepada suaminya.


"Baiklah, aku gak maksa." Ucap Zian mengalah.


"Besok Minggu libur ya, aku mau di rumah seharian sama kamu." Pinta Anja manja.


"Aku usahain nanti kalau gak ada jadwal pengiriman." Zian memang sering lembur di hari Minggu. Bukan hanya Zian saja, tapi juga seluruh pekerja yang ada di mebel pasti akan lembur di hari Minggu jika banyak pesanan.


*****


Anja tiba di rumah makan tepat pukul setengah tujuh. Warung nampak masih sepi karena memang belum buka. Namun halaman depan nampak sudah bersih. Sepertinya Riani sudah selesai menyapu halaman depan. Anja segera masuk lewat pintu samping.


"Hay Ri, udah selesai bersih-bersihnya?" Tanya Anja yang melihat Riani sedang minum segelas air putih. Mungkin sahabat Anja itu sedang kelelahan setelah bersih-bersih.


"Udah, tinggal buang sampah ke depan." Jawab Riani setelah meneguk habis air minumnya. Ya ampun.. sepertinya haus sekali!


"Mandi sana, entar biar gue yang buang ke depan."


"Baiklah." Riani berlalu masuk ke kamar untuk segera membersihkan diri.


Anja segera meletakkan tasnya ke atas meja kasir dan lanjut mengambil tempat sampah kecil yang ada di samping meja kasir dan juga yang ada di dekat wastafel. Kemudian ia menentengnya di kedua tangannya. Namun saat ia melangkah keluar lewat pintu samping, samar-samar ia mendengar suara seseorang yang sedang berbicara di telepon. Rupanya Laras lah yang sedang asik bertelepon dengan posisi membelakangi Anja. Tanpa Laras sadari Anja sudah berdiri di belakangnya.


Glontang!


Kedua tempat sampah yang sejak tadi di pegang Anja terjatuh dan isinya berhamburan ke luar, tepatnya di halaman rumah yang ada di samping warung.


"Astaghfirullah." Laras terlonjak kaget, ia reflek membalikkan badan dan mendapati Anja yang sudah berlinang air mata. Sepertinya Laras tidak tau kalau Anja sudah datang ke warung sepagi ini. Karena biasanya Anja datang sekitar pukul setengah delapan atau bahkan hampir jam delapan. Maka dengan santainya dia Bertelepon di halaman rumah.


*****


*****


*****


*****


*****


Tau ah Ras, emak pusing 🀭


Emak gak ikut-ikutan Loch yaa πŸ˜‚πŸ˜‚


Kabur aahh πŸƒπŸƒπŸƒπŸ€£πŸ€£


Ternyata nulis dua Novel bersamaan itu gak mudah gaess, harus bolak-balik revisi gegara salah nama 🀭 tau gitu yang novel kedua emak rilis tahun depan ajah 🀣🀣


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚