
Riani sedang duduk selonjoran di karpet depan televisi saat ponselnya berdering. Ia segera meraih benda pipih tersebut yang sejak tadi tergeletak di sampingnya karena Riani lebih memilih melihat sinetron FTV yang menayangkan seputar film percintaan.
Nama Laras tertera dalam layar ponselnya. Ia segera menggeser tombol hijau itu ke atas. Dan saat telpon tersambung, suara isak tangis Laras memenuhi indera pendengaran Riani. Ya, selama ini Riani lah yang menjadi tempat berkeluh kesah Laras. Laras juga menceritakan tentang lamaran Radit kepadanya dan juga saat ia datang ke Bandung meminta restu kepada kedua orang tua Radit serta penolakan papa Angga yang berakhir anfalnya papa Angga.
"Hey Ras, ada apa? Jangan membuat ku khawatir begini."
"Hiks.. hiks... Om Angga meninggal Ri."
"Apa! Kapan?"
"Tadi barusan Radit telpon gue."
"Terus gimana?"
"Gue mau ke Bandung siang ini juga sama Erik, mama juga mau ikut."
"Gue ikut! Tapi gue lagi hamil." Cicit Riani.
"Apa? Loe hamil Ri?"
"Iya!"
"Kok gak kasih tau gue?"
"Iya maaf lupa, baru kemarin periksa. Terus gimana ini? Gue ngomong dulu sama Seno. Tunggu gue, nanti gue hubungi lagi." TUT! Riani langsung mematikan sambungan teleponnya yang mana membuat Laras bersungut-sungut kesal di seberang sana.
Riani berlari menuju ke mebel yang mana membuat Seno seketika panik saat melihat istrinya berlari-larian.
"Sayang, jangan lari-lari begitu nanti jatuh bahaya."
"Hehe, maaf mas!"
"Ada apa hem?" Seno membimbing istrinya duduk di kursi panjang yang ada di depan mebel.
"Tadi Laras telepon, katanya papanya Radit meninggal."
"Innalillahi wainnailaihi rojiuun. Terus gimana?"
"Kamu di rumah aja, biar aku yang ikut." Riani menggeleng dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Huuuft, kamu lagi hamil sayang. Gak baik melakukan perjalanan jauh."
"Tapi aku kan sehat mas, dedek juga sehat." Riani mengelus perutnya sendiri.
"Ada apa ini?" Bu Tutik mendekat saat melihat perdebatan anaknya dengan menantunya. Seno pun menceritakan semuanya kepada ibu mertuanya itu.
"Ya sudah sekarang begini saja. Kamu pergi ke klinik Sen, tanya sama Bu Nuning, boleh gak Riani pergi jauh."
"Memangnya mau naik apa?" Bu Tutik kembali bertanya.
"Kata Laras naik mobil bareng mas Erik Bu." Jawab Riani yang masih berkaca-kaca. Seno langsung melesat menggunakan motornya menuju ke klinik.
Setelah mendapat izin dari Bu Nuning, sore itu sekitar pukul empat sore, Seno dan Riani sudah berada di halte tempat biasanya menunggu bus. Tadi Laras sudah menelepon Riani katanya ia sudah hampir sampai di halte yang disebutkan Riani. Dan benar saja, sekitar setengah jam kemudian mobil yang di kendarai Erik berhenti di depan halte tersebut. Laras nampak menyembulkan kepalanya dari dalam mobil bagian depan samping kemudi saat kaca di turunkan. Laras segera membuka pintu kemudian beralih pindah ke belakang bersama Riani dan Bu Mayang. Posisi Riani saat ini berada di tengah-tengah antara Laras dan Bu Mayang. Sedangkan Seno langsung duduk di kursi depan samping kemudi yang tadi di duduki Laras.
Dengan mengendarai mobil milik Radit, mereka berlima berangkat menuju ke Bandung, ke rumah kediaman orang tua Raditya Erlangga.
*****
*****
*****
*****
*****
Nanti nyambung ke novel "Luka Hati Luka Diri" Episode 32 π
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ