
Karena melihat keadaan istrinya yang semakin memburuk, tanpa pikir panjang pagi itu Seno langsung membawa istrinya ke Puskesmas yang ada di kecamatan tersebut. Namun karena peralatan yang ada di sana kurang memadai, maka pihak dari Puskesmas menyarankan agar Riani di bawa saja ke rumah sakit yang ada di pusat kota. Karena peralatan yang ada di sana jauh lebih canggih.
Dengan mengendarai mobil milik Pak kades, Seno berangkat ke kota siang itu juga bersama Bu Tutik dan Pak Lukman. Sedangkan bapaknya tetap tinggal di rumah karena harus menjaga mebel.
Sesampainya di rumah sakit yang ada di pusat kota, Riani langsung mendapatkan perawatan intensif karena memang kondisinya yang ngedrop. Bengkak di kakinya dan rasa pusing yang teramat sangat membuatnya tidak mampu membuka matanya walaupun hanya sekejap.
Dokter dan beberapa perawat melakukan pemeriksaan kepada Riani, mereka juga mengambil darah serta urine Riani untuk dilakukan tes.
Setelah menunggu sekitar dua jam lamanya, Seno dipanggil oleh seorang perawat untuk menemui dokter yang tadi menangani Riani di ruangannya. Wajah dokter yang kini duduk di depan Seno terlihat serius. Dokter itu sedang membaca hasil tes darah lengkap Riani yang baru saja diberikan oleh seorang perawat.
"Bagaimana dok?" Tanya Seno yang mendadak merasa khawatir. Seno mengeratkan genggaman pada kedua tangannya yang bertaut di pangkuannya menunggu penjelasan sang dokter.
"Tidak terlalu baik pak!" Dokter tersebut berucap dengan helaan nafas pelan. "Tekanan darah istri anda juga tinggi." Ujar dokter itu lagi. "Dan kadar protein di dalam urine juga cukup tinggi."
"Sering pusing dan sakit kepala?" Tanya dokter kepada Seno memastikan.
"Iya dok, belakangan ini lumayan sering. Tapi istri saya bilang kalau itu biasa bawaan hamil." Jawab Seno yang memang mengetahui keadaan istrinya.
"Apa pusing yang dialami istri saya ada kaitannya juga dok?" Tanya Seno khawatir.
"Itu gejala preklamsia!" Ujar dokter akhirnya memberitahu Seno.
Deg!
"Apa itu sebuah penyakit berbahaya dok?" Dada Seno terasa sesak.
Seno kembali ke ruang perawatan Riani dan langsung di sambut kedua mertuanya dengan pertanyaan. Seno pun memberi kode kepada mertuanya untuk berbicara di luar agar tak sampai terdengar oleh Riani. Takutnya jika pembicaraan mereka di dengar oleh Riani, kondisi Riani akan semakin ngedrop karena beban pikiran.
Setelah berada di luar ruangan, Seno segera menjelaskan kepada kedua mertuanya tentang apa yang tadi sempat di jelaskan oleh dokter kepadanya. Bu Tutik tak lagi bisa menahan tangisannya. Dengan membungkam mulutnya menggunakan kedua tangannya, Bu Tutik menangis tergugu. Pak Lukman langsung menuntun istrinya ke kursi tunggu yang ada di depan ruang perawatan Riani untuk duduk menenangkan diri terlebih dahulu sebelum kembali masuk ke dalam ruangan anaknya.
Seno terlebih dahulu masuk ke dalam ruangan istrinya. Ia duduk di samping brankar istrinya dan menggenggam erat tangan sang istri. Riani yang memang tak tidur, membalas genggaman tangan suaminya.
"Apa kata dokter mas? Apa aku mengidap suatu penyakit?" Tanya Riani sambil terpejam.
"Tidak sayang, jangan khawatir. Kata dokter, tekanan darah mu terlalu rendah." Bohong Seno agar istrinya itu tak kepikiran. Sebenarnya Riani kurang yakin dengan jawaban suaminya, namun ia memilih diam dan tak ingin bertanya lebih jauh.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ