Candamu Canduku

Candamu Canduku
Bab 43. Kecerobohan Laras



Radit nampak menimbang-nimbang kira-kira hadiah apa yang pantas untuk di berikan kepada Anja. Saat ia melewati toko pakaian bayi yang ada di sebuah Mall, matanya tak sengaja melihat pakaian serta sepatu bayi yang terlihat lucu terpajang di sebuah etalase. Radit pun tanpa pikir panjang langsung masuk ke dalam toko tersebut dan meminta kepada seorang pelayan toko untuk membungkuskan beberapa stel pakaian bayi perempuan dan beberapa pasang sepatu. Darimana Radit tahu kalau calon anaknya Anja perempuan? Siapa lagi kalau bukan Laras. Ya, Laras lah yang tanpa sengaja keceplosan saat kemarin dirinya bertemu dengan Laras di sebuah kafe. Tepatnya di kafenya sendiri. Namun Laras tidak tau kalau kafe tersebut milik Radit.


Flashback On


Radit nampak keluar dari ruang kerjanya dengan muka kusut. Sepertinya banyak beban di pikirannya saat ini.


"Gue cabut dulu Rik." Pamit Radit kepada Erik sahabatnya, sekaligus yang mengelola kafe tersebut.


"Ok boss!" Jawab Erik seraya mengacungkan jempolnya. Namun baru beberapa langkah matanya tak sengaja melihat Laras yang duduk menunduk di pojokan seraya memainkan ponselnya dengan segelas jus alpukat yang nampak tinggal setengah itu di atas meja. Radit pun langsung menghampiri Laras.


"Hey, sendirian aja." Sapa Radit seraya mendudukkan diri di depan Laras. Sontak membuat Laras terkejut. Untung saja ponselnya tidak terjatuh.


"Bisa gak kalau datang itu permisi dulu. Lama-lama loe jadi kayak jailangkung." Sungut Laras kesal.


"Maaf, udah lama?" Tanya Radit kepada Laras.


"Heeemm!" Jawab Laras malas.


"Gimana kabar Anja?" Pertanyaan Radit barusan sontak membuat Laras melotot tajam.


Braakk!


Laras spontan menggebrak meja yang ada di depannya hingga minuman yang ada di gelas tumpah. Untung saja gelasnya gak jatuh.


"Bisa gak loe berhenti kepoin bini orang! Anja itu sudah berkeluarga, dan sebentar lagi baby girl akan segera lahir. Jadi jangan pernah loe ganggu kebahagiaannya lagi. Besok acara tujuh bulanan Anja. Jadi plis, berhenti ngurusin hidup orang. Urusin aja diri loe sendiri." Ucap Laras berapi-api meluapkan kemarahannya kepada Radit. Tanpa sadar Laras malah memberi tahu tentang kandungan Anja kepada Radit. Begitulah Laras kalau sudah marah, ia tidak dapat mengontrol ucapannya. Tanpa mereka sadari, mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di kafe tersebut. Setelah itu, Laras langsung pergi tanpa membayar minumannya.


Flashback Off


Setelah dari Mall tadi Radit segera melajukan mobilnya menuju ke apartemen. Di letakkannya kotak kado tersebut ke atas meja yang ada di depan TV seraya mendudukkan dirinya di sofa. Radit bingung dengan dirinya sendiri, ia tak tau kenapa sampe sekarang ia belum juga bisa melupakan Anja. Padahal pesta pertunangannya sudah semakin dekat. Radit bangkit dari duduknya kemudian langsung masuk ke dalam kamar. Sepertinya berendam air dingin akan membuat otaknya kembali fresh.


Radit merendam seluruh tubuhnya kedalam bathub selama beberapa menit. Kemudian menyugar rambutnya yang basah dengan jari-jarinya. Perkataan Laras kemarin terus saja terngiang di kepalanya. Baby girl? Tujuh bulanan? Besok?


"Aaahh!" Teriak Radit frustasi.


Ting tong.... Ting tong....


Terdengar bunyi bel apartemen yang di pencet berulang kali. Akhirnya Radit menyudahi acara mandinya. Di lilitkannya handuk ke pinggangnya kemudian keluar untuk membuka pintu. Kebiasaan Radit memang seenak jidatnya. Gimana kalau yang bertamu itu orang lain atau bahkan orang penting? Ah, tapi bukannya selama ini tak pernah ada yang datang ke apartemennya kecuali Shasa dan kedua sahabatnya Erik dan Kris. Orang tuanya pun hanya sesekali mengunjunginya.


"Aaaaaaaaaa!" Teriak Shasa saat melihat Radit bertelanjang. Shasa pun segera membalik badannya.


"Kebiasaan dech, sana pakai baju dulu." Gerutu Shasa masih dalam posisi membelakangi Radit. Mau tak mau akhirnya Radit segera masuk ke dalam kamar untuk memakai baju. Tak lupa iya juga segera menyembunyikan kotak kado yang tadi di letakkannya di atas meja depan TV.


"Ada apa?" Tanya Radit saat keluar dari kamar.


"Tadi gue ke kafe, kata Erik kemarin Laras marah-marah sama loe di kafe."


"It's ok, cuma salah paham. Gue mau pergi ada urusan sebentar." Ucap Radit seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.


"Loe bawa mobil sendiri kan?" Tanya Radit yang di angguki oleh Shasa.


"Ok, gue balik!" Ucap Shasa kecewa kemudian segera keluar dari apartemen Radit. Setelah memastikan Shasa sudah pergi, Radit segera mengambil kotak yang di sembunyikan tadi kemudian segera bergegas keluar.


*****


Radit menghentikan mobilnya di seberang jalan dekat gang rumah Anja. Di perhatikannya orang-orang yang baru saja bubar dari rumah Anja tersebut. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya ia turun dari mobil dan segera memastikan keadaan di rumah Anja. Dirasa sudah sepi, Radit pun segera meletakkan kotak tersebut ke teras rumah Anja kemudian bergegas pergi.


*****


*****


*****


*****


*****


Hadeeehh Ras, itu mulut kenapa gak ada remnya 🀦🀦


Lama-lama emak lakban entar πŸ€­πŸ˜‚πŸ˜‚


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚