
Laras nampak terburu-buru saat keluar dari angkot. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang lima menit, padahal ia ada kelas jam sepuluh ini. Namun saat ia berlari menuju kelasnya, ia tak sengaja menabrak seorang cowok karena ia berlari sambil menunduk mencari-cari sesuatu dalam tasnya.
Bruukk!
Barang-barang yang ada di dalam tasnya pun berhamburan keluar. Nampak bedak dan lipstiknya pun juga ikut berserakan. Laras segera memasukkan barang-barangnya kembali kedalam tas. Namun saat ia mendongakkan kepalanya, ia terkejut setengah mati melihat cowok yang barusan di tabraknya.
"Kauuu!" Laras menuding ke arah Radit. Ingin rasanya ia memakinya. Namun cewek di sebelah Radit yang tak lain adalah Shasa si micin sudah menarik tangan Radit pergi menjauh darinya tanpa sepatah kata pun. Ya, cewek itu adalah Shasa yang sudah membuat Anja keguguran. Masih untung Anja dan Zian tidak melaporkannya ke kantor polisi. Kalau sampe itu terjadi, bisa-bisa ia akan mendekam di penjara.
*****
Laras keluar dari kampus saat waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Namun hingga hampir jam dua, tidak ada satu pun angkot yang lewat di depan kampus. "Tumben? Malah HP pake ketinggalan segala." Gerutunya dalam hati.
Tin.. tin..
Nampak sebuah mobil berhenti di depannya dan terbukalah kaca samping bagian penumpang.
"Butuh tumpangan?" Tanya Radit kepada Laras yang terlihat merengut.
"Tidak! terimakasih!" Tolak Laras ketus.
"Oh ayolah, anggap aja sebagai permintaan maaf gue tadi."
Laras pun mempertimbangkan tawaran Radit. Setelah dipikir-pikir mungkin ada baiknya ia menerima tawaran Radit saja dari pada harus menunggu angkot yang tak kunjung lewat.
"Baiklah." Laras segera masuk dan duduk di kursi penumpang sebelah kemudi.
Hening! tidak ada pembicaraan apapun di dalam mobil. Laras baru membuka suaranya saat mobil yang ia tumpangi tiba-tiba berhenti di sebuah cafe.
"Kenapa berhenti di sini?" Tanya Laras melotot tajam.
"Kita cari minum dulu, anggap saja sebagai permintaan maaf gue." Mau tak mau Laras pun turun dan ikut masuk ke dalam cafe.
"Mbak, cappucino satu." Pesan Radit pada pelayan.
"Loe apa?"
"Gue jus alpukat saja." Jawab Laras masih terdengar ketus.
"Gak mau makan dulu?"
"Gak!" Tolak Laras cepat.
"Maaf tadi gak sengaja nabrak loe." Ucap Radit tulus.
Radit nampak terdiam, ia terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu. Lebih tepatnya menanyakan sesuatu.
"Anja apa kabar?" Tanya Radit terdengar ragu.
"Oh, jadi ternyata ini tujuan loe mau nganterin gue balik." Laras nampak marah dengan pertanyaan Radit.
"Sorry, gue cuma ingin tau dan mastikan keadaan Anja. Gue merasa bersalah sama dia. Gue mau minta maaf tapi dia gak mau ketemu gue lagi." Perdebatan mereka terhenti saat ada seorang pelayan mengantarkan pesanannya. Setelah pelayan tadi berlalu, mereka melanjutkan lagi perdebatannya.
"Heh, loe dengerin baik-baik ya omongan gue. Loe gak usah sok perhatian sama Anja. Anja udah ada lakinya, jadi gak butuh perhatian loe." Laras menuding ke arah Radit.
"Gue tau!"
"Kalau loe tau, ngapain masih ngejar-ngejar Anja? urusin saja noh cewek loe yang sok kecakepan itu."
"Loe akan tau rasanya saat loe udah nemuin cinta loe suatu saat nanti." Ucapan Radit membuat Laras susah payah menelan salivanya.
"Gue mungkin tidak bisa memilikinya, tapi gue juga tidak bisa membuang rasa ini begitu saja. Gue juga gak minta rasa ini ada." Ucap Radit terdengar frustasi.
"Gue boleh minta nomor loe?"
"Untuk apa?" Laras memicingkan matanya curiga.
"Gue cuma butuh kabar Anja dari loe." Jawab Radit lirih. Merasa kasihan, akhirnya Laras memberikan nomornya kepada Radit.
*****
*****
*****
*****
*****
Wes talah Dit, sama Laras saja kalau gk mau sama Shasa si micin π€
Eh, ada yang setuju gk ya kalo Radit sama Laras? π€π€
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ