Candamu Canduku

Candamu Canduku
Bab 57. Mas Zian mana?



Sudah seminggu ini Anja di rawat di rumah sakit dan sampe sekarang belum juga sadarkan diri. Nara pun bolak balik kantor, rumah sakit, dan apartemen. Ya, saat ini Nara dan Bima sudah tinggal di sebuah apartemen. Pagi sebelum berangkat ke kantor, Nara pasti akan mampir ke rumah sakit terlebih dahulu. Siang setelah makan siang ia juga kesana, sekalian membawakan makanan untuk Riani. Malam setelah pulang dari kantor pun ia juga ke rumah sakit untuk memastikan bahwa keadaan Anja baik-baik saja. Tak peduli selelah apa dirinya. Sudah seperti minum obat saja! sehari tiga kali.


Ceklek!


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat Nara dan Bima tiba di rumah sakit. Seno terlihat duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, sedangkan Riani sudah terlelap di atas karpet bulu. Laras akan datang setelah kuliah hingga sore hari, sedangkan Seno yang menemani Riani saat malam harinya. Bu Mayang juga sesekali datang kesini karena memang harus menjaga rumah makan. Bima menaruh roti bakar yang tadi sempat di belinya ke atas meja. Bersamaan dengan Anja yang membuka matanya.


"Mas Ziaaaaann!" Teriakan Anja membuat Riani terlonjak dari tidurnya. Seno dan Nara segera mendekat ke arah bed perawatan, sedangkan Bima langsung melesat memanggil dokter. Padahal di atas bed Anja sudah ada tombolnya tinggal pencet, dokter pasti datang.


Nampak Anja yang sudah berlinang air mata dengan pandangan yang kosong.


"Nja!" Panggil Riani pelan, juga dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Dokter Bella dan satu dokter lainnya serta beberapa perawat berlarian masuk ke dalam ruang perawatan Anja untuk memeriksa keadaan Anja.


"Gimana keadaannya dok." Tanya Riani sesaat kemudian.


"Sepertinya pasien masih syok, jadi keadaannya belum stabil. Biarkan pasien istirahat dulu. Jangan khawatir, insyaAllah semua akan baik-baik saja." Jelas dokter tersebut.


"Apa kandungannya baik-baik saja dok." Tanya Nara kepada dokter Bella yang membuat Riani, Seno serta Bima tak percaya kalau Nara akan menanyakan hal itu. Nara pun juga tak tau, kenapa ia bisa bertanya seperti itu.


"Alhamdulillah sejauh ini baik pak, Usianya sudah memasuki delapan bulan. kalau begitu kami permisi dulu." Pamit dokter Bella.


Riani mengelus punggung Anja lembut. Saat ini posisi Anja sedang berbaring miring menghadap tembok dan membelakangi mereka. Setelah Anja tertidur kembali, Nara dan Bima segera pamit undur diri karena malam semakin larut.


*****


Pagi ini Anja di perbolehkan pulang setelah sepuluh hari berada di rumah sakit. Dengan di bantu Riani dan Laras berkemas, akhirnya pukul sembilan pagi mereka meninggalkan rumah sakit dengan di antar oleh Nara dan Bima. Karena Seno hari ini ada jadwal pengiriman, jadi tidak bisa menjemput mereka. Dan di sinilah mereka berada, di rumah Bu Mayang. Ya, Riani dan Laras sepakat membawa Anja kembali ke tempat Bu Mayang atas permintaan Bu Mayang. Agar mereka bisa menjaga Anja dan calon anaknya bersama-sama.


Deg!


Pertanyaan Anja membuat semua orang yang ada di sana bungkam. Tidak ada satu pun yang bisa menjawab pertanyaan Anja tersebut. Apalagi para perempuan yang sudah menangis sesenggukan. Baru kali ini Anja mengeluarkan kalimat panjang setelah sadar dari komanya. Biasanya ia hanya akan menjawab pertanyaan dengan gelengan atau anggukan kepala saja.


"Ah iya, mas Zian pasti di rumah. Aku mau ke rumah saja."


"Jangaaaaann!" Ucap mereka serentak saat Anja akan melangkah. Anja pun terpaku di tempatnya berdiri, air matanya nampak berlinang dan tiba-tiba tubuhnya meluruh. Beruntung ada Nara yang sigap menangkapnya. Nara segera menggendong Anja masuk ke dalam kamar Laras atas perintah Bu Mayang. Di baringkannya tubuh Anja perlahan ke atas ranjang kemudian menyelimutinya hingga sebatas dada. Sontak saja perlakuan Nara tersebut membuat mereka yang ada di sana saling pandang dan keheranan. Namun Nara sama sekali tak menyadarinya, hanya Bima lah yang menyadarinya. Sebenarnya mereka sempat curiga, kalau Nara cuma orang yang ada disana saat kejadian, gak mungkin kan akan seperhatian ini? Apalagi biaya rumah sakit Anja dan Zian serta pemakaman Zian seluruhnya di tanggung olehnya. Namun mereka segera menepis segala prasangka buruk tersebut. Positif thinking aja, mungkin ini bagian dari sekenario Tuhan.


*****


*****


*****


*****


*****


Ya, terkadang memang kita tidak sadar dengan apa yang kita lakukan.


Sing sabar yo Nja 😒😒😒😒


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚