Candamu Canduku

Candamu Canduku
Bab 38. Lamaran Dadakan



Setelah berkendara sekitar sepuluh menitan, tiba-tiba Cici meminta berhenti di sebuah kafe.


"Berhenti di kafe depan kak." Pinta Cici seraya menunjuk sebuah kafe di depan sana.


"Mau ngapain?" Tanya Seno bingung, karena kata pak Raffi tadi Cici ada kuliah.


"Kita makan dulu."


"Nanti kalau telat gimana kuliahnya?"


"Tenang saja kak, kuliahnya masih nanti jam satu." Ucap Cici enteng kemudian keluar dari mobil. Seno hanya bisa mendengus kemudian ikut turun dan mengekor di belakang Cici.


"Kenapa gak bilang dari tadi? Tahu gitu berangkat habis dhuhur saja kan bisa." Gerutu Seno yang nampak kesal dengan ulah Cici yang semaunya sendiri.


"Kan bisa sekalian jalan." Cici mendudukkan dirinya di kursi yang kosong. Seno bukannya tak tahu kalau selama ini Cici berusaha mendekatinya. Tapi ia berusaha menghindar kerena ada Riani yang harus ia jaga perasaannya.


"Kamu kan bisa bawa mobil sendiri, ngapain sih harus minta di anterin segala?" Ucap Seno seraya mendudukkan dirinya di depan Cici.


"Ya pengen aja."


"Plis Ci, jangan kayak gini. Entar Riani bisa salah paham sama kita. Gue sayang banget sama dia Ci, gue gak mau kehilangan dia."


"Kenapa?" Tanya Cici dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kenapa apanya?" Seno nampak bingung dengan pertanyaan Cici.


"Kenapa kak Seno gak pernah melihat Cici sedikit pun selama ini? Apa kurangnya Cici coba katakan biar Cici perbaiki." Jatuh sudah air mata Cici yang sejak tadi berusaha di tahannya.


"No! Kamu cantik, kamu baik. Tapi masalahnya ini tentang hati dan perasaan yang gak bisa di paksakan. Suatu saat nanti kamu pasti akan mendapatkan cowok yang lebih baik dari gue." Cici semakin sesenggukan hingga membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di dalam kafe tersebut.


Setelah berhasil menenangkan Cici dan menghabiskan makan siangnya, Seno segera mengantarkan Cici ke kampus karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang.


"Ri, maaf ya tadi aku gak izin dulu sama kamu saat pergi." Ucap Seno ketika sudah berada di dekat Riani. Saat ini Riani ada di meja kasir.


"Kenapa harus minta izin? Aku kan bukan siapa-siapanya mas Seno." Riani memalingkan mukanya sambil menahan gejolak dalam hatinya. Seno segera meraih tangan Riani dan menggenggamnya dengan erat.


"Kamu adalah calon ibu dari anak-anak ku. Tunggu sampe uangku cukup, setelah itu aku akan menikahi mu." Wajah Riani nampak bersemu merah. Apakah Seno sedang melamarnya saat ini?


"Kamu mau kan menikah denganku?" Tanya Seno seraya mengeluarkan cincin dari saku celananya. Sebenarnya cincin itu sudah ia beli dari seminggu yang lalu. Tapi ia belum nemu momen yang pas untuk melamar pujaan hatinya tersebut. Riani nampak mengangguk malu-malu. Kemudian Seno segera memasangkan cincin tersebut ke jari tangan Riani. Dan ternyata pas, bukan kah itu pertanda baik?


Proookk.. proookk.. proookk..


Terdengar riuh tepuk tangan dari para pengunjung yang ada di rumah makan tersebut. Apalagi Laras yang nampak heboh. Riani jadi malu dan baru tersadar kalau sejak tadi mereka berdua menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana.


*****


*****


*****


*****


*****


Cie cie yang habis di lamar sama pujaan hatinya, seneng banget sampe lupa daratan πŸ€­πŸ˜‚πŸ˜‚


Emak jadi terhura πŸ˜‚πŸ˜‚


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚