
"Pulaaaaaaaang!" Teriak mama Rosi di seberang saat sambungan telepon terhubung. Nara reflek menjauhkan HPnya dari telinga karena teriakan Mama Rosi barusan membuat telinganya berdengung. Memang kebiasaan mamanya yang satu itu sudah mendarah daging.
"Nara! Kamu denger mama gak!" Teriak mama Rosi sekali lagi.
"I-iya ma, Nara denger gak usah teriak-teriak begitu. Gak sayang apa sama pita suaranya."
"Dasar anak kurang ajar! Awas aja kamu kalau pulang nanti mama gantung kamu di pohon toge!" Ucap mama Rosi berapi-api. Rasanya Nara pengen menyemburkan tawanya, namun sebisa mungkin ia tahan agar mamanya tak meledak lagi.
"Iya-iya besok Nara pulang." Putus Nara.
"Sekarang!" Tegas mama Rosi.
"Tapi ma, ini udah sore."
"Mama gak mau tahu, kalau kamu gak pulang sekarang, mama akan suruh papa kamu untuk blokir semua kartu kamu!" TUT!" Mama Rosi langsung mematikan sambungan teleponnya. Nara hanya mendesah pelan. Titah ibunda ratu memang tak terbantahkan. Ia segera menyuruh Bima untuk membelikannya tiket pulang ke kota J.
*****
Tepat pukul delapan malam Nara sampai di rumah. Di bukanya pintu rumah dan langsung di sambut dengan tatapan tajam oleh mama Rosi.
"Ma," Nara segera menghampiri sang mama untuk mencium tangannya, namun terlambat karena tangan sang mama sudah nangkring cantik di telinganya.
"Pulang juga akhirnya kamu!" Geram mama Rosi.
"Aduh ma ampun, sakit ini. Stttttttttt!" Ringis Nara seraya memegang tangan mamanya yang masih ada di telinganya.
"Ngapain aja kamu di sana, kok gak pulang-pulang!" Cecar mama Rosi.
"Lepasin dulu tangannya, nanti aku jelasin." Akhirnya mama Rosi pun melepaskan tangannya dari telinga sang putra saat melihat telinga Nara yang tampak memerah.
"Anak datang bukannya di sambut dengan pelukan malah di aniaya." Gerutu Nara pelan.
"Ngomong apa kamu!" Geram mama Rosi lagi.
"Enggak ma enggak, Nara gak ngomong apa-apa." Jawab Nara mengelak.
"Bima sialan!" Umpat Nara spontan.
"Berani kamu mengumpat di depan mama." Mama Rosi nampak ingin mengeluarkan taringnya kembali.
"Ampun ma, Nara kelepasan." Cengir Nara.
"Jelaskan sekarang!" Tegas mama Rosi melotot tajam. Akhirnya Nara pun menceritakan semuanya mulai dari dirinya yang di telpon sang mama hingga ia yang tak sengaja menginjak pedal rem secara mendadak karena terkejut dengan teriakan sang mama. Lalu tiba-tiba mobil pickUp yang ada di belakangnya di hantam oleh mobil Box dari arah berlawanan dan suami wanita hamil tersebut meninggal di tempat kejadian. Tak terasa mama Rosi sudah berlinang air mata.
"Terus sekarang keadaannya gimana?" Tanya mama Rosi dengan suara paraunya karena berusaha menahan tangisnya yang tak mau berhenti. Nara pun kembali menceritakan tentang keadaan Anja saat ini.
"Pertemukan mama dengannya." Pinta mama Rosi.
"Apa?" Nara nampak terkejut dengan permintaan mamanya.
"Pertemukan mama dengannya, mama juga merasa bersalah. mama ingin menebus kesalahan mama." Pinta mama sekali lagi.
"Baiklah, Besok kita akan ke sana. Nara mau istirahat dulu." Nara kemudian segera berlalu menuju kamarnya untuk beristirahat karena esok ia akan kembali terbang ke kota S. Melelahkan sekali, demi apa coba? Entahlah, ia hanya mengikuti nalurinya.
*****
*****
*****
*****
*****
Hayo demi apa Ra? emak penasaran ini ππ
Demi cinta apa demikian π€ππ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ